Sjafrie Sjamsoeddin dan Anak Harimau


sjafrie sjamsoeddin
Letjend TNI Sjafrie Sjamsoeddin (sumber foto: inilah.com)

Saya kira, salah satu jenderal terganteng yang dimiliki oleh TNI saat ini adalah Letjend TNI Sjafrie Samsuddin. Nasibnya pernah akan diramalkan akan cemerlang. Dulu, bersama Letjend TNI (Purn) Prabowo Subianto, dia adalah salah satu bintang terang yang dimiliki Angkatan Darat. Bintang yang lain adalah Jenderal (Purn) Wiranto, plus Jenderal (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono. Dia disebut-sebut sebagai salah seorang lingkaran terdalam dari “pasukan perwira”-nya Prabowo. Mereka dinilai sangat akrab sejak menjadi perwira pertama, perwira menengah, apalagi saat menjadi perwira tinggi. Ketika Prabowo menjadi Pangkostrad, Sjafrie adalah Panglima daerah paling strategis, Pangdam Jaya.

Namun faktor kedekatan itu pula yang membikin pamor Sjafrie terus meredup. Terbuangnya Prabowo pasca gerakan 1998, membuat Sjafrie juga kena dampak ikutan. Dia disimpan menjadi jenderal berkategori staf yang notobene tak bisa membikin keputusan apalagi punya pasukan. Ya, kecemerlangan, kecerdasan dan tentu saja kegantengannya itu, sirna.

Memang, sebagai “komandan mereka”, Prabowo terkena dampak paling tragis. Dicopot sebagai Pangkostrad, kemudian diparkir menjadi “kepala sekolah” yaitu Dansesko TNI dan kemudian “mundur” teratur dari dinas kemiliteran. Karir militer Prabowo jelas antiklimaks.

Bagi saya, Prabowo tak “kalah” seluruhnya dalam pertempuran waktu itu. Saya menduga, Prabowo memanfaatkan waktunya selagi masih aktif di dinas kemiliteran itu (sejak dicopot hingga mundur), untuk mengamankan, menyelamatkan ataupun paling tidak menetralisir posisi-posisi perwira yang selama ini dikenal mendukungnya. Sudah lazim dalam tradisi kekuasaan, kalau pucuk pimpinan berhasil “dihabisi”, maka pasukan yang di bawahnya pun akan mengalami dampak yang sama. Hanya ada dua pilihan; terbuang atau tunduk pada pemenang. Namun pilihan itu pun sebenarnya cuma ada satu yaitu tunduk pada pemenang, karena kalaupun dia menyatakan “tunduk” pada kekuasaan, dia harus rela terbuang dari posisinya. Penguasa yang “baik” tentu tak mau memelihara anak harimau di dalam rumahnya.

Itu pula saya kira yang dilakukan oleh Prabowo kepada Sjafrie Samsuddin. Saya menduga, Sjafrie bisa saja mengikuti jalan yang juga diambil rekan-rekan Prabowo yang lain, Mayjend TNI (purn) Kivlan Zein dan Mayjen TNI (purn) Muchdi PR, yang “pensiun”. Seandainya saya Prabowo, maka saya akan mencegah Sjafrie untuk hal itu. Sjafrie jenderal cerdas, punya masa depan dan tentu pasukan yang setia. Dia tidak boleh “dipensiunkan” karena dialah yang akan menjadi klik saya di militer. Dia akan menjadi benteng terakhir saya di militer. Pertempuran sejatinya tak pernah berakhir. The show must go on. “Kita kalah kali ini, tapi kita tentu tak mau jadi pecundang sepanjang masa. We we’ll be back,” itu dalam benak saya.

Dan untuk itu, Sjafrie, mesti menjalani “kawah candradimuka” untuk yang kedua kalinya setelah Lembah Tidar. Dia menjadi “sipil” dan “terkucil” di departemen pertahanan, yang dalam tradisi pemerintahan RI (saya selalu tertawa bila dikatakan hal ini adalah tradisi supremasi sipil yang hendak ditegakkan dalam alam demokrasi) selalu dipimpin oleh seorang sipil. Dan Sjafrie,menurut saya, adalah orang yang sabar dalam menjalani “pertapaan” itu. Tak cuma itu, dia juga terkena tuduhan kalau dia juga bertanggung jawab dalam kasus-kasus HAM di Indonesia. Suatu tuduhan keras yang terus menjadi catatan sejarah dan akan dibongkar-bongkar dengan ganas ketika situasi panas.

Namun beberapa tahun belakangan, dia kembali disebut-sebut media setelah hampir tiga tahun (1998-2001) hanya menjadi “staf ahli”. Mulai ke permukaan kembali ketika dia menjabat Kapuspen TNI (2002) hingga dalam jabatannya sebagai Sekjen Departemen Pertahanan RI yang dipegangnya sejak April 2005. Ini salah satu jabatan strategis. Namanya terus menguak (kembali) ketika beberapa kasus jatuhnya pesawat terbang milik tentara Indonesia dalam setahun belakangan. Dia bukan yang tertuduh, namun yang jadi sorotan masyarakat kemudian adalah tragisnya kondisi pesawat dan helikopter itu karena minimnya dana alutsista (alat utama sistem persenjataan). Dan pembicaraan soal anggaran pertahanan RI akan melewati Departemen Pertahanan.

Jabatan dia sebagai Sekjen Dephan waktu itu menjadi sangat penting karena dia menjadi jembatan dari institusi militer dan pemerintahan. Walau namanya sering disebut-sebut, namun dia sangat jarang memberikan komentar soal anggaran alutsista. Masyarakat boleh menebak-nebak, namun yang tahu pasti soal itu tentulah Panglima TNI dan Panglima Tertinggi TNI yaitu Presiden. So, mungkin saja ada perintah “You may talk to the press, but not too much”. Jabatannya sebagai Kapuspen TNI, paling tidak sudah mengajarkan beberapa hal bagaimana cara menghadapi dan “mengelola” media serta mengolah isu.

Dia pun kemudian ditimang-timang akan kembali ke kesatuan dan menduduki jabatan lain yang lebih bersifat “komando”. Ketika dia dipilih sebagai Sekjen Dephan, saya kira, pertapaannya itu sudah hendak menjadi tahap akhir. Statemen Menteri Pertahanan waktu itu, Juwono Sudarsono, yang mengatakan kalau Sjafrie mengambil peran sangat penting dalam “mereformasi” sistem anggaran pertahanan, bisa diartikan kalau Sjafrie sudah akan keluar dari posisi “tunduk” melainkan melakukan “gerakan”. Bahkan beberapa waktu lalu, namanya pun sudah beredar untuk mengisi pos Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) yang ditinggalkan oleh Jenderal TNI Djoko Santoso. Kompetitornya antara lain Letjend TNI Agustadi Sasongko Purnomo (waktu itu masih Letjend) dan Letjen Erwin Sudjono. SBY akhirnya menunjuk Agustadi, namun beredarnya nama Sjafrie itu sendiri merupakan pertanda penting bahwa dia telah kembali bisa menyusun kekuatan di tubuh angkatan darat, institusi militer paling penting di negara ini.

Dan kini, ketika SBY akan menentukan calon menteri dalam kabinet di 2009-2014, namanya kembali disebut-sebut. Ada yang bilang dia akan naik pangkat menjadi Menteri Pertahanan. Tapi dugaan itu sudah langsung akan pupus, karena tradisi “pemerintahan sipil”. Sebagai apa? Untuk pangkat dan jenjang senioritas setinggi Sjafrie, hanya ada beberapa pos yang strategis yaitu Pangkostrad, KSAD dan Panglima TNI. Pangkostrad diikutsertakan karena pertimbangan level kepangkatan bintang tiga plus menjadi komandan pasukan.

Tiga posisi itulah saya kira yang cocok untuk perwira selevel Sjafrie bila saja oleh SBY sebagai Panglima Tertinggi dan Kepala Pemerintahan, dia tidak hendak dipakai di perangkat pemerintahan.

prabowo-sby1
Prabowo Subianto dan SBY sewaktu masih kolonel.

Namun, untuk itu Sjafrie harus menjalani jalan yang lebih panjang lagi. Dan jalan itu adalah tergantung hubungan bagaimana yang akan dibina oleh Prabowo Subianto dan SBY. Bagaimanapun, jejak-jejak Prabowo dalam karir Sjafrie, tak bisa dilepaskan seluruhnya. SBY, sebagai mantan seorang jenderal militer yang dulu juga berada dan melihat langsung dalam arus “pertempuran” antara Prabowo dan Wiranto waktu itu, pasti paham, sudah sampai tingkat mana hubungan antara Prabowo dan Sjafrie. Ini ibarat sebongkah batu yang dilempar ke dalam air. Untuk sesaat dia akan memunculkan riak dan gelombang di permukaan. Kalaupun riak dan gelombang itu tenang kembali, tetap saja batu itu masih berada di dalam air.

Dengan begini, maka apa yang akan terjadi di tubuh militer selanjutnya, pasca pelantikan Presiden RI dan kabinet 2009-2014, salah satu indikatornya adalah bagaimana hubungan yang terjadi antara Prabowo –yang sudah total berpolitik lewat Gerindra– dengan SBY sebagai Presiden RI. Ini pula saya kira yang menjadi “masalah” ketika kemarin dikabarkan Prabowo akan hendak digamit oleh SBY sebagai salah satu menterinya. Bagi saya, bukan Prabowo yang sedang diperbincangkan, namun “orang Prabowo”. Sjafrie-kah itu? Kita lihat saja nanti.

Nah, kalaulah Gerindra menjadi oposan “total” terhadap pemerintahan SBY, seperti yang kelak (mungkin) akan dilakoni PDIP, maka jalan untuk itu tentulah tidak tertutup sama sekali. Tapi ya pastilah, caranya akan lebih frontal; siapa yang paling kuat di militer dia yang menang. Kalau sudah begini, SBY tak bisa lagi memakai politik “citra-citraan” ala pilpres atau pileg, seperti yang digarapnya dengan serius melalui media massa. Apalagi, posisi kekuasaannya yang hanya akan berumur 5 tahun lagi, justru adalah kelemahan tersendiri. Seperti laiknya cerita kekuasaan di sektor lain, kalangan militer toh juga sudah meraba–raba peluang mereka di kepemimpinan yang akan datang. Ini militer, sebuah institusi di mana SBY “hanya” dikenal sebagai “jenderal staf”. Sebagai politisi yang kampiun mempermak imej, itulah imej yang tak pernah bisa dilunturkannya hingga saat ini. (*)

5 thoughts on “Sjafrie Sjamsoeddin dan Anak Harimau

  1. Pak Sjafrie ikut audisi tp ngak disebutin di kib 2 napa yah?

    nah setelah itu ada statemen kalau pos panglima TNI, KSAD, hingga kapolri menunggu pensiun tiba hahahaha😀

    Like

  2. Seharusnya pak Syafrie menolak jabatan Seskab. Buat apa jadi ‘tukang catat’ di kabinet? Mendingan pensiun dan menikmati hidup….

    Like

  3. Diralat ya : Prabowo di copot dari jabatan Pangkostrad bukan menduduki jabatan Dankodiklat TNI AD tetapi Dansesko TNI dibawah naungan Mabes TNI…

    hehehe… iya bener, salah saya. thanks. ini langsung diralat….😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s