Indonesia Telah Kehilangan Pesonanya


“All power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely”. (Lord Acton)

* * *

Indonesia telah kehilangan pesonanya. Istilah itu bukan dari saya, tapi sebuah artikel yang saya baca dari seseorang bernama Lukman Age. Lukman mengutip kalimat itu dari seorang pengamat, yang sayangnya tak disebutkan namanya. Itulah kalimat yang membikin saya tercenung, aneh.

Indonesia telah kehilangan pesona. Ini soal hati mungkin. Ketika ada perasaan bersatu, laiknya satu pasangan laki-laki dan wanita, maka kehilangan pesona merupakan dentuman keras bagi sebuah hubungan. Dia ibarat jaring yang menjadi lem perekat. “Pesona” yang telah hilang jelas adalah hal yang mampu menyulut perceraian.

Apakah yang sedang terjadi di Indonesia ini, wahai Sahabat. Saya merasa, jawaban-jawaban sudah terlalu banyak dilontarkan para akademisi dengan referensi-referensi yang sahih, valid, reliable, aktual dan akurat. Masih adanya dikotomi pusat-daerah, minusnya kepercayaan kepada pemerintahan, lembaga-lembaga hukum dan perwakilan rakyat, mega korupsi, manipulasi data-data penting pemerintahan, gelontoran duit dalam anggaran yang tak jelas pertanggungjawabannya, birokrasi yang terus terasa makin rumit, aparatur yang brengsek, pertahanan yang makin lemah, negara tetangga yang makin melunjak, penjilat kekuasaan yang terus makin ramai, pendidikan yang makin bodoh, moralitas yang berada di titik nadir, kekayaan alam yang tersedot habis, kerusakan lingkungan, bencana berulang kali, tewasnya ratusan ribu orang di Indonesia hanya dalam waktu enam tahun dan kita hanya menghitung-hitungnya laiknya statistik sebuah skripsi, dan entahlah, terlalu banyak sudah deretan-deretan itu.

Mungkin pula, terlalu cepat menyangkakan ini sebagai sebuah kutukan. Terlalu gegabah juga saya kira kalau hal ini langsung disandarkan pada ketuhanan. Walau memang selalu ada kemungkinan kalau kita sebagai manusia biasa akan bertekuk pada ketentuan dan takdir.

Namun, saya diberitahu oleh sahabat, fatalis merupakan hal yang paling tercela. Dia meruntuhkan derajat kemanusiaan menjadi sekelas batu; benda padat, benda mati, yang tak punya nyawa.

Optimisme boleh jadi akan sangat berharap pada asa yang masih tersisa. Dan lampu harapan itu kian redup, seperti lilin yang terbakar; sumbunya kian pendek, lilinnya kian meleleh.

* * *

Indonesia adalah sebuah nama yang sejujurnya masih menyisakan kesaktian. Konon, dia punya daya pemersatu, tapi di sisinya yang lain, kita juga melihat ada ketidakrelaan, keterpaksaan, semacam perjodohan di mana para orang tua tidak berniat menanyakan pada kedua calon mempelai berkenan atau tidak untuk dipersatukan. Dalam perjodohan, sisi trial ‘n error-nya begitu kentara. Dia berangkat dari keyakinan yang didasarkan bahwa itu adalah hal “baik” dan merupakan cara yang “benar”. Namun dari situ pula ketahuanlah kalau dia dihasilkan bukan dari prinsip-prinsip dialog. Dia dikhawatirkan lebih mengarah pada indoktrinasi, pemaksaan kehendak.

Sulit benar kita mencari di dalam sebuah ruang yang bernama Indonesia itu kesungguhan untuk mengusung Indonesia itu. Di Papua, mereka punya prasangka sendiri tentang “Indonesia”. Di ujung yang lainnya, masyarakat Aceh juga punya praduga sendiri tentang “Indonesia”. Di tengah-tengahnya, katakanlah di Pulau Jawa dan Jakarta sebagai sentralnya, juga punya konsep sendiri tentang Indonesia yang bahkan kadang-kadang sering dituduhkan sebagai “konsep mutlak tentang Indonesia”. Bukankah orang-orang tua kita dulu tak pernah bertanya, “Sudikah kau menjadi dan melebur di Indonesia?”

Sebuah perkawinan yang dipaksakan, dijodohkan dengan sewenang-sewenang, tentulah hanya menyimpan bara ketidakharmonisan. Sesungguhnya belantara keretakan, ketidakinginan melanjutkan hubungan sudah menjejak bahkan ketika “Indonesia” itu belum berdiri dan masih dalam bayang-bayang dan angan-angan.

Beritahukanlah saya wahai Sahabat, apakah yang terjadi dalam perkawinan yang berat sebelah dan bukan didasarkan cinta kasih? Si suami lebih dominan atau sebaliknya si Istri yang lebih berperan, adalah kerugian. Keseimbangan bukanlah hanya didasarkan pada perhitungan untung rugi yang sangat-sangat pragmatis.

Kala api merebus besi, lihatlah apa yang terjadi; besi itu mencair dan menjadi zat yang sama sekali baru, bukan api dan bukan besi.

Kita tidak punya kesenyawaan itu. Kita tidak melebur. Bahkan, saya ragu memakai kata “kita” itu. Bila tidak ada “kita”, maka tentulah yang ada hanyalah “aku”, “engkau” dan “dia”.

Dan bila hanya ada itu, maka nyatalah kita sudah berpisah. Maka, menjadi wajarlah bila “kita”, “Indonesia” ini terus terpuruk dan redup. Apapun yang hendak kita bikin, apakah itu “proklamasi”, apakah itu “orde baru”, apakah itu “reformasi”, atau bahkan kata yang begitu syahdu “revolusi”, maknanya menjadi jatuh kepada hanya sebatas cara kita untuk bertahan hidup, bukan untuk berjalan ke depan, menuju kemajuan dan perubahan.

Kita memerlukan yang lebih dari sekedar hanya “hidup”. Kita butuh lebih dari itu. Kita butuh energi yang lebih besar, yang lebih membakar, yang lebih bergairah. Kita butuh cinta dari seluruh orang. Dan untuk cinta itu, kita butuh kerelaan untuk merasakan orang lain. Kita wajib untuk menjadi “kita”. Dan untuk itu pula, kita butuh yang jauh lebih dahsyat daripada sekedar cinta. Klise, sederhana, tapi mampukah Anda merasakannya?

Dan lihatlah, skandal Century yang demikian menjijikkan itu. Itulah ketika kekuasan dipakai dan dipanjat, untuk dan dengan motif uang, motif terendah dari harkat derajat kemanusiaan. Ada yang ingin berkuasa, tapi dengan cara yang tak adil dan tidak jujur. Ada yang ingin kaya tapi dengan merampok hak orang banyak. Dan mereka terbahak hingga terguncang-guncanglah perutnya yang membuncit itu. Begitu menjijikkan.

Kita sungguh butuh imam. Tapi kita tak butuh imam yang punya kebiasaan buruk, yang hanya pandai bersolek di depan cermin; sudah baguskah kopiahku, sisiranku, senyumku, atau sudah licinkah setrikaan pakaianku. Bukankah orang-orang tua kita dulu selalu mengingatkan, “Jangan pernah tertipu dan dikelabui oleh penampilan,”?

Yang kita butuhkan adalah imam yang setiap saat selalu memfasihkan bacaan-bacaannya, menyempurnakan gerakannya sesuai amanah dan aturan yang sudah digariskan. Dan lebih dari itu, dia mau dan mampu mengunjungi, berbicara dan ringan tangan membantu para makmumnya kala shalat sudah berakhir serta kemudian berani dengan tegas memperlihat permasalahan makmumnya dan lantas menggerakkan, mengangkat para makmum ini dari jurang keterpurukan. Bila tidak, tunggulah kehancurannya, kata Muhammad seribuan tahun lampau.

“Indonesia telah kehilangan pesonanya,” bisik seekor kelelawar. (*)

====

foto: lovegreeny.wordpress.com

3 thoughts on “Indonesia Telah Kehilangan Pesonanya

  1. Aparat, penguasa dan (kita? engkau? dia?) pelan-pelan berubah menjadi manusia mesin tidak berperasan. Negeri kita menjadi bulan-bulanan dan makanan para orang bodoh dan licik. Karena penguasa sesungguhnya adalah mereka yang tidak mempunya perasaan, dan sanggup tanpa berfikir menghalalkan segala cara, anehnya mereka kita sebut orang hebat pintar dan beribu pujian lain. Dan banyak (engkau dia dan kita) orang menginginkan seprti mereka, dan merajalela dimana-mana termasuk markus, calo, dll.
    Banding dengan engkau, dia dan kita akan berfikir seribu kali bahkan sejuta kali dan akhirnya tidak jadi, karena engkau dia dan kita (mungkin) pasti pakai hati nurani.


    lets pray

    Like

  2. imamah universal? lha sudah, yang itu tu. kan tak mesti di sini? wong universal kok, di sini semacam lurah aja. Ha ha ha

    Itulah… wong kapasitas masih sekelas lurah kok mau “menjaga perdamaian dunia”…😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s