Golongan Kaya Raya (2)


ical

Aburizal Bakrie sudah sah menjadi Ketua Umum Partai Golkar. Konon, dia adalah orang terkaya di seluruh Indonesia, dan bahkan Asia Tenggara. Benarkah? Kalaupun itu diragukan untuk apa? Toh, informasi soal kekayaan itu, seperti juga laporan kekayaan orang terkaya di dunia yang dilansir media tertentu, tak juga bisa dipastikan kebenarannya. Namun, dampak dari pemberitaan soal itulah yang penting. Bagi petugas pajak, tentu itu akan menjadi makanan empuk. Namun bagi si “tersangka” sendiri, itu menjadi kampanye yang bagus terutama untuk menaikkan harkat dan derajatnya. Dari titik itu, peluang untuk memperbesar jaringan semakin terbuka. Pepatah lama Indonesia yang berkata, “ada gula ada semut”, toh berlaku universal.

Untuk Golkar, banyak yang mengatakan duduknya Ical sebagai ketua sebagai langkah para “semut-semut” itu supaya tetap eksis. Mereka butuh sandaran terutama dalam hal finansial dan kekuasaan agar Golkar tidak mati bak pelanduk dalam pertarungan antara “gajah” politik saat ini seperti Partai Demokrat dan PDI Perjuangan.

Namun, bagi saya itu hanya alasan untuk mereduksi Golkar di pentas politik. Siapapun pasti sepakat, faktor SBY adalah indikator utama dari suara Demokrat. Sementara faktor Megawati (sebenarnya Soekarno), sangat signifikan di tubuh PDIP. Artinya, yang tidak dipunyai oleh Demokrat dan PDIP justru dimiliki oleh Golkar yaitu “jaringan kader”. Artinya, bila kedua orang ini habis, maka kemungkinan yang paling besar adalah akan habislah pula suara Demokrat dan PDIP. Tak ada figur pengganti di kedua partai itu. Sebutlah nama di Demokrat dan PDIP –minus SBY dan Mega – dan juallah itu dalam pemilu kalau laku.

Namun oleh Golkar sendiri, level “kader” dinaikkan secara sistematis menjadi level “tokoh”. Dus, Golkar pun didesas-desuskan dipenuhi oleh jaringan tokoh-tokoh baik yang berkaliber nasional, lokal maupun internasional. Itulah jualannya Golkar dan menjadi nilai bargain di pentas politik Indonesia.

* * *

Bila dilihat dari pertarungan di pentas Munas kemarin, nama Ical dan Surya Paloh, adalah dua tokoh di level elit tertinggi. Perolehan suara keduanya yang terpaut tipis, menandakan kalau dua kubu besar itu menjadi pusaran. Yang lain-lain itu anggap saja riak-riak komplemen saja.

Ical didukung Akbar Tanjung, Agung Laksono dan yang lain-lain, sementara Surya Paloh jelas di-back oleh Jusuf Kalla. Kisah dendam lama pasca Pemilu 2004 lalu, ketika Kalla menendang habis Akbar Tanjung, berbuah sangat manis bagi Akbar. Akbar begitu sabar dan licin untuk menanti pembalasan itu. Dan kali ini dia menang.

Namun, benarkah Ical dan Golkar “sekecil” itu levelnya yaitu hanya menjadi ajang pertarungan dua sosok Kalla dan Akbar. Jawaban Anda pasti tidak. Saya pun begitu. Demikian juga dengan hal ini: benarkah Ical (dan Rizal Malarangeng) hanya menjadi pionnya SBY untuk menghabisi Golkar dan menjaga kemungkinan Demokrat langgeng di 2014? I don’t think so.

kalla ical

Kekuasaan begitu memikat. Dan siapapun itu, yang bermain di pusaran itu, pastilah tak ingin mereka hanya sekedar menjadi “pengasuh” bagi bayi-bayi politiknya SBY misalnya anaknya sendiri Ibas Yudhoyono, atau malah Andi Mallarangeng hingga ke nama Anas Urbaningrum.

Ical adalah sosok yang menjadi salah satu pemenang utama dari pertarungan politik mulai dari 2004 dan 2009, dan hingga 2014 ini. Lihatlah posisinya yang aman-aman saja ketika masa Gus Dur dan Megawati (ia dengan lenggang kangkung menjadi Ketua Umum Kadin), dan menjadi Menko Ekuin dan Kesra di zamannya SBY.

Akbar dan Kalla boleh bertarung di 2004 lalu dan ketika Kalla menjadi pemenang, Ical tetap berjaya. Dan ketika hampir seluruh orang merayakan kemenangan Akbar dan mengeluhkan kekalahan Kalla di 2009, Ical justru yang menjadi top elit di Golkar.

Karena itu, saya kok punya dugaan kalau jangan-jangan yang menjadi pemain “tunggal” sejak 1999 lalu adalah Aburizal Bakrie, dan tiga (atau malah empat) tokoh elit politik yaitu SBY, Kalla, Akbar (dan Megawati) justru adalah mainan Ical?

Lihatlah ketika SBY naik, begitu kuatnya hubungan antara Kalla dan Ical agar Golkar yang waktu itu mencalonkan Wiranto tak menang. Dan lihat jugalah ketika SBY naik lagi, begitu “gilanya” perolehan suara yang diraih oleh Kalla. Orang akan mudah mengarahkan telunjuknya, kekalahan Kalla itu adalah peran Akbar dan … Ical!

Mengapa Ical mau melakoni itu? (*)

* * * * * * * * *

Golongan Kaya Raya (1)

4 thoughts on “Golongan Kaya Raya (2)

  1. ikut bilang “mantaaf’s” ..
    jd Ical itu sapa bang?😉
    (kalo bahasa sunda .. ical itu artinya “jual” .. ngak nyambung yah :D)

    hehehe abu ical bakrie …kl cadel ato celat mmg jd kek gitu ejaannya hahaha😀

    Like

  2. Jika Ketum di Partai ini akan langsung jadi Capres (apalagi konon konvensi sudah tak diperlukan lagi), maka bukankah ini sebuah pengingkaran?
    Kecuali ada perubahan konstitusi (misalnya ini) Presiden Indonesia akan bergantian dengan pola 7 kali orang Jawa 1 kali luar Jawa. Jika pemilu Amerika memenangkan Obama, mungkinkah Abu Rizal Bakri menang Pilpres 2014?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s