“Earthquake Did Not Kill People, The Bad Building Did It”


Gempa Padang bukanlah gempa yang terakhir kalinya dialami Indonesia. Apalagi kalau melihat “riwayat kerja” gempa di Indonesia selama ini. Selama September 2009 saja, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat lebih dari 30 kali gempa bumi di wilayah Indonesia dengan kekuatan di atas 5 SR.

gempa padang 2Beberapa yang terbesar di antaranya mengguncang Tasikmalaya (7,3 SR), Yogyakarta (6,8 SR), Tolitoli (6,0 SR), Nusa Dua (6,4 SR), dan Ternate (6,4 SR) dan Padang Pariaman (7,6 SR).

Dari situsnya Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, gempa bumi yang terjadi di wilayah Indonesia dalam beberapa bulan terakhir terjadi akibat dinamika pada lapisan bumi. “Gempa terjadi akibat penunjaman lempeng tektonik Samudera Hindia di bawah lempeng Asia di Pantai Barat Sumatera,” ujar Kepala Badan Geologi, Departemen Energi, R Sukhyar dalam penjelasannya di website Menteri Energi, 1 Oktober 2009.

Indonesia memang merupakan negara yang memiliki titik gempa terbanyak di dunia, mencapai 129 titik. Selain itu, Indonesia merupakan negara rawan gempa terbesar di dunia yang dapat menimbulkan gelombang tsunami.

Titik gempa tersebut meliputi daerah selatan Indoneisa, mulai dari Pulau Sabah sampai Nusa Tenggara Timur, terus naik ke Pulau Papua. Selanjutnya, masuk ke utara Indonesia sampai masuk ke gugusan Filipina. Gawatnya, daerah-daerah yang disebutkan itu juga berpotensi tsunami.

Pemetaan daerah rawan gempa di Indonesia seperti yang terlihat di situs Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG) Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral yaitu NAD, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, Jateng dan DIY bagian Selatan, Jatim bagian Selatan, Bali, NTB dan NTT. Kemudian Sulut, Sulteng, Sulsel, Maluku Utara, Maluku Selatan, Biak, Yapen dan Fak-Fak di Papua serta Balikpapan Kaltim.

Disebut-sebut sebagai negara rawan gempa, Indonesia memang dikepung tiga lempeng tektonik dunia. Indonesia juga merupakan jalur The Pacific Ring of Fire (Cincin Api Pasifik), yang merupakan jalur rangkaian gunung api aktif di dunia. Cincin api Pasifik membentang di antara subduksi maupun pemisahan lempeng Pasifik dengan lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, lempeng Amerika Utara dan lempeng Nazca yang bertabrakan dengan lempeng Amerika Selatan.

Indonesia juga memiliki gunung berapi dengan jumlah kurang lebih 240 buah, di mana hampir 70 di antaranya masih aktif. Selain gempa tektonik, gempa vulkanik juga mengintip.

Sementara itu, Data Standar Nasional Indonesia 1726 tahun 2002, Indonesia terbagi menjadi 6 wilayah gempa dari lokasi yang paling ringan seperti Kalimantan hingga paling rentan seperti Aceh, Padang, Mentawai, dan pesisir selatan Pulau Jawa.

Sumbar sendiri memang sudah lama dikenal sebagai daerah rawan gempa karena berada di atas patahan besar Semangko. Informasi dari Dinas Energi Sumber Daya Mineral Sumbar pada 2007 lalu pernah menyebutkan, banyak daerah berpotensi rusak bila terjadi gempa, misalnya mulai dari Muara Sipongi, Panti, Lubuk Sikaping, Ngaraik Sianok, Pinggiran Danau Singkarak, Gunung Talang, Danau Di Atas dan Di Bawah, Air Dingin, Muaro Labuh, Gunung Kerinci.

Patahan Semangko yang dimulai dari Teluk Semangko di ujung Sumatra hingga ke Teluk Andaman di Pulau Nicobar, ini sendiri sudah lama terjadi, sebelum pulau Sumatra terbentuk.

* * *

Informasi yang dilansir seorang geoscientist Indonesia, Rofik, dalam blognya rovicky.wordpress.com, yang membandingkan antara tiga gempa yang terjadi berurutan di Indonesia dalam waktu yang relatif dekat –gempa Padang, Bengkulu dan Yogya- cukup menarik. Tulisan itu diposting 1 Oktober, satu hari setelah gempa Padang dan pada saat Gempa Jambi terjadi.

Dicatat di sana, Gempa Bengkulu tercatat berskala 8,4 Magnitude, Padang 6,4 M dan Yogya 6,3 M. Menurut dia, gempa Bengkulu sebenarnya menyebar tetapi karena ini menggambarkan daratan maka getaran di pusat gempa (episenter) tidak digambarkan. Terlihat gempa Padang dan gempa Bengkulu memiliki kedalaman 30 Km. Sedangkan gempa Jogja hanya pada kedalaman 17.1 Km, sangat dangkal sekali.

Ditulisnya, energi gempa di Yogya terlihat terpusat pada tempat yang sangat sempit dan goyangannya lebih lama (hampir 1 menit) dari gempa biasa (20-30 detik). Itu karena adanya bounced wave atau pantulan getaran-getaran gempa. Hal ini pula yang dapat dipakai untuk menjelaskan mengapa penyebaran getaran gempa Yogya tidak menyebar ke seluruh penjuru dibandingkan dengan gempa Bengkulu.

Sementara getaran gempa Bengkulu menyebar jauh bahkan dilaporkan terasa hingga berjarak kira-kira 1.000 Km. Sedangkan gempa Padang menyebar relatif lebih ke utara (Timur Laut). Penjalaran gelombang pada batuan keras juga terlihat pada gempa-gempa ini. Gempa bengkulu yang pusat hiposenternya pada kedalaman 30 Km -pada batuan yang sangat keras (basement) sehingga relatif menyebar sangat jauh, dan kekuatannya juga yang sangat besar (M8.4). Gempa Yogya menyebar ke arah timur karena batuan kerasnya berada di sebelah timur dari pusat gempa.

Korban pada gempa Yogya memang masih tercatat paling besar karena lokasinya pada tempat yang padat penduduknya. Namun, itu menurutnya bukan karena gempanya melainkan konstruksi bangunan yang rapuh. “Earthquake did not kill people, the bad building did it,” tulisnya.

Pantaslah bila Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono ketika mengunjungi lokasi gempa Padang menyebutkan, bangunan-bangunan yang ada di Indonesia harus disertifikasi. Tak cuma di Padang. (*)

* * *

foto: Binsar Bakkara (AP Photo)

3 thoughts on ““Earthquake Did Not Kill People, The Bad Building Did It”

  1. sudah adakah bangunan tahan gempa teruji saat gempa terjadi?

    Yg arsitek tentu bisa menjawab ini. Tentu ketahanan bangunan bisa disesuaikan dengan level gempa. Jepang dan Amerika Serikat bisa jadi amsal kl melihat bangunan modern yg dirancang dengan ketahanan gempa. Tapi untuk kasus Indonesia, kasus-kasus korupsi bahan dan rancang bangun, masih kasat mata.

    Like

  2. Penegasan bahwa “Bad bulding” kill people kok gak di’pretelin’.
    Saya lebih senang melihat dari sisi yang satu ini.
    Karena banyak yang membahas dari sisi ‘spiritual’, padahal nilai pelajaran harusnya lebih daripada itu.

    mari kita lihat sama-sama.🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s