Yang Bersaksi Sudah Mati


Terlalu sulit untuk menuliskan orang sebesar WS Rendra dalam hitungan karakter dan beberapa paragraf. Puisi, konon, membongkar dengan penuh lembut kesulitan simbolisasi pemikiran maupun perkataan perasaan hanya dalam beberapa kalimat dan bentuk. “Beban” yang demikian berat itu, suatu waktu pernah sangat merisaukan Sutardji Calzhoum Bahri.

rendraItu pun, banyak dari kita yang tak pandai berpuisi. Bahkan, kalau kita pandai-pandaikan untuk mencatat beberapa larik, akan ada saja yang bergumam kalau catatan itu bukan sebuah puisi. Konon, puisi harus memenuhi unsur ini, unsur itu dan segala tetek bengek yang berderet-deret laiknya barisan panjang gerbong kereta api.

Tak bisa pula diabaikan gumaman yang demikian itu. Manusia, alkisah, disebutkan sebagai satu makhluk sosial, selalu berdampingan satu dengan yang lain. Satu perkataan di ujung kampung, maka akan menjadi seratus kalimat di sudut yang satunya lagi. Manusia itu makhluk paling cerewet.

“Rendra sudah mati! Rendra mati! Mati!” teriak seseorang tergopoh-gopoh pada suatu malam. Tangannya bergetar-getar menggenggam sepucuk obor. Wajahnya berpeluh, baju dan celananya juga berkeringat. Dia keliling kampung, berteriak-teriak sendirian di saat malam hendak ke tengah-tengah peraduannya.

“Jangan katakan itu!” sambut seorang pria beruban. “Dia tak akan pernah mati, karyanya akan selalu hidup, sepanjang masa. Yakinkan itu!”

Itu kalimat takziyah kala hati sedang lara, Bapak. Hanya kalau ada orang yang mengenangnya, masih membaca puisi-puisinya, melatih lakon-lakon dramanya, maka dia akan tetap hidup, begitu bukan? Tapi, bodohnya dikau, itu ‘kan hanya kalau!

Akan seperti kerupuk bila ingin menghidupkan orang yang sudah mati dengan hanya mengetikkan namanya dalam alinea-alinea buku sejarah dan ensiklopedia. Lihatlah Soekarno, Khairil Anwar, Sjahrir, Ahmad Dahlan, Sudirman, Multatuli, Malahayati, Mukhtar Lubis dan urutkanlah semua yang kau baca dalam teks sejarah. Apa yang kau pikirkan soal nasib mereka? Apa kau pikir yang mereka pikirkan dan perbuat berlanjut hingga kini? Bullshit, nonsense!

Jangan katakan PDIP itu pewaris Soekarno. Tidakkah kalian sedih melihat Soekarno hanya menjadi penglaris dagangan politik?

Jangan sebutkan kau menghargai si binatang jalang, Khairil Anwar. Di Medan ini, kota yang disebutkan tempat dia muncul di muka bumi, tak ada ada yang tahu pasti dengan persis di mana ibunya Saleha menjerit ketika melahirkannya. Bahkan, satu nama jalan yang merunut pada orang yang digadang-gadang sebagai pelopor Angkatan 45 itu, bagai mencari jarum di tumpukan jerami.

Jangan lantang mengandaikan dirimu memuja Sjahrir. Negaramu ini membenci sosialisme begitu dalamnya hingga kau paku matikan kalau semua orang yang mempelajari sosialisme adalah bersesatan dengan Pancasila!

Ya Tuhan, kau bilang kau penerus Ahmad Dahlan? Tolonglah lihat Muhammadiyah kini yang sungguh tergagap-gagap dengan kekuasaan.

Kau yang tentara, jangan sebut dirimu melanjutkan perjuangan Sudirman. Kau biarkan mahasiswa-mahasiswa kurus ceking yang memperjuangkan nasib negaramu itu, mati di ujung bedilmu.

Multatuli? Ah, sebutkan namanya pada setiap orang yang kau temui di jalanan. Kalau ada yang tersenyum dan berceloteh, beritahulah kepadaku.

Yang wartawan, yang jurnalis, yang sastrawan, yang puitis, konon mengagumi Mukhtar Lubis. Tapi catatlah, adakah orang yang kini sanggup membongkar korupsi Pertamina dalam baris dan kolom, sembari menuliskan ngerinya perburuan di tengah hutan dalam roman “Harimau, Harimau”..?

Sudahlah, kau tambahi saja sendiri bila kau mau. (*)

3 thoughts on “Yang Bersaksi Sudah Mati

  1. Pernytaan ini yang paling menarik: “Jangan katakan PDIP itu pewaris Soekarno. Tidakkah kalian sedih melihat Soekarno hanya menjadi penglaris dagangan politik?”

    menarik? mengapa?

    Like

  2. singkat, praktis, modelis, komunikatif. Akan aku contoh, aku amalkan, aku renungkan, aku muat (di tulisanku). terima kasih, teruslah menulis, jangan lupa balas aku, semoga sukses. Ramadan, sahur, lebaran, silaturahmi. Salam kenal, salam olahraga, salam berfikir, assalamu’alaikum.

    makasih. salam kenal juga. wassalamualakum warahmah…😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s