Kawasan Kesawan; Kacaunya Wajah Sejarah di Inti Kota Medan


Kombinasi sisa-sisa bangunan kuno peninggalan Belanda yang dijumpai di kawasan Kesawan, Kota Medan, dengan bangunan “modern” yang desainnya hanya berkelas “ruko”, memperlihatkan perkawinan yang aneh.  Simbol kekacauan dan ketidakpedulian terhadap sejarah dan perkembangan Kota Medan.

* * *

Reportase: Sri Mahyuni
Fotografer: Ariandi
Foto-foto lama repro koleksi Muhammad TWH dan Dr Phil Ichwan Azhari

Kesawan dulu dan sekarang

Kawasan Kesawan Kota Medan. Konon, di sinilah –konon– bermukim sekitar 600 bangunan bersejarah yang ada maupun yang pernah dimiliki Kota Medan.

Mari hitung lagi sedikit demi sedikit apa sejarah apa yang pernah menjejak di Kesawan, yang berdasar peta tahun 1913 (dan direpro pada 1945) –menurut keterangan yang didapat dari sejarahwan Unimed, Dr Phil Ichwan Azhari– berada di sebuah kawasan yang memanjang dari Jalan Nienhuysweg (kini dirubah jadi Jalan Jend Ahmad Yani) hingga ke Jalan Istana (kini simpang jalan Balai Kota).

Gedung Jakarta Lloyd (dulu kantor perusahaan pelayaran The Netherlands Shipping Company, sempat menjadi kantor Rotterdam‘s Lloyd), Gedung PT London Sumatera Tbk (dulu kantor Harrison & Crossfield), Café Tip Top dan tentu tak ketinggalan kediaman Tjong A Fie. Di kawasan ini juga dapat ditemui mesjid tua bernama Mesjid Lama Gang Bengkok.

Sementara gedung Bank Modern yang dulunya adalah kantor perwakilan Stork (sebuah perusahaan Belanda yang memproduksi dan menjual mesin- mesin industri perkebunan) sudah kiamat dan berganti dengan ruko. Terselip informasi, kalau Pemko Medan pada 2004 lalu, telah mengeluarkan surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Nomor 01581/644.4/655/04.01 tanggal 14 April 2004, untuk pendirian satu unit ruko di situ.

Wajah kawasan Kesawan kini memang aneh. Di satu sisi dia memperlihatkan wajah lama Kota Medan nan antik dan artistik, namun di sisi lain, dia juga berdampingan dengan bangunan yang hanya mampu berdesain berkelas “ruko”. Ruko-ruko tinggi itu jelas tidak hanya sekedar menyisip.

Aroma lain adalah trotoar yang kini berganti fungsi menjadi “areal” perdagangan. Di beberapa ruas tampak pemilik toko meletakkan dagangannya di trotoar jalan. Pejalan kaki, lagi-lagi harus “mengalah”; berjalan di sisi badan jalan. Belum lagi burung-burung walet yang kini semakin bebas bersarang di sebagian ruko-ruko yang ada di sana.

Memandang kelumpuhan kawasan ini, sulit membayangkan dan mempercayai kalau dulunya ini adalah ikon dan ciri khasnya Kota Medan karena gedung-gedung antiknya yang memiliki nilai sejarah. Juga tempat di mana kawasan ini dulunya adalah titik pertemuan para pedagang di masa itu.

Kawasan Kesawan kini, telah bernasib sama dengan kawasan antik sekaligus bersejarah lainnya yang ditulis dalam tulisan yang lalu, kawasan Lapangan Merdeka Medan. Angka 600 bangunan bersejarah itu, kini sungguh meragukan.

* * *

Kesawan Lama
Kesawan di era kolonial Belanda (foto repro koleksi Muhammad TWH)

Sejarahwan, Drs H Muhammad Tok Wan Haria yang lebih dikenal dengan nama Muhammad TWH mengatakan, nama “Kesawan” sudah berumur sangat tua. Nama itu diambil dari bahasa karo dari akar kata kesawahen” yang artinya adalah kampung. Kesawahen bisa juga berarti halaman atau lapangan besar untuk tempat pertemuan, menyabung ayam, lomba lari, rapat dan berburu. Bahkan, lanjut dia, oleh Puak Karo dari Tanah Karo, mengatakan bahwa kata “Medan” itu adalah perubahan dari bahasa Karo yang diistilahkan sebagai “Mesawang” dan akhirnya menjadi kesawan.

Sejarahwan lain, Tuanku Luckman Sinar Basarshah-II SH, berpandapat sama soal nama itu, walau dengan makna yang berbeda. Menurut Luckman, “kesawahen” bermakna ke sawah. Lalu artikulasi masyarakat pun berubah-ubah hingga akhirnya menjadi Kesawan.

Menurut versi Luckman, Kesawan dibuka pada zaman cicitnya Guru Patimpus bernama “Masannah” yang merupakan Datuk pertama Kesawan. Bersama adiknya, Ahmad, mereka membuka kawasan Jalan Jendral A Yani atau yang dulunya lebih dikenal dengan sebutan Kampung Kesawan.

Sementara menurut versi TWH, kawasan yang sekarang bernama Jalan Jendral A Yani ini dulunya adalah sebuah kampung tempat persinggahan para pedagang yang datang untuk berdagang hingga menyabung ayam. “Semua kegiatan dilakukan di sana. Berdagang, menyabung ayam, dan lain-lainnya, ya, di lakukan di kesawahen itu,” katanya kepada beberapa waktu lalu. Menurut dia, nama daerah datar ini diartikan sebagai tempat yang lengang, sunyi, sekaligus “rawan” bagi para puak suku Karo.

Ceritanya begini. Pada masa dulu kala, orang-orang Karo yang membawa hasil hutannya untuk dijual ke Penang (Malaysia, red) harus melewati dataran Sungai Deli. Sementara di dataran ini, tepatnya di sekitar belakang Balai Kota, menurut TWH, sempat dikenal tempat beroperasinya para perampok. Saat mereka akan menukar hasil hutannya dengan garam di daerah tepi Sungai itu, mereka pun harus melalui daerah itu.

“Dulu sungai itu sangat besar hingga dapat dilalui dengan kapal. Kalau Kesawan hanya merupakan tempat titik pertemuan perdagangan dari tanah Karo melalui sungai. Di belakang balai kota itulah banyak terjadi perampokan karena saking lengang dan sepinya. Setelah kota Medan mulai mengalami perkembangan, barulah kawasan itu ramai,” jelasnya.

Tempat ini merupakan sentral penduduk yang berasal dari Serdang yang akan menuju ke Sunggal atau dari Percut ke Hamparan Perak, bahkan yang dari Labuhan ke Deli Tua. Kampung kesawahen inilah yang kini kemudian menjadi kesawan. Menurut legenda, kawasan ini sudah ada di zaman Putri Hijau.

Sementara orang-orang India menyebutkannya sebagai Maidan atau lapangan peperangan. Katanya, “Kesawan ini adalah wajahnya Kampung Medan yang dibuka oleh Guru Patimpus. Kemudian Kesawan ini berkembang karena ada orang-orang yang berdagang dan menjadikan daerah ini sebagai tempat persinggahan. Jadi dia terbentuk dengan sendirinya sesuai dengan pekembangan zaman,” terang TWH.

Kesawan dulu
Kesawan dulu

Seiring waktu, berbagai etnik pun menyebar memanfaatkan wilayah ini sebagai kawasan bisnis. Termasuk di antaranya adalah etnik Tionghoa dan India yang memiliki sejarah tersendiri memasuki wilayah Kota Medan. Di zaman Sumatera Utara masih berbentuk Propinsi Sumatera Timur dan di bawah Kepemerintahan Belanda, orang-orang Tionghoa ini dibawa oleh para elit Belanda untuk dijadikan kuli kontrak dan dipekerjakan di perkebunan.

Pelopor masuknya etnik Tionghoa ini, kata TWH, adalah seorang petinggi Belanda bernama Neinhuys yang merupakan orang pertama yang membuka perkebunan di Medan pada 1864. Sejak itulah etnik Tionghoa masuk sebagai buruh dan perlahan-lahan diberi hak berdagang oleh Belanda bila kontrak kerja mereka telah habis.

Kalau menurut versi Luckman Sinar, oleh De Deli Maatschappij yang didirikan oleh J Nienhuys, kampung Kesawan ini dimasukkan ke dalam konsesi Perkebunan Mabar Deli Tua. Setelah tahun 1874, Kantor Besar De Deli Maatschappij pindah ke daerah Medan Putri, yaitu tempat pertemuannya dua sungai yakni Sungai Deli dan Sungai Babura. “Kesawan itu masuk ke dalam wilayah perkebunan. Kemudian berkembanglah tempat itu. Maka banyaklah pertokoan-pertokoan yang dibuat oleh orang-orang Cina disitu,” terang Luckman.

Meskipun dulunya para etnik Tionghoa ini adalah kuli kontrak, namun mereka memutuskan untuk memperpanjang kontraknya sebagai pekerja kasar di perkebunan. Mereka juga meminta setapak tanah kepada De Deli Maatschappij untuk membuka kios atau warung. Oleh De Deli Maatschappij, sepetak tanah ini pun mereka berikan dengan pertimbangan, sepanjang masa konsesinya maka hal itu tak menjadi persoalan. “Waktu itu De Deli Maatschappij berpendapat, selagi ini masih tanah konsesiku maka silahkanlah. Tapi kalau masa konsesi itu habis, maka habis jugalah kalian. Itulah pemikiran Deli Maskapai pada saat itu,” tutur Luckman yang juga menjabat sebagai Chairman Of The Presidium Forum Komunikasi Antar Lembaga Adat (Forkala) Sumut.

Maka selanjutnya dibuatlah sebuah gambar kawasan dagang dengan nama Grand De Deli Maatschappij untuk memetak-metakkan lokasi atau wilayah dagang para eks kuli kontrak tersebut. Melihat keberhasilan pendahulu-pendahulunya, maka satu persatu kuli dari etnik Tionghoa ini pun meminta hak yang sama sehingga lokasi tersebut diramaikan dengan kios-kios dagang bangsa Cina.

Kemudian di abad ke-20, masuklah pedagang dari India yang akhirnya juga menguasai wilayah tersebut (di masa kini, salah satu ciri pedagang India yang ada di sana, misalnya berdagang alat-alat olahraga, red). Di tahun 1891, sebagian dari Konsesi Mabar Deli Tua -yang kini menjadi Kota Medan sekarang- diambil alih oleh pemerintah belanda.

Di sinilah awal konselir Belanda mengubah surat keterangan yang lama menjadi Grand Counsellier. Di tahun 1918, wilayah itu pun diserahkan oleh Kesultanan Deli kepada pemerintah Hindia-Belanda hingga akhirnya terbentuklah gemeente atau Kota Praja Medan. Oleh Pemerintah Kota Praja Medan, kawasan itu pun disusun teratur sedemikian rupa hingga membentuk sebuah kawasan bernama Kesawan.

Sejak itu berdatanganlah perusahaan-perusahaan asing untuk membuka berbagai perkantoran, bank, perusahaan perkebunan, kantor pusat, perusahaan pelayaran, kapal-kapal asing, dan lain-lainnya hingga Kesawan penuh dan menjadi pusat kota. “Dulu kios-kios yang dibangun di situ masih berbentuk kayu. Masih sederhanalah bentuknya, belum seperti sekarang ini. Tapi lama-lama berubah jadi bangunan  beton. Malah di abad 19 kawasan itu masih seperti kampung. Kondisinya pun masih seperti pasar. Tapi setelah diambil alih oleh Belanda, kawasan itu pun berubah menjadi sekarang ini. Tapi entah mengapa namanya diganti menjadi Jalan Jendral A Yani. Padahal kebanyakan orang lebih mengenalnya dengan nama Kesawan,” ungkap Luckman.

* * *

upload 4
Dr Phil Ichwan Azhari, sejarahwan Unimed

Kini Kesawan hanya menyisakan “sisa-sisa” sejarah. Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial (PUSSIS) Unimed bernama Dr Phil Ichwan Azhari, punya pandangan soal buruknya tata letak, tata bangunan dan wajah Kota Medan ini.

Menurut Ichwan, antara Kesawan dan Lapangan Merdeka Medan merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipilah-pilah atau dipisahkan. “Kesawan tidak berdiri sendiri karena dia adalah bagian dari sebuah pusat pemerintahan Kota,” ujar dia Ichwan.

Berdasarkan replikanya, Lapangan Merdeka Medan, Balai Kota, Bank Indonesia, Hotel Darma Deli, Kantor Pos, Stasiun Kereta Api, dan pusat perbelanjaan seperti Kesawan merupakan satu kesatuan dari pusat kota ini. “Pemandangan atau replika seperti ini akan mudah ditemui bila kita menginjakkan kaki ke negara-negara di Eropa seperti Jerman, Belanda, dan kota-kota tua di Eropa lainnya,” terang dia. Di sana, jelas Ichwan, akan selalu ditemukan sebuah lapangan luas dan di depannya adalah Balai Kota, kemudian di sekelilingnya akan dijumpai bank, hotel, kantor pos, stasiun kereta api, dan pusat perbelanjaan.

Di akhir abad ke-19, replika peradaban Eropa ini di-foto copy menjadi satu wajah di Kota Medan. “Sebenarnya ini juga bukan gaya Belanda karena di sekitar lapangan ada bangunan-bangunan bergaya atau bernuansa Inggris. Jadi ini adalah adalah sebuah replika Eropa. Dan Kesawan merupakan bagian dari replika ini,” jelas dia. Lapangan Merdeka Medan dan sekitarnya inilah yang menjadi pusat kota dan nol kolimeternya Kota Medan. Lapangan Merdeka Medan yang dulu juga sempat bernama Esplanade, ini dulu juga menjadi saksi pertempuran Medan Area yang dahsyatnya melebihi pertempuran Bandung Lautan Api.

Di sekeliling Lapangan Merdeka Medan ini juga dijumpai 60 pohon Trembesi yang didatangkan langsung dari Amerika Latin dan bisa menjadi paru-paru kota dan sangat teduh. “Inilah bagian dari upaya untuk memberikan replika Eropa, dengan maksud membuat satu kawasan yang teduh,” papar Ichwan. Kini, pohon yang tersisa di sana hanya tinggal 40 saja. “Tak ada lagi memori tentang kemerdekaan di lapangan ini. Masyarakat dan wisatawan hanya mengenal Merdeka Walk yang tak sebanding dengan nilai sejarah di Lapangan Merdeka Medan,” tegas Ichwan.

Bahkan saat ini, gedung-gedung di daerah Kesawan tersebut banyak dijadikan sebagai sarang burung walet. “Gedung-gedung yang ada di kesawan sudah banyak yang di rombak menjadi gedung yang tidak genah. Malah sarang walet pun sudah banyak di situ. Bayangkan saja di tengah kota, ada sarang walet? Ini ‘kan aneh sekali,” kata Ichwan yang juga menganggap berdirinya tempat penyimpanan abu mayat di kawasan itu sebagai suatu hal yang aneh.

Kesawan, kata Ichwan, bukanlah sebuah pusat perdagangan yang sengaja dibangun karena adanya alasan orang ingin bertransaksi. Kawasan ini merupakan bagian dari sebuah kota kolonial yang saat ini tengah dalam proses penghancuran secara tak langsung. Ichwan menegaskan, “Tak ada yang peduli, baik pemerintah, anggota dewan terhormat, maupun warga Kota Medan sendiri.”

* * *

Wajah Kesawan memang berubah total. Sebagian toko-toko lama sudah tak nampak lagi wujudnya. Ada yang berubah wujud, berubah fungsi, berubah pemilik,  malah ada yang sama sekali hilang dari pandangan mata seperti toko roti dan toko ice cream milik Belanda. Dalam hal ini, tiga sejarahwan yang dihubungi, sepakat kalau wajah Kesawan memang sudah tak berbentuk lagi.

“Sekarang di situ malah ada sarang burung walet. Seharusnya itu tidak boleh, karena dapat menyebarkan penyakit. Apalagi itu adalah kawasan inti Kota Medan. Makin kacau dan semrawut Kesawan itu kutengok,” kata Luckman Sinar dengan nada kesal. (*)

6 thoughts on “Kawasan Kesawan; Kacaunya Wajah Sejarah di Inti Kota Medan

  1. Kawasan Kesawan… bolak balik..
    Kayanya butuh penataan kota yang lebih baik yah… Mgkn yang lebih penting jadikan masyarakatnya baik dahulu… atau dua-duanya berjalan beriringan…

    semoga memang begitu.🙂

    Like

  2. Apa definisi bangunan bersejarah itu ya. Jangan karena pernah dijadikan sebagai tempat kongkow-kongkow londo-londo itu lalu disebut bangunan bersejarah. Bahwa tata kota perlu manusiawi dan mudah bagi kehidupan, setuju. Tetapi jika harus memutar arah jam ke 100 tahunan silam, bisa mangap itu Tuan.

    Hagia Sophia di Istanbul, Turki, dulunya adalah sebuah bangunan bekas gereja katedral Basilika dan kemudian dijadikan mesjid di masa Utsmaniah Turki (Aya Sofia), kemudian di masa Kemal Attaturk dijadikan museum dan di masa modern sekarang menjadi salah satu tempat yang paling dikunjungi di Turki. Jarum jam tak bisa diputar, tapi merekonstruksi masa lalu, bukan mustahil.

    Like

  3. Pak Ichwan setiap hari ada di kampusnya di Unimed. Dia berkantor di Pusat penelitian sejarah Universitas Negeri Medan, jalan Pancing.😀

    thanks 4 komen.😀

    Like

  4. nama saya vivi, kebetulan saya ada lputan tentah Replika Eropa di Medan, jadii kira-kira boleh gak saya minta pendapat kawan-kawan sekalian tentang keadaan Replika Eropa di kota Medan saat ini. please send via email Vilisyab@yahoo.com dan tulisa nama juga asal. terimakasih. dimohon bantuannya y

    ayo siapa yang mau bantu😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s