Jalan Kota Medan Justru Makin Hancur


Di sana-sini, jalan-jalan di Kota Medan hancur berantakan. Status kota Metropolitan dipertaruhkan.

* * *

upload

Kota Medan terus sibuk meladeni hujan yang turun tak kenal waktu. Beberapa ruas jalan, harus rela menjamu air hujan. Jangan cepat berharap panas segera datang karena persoalan baru sudah mengintip ganas di sana. Panas membuat rongga badan jalan yang compang-camping itu menyebarkan debu dan abu.

Lintasilah kawasan Johor, tak jauh dari lokasi Asrama Haji, Pangkalan Masyhur Medan. Di antara yang paling memprihatinkan yaitu Jalan Karya Jaya.

Diameter jalan yang sempit membuat wilayah ini tampak overload oleh sesaknya aktivitas di atasnya. Kondisinya? Hampir 90% hancur. Dari awal masuk dan di ujung jalan, pemandangan seperti jalan berlubang, bergelombang dan kerikil berserakan, menjadi pemandangan lumrah.

Ironisnya, hancurnya jalan itu bukan terjadi akhir-akhir ini. “Sudah hampir lima tahun begitu-begitu saja,” ketus Muhammad Arifin Purba (47), seorang warga di kawasan itu.

Ia menuturkan, hingga sekarang belum ada tindakan agresif pemerintah untuk memperbaikinya. Sekali waktu pernah juga masyarakat bergotong-royong coba menempel jalan-jalan berlubang tadi dengan timbunan pasir dan bata. Sayangnya, tindakan positif tadi hanya bertahan beberapa minggu saja, setelah itu lubang kembali tersobek dan menganga oleh geraukan kenderaan yang lalu-lalang.

“Sekali-sekali mau juga la kami menutup jalan dengan pasir. Tapi seberapa kuat pasir bisa menahan kenderaan yang setiap hari melewati jalan ini. Belum lagi truk-truk proyek pembangunan melintas, hancur la jalan. Anda lihat saja sendiri keadaannya,” ujar Arifin lagi.

Pesatnya pembangunan perumahan di kawasan itu tak pelak menjadi salah satu faktor tersendiri. Pecahan kerikil bekas proyek pembangunan jalan beberapa tahun silam, ditambah truk-truk proyek pembangunan perumahan yang hilir-mudik, berakibat pada pecahan kerikil bekas pengaspalan berserakan di sepanjang jalan.

Kubangan-kubangan berdiameter 1-2 meter, dengan kedalaman 20-30 cm adalah cerminan khas yang tampak jika berada di kawasan itu. Dihitung-hitung tak kurang dari 15 lubang besar, 50-an lubang kecil dan delapan tekstur jalan bergelombang.

“Beberapa tahun lalu pernah ada perbaikan jalan di sini, Pak, namun sebatas menempel jalan yang dianggap paling parah saja. Kalau lubang yang kecil-kecil tak mau orang itu menempel, paling hanya menimbunnya dengan pasir atau tanah lihat,” ujar Yul Mury Sandy (33), warga yang tinggal tak jauh dari SPBU di seputaran jalan tersebut.

Tak cuma di situ. Wakil Gubernur Sumut, Ir Gatot Pudjonugroho, yang berumah di kawasan Johor pun pernah uring-uringan melihat kondisi jalan menuju rumahnya itu. Aneh.

* * *

Kawasan Johor memang salah satu titik terparah. Sementara di kawasan Barat Kota Medan, misalnya di daerah seputaran kecamatan Medan Tembung, Medan Perjuangan, Medan Denai dan Medan Area, titik-titik jalan hancur sudah kasat mata.

gambar 1Misalnya di titik Jalan Pancing (William Iskandar) persis di depan Jalan Perjuangan hingga ke perempatan Aksara Plaza dan Pajak Bengkok, ditemukan titik “tragis”. Bahkan beberapa waktu lalu, warga setempat sempat menanamkan pohon pisang di tengah-tengah jalan. Selain bentuk sindiran terhadap pemerintah kota, pohon itu juga menjadi penanda agar warga tak melintasi titik berlubang yang cukup dalam itu.

Persimpangan jalan Bhayangkara juga sangat parah. Tepat di titik perempatan jalan Bhayangkara-Pancing-Pasar 12, bentuk jalan bahkan sudah tak tampak lagi. Tragisnya, genangan air di titik itu, justru “hampir” tak pernah kering. Akibatnya, kalau hujan sedikit saja, warga sekitar juga turut menikmati genangan air hingga ke dalam rumahnya. Kini, di pinggir titik itu teronggok batu dan pasir. Konon, itu akan digunakan untuk menambal jalan itu. Sebelumnya, batu-batu sisa pembuatan ruko pernah ditimbunkan ke sana untuk menambal. Namun, itu saja tentu tak cukup.

Titik lain yang biasa jadi langganan rusak bak jalanan off road adalah jalan Mandala By Pass, titik jalan Sejati, hingga ke pasar Sukaramai.  Sejak di perempatan Jl Letda Sudjono-Selamet Ketaren-Mandala By Pass, hancurnya jalan sudah terasa hingga ke ujung jalan Mandala by Pass-Jl Denai. Titik terparah ada di Pajak Mandala By Pass hingga ke persimpangan jl Sejati. Limpahan air karena tersumbatnya drainase plus ratusan truk dan tronton yang setiap hari melintas makin memperparah kerusakan itu. Kini, di sana sudah diaspal ulang. Tapi entah berapa lapa akan bertahan. Di sepanjang jalan itu berjejer pool truk angkutan barang super besar.

Menuju kawasan Utara Kota Medan, juga sama. Mulai dari jalan Bilal Ujung, jl Krakatau, jl Karantina, Yos Sudarso, Marelan, Helvetia hingga jalan besar Medan-Belawan. Jalan lingkar alias ring road Helvetia yang tak kunjung selesai semakin memperumit jalan yang setiap harinya dilintas truk-truk berat di kawasan itu.

Ring road kini memang menjadi alternatif bagi rusaknya jalanan di tengah-tengah kota dan kawasan pemukiman. Namun, kondisi jalan ringroad itu sangat kontras dengan jalanan yang menghubungkannya dengan kawasan timur seperti di kecamatan Medan Petisah, Helvetia, Sunggal, Baru, Selayang dan Medan Polonia, hingga ke Medan Tuntungan. Tengoklah kondisi di Jl Pasar tiga dan jalan Pasar Baru di Medan Selayang, hancur total.

* * *

Data yang diperoleh dari Pemko Medan menyebutkan, hampir 50% keadaan jalan di kota ini masih bopeng-bopeng kalau tak ingin menyebutkan hancur berantakan. Kejadian ini bukan baru tahun ini saja. Data lama dari buku Laporan Kerja Pertanggungjawaban Walikota Medan Tahun 2007 lalu, tercatat jalan rusak yang ada di Kota Medan mencapai 44,94%. Dengan rincian 33,48% adalah jalan yang kondisinya rusak berat, dan hanya 21,58% jalan di kota ini yang kondisinya baik.

USULAN PEMBIAYAAN JALAN SUMUT

Program Target (km) Usulan Biaya
Program Pembangunan Jalan dan Jembatan 285 Rp 570.325.000.ooo
Program Pemeliharaan Jalan dan Jembatan 2.410 Rp 377.999.148.000
Program Pembinaan Jalan dan Jembatan Rp 32.474.852.000
Total Rp 980.799.000.000

PRIORITAS PEMBANGUNAN JALAN KOTA MEDAN 2010 *

Metropolitan Medan Jalan Akses dan Fly Over Kualanamu,Fly Over Jamin Ginting, Medan-Belawan, Lanjutan Ring Road Medan: Jl Asrama, Cemara dan Menteng Raya

Sumber: Dinas Bina Marga Sumut

Kondisi jalan dan sistem drainase yang rusak parah di tahun 2007-2008, paling tidak terimbas dari tersangkutnya Walikota dan Wakil Walikota Medan dalam kasus korupsi. Pemerintahan pun mandeg. Alhasil, masyarakat kota Medan hanya mewarisi kondisi hancur di 2009.

Kini, Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Medan telah mengusulkan anggaran sebesar Rp 130 miliar dalam APBD 2009 untuk pemeliharaan jalan dan drainase di Kota Medan. Kepala Sub Dinas Perencanaan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Medan, Gunawan Surya Lubis, ketika dicegat wartawan mengatakan, pengajuan dana Rp 130 miliar dalam APBD 2009 adalah murni keseluruhannya digunakan untuk perbaikan infrastruktur jalan dan drainase di kota Medan.

Anggaran itu sendiri akan dibagi, 70% untuk jalan dan 30% untuk drainase. Anggaran tersebut akan digunakan untuk perbaikan drainase di kawasan tertentu terlebih dahulu. Sebab tidak bisa sekaligus mengerjakan proyek secara bersamaan.

Angin segar ketika melihat hancurnya jalan di Kota Medan, cuma satu; hancurnya jalan-jalan tak cuma dialami ibukota Propinsi. Data yang dikeluarkan Dinas Bina Marga Sumut soal prioritas dan kondisi jalan di Sumut 2009, memperlihatkan rusaknya kondisi jalan, baik jalan nasional, propinsi dan kabupaten/kota, hampir merata di seluruh Sumut. Bayangkan, dari 83,05 km jalan nasional yang melintasi Kota Medan, hanya 17,95 km (21%) yang dalam kondisi baik. Sementara dari 2.752,5 km jalan propinsi di Sumut, hanya 825,67 atau 30% saja yang dalam kondisi baik. Tak heran, kondisi jalan kabupaten/kota yang jauh dari pengawasan akan jauh lebih ironis lagi.

Tragisnya, dana untuk membenahi jalan sedang cekak. Secara keseluruhan, Dinas Bina Marga Sumut di tahun 2010 telah mengusulkan anggaran lebih dari Rp 980 miliar untuk perbaikan dan pemeliharaan jalan di yang ada di Sumut.

Cukup atau tidak, dan apakah anggaran itu bisa efektif atau malah kontradiktif, tentu status kota Metropolitan –salah satunya- menjadi taruhannya. (*)

* * *

reportase: irfan azmi silalahi, nirwan

One thought on “Jalan Kota Medan Justru Makin Hancur

  1. Sistem: soal banjir ada hilir ada tengah ada hulu. Itu ada ilmunya dan praja-praja sembarangan didikan model lama taunya ya “just do something” dengan prinsip Kepala Daerah Berhati Anggaran. Akhirnya benar nada sindiran sebuah lawakan: 20 orang anak kecil adu panjang kencing (maklum ini mainan childish, lalu Medan langsung banjir.
    Kadis Parit: 3 kali survey saat hujan deras di sekitar jalan Denai. Banjir gak ketulungan. Eh, itu sungai denai, permukaan airnya masih 10-7 meter di bawah permukaan tanah. SO, orang Medan tak pandai buat parit (ha kan perlu ilmu buat parit agar gak jadi klolam tho?)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s