Haramkan Negara bukan Pengemisnya!


beggar_cagayan_de_oroNamanya tersebut sebagai Abu Dzar Al-Ghifar. Ia berteman dengan Salman Al-Farisi. Keduanya datang dari belahan wilayah di luar kota suci Makkah Al-Mukarramah. Satu dari suku bangsa Ghifar, suku nomaden yang punya tabiat merampok kabilah-kabilah. Dan yang terakhir disebutkan, berasal dari belahan bumi yang punya peradaban yang banyak ditulis bangsa-bangsa Eropa, Persia.

Sejak kecil, kedua orang ini diberitahu melalui ustadz-ustadz saya dengan kategori orang-orang yang kukuh pendirian, punya sikap dan cerdas. Abu Dzar punya kekhasan sebagai pelindung dan pembela orang miskin, yatim dan lemah. Seakan-akan kata “mustadha’afin “ itu sudah melekat erat dengan dirinya. Sementara Salman, diberitakan sebagai orang yang lurus, jujur dan cerdas.

Saya membayangkan seandainya Abu Dzar masih hidup dan kemudian mendengar fatwa sebagian ulama Indonesia yang mengharamkan “pengemis”. Apakah yang akan terjadi?

* * *

Ka’bah telah dikitari bangsa dari seluruh penjuru dunia. Kaya-miskin, besar-tinggi, kecil-pendek, pintar-bodoh, dan seterusnya. Seakan-akan dia menjadi magnet kosmos, dan seakan-akan pula laksana satu bijih atom yang terus dikelilingi neutron dan elektron. Bumi berputar pada porosnya dan bumi lantas mengelilingi matahari sebagai pusat tata surya. Dan matahari mengelilingi galaksi, dan seterusnya-seterusnya.

Alam semesta berkeliling, dari sumbu yang satu dan kembali ke situ lagi. Bayi menangis tak bisa berbicara dan dalam benaknya hanya makan dan minum, dan kemudian ketika tua, dia menjadi pelupa dan pikun, hingga tak ada yang diingatnya selain makan dan minum. Kemudian ketika dia mati, hanya tangisan yang mengantarnya ke liang kubur.

Seorang anak, suatu saat menjadi anak, kemudian menjadi bapak, kemudian menjadi kakek, dan kemudian mati. Si anak tadi melahirkan anak, mendapatkan cucu. Si anak tadi pun begitu juga, si cucu tadi pun begitu juga. Apakah yang sesungguhnya kita tinggalkan di dunia ini dan ke mana kita akan pergi?

Percayalah akan hari akhir, hari kiamat ataupun hari pembalasan. Hari di mana semua permasalahan akan diadili dan ditemui jawabnya. Hari di mana keadilan ditegakkan setegak-tegaknya, hari di mana setiap orang akan dipertontonkan seluruh kejadian di hidupnya serinci-rincinya.

Hidup dalam Islam bukanlah sebuah reinkarnasi tanpa tujuan. Kita bukan sedang berkeliling dan kemudian pusing. Islam mengajarkan kepada kita, bahwa hidup manusia dan seluruh alam semesta adalah satu garis lurus yang telah diketahui akhirnya. Perputaran kosmos dan lingkar kehidupan ternyata hanya alat pembelajaran yang seringkali mengelabui. Kita dikelabui oleh “tujuan”. Dalam perputaran tak ada tujuan, namun yang ada kebingungan. Seolah-olah kita berjalan menuju arah tertentu, tapi ternyata kita hanya balik lagi ke titik awal.

Islam mengajarkan kepada kita untuk terus berjalan menuju hari akhir. Menuju kiamat di mana kita akan berjumpa dengan Tuhan seru sekalian Alam. Kita akan berjumpa dengan pencipta kita. Kita akan melihat bagaimana rupa tuhan yang dalam dunia ini seringsekali kita pertengkarkan. Di sana kita tidak akan lagi bertengkar, berdebat, berdiskusi dan menelusuri. Yang ada di sana hanyalah jawaban. Masih percayakah kita akan hal itu?

Ternyata tidak. Kita berjubah, tapi kita telah berkhianat. Kita haramkan menjadi pengemis dan orang-orang pun tak berani lagi mengulurkan tangannya pada pengemis. Padahal, nabi dan orang miskin serta anak yatim sudah mengatakan dia tak punya jarak apapun dengan mereka, di dunia ini maupun di hari akhir nanti. Padahal, Tuhan telah meletakkan kaum dhuafa dalam letak paling terhormat, kitab suci Al-Quran. Lantas, mengapa kita hendak mengingkari dan mengharamkannya? Berilah pilihan kepada pengemis-pengemis itu, niscaya mereka tak ingin menjadi pengemis. Mengemis adalah pilihan tergetir. Bukankah sejak zaman nabi pun, bahkan peminta-minta sudah ada?

Kita pun tahu, akar “pengemis dan mengemis” itu adalah kemiskinan. Kalau ketidakadilan ekonomi masih terus terjadi dan orang miskin tak punya penghidupan dan mata pencaharian, apa yang akan terjadi? Di Indonesia ini, riwayat pasal 34 itu bak sampah saja, tak dipakai, manis tapi sungguh memuakkan. “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”.  Haramkan negaranya bukan orangnya!

Kita ingkari dia, karena ternyata kita hanya menginginkan orang-orang kaya dan berpunya saja yang layak hidup di atas bumi milik Tuhan ini.  Sungguh keji sekali. Kita tidak hanya sedang membuang pengemis tapi juga rasa cinta kita kepada sesama manusia, dan itu berarti kepada diri kita sendiri.

Kita buang perasaan itu, kita buang perjuangan kita itu hanya demi sebuah “peraturan daerah”. Kita tidak boleh lagi berempati, kita tidak boleh mengulurkan tangan, kita tidak boleh merasakan apa yang dirasakan orang lain. Ya, kita tidak boleh bercinta lagi. Kita sedang membunuh diri kita sendiri. Apakah yang lebih buruk dari itu? Apakah yang lebih buruk dari tragedi kemanusiaan itu?

Dan siapa yang sedang membunuh itu? “Ulama,” kata seorang anak kecil. (*)

6 thoughts on “Haramkan Negara bukan Pengemisnya!

  1. […] Fatwa Pengemis: Haramkan Negara bukan Orang! Namanya tersebut sebagai Abu Dzar Al-Ghifar. Ia berteman dengan Salman Al-Farisi. Keduanya datang dari belahan wilayah di luar kota suci Makkah Al-Mukarramah. Satu dari suku bangsa Ghifar, suku nomaden yang punya tabiat merampok kabilah-kabilah. Dan yang terakhir disebutkan, berasal dari belahan bumi yang punya peradaban yang banyak ditulis bangsa-bangsa Eropa, Persia. Sejak kecil, kedua orang ini […] […]

    Like

  2. “….Kita pun tahu, akar “pengemis dan mengemis” itu adalah kemiskinan. Kalau ketidakadilan ekonomi masih terus terjadi dan orang miskin tak punya penghidupan dan mata pencaharian, apa yang akan terjadi? Di Indonesia ini, riwayat pasal 34 itu bak sampah saja, tak dipakai, manis tapi sungguh memuakkan. “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”. Haramkan negaranya bukan orangnya!…”

    SETUJU…. PEMIKIRAN YANG CERDAS… SAYA ANGKAT JADI MENTRI SOSIAL YA UNTUK KABINET YANG AKAN DATANG… BIAR ULAMA PADA NGERTI ARTI SEBUAH CINTA DAN PENGHORMATAN…

    ah sedih saya ….😦

    Like

  3. ini kan masih negara ngemis … minta hibah .. minta bantuan .. minta sumbangan …
    btw … met buka shaum bang ..

    haramkan saja negaranya. selamat berbuka jg ya…🙂

    Like

  4. aneh ya………….

    indonesia memang aneh …….

    sampai2 pengemis pun tidak boleh…………

    bukannya pemerintah yg selalu meminta bantuan kepada imf dan bank dunia.. nya tidak bisa disebut pengemis…

    hmmmm…. aneh…

    indonesia pun jadi barang haram lah.🙂

    Like

  5. ndak ngasih pengemis juga ndak papa, masih banyak yang masih bisa diperbuat, usahakan aja sekitar kita tidak jadi pengemis, misal satu orang dapat 2 orang, 10juta yang berfikiran seperti ini, sudah berkurang pengemis 20 juta. kenapa harus repot2 lawan undang2, ben duwit negara bisa lebih merata dibagi ke …..yang membagi🙂

    kl dilegalkan oleh negara, maka ada yang aneh di situ.🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s