Kekuasaan yang Takut pada Rakyatnya


Presiden SBY kembali “mengeluh”. Dia bilang, aksi 9 Desember ditengarai sedang menggoyang dan lebih jauh akan menjatuhkan kekuasaannya. Aneh? Mungkin.

Reaksi yang diberikan masyarakat beragam, sementara reaksi yang dilontarkan kalangan pemerintahan seragam. Pemerintahan, mulai di Menkopolkam, BIN, polisi, hingga Menkominfo, keseluruhannya mendukung bosnya. Bahwa yang dikatakan bos mereka benar adanya, dan chaos pada demonstrasi 9 Desember dikhawatirkan akan merusak pembangunan dan perekonomian yang “sedang bagus-bagusnya”. Aneh? Sangat mungkin.

***

Kekuasaan yang punya hubungan sangat mesra dengan rakyatnya, pastilah tak akan pernah takut pada rakyatnya sendiri. Bahkan kalaupun memang benar dia akan dijatuhkan oleh rakyatnya, dia tak akan mengalami ketakutan itu. Kekuasaan bagi mereka-mereka yang benar-benar berpihak pada rakyatnya, akan menganggap kekuasaan adalah amanah. Dan bila rakyat yang dipimpinnya mengkritiknya dan menganggapnya tidak bisa lagi mengemban amanah, dia akan rela. Kekuasaan baginya bukanlah hal yang akan menjatuhkan harga diri, martabat dan kehormatannya. Dia tidak akan “mati” hanya karena dia tidak duduk lagi di singgasana kekuasaan.

Hal sebaliknya akan terjadi pada mereka yang menganggap kekuasaan adalah segala-galanya. Dia akan menghalalkan segala cara untuk memanjat dan duduk di atasnya. Dan dia akan mempertahankannya dengan nyawanya. Dia akan menjadi sangat sensitif pada siapa-siapa yang berusaha menyentuh kursinya. “Siapa saja” itu maksudnya adalah siapa saja, baik itu anak, istri, ponakan apalagi bawahan. Kekuasaan punya daya magis yang akan membuat setiap orang yang duduk di atasnya menjadi buta karena dia hanya melihat dirinya sendiri. Tidak ada subjek lain melainkan “aku”. Semua orang akan tunduk dan harus meletakkan kepalanya sejajar dengan kakinya. Kekuasaan seperti tuhan, dan mungkin tuhan itu sendiri.

Kekuasaan, itulah hal yang paling utama di seluruh dunia ini.

***

Apa yang diperlihatkan oleh kekuasaan masa orde baru adalah pelajaran yang sangat berharga bagi Indonesia. Soeharto adalah raja diraja, maharaja seluruh manusia Indonesia. Orang Indonesia tak boleh jadi nomor satu, bahkan berpikir dan berangan-angan pun jangan. Orang yang bermimpi dan kemudian membisikkan mimpinya itu pada orang terdekatnya akan cepat sekali terendus dan lantas dimasukkan ke penjara. Lebih buruk dari itu, ada yang mati, lenyap tak berbekas, bahkan banyak pula sanak keluarganya terkena getahnya. Ada yang di KTP-nya dicap “eks tapol”, ada yang mengalami “kematian perdata” sehingga bahkan untuk memeriksakan kesehatan dan naik haji pun terpaksa mendapatkan izin dari aparat keamanan. Luarbiasa tak berperikemanusiaan.

Indonesia di masa reformasi ingin mengoreksi itu. Kekuasaan Presiden dibatasi cukup dua periode saja. Dia jangan diberi kewenangan terlalu luas, karena daya “eksekusi”-nya nantinya akan seperti gurita. Sesungguhnya inti utama kenegaraan bukanlah Trias Politica, karena hakikat sebenarnya adalah “Eksekutif”. Dua hal lain yaitu “legislatif” dan “yudikatif”, hanyalah pengawas, penyeimbang. Tak lain tak bukan.

Demokrasi pun hal yang sama. Demokrasi diadakan sebagai “reaksi” semata dari kekuasaan eksekutif, raja, Presiden, kaisar dan seterusnya.

Dus, keseluruh komponen itu mengelilingi dia. Dia, eksekutif itu, adalah pusat segala-galanya, poros utama. Tak ada negara yang bisa berdiri bila yang ada hanya hakim-hakim dan pengadilan, ataupun wakil-wakil rakyat. Namun tanpa hakim dan lembaga perwakilan, kekuasaan negara bisa ditopang oleh eksekutif. Berdirinya negara adalah juga karena berdirinya kekuasaan.

Daya ketergantungan seluruh komponen pada kekuasaan itu, pada hakikatnya adalah bentuk kekuasaan mutlak dari eksekutif itu sendiri. Benarlah bila Lord Acton mengungkapkan kalimatnya yang paling terkenal, kekuasaan cenderung korup dan kekuasaan absolut pastilah akan korup.

Dia sudah menjadi hukum alam. Kekuasaan sejatinya tidak bisa dikendalikan oleh sistem, karena justru penggerak utama dari sistem itu adalah kekuasaan. Kalau kekuasaan tak hendak lagi diatur-atur oleh sistem yang mengekang dirinya, maka dia akan berusaha menghabisi sistem itu. Sistem itu akan dihancurkan dan akan digantikan sesuai dengan kehendak kekuasaan.

Karena itu, yang bisa mengendalikan kekuasaan itu adalah hal yang lebih besar dari dirinya sendiri. Dia harus memulai dari dirinya sendiri. Dan jangan aneh pula, kalau si kekuasaan itu merasa dirinya pun telah mengekangnya, maka dia juga akan menghabisinya. Dan kalaupun ada yang di atasnya, maka dia pun akan serta merta menjatuhkannya dan hendak duduk di atasnya. Kekuasaan adalah mereka yang posisinya ada di urutan paling atas dari rantai makanan.

Firaun adalah contoh yang paling nyata soal kekuasaan ini. Ketika dia tahu bahwa di atas kekuasaannya masih ada lagi Tuhan, maka dia pun menggeser posisi Tuhan, dan memproklamirkan dirinya sebagai Tuhan. Fir’aun telah mengkudeta Tuhan, dengan caranya sendiri. Fir’aun sungguh-sungguh faham, dalam alam manusia maka ketuhanan adalah persepsi, prasangka. Belum ada satu makhluk pun yang pernah melihat Tuhan dan karena itu kalaupun dia mengkudeta dan memproklamirkan diri sebagai Tuhan, maka posisi Tuhan yang sebenarnya, sudah tergeser dengan sendirinya. Rakyat Mesir tidak menganggap lagi Dewa Ra ataupun Tuhannya “Musa”. Mereka tidak tahu itu. Yang mereka tahu, tuhan itu adalah Fir’aun.

Namun dengan demikian, Fir’aun sangat tahu dan mafhum dengan Tuhan yang sebenar-benarnya. Dia sungguh paham sekali, Tuhan yang sebenarnya itu tak bisa disingkirkan secara hakiki, namun bisa dimanipulasi. Riwayat yang menyebutkan Fir’an mengaku bertobat ketika akan mati di dasar Laut Merah, adalah dalam alur itu. Di ujung nafasnya, dia mengaku “kalah” dalam pertempurannya melawan kekuasaan Tuhan.

Fir’aun tahu sifat-sifat Tuhan yaitu kekuasaan mutlak dan absolut, sesuatu yang ingin diraihnya selama hidupnya. Bahwa Tuhan mesti dirayu, mesti dipanjatkan permohonan, mesti disembah, dan karena itu pula dia sadar kalau dia salah dan kalah, maka dia harus memohon ampun. Dan dia pasti paham pula, kalau kemutlakan Tuhan itu juga termasuk dalam hal “apakah dia mengabulkan atau tidak, itu hak prerogatif Tuhan. Tuhan bertindak sekehendaknya.” Kekuasaan memang sungguh egois.

***

Indonesia di masa pemerintahan SBY adalah sebuah kekuasaan yang dulunya telah dikhawatirkan akan menumbuhkan kekuasaan absolut itu. Menang mutlak di Pilpres dan kemudian menjaring koalisi super di parlemen. Jangan lupa, gurita kekuasaan itu akan sampai pada tangan yudikatif, dengan menempatkan orang-orangnya di sana. Itu termasuk juga seluruh pemerintahan daerah, juga lembaga-lembaga tinggi dan tertinggi negara. KPK, kepolisian, jaksa, hakim, LSM, kampus-kampus, dan seluruh komponen masyarakat mau tak mau akan diseret dalam arus kekuasaan SBY. Sekarang, tangan kekuasaan sudah begitu canggih untuk mengintervensi hukum. Kasus yang melibatkan Polisi, Jaks dan KPK bahkan tak sampai lagi ke ranah pengadilan. Semuanya diselesaikan “Out of Court”. Dan semua lantas mengamini. BPK , lembaga tinggi negara yang masuk dalam konstitusi pun tak punya kuku mengungkap skandal Century, apalah lagi sekedar PPATK, yang nyata-nyata levelnya di bawah Presiden. Hak angket Century pun kini sudah diketuai oleh orang yang sangat-sangat dekat dengan Presiden.

Kekuasaan absolut itu mulai terbukti walau sayangnya sudah sangat-sangat terlambat untuk mencegah. Indonesia, kian kritis di ujung tanduk. Kekuasaan absolut hanya takut pada kekuasaan yang lebih tinggi darinya. Karena kedaulatan ada di tangan rakyat, maka kekuasaan absolut di Indonesia akan takut pada rakyatnya. Dan itu pula sebabnya mengapa SBY kian takut pada rakyatnya sendiri. (*)

5 thoughts on “Kekuasaan yang Takut pada Rakyatnya

  1. Non-violent movement 9 Desember ingin jatuhkan kekuasaan Presiden? Bagaimana caranya? Kan semua partai sudah masuk kotak kekuasaan di bawah koordinasi. Mana ada revolusi jika tak ada kelompok oposisional yang kuat (partai oposisi yang kuat). Tapi memang rakyat merasakan sesuatu yang amat mengecewakan. Mob ilisasi itu cuma sebuah dorongan untuk revolusi moral. Tidak usah panik, meski pun jika terus-terusan tak respon, akan ada juga akibatnya, apalagi jika 100 hari ini tak hasilkan apa-apa.

    umurnya cuma 100 hari mungkin.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s