Golongan Kaya Raya (1)


“Hebat, luar biasa, mantap, tokcer.” Itu beberapa kata yang ada di kepala ketika Aburizal Bakrie “hanya” menang tipis dari Surya Paloh dalam perebutan Panglima Tertinggi Partai Golongan Karya. Elit Golkar, sekali lagi, memberi tanda sekaligus pelajaran puluhan sks kepada partai-partai lain mengenai riil politik Machiavellis cita rasa Indonesia.

Golkar adalah partai yang realistis melihat pertarungan supra elit mereka dalam perebutan kursi Ketua Umum. Ini juga sekaligus tamparan bagi pengamat-pengamat politik “sok moralis” yang menyematkan harapan-harapan agar Golkar punya kepedulian terhadap pendidikan politik yang “baik-baik”. “Jangan kami yang disuruh belajar politik, kalian saja yang belajar,” mungkin seperti itu kata mereka kepada pengamat-pengamat itu. “Kami mempunyai seluruh instrumen untuk berkuasa, kecuali moral. Catat itu!” Mungkin kayak gitu.

Mengapa ada perbincangan soal “moral” ketika melihat Golkar, atau lebih jauh ketika memandang politik? Moralitas yang seperti apa?

Yang diinginkan adalah, karena Golkar itu didengung-didengungkan punya seabreg “tokoh bangsa”, maka masyarakat diharapkan punya “harapan” kepada partai ini. Ini bentuk kampanye politik atau lebih asyiknya kita pakai saja kata “propaganda politik” yang sengaja dibikin Partai Golkar. Jadi, yang menginginkan kondisi seperti itu adalah elit Golkar sendiri. Dan pengamat-pengamat, yang kebanjiran order becakap di media-media, termakan dengan kelemahan paling riil yang ada di diri mereka sendiri: “keinginan untuk berbuat baik bagi bangsa dan negara”.

So, seolah-olah Golkar berkata begini; “Let’s give them what they want.” Golkar telah menyuap asupan-asupan yang diperlukan bagi pengamat-pengamat itu. Dan pengamat-pengamat itu, dengan muka tersenyum, merasa telah bisa mengkadal-kadali Golkar dengan pernyataan, asumsi, pendapat, teori-teori mereka. Mereka berteori soal “oposisi”, soal share kekuasaan, soal masa depan partai, soal masa reformasi dan soal kelanjutan bangsa negara ini. Dan Golkar dengan wajah tersenyum –sesekali mempertontonkan muka serius- menanggapi apa yang dikatakan masyarakat kepada mereka.

Apa jadinya? Masyarakat luas kini punya sesuatu terhadap Golkar. “Sesuatu” itu adalah “harapan”.

Permainan Golkar kali ini, dingin sekali.

* * *

Golkar tak harus dibubarkan. Ini hak politik yang dijamin oleh konstitusi. Dasarnya adalah setiap bajingan, bandit, koruptor, pun berhak menghirup udara di bumi yang luas ini. Setiap orang diberi kesempatan untuk bertaubat. Kalau yang bandit saja punya hak seperti itu, maka apalagi mereka-mereka yang suci.

Golkar, dengan kumandang “reformasi Golkar” pasca 1998, telah berhasil menjadi salah satu partai yang “suci”. Partai di mana setiap orang merasa bahwa institusi ini bisa menjadi sandaran kehidupan berbangsa dan bernegara, bahwa partai ini merupakan salah satu aset bangsa, bahwa Golkar adalah motor dan roda penggerak pembangunan, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau.

Oleh karena itu, Golkar mesti diselamatkan oleh bangsa. Mereka punya bargain yang kuat yang selalu mereka dengung-dengungkan seperti suara nyamuk di setiap kuping orang Indonesia. Bahwa di dalam Golkar, hiduplah para tokoh-tokoh bangsa yang berkualitas, teruji dan punya peran dalam pembangunan di Indonesia.

“Setiap orang punya salah dan orang yang bersalah tentu boleh bertaubat bukan?” Demikian juga Golkar. Mereka akui kalau mereka adalah penyangga kekuasaan Orde Baru yang telah merusak negara in sehancur-hancur, dan mereka katakan kepada seluruh orang Indonesia, “Iya betul. Tapi kami telah mereformasi diri.”

Sepuluh tahun reformasi, plus di tahun 2009 ini, tentulah “dosa-dosa” itu telah ditebus dengan kalimat “bakti dan sumbangsing pada bangsa negara”. Golkar telah suci, telah mandi kembang tujuh rupa, telah menjalani ruwatan selama sepuluh tahun. Dalam sepuluh tahun itu, badan mereka terus diuji; nomor dua di 1999, nomor satu di 2004 dan nomor dua lagi di 2009.

Dan, setiap orang yang punya moral, tentulah menyambut dengan tangan terbuka. Lagi-lagi, ini adalah soal moral. (*)

2 thoughts on “Golongan Kaya Raya (1)

  1. wow wow wow, posting empok litik tho..
    nyengir aja ahhhh:mrgreen::mrgreen:

    paragrap ke 3 dari ending, nge LIKE dulu ahhh. contreng, demen.

    saya udah di doktrin sama emak saya yang antigolkar krna kesalahan masa orde baru nya, pukuk e di mata emak golkar enggak bangetttt. padahal saya juga g tau menau soal empok litik. tapi berhubung emak saya yang ngedoktrin, saya enggak nolak.😀😀

    sekali lagi, memang tidak mudah menghapus jejak
    *peter pan*

    wah kirim salam ya sm emaknya😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s