Paris Van Sumatra Itu Mitos …


Konon, Kota Medan sempat dijuluki dengan sebutan super keren “Paris Van Sumatra”. Dirk A Buiskool, sejarahwan Belanda, pun sempat menyitir dengan kalimat “Paris of Sumatra” dalam sebuah paper-nya. Dengan perubahan wajah yang begitu kontras, kini ia dikhawatirkan hanya jadi sekedar mitos. Kota metropolitan atau kota emperan?


kota medan
Kota Medan di daerah Lapangan Merdeka, Kantor Pos, Hotel Dharma Deli (dulu hotel de Boer), gedung BI, Balai Kota dan seterusnya. (foto: Roemono)

Penanggung Jawab: Nirwan
Reportase: Sri Mahyuni
Fotografer: Roemono
(Foto-foto lama repro Dr Phil Ichwan Azhari)

* * *


“Kota Medan pernah dijuluki Paris van Sumatra. Itu mungkin karena pada masa itu kota ini begitu mulus, indah, dan tertib. Setiap hari mobil penyapu jalan dengan sapunya yang bundar, berkeliling menyusuri sudut kota untuk membersihkan jalan dari segala macam sampah, termasuk kotoran kuda dan lembu. Di belakangnya menyusul mobil mengangkut sampah dan kotoran tersebut untuk dibawa ke tempat pembuangannya.

Jalan di masa itu pun masih sangat mulus. Kalau pun ada yang berlubang segera ditambal, tanpa harus menunggu bopeng tersebut membesar dan parah baru diperbaiki. Suasana kota begitu nyaman dan tidak bising oleh suara-suara klakson, apalagi sampai macet. Maklumlah, di zaman itu kendaraan bermesin seperti kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat masih sangat sedikit. Hanya pengendara sepeda saja yang banyak terlihat hilir mudik di dalam kota untuk beraktivitas. Bila ada yang mengendarai sepeda ‘Fongrer’, maka dia pun pantas untuk membusungkan dadanya penuh rasa bangga, karena di masa itu sepeda ini termasuk kendaraan yang mahal.

Di antara decitan rem sepeda, derap tapak kaki kuda menarik sado yang menjadi angkutan umum dalam kota juga menjadi hal yang biasa. Sesekali lonceng sado yang dipijak oleh sais untuk meminta jalan atau memanggil penumpang bisa menjadi irama yang indah. Jejeran sado di depan stasiun besar kereta api Medan yang menunggu penumpang turun dari kereta api, merupakan pemandangan yang biasa.

Selain sado ada juga ‘angkong’, yakni kereta yang ditarik oleh manusia sambil berlari kecil. Banyak masyarakat yang mengumpamakan orang yang menarik angkong itu ibarat ‘kuda merokok’ …”

Tuturan kisah dari sejarahwan Medan, Drs H Muhammad TWH, tentang Kota Medan semasa zaman penjajahan Belanda, begitu lengkap, rinci sekaligus menumbuhkan rasa dramatis. Dia membangkitkan memori-memori soal sebuah kota yang digambarkannya bak sebuah taman; asri, nyaman, rapi, namun juga teratur, disiplin, sekaligus berkelas.

kesawan 1930-an
Kesawan di masa 1930-an (repro koleksi Dr Phil Ichwan Azhari)

Dia menyebut soal “Paris van Sumatra” dalam lintasan kenangan itu. “Istilah itu munculnya seperti cerita bersambung di salah satu surat kabar tempo dulu, yang menceritakan seorang wanita yang digambarkan sebagai bunga ros dari Agam (suatu daerah di Padang, red). Julukan ini (Paris van Sumatra, red) bisa saja dijuluki oleh orang-orang pers dan muncul begitu saja,” terang Muhammad TWH.

Kata dia, julukan “Paris Van Sumatra” ini sudah ada sejak di zaman kolonial Belanda. Nama besar yang disandang kota ini tak hanya ditujukan pada satu wilayah, namun menyeluruh. Hanya saja yang menjadi pusat perhatian julukan Paris Van Sumatra saat itu berada di sekitar kawasan Kesawan. “Dikarenakan kebersihan kotanya, gedung-gedung berarsitektur bagus dan terpelihara dengan baik serta rapi, membuat Kota Medan ini dijuluki sebagai ‘Paris Van Sumatra’. Julukan indah ini seperti muncul sendiri. Tak ada yang tahu siapa penciptanya dan seperti apa ceritanya,” kata dia lagi.

Namun setelah kolonial Belanda beranjak dari Kota ini dan diganti dengan masa penjajahan Jepang, maka julukan “Paris Van Sumatra” pun berangsur-angsur hilang. Tak hanya istilah atau julukan semata yang hilang, bangunan-bangunan atau kawasan-kawasan bernilai sejarah perlahan tapi pasti, makin pupus satu persatu.

“Yang pasti julukan ini bukan orang Belanda yang buat, karena orang Belanda tidak peduli dengan itu. Sejak dulu ‘kan Belanda tidak heran lagi dengan pemandangan kota. Sedangkan di negara kita lebih banyak perkebunan dan hutan, jadi masyarakat kita waktu itu sangat senang dengan pemandangan kota, sehingga mereka menganggap Kota Medan ini sebagai Paris-nya Sumatra. Dari mana mereka tahu? Ya dari istilah-istilah pers, kemudian berkembang dari mulut ke mulut, sampailah sekarang,” katanya sambil tertawa renyah.

Menurut TWH, zaman dulu Kota Medan termasuk kawasan yang elit karena gedung-gedung bersejarahnya. Padahal, rumah-rumah berlantai dua hanya dibangun dengan seonggok kayu sementara bangunan beton masih sangat terbatas. “Bangunan-bangunan yang memakai beton paling cuma bangunan-bangunan utama saja seperti Mesjid Raya, kantor pemerintahan, dan lain-lainnya,” tuturnya.

* * *

Uraian Dirk A Buiskool, seorang sejarahwan asal Belanda, soal Kota Medan menarik untuk disimak. Dari sebuah paper-nya yang berjudul “A plantation City on the East Coast of Sumatra 1870-1942 (Planters, the Sultan, Chinese and the Indian)” yang diguratnya pada 2004 lalu, Kota Medan ditulisnya dengan rapi. Dalam satu bagian, dia menggambarkan bahwa Kota Medan memang di-set sebagai sebuah kota modern. Dalam bingkai itu, termasuklah taman-taman, alokasi perumahan bagi orang-orang Eropa dan beberapa kawasan untuk kelompok orang Tionghoa, India dan “pribumi”. “Ini merupakan hasil dari model quarter system, di mana tiap-tiap populasi tinggal di lokasi yang sudah ditentukan. Sistem seperti ini dibukukan pada 1918,” tulis dia.

Dengan model itu, seandainya ada kelompok –misalnya- Tionghoa hendak keluar dari area yang sudah ditentukan, maka perlu ada izin yang dikeluarkan oleh semacam ketua kelompok (Dirk memakai istilah “Chinese Captain”).

Pemerintah kolonial Belanda kemudian mengeset wilayah Kota Medan dengan mengadopsi gaya Eropa dengan mempergunakan model quarter system beserta aturan-aturan yang ada di dalamnya. “The quarter system made the city clearly structured,” tulis Dirk. Belanda kemudian membangun gedung-gedung bernuansa Eropa di seputar kawasan Lapangan Merdeka (dulu bernama Esplanade), Kesawan dan sekitarnya, yang kemudian dipadukan dengan perumahan elit bangsa Eropa.

“Karena banyak kediaman orang Eropa mengitari kota, maka lama-kelamaan kawasan kota menjadi sebuah garden city”. Dirk pun menyebutnya dengan istilah, “With nickname Paris of Sumatra,” tulis Dirk. Dirk sendiri, dari catatan kaki yang dituliskan dalam papernya, mendasarkan keterangannya soal itu berdasarkan ulasan penulis Eropa bernama WJ Cator dalam bukunya The Economic Position of the Chinese in the Netherlands Indies Oxford (1936)

Keasrian dan keteraturan Kota Medan tempo dulu, juga diakui orang-orang Eropa, seperti yang terungkap dalam tulisan-tulisan orang Eropa sendiri. Untuk ini, Dirk mengutip tulisan W Feldwick dalam buku “Present Day Impressions of The Far East and Prominent & Progressive Chinese at Home and Abroad. The History, People, Commerce, Industries and Resources of China, Hongkong, Indo-China, Malaya and Netherlands India (1917). Seperti diungkap Dirk, di buku itu di halaman 1.185, Feldwick menulis, “Medan is the queen city of the island of Sumatra, and is, moreover, the chief trading centre on the east coast, which is the most important and progressive quarter of the island.”

Feldwick bahkan menyamakan sistem sanitasi Kota Medan dengan berbagai kota di Eropa dengan istilah “…equal to that of any English town. Feldwick pun mengurai, Kota Medan adalah kota yang nyaman dan asri, yang kawasan bisnisnya dikelilingi oleh lingkungan dan kebun-kebun yang indah, hotel yang megah, stasiun kereta api dengan arsitektur yang indah, lapangan olahraga, bioskop dan segala atribut modern yang up to date. And altogether, Medan is very pleasant place, a joy for ever,” tulis Feldwick dalam buku yang diterbitkan The Globe Encyclopedia Company London-Shanghai-Hongkong-Saigon-Singapore & Batavia pada 1917.

Tak hanya itu, Dirk juga menyitir pengakuan seorang perempuan warga Hungaria, Madelon Szekely, dalam biografinya berjudul “Rubber” yang terbit pada tahun 1935, akan keindahan Kota Medan. Madelon menuliskan pengalamannya di Kota Medan sewaktu dia menginap di Hotel De Boer (sekarang Hotel Dharma Deli Medan, red), dulu.

Tak cuma De Boer Hotel, hotel pertama di Kota Medan, Grand Hotel Medan, yang didirikan pada 1887, juga ternyata sempat tampil dalam sebuah novel karya orang Eropa bernama Ladiszlasz Szekely’s. Novel itu berjudul “Van Oerwoud tot Plantage” (1913). Dia bercerita, hotel itu merupakan tempat orang-orang Eropa yang bekerja di perkebunan melepaskan lelah, rehat, hingga mabuk. Itu terjadi dua kali dalam sebulan kala orang-orang Eropa itu “turun gunung” dari perkebunan-perkebunan.

* * *

Tuanku Luckman Sinar Basarshah-II SH, sejarahwan Medan yang lain, berkisah senada dengan Muhammad TWH soal julukan “Paris Van Sumatra” ini. Menurut dia, istilah ini sudah ada sejak lama sekali, tepatnya di zaman penjajahan Belanda. Julukan ini diberikan karena kota ini dulunya sangat indah, bersih, rapi, dan asri. Ditambah lagi bangunan-bangunannya yang dipenuhi ukiran-ukiran unik. “Sakingkan bagusnya, kita pun jadi bangga dan menjulukinya Paris Van Sumatra. Seakan-akan kota ini mirip dengan kota Paris,” ucap dia.

Karena itu pula, tambah dia, di masa itu banyak pasangan suami isti yang membawa anaknya untuk berjalan-jalan atau sekedar duduk-duduk di taman kota sembari menikmati band sebagai hiburan yang disediakan oleh Belanda setiap minggunya. Pohon-pohon yang berbeda dari setiap ruasnya seakan-akan kota ini seperti kebun bunga. “Istilah ‘Paris Van Sumatra’ itu dari bahasa pers,” terang Luckman.

Karena julukan ini dibesarkan dari bahasa pers masa itu, maka istilah Paris Van Sumatra pun hanya untuk kalangan masyarakat Kota Medan. Belanda atau pun wisatawan mancanegara tak ada yang tahu dengan julukan Kota Medan ini. “Orang Belanda tidak tahu dengan julukan ini. Yang tahu hanya masyarakat kota Medan saja,” jelas dia.

Setelah Belanda hengkang dan Jepang menguasai negeri ini, istilah itu hilang. “Soalnya kata ‘van’ itu ‘kan dari bahasa Belanda. Mana mungkin bahasa itu dipakai di masa penjajahan Jepang. Apalagi setelah itu kita merdeka dan kita sepertinya sangat anti terhadap penjajah, sehingga apapun yang berbau penjajah langsung dihilangkan. Makanya istilah itu pun hilang,” jelasnya.

Namun saat Luckman membandingkan keadaan kota Medan sekarang, “Paris Van Sumatra” seakan-akan hanya dongeng. Kekacauan dan kesemrawutan terlihat di mana-mana. Untuk memperbaikinya lagi pun dinilai sangat sulit, bahkan tidak bisa lagi. “Mustahil untuk memperbaikinya seperti dulu lagi. Inilah masyarakat kita yang tak pernah menghargai warisan sejarah yang kita punya. Pada masa di zaman Sumatera Timur, setiap hari parit dibersihkan. Tidak seperti sekarang, hujan sebentar saja sudah banjir,” sitir dia.

* * *

kesawan 1930 upload
Kesawan Kota Medan di masa 1920-an (repro koleksi Dr Ichwan Azhari)

Ini adalah Medan. Kota yang dikenal sebagai wilayah yang dulunya banyak menyimpan sejarah dan melahirkan orang-orang besar. Plus menjadi kota penggerak modernisasi di zamannya. Namun, modernisasi bak “senjata makan tuan”; sejarah Kota Medan tertimbun dan tergadai.

Ir Tavip Kurniadi Mustafa, Ketua Dewan Kehormatan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Sumut, menilai, julukan yang pernah dialamatkan kepada Kota Medan itu memang tinggal nama. “Istilah ‘Paris Van Sumatra’ tentunya menjadi sebuah pertanyaan, mengapa harus Paris? Mengapa tidak Inggris, Amerika, atau Australia? Kenyataannya, Kota Paris dikenal sebagai kota yang indah, cantik, rapi, bersih dan nyaman. Karena dulunya Kota Medan ini arsitekturnya mirip seperti itu, maka disebut-sebutlah Medan ini sebagai Paris-nya Sumatra,” terang dia.

Sayang, kondisi Kota Medan saat ini sudah berubah drastis. Banyaknya bangunan-bangunan tua peninggalan masa kolonial Belanda yang tidak terawat, ditelantarkan, dirombak habis, bahkan dihancurkan, menjadi penyebab. “Perlu kehati-hatian untuk merubah atau membongkar suatu bangunan. Karena bila sudah dibongkar akan sulit untuk membangunnya lagi. Begitu juga saat membangun sesuatu, diperlukan kehati-hatian. Karena bila terjadi kesalahan maka akan mustahil untuk membongkarnya lagi,” terang Tavip.

Menurut Tavip, Kota Medan masih memiliki sejumlah bangunan lama khas Eropa peninggalan Belanda yang masih baik dari segi kontruksi. Sayangnya bangunan lama bernilai sejarah tinggi ini pun tidak dipelihara dengan baik. Menurut Tavip yang juga Ketua Bidang Registrasi LPJKD-SU ini, bangunan lama harusnya bisa menjadi daya tarik wisata Medan. “Hanya saja hal ini tampaknya sudah tak menjadi perhatian lagi bagi petinggi-petinggi di Kota Medan ini, khususnya Walikota dan DRPD,” tegas dia.

Alih-alih menjadikan Kota Medan sebagai kota Metropolitan, arah pembangunan justru dikhawatirkan menjadikan kota ini sebagai kota emperan. (*)

6 thoughts on “Paris Van Sumatra Itu Mitos …

  1. […] Paris Van Sumatra Itu Mitos … Konon, Kota Medan sempat dijuluki dengan sebutan super keren “Paris Van Sumatra”. Dirk A Buiskool, sejarahwan Belanda, pun sempat menyitir dengan kalimat “Paris of Sumatra” dalam sebuah paper-nya. Dengan perubahan wajah yang begitu kontras, kini ia dikhawatirkan hanya jadi sekedar mitos. Kota metropolitan atau kota emperan? Penanggung Jawab: Nirwan Reportase: Sri Mahyuni Fotografer: Roemono (Foto-foto lama repro Dr […] AKPC_IDS += "12534,";Popularity: unranked [?] […]

    Like

  2. Paris van Java. Paris van Sumatra. Di benak saya ada pertanyaan kok tendensinya rada “hedonis” julukan itu. Protap, masih ingatkah? Itu, “perjuangan” yang hingga lahirkan demo maut yang aktor intelektualnya terhenti (pencariannya) seiring pergantian orang di DPRDSU. Ide awal protap: provinsi eks Kresidenan Tapanuli (Londo lagi).
    Tak saya temukan (memang) asa tegas orang-orang terlupakan agar nonjol di pentas (lagi). Tetapi nara sumber “mencurigakan” pada titik stagnan “kami dulu”. Just like my grand pa.
    …….and sorry to say.

    feodalisme adalah lahan subur bagi tuan-tuan tanah yang ingin memperluas tanahnya, dan juga bagi mereka yang ingin disebut sebagai “tuan tanah”. Pepatah yang “seperti Belanda minta tanah”, itu terpatri demikian kuat.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s