Mitos Top si “Noordin”


The most wanted person itu bernama Noordin M Top. Disebut-sebut sebagai dedengkot teroris di Indonesia, namanya melegenda dan terus menjadi buah bibir. Selain karena “kinerja” dan jaringannya, hingga sekarang dia tak ketahuan batang hidungnya. Semakin tak tertangkap, namanya justru kian melambung. Tapi gara-gara itu pula, jangan-jangan namanya hanyalah hasil karangan bebas sistem politik keamanan di Indonesia. Benarkah dia (pernah) ada?

* * *

Alkisah, terjadilah sebuah perampokan besar di suatu kota metropolitan di Indonesia. Lebih mengagetkan lagi, yang menjadi korban topadalah kerabat seorang guru besar universitas ternama di kota itu. Guru besar ini dikenal sebagai orang yang lurus dan diketahui pula sebagai orang yang tidak ingin melibatkan diri secara jauh ke dalam kancah politik. Dia berteman dengan seluruh kalangan, pandai menempatkan posisi dan orang-orang menganggap sebagai figur dan tokoh masyarakat yang tidak punya gairah kekuasaan. Dia berhasil tegak dalam posisinya sebagai intelektual yang konon punya garis politik seperti ini: tidak ke mana-mana tapi ada di mana-mana. Kasusnya mengundang simpati dari seluruh, ya hampir seluruh, pihak yang biasanya berseteru di kota ini.

Kepala Kota langsung ke TKP dan seorang kepala polisi daerah tak perlulah mendapat perintah lebih lanjut untuk mengusut tuntas kasus ini secepat-cepatnya. Namun, bisik-bisik politik menyebutkan si kepala polisi ini ketiban target: kalau tak dapat dalam jangka waktu sekian jam, siap-siap saja hengkang dari kota ini.

Si kepala polisi menunjukkan kapabilitasnya. Belum lagi deadline, dia sudah menangkap si pelaku. Konfrensi pers diadakan, wartawan diundang untuk bertanya dan memotret si tersangka. Warga kota pun tentram.

Beberapa minggu berikutnya beredar kabar off the record; si tersangka ternyata bukan itu. Yang kemarin dipertontonkan adalah tumbal. Dan kepada si tumbal dan keluarganya, diberikan jaminan kehidupan. Syaratnya cuma satu: dia harus tinggal dalam penjara dan menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan oleh semua orang sesuai naskah yang sudah diketik.

Namanya juga kabar off the record, informasi itu tak beredar dan tak diizinkan beredar di masyarakat. Masyarakat tetap tak tahu dan tetap menganggap, si tersangka adalah pelaku pembunuhan dan perampokan. Dari situ tersembul analisis baru: si tersangka betulan masih beredar di luar.

Dari analisis pertama muncul faktor kedua; aparatur belum berhasil menangkap si tersangka sesuai waktu yang sudah diperintahkan. Analisis ketiga mengatakan, si kepala polisi yang tidak bisa memenuhi deadline politik itu, menjadi punya hutang politik kepada supra elit politik yang mengetahui namun memaklumi apa yang telah dilakukan si kepala polisi dan jajarannya. Analisis keempat, sedemikian rapinya teknik aparatur keamanan itu, menandakan hal itu bukanlah suatu yang baru melainkan sudah menjadi non standar operational prodecure alias prosedur tak resmi yang biasa dilakukan. Prosedur tak resmi membawa pada analisis kelima yaitu aparat harus menciptakan tersangka baru yang diset dengan rapi dan sempurna, demi meredam kepanikan dan memberi rasa tenang di masyarakat. Bagaimanapun rasa aman masyarakat harus dinomorsatukan.

* * *

Indonesia bukanlah sebuah negara yang steril dengan aksi teror. Walau bila dibandingkan dengan wilayah konflik di negara luar, seperti Irak, Afghanistan, Pakistan sampai Palestina, aksi teror yang terjadi di Indonesia belumlah seberapa. Namun kategori “belum seberapa” dalam sebuah aksi teror yang menimbulkan korban jiwa, tentulah tak pada tempatnya. Sekecil apapun daya hancur sebuah bom, atau malah sama sekali tak menimbulkan korban jiwa, maka dia tidak bisa dimaklumi. Ucapan Stalin bisa dipadankan dalam hal ini: “Kematian seorang manusia adalah tragedi, namun kematian satu juta orang adalah statistik.”

Makna teror sebenarnya bukan mengacu pada kejadiannya semata, melainkan dampak sosiopsikologis yang ditimbulkannya. Keresahan, kekhawatiran dan paling utama adalah penciptaan rasa takut di masyarakat. Kata orang, untuk meneror seseorang sebenarnya tak perlu sampai membunuhnya. Kalau sudah mengancam, memberi sms atau surat kaleng dan modus-modus lainnya, dan si korban sudah terkungkung rasa takut, maka aksi teror mendapatkan hasilnya.

Namun daya kekuatan dari teror ini memang tergantung dari daya eksekusinya. Seribu ancaman bom tak akan lebih menakutkan daripada sebuah eksekusi bom tanpa pernah ada peringatan sama sekali. Sejuta kali gertak, tak akan ada daya apa-apanya bila dibandingkan dengan seseorang yang langsung memukul lawannya. Malah, semakin banyak ancaman tanpa ada eksekusi akan jatuh menjadi “lelucon” saja.

* * *

Nah sampai di situ, jadi teringat sosok bernama Noordin M Top. Tak ada orang Indonesia yang tahu siapa si Noordin ini. Paling-paling, ya, aparatur keamanan-lah. Suatu kali ketika saya ke kantor polisi, gambar si beliau ini nampang di bagian reserse. Ada beberapa pola wajah, mulai dari yang pakai topi hingga yang berambut gondrong.

Si Noordin ini sudah tahunan jadi buronan polisi dan hingga kini belum tertangkap. Kalau dikulik-kulik, entah pertanda apa yang bisa dimunculkan dari ketidaktertangkapannya si Noordin ini. Mungkin, pertama, si Noordin ini memang jago dan hal sebaliknya malah jadi pertanda kedua, aparatur keamanan tak jago menangkapnya.

Tapi, soal tertangkap atau tidak, si Noordin ini belum seberapa. Dia belum bisa mengalahkan rekor buronan selama ini yang justru bukan dipegang oleh mereka yang diklaim sebagai teroris, melainkan koruptor! Namanya pasti ingat: Eddy Tansil. Lha kalau ada yang bilang si Eddy Tansil ini sudah mati, sorry aja, saya nggak percaya. Kalau mati, mana mayatnya? Jadi, secara riil faktuil, si Eddy Tansil ini tetap tidak tertangkap sejak ia lolos dari penjara hingga sekarang.

Tapi sehebat apa sih si Noordin ini? Mengapa dia sampai tak bisa ditangkap kepolisian? Nah, untuk menjawab ini, yang disorot justru bukan Noordin-nya, tapi bagaimana cara polisi akan menangkapnya.

Walau pernah besar di tengah-tengah keluarga polisi, kalau urusan menangkap-nangkap orang, saya sama sekali kurang tahu. Tapi saya jadi teringat bagaimana cara masyarakat kita akan menangkap orang. Yang pertama cara rasional. Yah, pakai metode akal sehat-lah. Dicari alamatnya, keluarganya, jejak-jejak yang ditinggalkan dan seterusnya. Nah, kalau tak ketemu juga, masyarakat kita ini terbiasa menghubungi dukun atawa orang pintar. Artinya, cara irrasional yang dipakai. Dan entah mengapa, di teknik yang terakhir ini, kata orang, lebih banyak berhasilnya daripada gagal.

Dua cara ini sebenarnya membuat masyarakat Indonesia ini sebagai salah satu masyarakat yang paling unggul di dunia. Makanya, kalau si Eddy Tansil dan Noordin M Top sampai tak tertangkap, itu aneh.

* * *

Postingan ini punya asumsi dasar: polisi kita adalah polisi profesional, unggul dan terbukti punya kapabilitas dan kredibilitas, yang mereka itu hidup dan berkembang dalam masyarakat yang punya dua kepercayaan sekaligus: rasional dan supranatural. Scotland Yard Inggris atau FBI Amerika? Ah jauhlah, menang di film-film sajanya itu.

Noordin M Top, siapapun dia, pastilah tak akan mampu berkutik dan pastilah akan bisa ditangkap dengan gampang oleh kepolisian. Minimal, kalau percaya dukun, dukun pasti pasti bisa mendeteksi lewat macam-macam ritual.

Dus, kalau dia tak tertangkap juga, maka ajukan saja satu hipotesis lagi: “Bagaimana kalau ternyata dia ini tidak ada?”

Kalau Anda setuju dengan hipotesis itu, maka bisa juga timbul anggapan nakal kalau Noordin itu sebagai “bid’ah” alias diada-adakan saja. Sebagai latar belakang masalah, bisa dikutipkan teori-teori komunikasi politik soal propaganda dan psywar yang sering digunakan oleh sistem politik otoritarian hingga paling demokratis sekalipun kayak Amerika, Inggris, Italia sampai Arab Saudi. Benang merahnya adalah sesosok orang atau gerakan mesti diciptakan sebagai sebuah simbol bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi di negara tersebut. Pertama, untuk memancing dan mengetahui reaksi masyarakat dan selanjutnya adalah memetakan persoalan. Bla…bla…bla…

Ingat juga masalah “Penembakan Misterius” alias Petrus di zaman Ali Mertopo dan Moerdani. Dan, aha … kedua orang ini hebat betul daya intelijennya.

Untuk menumpas gerakan teror, maka terorisme harus diciptakan. Karena tidaklah mungkin ada penumpasan gerakan teror kalau si tukang teror ini tidak ada, bukan?

Mungkin saja, dengan perspektif ini, bisa dimunculkan suatu pemahaman baru mengapa sesosok orang seperti Obama, eh, Osama ibn Laden bisa hadir di muka bumi ini. Tentulah, perspektif lain yang lebih sering muncul seperti sejarah atau konsep ketidakadilan, kesenjangan, kemiskinan, pendidikan dan lain-lain, jangan diabaikan juga. Orang kadang menyebutnya sebagai “akar permasalahan”. Artinya kalau tidak ada itu, teror tak mungkin lahir.

Kadang, itu tak menjawab seluruhnya. Misalnya, bagaimana seandainya Soeharto berhasil menciptakan pendidikan yang bagus, keadilan sosial terjadi, kemiskinan nihil, dan lain-lain yang bagus-bagus, apakah gerakan penurunan Soeharto tidak ada? Atau bagaimana seandainya Amerika berhasil menciptakan pola politik yang adil dan tak banyak ikut campur dalam urusan dalam negeri negara lain, apakah teror anti Amerika bakal nol? Jawabannya Anda simpan saja.

Okelah. Kalau Anda setuju dengan hipotesis itu, maka sebaliknya, mungkin saja Anda juga bisa memetakan apa yang sedang dilakukan oleh si sistem politik itu sendiri.

* * *

Apakah pelaku pemboman yang pernah ada di Indonesia ini menjadi nisbi sama sekali? Tentu tidak. Yang itu jelas ada. Imam Samudra dan Amrozi itu juga fakta. Pemboman Borobudur di era 1980-an dulu, juga fakta. Pembajakan Garuda Woyla juga fakta. Tapi ingat juga, pembunuhan mahasiswa Trisakti juga fakta. Raibnya penyair Wiji Tukul juga fakta.

Well, Indonesia memanglah surganya mitos. Kampungnya cerita-cerita hebat, kisah-kisah heroik yang kadang-kadang tak bisa diterima oleh akal sehat. Ah, saya jadi teringat cerita seorang kawan.

“Saya sakit,” kata dia.
“Berobatlah ke dokter.”
“Ah, dokter … sudah mahal, belum tentu sembuh.”
“Orang pintar?”
“Itu juga. Serba tak pasti.”
“Lho … jadi gimana?”
”Ada orang yang berobat ke dokter, sembuh. Ada pula yang mendatangi dukun, eh, sembuh juga. Saya jadi tak yakin, apakah metode ilmiah dan supranatural adalah dua hal yang bisa saya percayai, atau malah dua-duanya tak saya yakini. Saya malah jadi ragu, kayaknya keyakinan saya pada dua hal itu justru tergantung dari kepentingan saya apa. Kalau sama dukun saya sembuh, ya saya percaya. Kalau sama dokter sembuh, ya percaya sama dokter. Kalau tak sembuh, bagaimana mungkin saya bisa percaya kepada salah satu atau kepada keduanya?”

Itu kalau percaya. (*)

32 thoughts on “Mitos Top si “Noordin”

  1. Mungkin kalau ada yang akan dinaikkan pangkatnya maka si Edy Tansil itu akan tertangkap, begitu juga si Noordin ini..kalee.

    noordin dan tansil memang multiguna…😀

    Like

  2. setiap kondisi butuh kambing hitam dan simbolisme untuk menyatukan atopun mengbuat orang terdiam dan membenrkan segala macam tindakan😦

    yup, itu benar.

    Like

  3. Noordin TOP memang Top dan licin..! selicin postingan anda..!
    1. N M TOP, bukanlah bualan belaka memang dia ada
    2. anda kurang mantab di dukun maupun dokter silahkan minum obat
    sembuh aja pasti cocok dan betul2 sembuh.
    3. penembakan misterius sebentar lagi pasti ada didaerah anda sendiri
    dan korbannya anda tidak akan tau…

    kl sudah tau, berarti tak misterius lagi.

    Like

  4. Yuk damai aja… kalo di indo gak bisa damai jg… pindah aja ke negara lain

    kl pindahnya ke palestina kayaknya salah alamat …🙂

    Like

  5. Enak to…manteb to…kita lihat aja kerja penegak hukum sambil rokok rokok santai juga Ngopi, gak usah ikut mikir, semakin dipikir semakin lutchuuu….

    karena lucu ditulis .😀

    Like

  6. Hi,
I like your article and all the great tips that are mentioned on it, it has really helped out. Thanks for share the information.
I hope you can visit my blog and give me suggestion.
Thanks again.
Please see it : Kang Dadang Blog

    😀 tips? wah, makasih deh dah singgah hihihihi😀

    Like

  7. saya lagi cari data terakhir 2009 ttg dia utk melengkapi artikel diblog susah benar, bgt jga dt intlejen kita, buram blm ada kbr

    🙂 wah mungkin saja dia benar-benar gak ada, mas.

    Like

  8. aduh mas panjang banget post-nya, ngga capek apa buat cari ide dan proses ngetiknya sendiri🙂 btw … aku kok ya ragu ya itu NMT ada, tapi secara figur memang dia ada … aduh gimana ya ngomongnya … intinya dia adalah mahluk yang sengaja dimunculkan, bisa banyak pihak, entah itu AS dan israel seperti klaim bbrp kelompok muslim, atau mungkin juga orang malasya sendiri yang memang ingin menghancurkan Indonesia … toh udah bukan rahasia umum, kita saling bersaing … tp yang jelas bukan orang Indonesia yang menyusupkan NMT🙂

    🙂 iya mas, lagi semangat soalnya. kl si noordin sampae gak ketangkep juga, ya, gimana lagi, hebat bener lah ilmu ngeringanin tubuhnya,😀

    Like

  9. Noordin Top kayak mitos. Jangan disebut2 gitu. Bisa ada bisa tidak dia. Gak usah dicarilah. Di TV capek liat seribu teori tentang keterlibatan dia. Kalau setelah liat foto2nya jumpa dijalan pasti siapapun gak kenal nah kalau kenalpun pasti ragu2. Kecuali tukul dan mbah surip pasti semua kenal.Inelijen yang aneh.
    Salam bang.

    aneh ya.😀 salam juga.🙂

    Like

  10. heheh kalau dia cuman mitos, lha terus itu fotonya siapa sih yah??

    masak ada konspirasinya segala??

    barangkali cuman buatan mas suryoooo aja itu .. hehehehe😀

    Like

  11. Ada apa dengan Nurdin M Top…ada yg bilang dia agen CIA, saya pikir bisa jadi, karena sesungguhnya targetnya adalah merusak citra Indonesia dan citra Islam.

    kl itu targetnya, sudah tercapailah itu.

    Like

  12. “Untuk menumpas gerakan teror, maka terorisme harus diciptakan” kata Tukang Ngarang..Dasar! si bung ini memang senang “Ngarang”!
    Bukannya terbalik..” Karena ada terorisme, maka harus ada juga penumpasan gerakan teror”….Seperti juga begini, “karena ada Kemiskinan, Maka Harus ada gerakan pengentasan kemiskinan”….logika itu sederhana saja Aksi-Reaksi..

    Satu hal yang pasti..Perpestif Mitos dari serangkaian aksi teror..memang lebih sering keluar dari “mulut harimau” Ust Abu Bakar Ba’asyir, Faudzan Al Anshari dan seperti biasanya diikuti oleh sekelompok Islam Garis keras..

    Dan patut disayangkan..sang Jurnalis kita ini tampaknya..”DiTerkam” juga oleh mereka-mereka ini….

    wah, diterkam?😀

    Like

  13. Setiap kali masuk Blog ini selalu jadi buron, buktinya? setiap melihat di pojok kanan atas, “lagi buron” 1 orang hihihi.

    Masih di tempat semula kok Wan, InsyaAllah ada langkah dan rejeki awal Nov ini turun ke Medan.

    Wassalam 🙂

    heheheh😀 … makin panas la medan ni nanti😀

    Like

  14. kalau ada tangkap kalau g ada jangan bodohin rakyat

    bosen lihat poto mtop…. setiap kejadian bom selalu dikaitkan ke m top…. apoalagi si sdny jhon tuh…

    setiap kejadian bom selalalu dikaitkan islam….

    apa g ada yang lain apa ya di dunia ini selain memeikirkan mengkaitkan ke m top, islam, alqaidah…

    bisa jadi kan semua orang itu jahat…. maka mungkin saja dari yang lain juga … karene kejahatan itu pasti… kebenaran juga pasti…. dan manusia bukan cuma muslim yang secara oknum bisa jahat…. siapa pun bisa kan… bagamana bang kabarnya

    sehat tp sedikit capek, pak kades.😀

    Like

  15. klw kt saya mngkin dia pnya prsembunyian bawah tanah x{kuburan nieh} aneh tu org ky setan bs ngilang2 gtu

    ilmu kanuragannya tinggi.😀

    Like

  16. ‘Weleh,…. kesimpulannya Believe or Not nich…?,…
    …Tak Gendong,..ke mana-mana….tak gendong,….
    A minor C minor, ke C lagi dong…?

    believe or not..😀 kayaknya acara itu mesti diakhiri dengan believe ya gak..

    Like

  17. alala ndo2 pada gosip,ade saya aj noordin{tp bkn top,nurdini} saya mah dukung densus 88,he.. klw prlu noordin di hukum pancung,penjahat,bkn jihad namay bunuh org yg g br dosa, melainkan apa y lupa y pokoy bgeto,tp saya heran msh ad org yg prcy kt2 dia.kan bego.

    Like

  18. yahh… namanya jg film…. apalagi produksi hollywood dan diproduseri oleh inteligen asing……

    aktor utama-nya noordin m. top…….

    pengalihan publik tujuannya……

    Like

  19. selamat malammm.. mampir berkunjung numpang terkenal niy hehehe thx ya bro…

    pagi… hehehe…sori br sempet bls sekarang… lanjut aja deh gan ..😀

    Like

  20. sekarang si nurdin kan udah mati.
    Sekarang ngomong apa lu?? masih bilang teror itu karangan amerika dan nurdin agen cia???

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s