Muhammad dan Kurma


Berbukalah dengan yang manis. Betul? Betul, dan itu betul-betul betul. Nabi suka kurma? Betul, dan itu betul-betul betul. Apakah kemudian kurma identik dengan yang manis-manis? Betul sebagian, sebagian lagi tidak. Apakah kemudian menjadi sunnah berbuka dengan kurma? Betul, tapi hanya separuh, separuh yang lain mungkin saja tidak.

Ketika nabi diikuti sikap dan perilakunya, maka itu adalah sunnah. Dan untuk itu, maka kurma bisa jadi menjadi pahala tersendiri bagi orang yang memakannya ketika berbuka. Namun saya juga membayangkan ketika berbuka di suatu daerah yang sama sekali tidak kenal dengan kurma. Kalau “sunnah” itu diberlakukan, maka akan terjadi “ketidakadilan sunnah”.  Bagaimana mungkin saya mendapatkan pahala kalau saya tidak menemukan kurma?

Karena itu, “berbuka dengan manis” menjadi sandaran keduanya. Dia lebih lentur. Itu artinya, makanan halal yang rasanya manis, akan mendapatkan predikat “sunnah”. Dan mengikuti sunnah sudah jelas pahala.

Tapi untuk itu pun, ukurannya masih akan tetap ada. Bagaimana seandainya ketika Anda suatu saat berbuka dan tidak tersedia makanan yang manis-manis? Apakah Anda akan kehilangan pahala “sunnah”? Apakah nabi akan setega itu?

Itu satu. Kedua, adalah soal kultur per geografis. Coba pakai amsal yang begini. Satu makanan disebut sekelompok orang manis tapi ternyata tidak di tempat lain. Yang ini memang agak aneh dan begitu fleksibel. Suatu hari saya bersama keluarga makan kelapa muda dan meminum airnya. Saya katakan, “Buah dan airnya manis.”

Tapi kata satu orang keluarga saya, “Ini sih belum manis. Kalau ditaruh gula sedikit lagi, baru manis. Ini masih tawar.” Kening saya mengernyit. “Barang yang sama tapi maknanya bisa berbeda?’ tanya saya dalam hati.

Ini mungkin sama dengan “cita rasa” makanan. Untuk orang Sumatera, “pedas” itu akan sangat berlainan maknanya dengan “pedas” gaya orang Jawa.

Dalam benak saya, langsung menyergap satu kategori lain untuk melihat konsep “rasa”, yaitu makna dan kualitas rasa itu. Untuk lebih gampangnya, kita juga sering mengenal “sedap, enak, lezat” dan kebalikannya. Bila dari sebagian makanan orang Jawa –bagi lidah Sumatera- identik dengan yang manis-manis, maka orang Sumatera bisa dengan serta merta mengatakan, itu tidak enak. Orang Jawa tidak boleh lantas tersinggung dengan hal itu, karena itu bukan ejekan, tapi lebih pada kejujuran kultural.

Demikian juga sebaliknya kalau orang Jawa yang tak terbiasa dengan yang pedas-pedas a la Sumatera, maka mereka berhak mengatakan itu tidak enak.

Enak, lezat, sedap atau tidak, sangat menentukan suatu makanan. Dalam sebuah kondisi yang normal, artinya tidak dalam saat yang darurat misalnya kelaparan, maka “enak, lezat, sedap”, itu ya sangat menentukan, apakah seseorang akan meletakkannya ke lidah, mengunyah dan kemudian menelannya.

Nah, apakah nabi juga memakai kriteria itu? Sangat mungkin. Nabi Muhammad manusia biasa, dia makan, minum, berkeluarga, berkeringat, berdarah dan mencuci pakaian. Jadi, ya sangat mungkin, nabi memilih kurma, karena dia memang suka dengan kurma.

Kalau kemudian manusia lain menemukan bahwa kurma itu adalah makanan yang manis dan dalam kurma terkandung zat gula yang bisa mengembalikan kebugaran, itu adalah lain hal. Nabi kita ‘kan tidak “dikondisikan” sepintar Ibnu Sina dalam hal kedokteran.

Tapi apakah nabi akan “serendah” itu, tidak mengetahui makanan apa-apa yang akan masuk ke dalam perutnya? Bukankah sebagai makhluk paling suci yang pernah diciptakan di alam ini, Muhammad harus terjaga? Nah, saya kira ini bukan soal “level” rendah atau tinggi. Karena kalau kita memakai plot berpikir yang sedemikian itu, maka kita juga akan terjebak dalam pemikiran: “seharusnya nabi juga tidak berdarah ketika dipanah oleh musuh-musuhnya.”

Tapi, kalau kita memakai Al-Quran, maka kita harus punya anggapan bahwa nabi selalu dilindungi dan diberitahu mengenai kondisi alam oleh Allah. Contohnya sudah ada. Dulu sewaktu Nabi Adam akan ditanya oleh para Malaikat pasca penciptaannya, terlebih dahulu dia sudah diberi “bocoran” oleh Allah yang Maha Tahu, mengenai nama-nama yang ada di alam semesta.

Nah, dengan demikian, maka adalah sangat-sangat logis kalau nabi juga telah diberitahu oleh sesuatu yang tidak kita ketahui, tentang khasiat dari buah kurma. Nabi toh ‘kan tak perlu menerangkan pada seluruh umatnya, tentang istilah-istilah kedokteran ataupun gizi yang terkandung di dalam kurma? Untuk orang sebesar dia, cukuplah baginya mengatakan, “Makanlah ini karena ini akan bagus untukmu.” Ini mungkin sama seperti seorang ibu kepada bayinya. Masa’ sih si ibu mesti menguliahi dulu bayinya akan kandungan air susunya? Nah, kalau si bayi ini kelak mengetahui kandungan air susu itu setelah besar, tentulah lebih besar kecintaannya kepada si ibu.

Pada saat itu, bagi si bayi, kandungan air susu itu adalah “ghaib” alias yang tidak tampak, tidak diketahui, dan tidak dipahami. Dan tentu, dimensi “ghaib” itu pun punya rupa, beraneka dan tidak melulu harus dipenuhi oleh “nafsu pembuktikan”. Seperti cinta, kita percaya itu ada, kita percaya itu bisa membuat antara seorang perempuan dan lelaki kemudian bersatu, berkeluarga dan lantas beranak-pinak, tapi bagaimana mungkin Anda bisa melihat “sosok” dan “zat” cinta itu sendiri?

Dus, kalau kita masih percaya nabi kita itu adalah “Al-Amin” alias yang terpercaya, maka tidak ada tempat dalam benak-benak kita yang nakal ini, untuk mengatakan Muhammad itu sedang berbohong. Nah, untuk menerangkan apa yang dimaksud nabi, maka di sinilah mengapa orang-orang seperti Ibnu Sina diciptakan di muka bumi ini.

Kalaulah ini ada pada diri kita, mudah-mudahan kita bisa memandang nabi kita yang suci itu, sebagai makhluk manusia yang paling manusiawi. Dan jangan lupa, dia juga selalu dilingkupi oleh hal-hal yang ghaib. Nah, kalau Anda kemudian mengatakan misalnya nabi memakan kurma itu adalah karena makanan surga, ya sudah, masak’ sih kita bertengkar gara-gara itu? 

Manusia dan Muhammad adalah makhluk dua dimensi. Dia tampak nyata, tapi dia juga menyingkap hal-hal ghaib yang ada pada diri manusia. Seperti puasa dan juga buah kurma. (*)

3 thoughts on “Muhammad dan Kurma

  1. Ibadah Thowaf hanya di Masjidil Haram, lalu jika seorang muslim yang hidup di daerah terpencil apakah boleh thowaf di masjid yang dekat dengannya? Tentu tidak, tapi ini berkaitan dengan kemampuan. Seseorang akan dinilai dengan niat dan usahanya.

    Seseorang yang berusaha berbuka dengan kurma dengan berniat mengikuti sunnah tentu tidak dinilai sama dengan orang yang tidak berusaha atau bahkan meremehkannya. Adapun jika dia tidak berhasil karena diluar kemampuannya, tentu niat dan usahanya akan tetap bernilai.

    wallahu a’lam.

    😀 iya juga. sip, thanks.😀

    Like

  2. Assalamu alaikum wr. wb.

    Saudaraku tersayang di seluruh penjuru dunia maya…

    Alhamdulillah, setelah sempat stagnant sampai sebulan lebih,
    akhirnya ada yang menginspirasi saya untuk menulis ucapan…
    & mengirim komentar spam-nya kepada Saudara2, He he he…
    Tapi kali ini, insyaAllah… saya akan mencoba lebih sopan.

    Hmm, mau tahu isi komen saya kali ini? Heee… rahasia…
    Ya udah deh, nih saya kasih tau.
    Tapi, beneran… mau tahu? Apa? Beneran… yakiin?
    Ow… jangan ngambek donk, iya maaf-maaf…
    Nih, aku kasih link comment-nya…

    http://dir88gun0w.blogspot.com/2009/08/
    ucapan-selamat-kemerdekaan-ramadhan.html

    http://www.4shared.com/file/127273395/aafaeca/
    Ucapan_Selamat_Kemerdekaan__Ramadhan.html

    Selamat men-download & membaca komentar saya, ya!
    Semoga Allah senantiasa menyelamatkan kita sekeluarga…
    dari kejamnya adzab & dahsyatnya fitnah…
    yang ia turunkan di dunia, di dalam kubur, & di akhirat.

    Alhamdulillah, Saudaraku tersayang dimanapun kalian berada.
    Jadikanlah Romadhon kali ini lebih istimewa bagi dirimu…
    dengan mengamalkan Qur’an & Sunnah.
    Selamat menunaikan ibadah puasa, secara Lahir Bathin…
    serta raihlah kemenangan sejati untukmu.

    Buat Saudaraku yang punya blog ini, ma kasih, ya…

    Wassalamu alaikum wr. wb.

    lanjut aja… walaikum salam.🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s