SBY Ingin Mega di Putaran Kedua, Bukan JK


Sederhana saja asumsinya. Pertama, SBY dan timnya sudah merasa pilpres 2009 tak mungkin bisa dimenangkan satu putaran. Kalau mereka tetap yakin, maka iklan-iklan soal satu putaran tak akan dikeluarkan. Tim SBY bukan tim kelas kampung. Jadi mereka tahu persis, iklan-iklan seperti itu tak akan cukup kuat untuk diketahui masyarakat di tingkat grass root. Iklan satu putaran hanya konsumsi elit dan wacana di kalangan berpendidikan saja. Atau dalam kata lain, “satu putaran” merupakan perintah yang ditujukan bagi tim sukses dan jaringan pendukung SBY-Boediono di seluruh Indonesia, sekaligus psywar bagi kompetitor. Jadi, sasarannya bukan seluruh pemilih. Ya, kalaupun ada pemilih yang terpengaruh, ya lebih baik.

sby-obama

Nah, mengapa mereka tak yakin? Itu karena popularitas terus melorot sementara di pihak kompetitor justru meningkat. Itu tidak bisa dipungkiri. Hampir seluruh lembaga survey, baik yang independen sampai yang mereka bayar pun, mengungkapkan hal itu. Jadi itu realitas politik.


Kedua adalah faktor soliditas politik di tubuh JK-Wiranto dan Megawati-Prabowo. Seandainya JK Wiranto yang masuk ke putaran kedua, bayang-bayang kekalahan SBY makin nyata. Itu karena, suara Mega-Prabowo akan bulat masuk ke JK-Win. Faktor rivalitas politik Megawati dengan SBY menjadi faktor utama. Bahkan, seorang Taufik Kemas pun, yang dikatakan menjadi aktor di belakang layar PDIP, tak mampu menggoyahkan Megawati soal koalisi PDIP-Demokrat. Sakit hati Megawati sudah tak bisa diobati. Dan PDIP adalah Megawati, bukan Taufik Kemas atau Pramono Anung, apalagi Budiman Sudjatmiko.

Yang tambah persoalan, posisi JK di Golkar justru akan semakin menguat, bahkan lebih kuat dari ikatan SBY di Demokrat. JK-Win akan menjadi magnet besar dengan kekuatan super. Kubu Akbar Tanjung di Golkar akan semakin tahu diri dan realistis. Realistis itu adalah karakter dasar Partai Golkar. Dan itu sempat terbongkar ketika JK mencalonkan diri. JK yang bukan seorang Jawa dan dihantam soal kekalahan Golkar di Pileg 2009, justru berani mencalonkan diri. Dia telah menabrak “konvensi” alias hukum tak tertulis di tubuh Golkar. Ketika dia berhasil masuk ke putaran ke dua, maka JK menjadi simbol; sesuatu yang sudah lama tak dimiliki Golkar setelah era Soeharto.

Nah, itu tak akan dimaui oleh SBY. Karena kalau Megawati yang menang dan masuk ke putaran kedua, maka suara JK-WIN dipastikan tak akan bulat ke Megawati. Bahkan sangat dimungkinkan suara JK-Win justru masuk ke SBY. Itu kalau Prabowo sudah tak bisa lagi memainkan kartu-kartunya di tubuh pemilih dan pendukung JK-WIN.

Kekalahan JK di putaran pertama, akan menguatkan posisi oposisi Golkar yang sekarang masih dikomando Akbar. Dengan rumus realitas politik itu juga, maka Golkar akan mengincar posisi kabinet di pemerintahan kedua SBY-Boediono. So katakan saja, seandainya 50% suara JK-Win tersedot ke SBY-Boediono, maka Megawati game over.

Apakah potensi Megawati-Prabowo selemah itu di putaran kedua? Pasti. Kartu trufnya pasangan Megawati-Prabowo selama ini, adalah Prabowo. Sebenarnya Megawati ini sudah out of story. Namun, Prabowo tahu, kharisma Soekarno itu ada pada sosok Megawati. Dan jumlah mereka-mereka yang fanatis terhadap Soekarno itu tidak sedikit, walau itu bukan jumlah mayoritas. Kalangan nasionalis Soekarno itu ada pada dataran umur 55 tahun ke atas di kalangan pedesaan. Dan ini masih menjadi bagian terbesar dari pemilih dan punya daya pengaruh bagi pemilih di lingkarannya yang umurnya di bawahnya. Katakanlah seorang Pak Tani yang berumur 60 tahun punya istri dan empat orang anak. Satu petani akan membawa lima suara.

Megawati tahu potensi Soekarnois itu, namun sayang, dia tak cukup waktu untuk mengajari dan mendampingi mereka soalnya rumitnya Pemilu ini. Apalagi, Prabowo dengan Gerindra-nya, sudah mengikis pemilih tradisional PDIP itu. Jadi, kalau Prabowo selalu berpakaian seperti Soekarno, itu bukan tanpa sebab. Prabowo selalu digambarkan sebagai reinkarnasi Soekarno alias Soekarno kecil.

So, apalagi modal pasangan ini berhadapan dengan SBY? Ada, momentum internasional. Kalau Prabowo dapat memanfaatkan jaringan internasionalnya untuk berhadapan dengan kapitalisme-nya Eropa dan Amerika, maka ia akan sangat berharap banyak pada apa yang sedang terjadi dan design Timur Tengah.

Apakah terlalu jauh? Tidak. Saya masih mempertimbangkan sebuah hipotesis yang menyebutkan kalau Pilpres 2009 bukanlah hanya hajat hidup orang Indonesia saja, tapi juga konsumsi pertarungan ideologi dan kekuasaan internasional. Posisi Indonesia, yang dibawa oleh Prabowo, adalah bukan pada posisi “tengah”, tapi merapat ke satu kubu yang anti Eropa dan Amerika.

Sekali lagi, bukan sekedar pertarungan ideologi, tapi juga pertarungan kekuasaan ekonomi. Dan Prabowo akan sangat-sangat berharap pada adanya konflik di Timur Tengah (dan terutama pada negara-negara produsen minyak dunia lainnya). Pada dataran teknisnya, kenaikan harga minyak dunia, justru akan menguntungkan Prabowo dan sebaliknya sangat-sangat merugikan SBY.

Apakah Prabowo sanggup melakukan itu? Bisa iya, bisa tidak. Tapi kalau hanya untuk duduk ngobrol dengan pemimpin, pemain (atau malah mafia minyak) dunia, saya kira, itu tidaklah terlalu sulit. Apalagi, posisinya sebagai calon wakil Presiden. Dulu, Prabowo di mata dunia bukanlah apa-apa. Tapi sekarang, dia adalah “something”.

BBM adalah sebuah isu sensitif. Pelaksanaan Pilpres yang diundur, akan semakin menguntungkan siapapun kompetitor SBY. Posisinya bukan pada apakah SBY akan menaikkan harga BBM atau tidak. Gejolak apapun yang menaikkan harga minyak dunia, maka pengaruhnya di dalam negeri, tak akan bisa dikendalikan oleh SBY. minyakPosisinya akan terjepit, baik oleh yang pro kepadanya, apalagi yang kontra. SBY tak akan mampu mengulur-ulur kenaikan harga BBM, karena justru karena itu pula dia akan sibuk mengakal-akali APBN yang sungguh-sungguh tak pernah mudah itu. Jangan lupakan pula, Mega yang juragan galon minyak itu.

Siapa pemegang remote? Dalam hal tertentu, itu semua tergantung Obama dan para jenderal-jenderal Amerika dan NATO. Jika Obama salah memencet tombol, maka SBY pasti akan gigit jari. Jadi, kalau dikatakan orang SBY, tim dan kampanyenya, sangat mirip dengan Amerika, itu bukan tanpa dasar sama sekali. Posisi yang tegas, apakah menurut atau mbalelo pada Amerika, sangat dibutuhkan dalam penyusunan revisi peta dunia oleh pemerintahan Obama.

Indonesia, adalah negeri besar di tengah percaturan dunia. Di sini terlalu banyak hal yang menjadi tolok ukur kekuatan politik di Pasifik, sumber daya alam yang melimpah dan ideologi berdasarkan agama. Di dunia Timur Tengah, Indonesia tidak dikenal dengan Pancasila-nya, tapi dengan mayoritas Islam-nya. Di Amerika, Indonesia tidak dikenal dengan burung Garuda-nya, tapi minyak, gas dan posisi negaranya.

Pilpres kita, it isn’t easy … (*)

41 thoughts on “SBY Ingin Mega di Putaran Kedua, Bukan JK

  1. mantap, saia suka tulisan ini
    dalam analisanya

    tpi feeling2 saia koq kayanya yg bakal natang SBY di putaran 2 si JK WIn lho
    ^_^

    let’s see, bukan SBY kok penentunya.😀

    Like

  2. Saluuuuut buat Bang Nirwan … baru aku nemuin tulisan secanggih ini .. sampe bolak-balik atas bawah .. bener-bener “buronan negara api” ..:)

    Sukses Bang ..

    jiyahhhh… jadi bengkak la ni kepala hahahaa.😀

    Like

  3. seperti ini kok dibilang tulisan canggih…

    terkadang kita terbawa ucapan pembesar golongan yang menyarankan untuk memilih pilihannya untuk kemenangan golongan itu tanpa menyadari apa yang akan terjadi nanti, yang penting golongan menang, dapat nama dan jabatan, dan ini bisa kita sebut dengan fanatik. Diantara keduanya ada dampak positif dan negatif, hanya hati nurani yang mengetahuinya.

    Kenali kepribadian para calon pasangan presiden dan wakil presiden
    Pilihlah dengan hati nurani untuk kebaikan Indonesia…

    yup, kenali semuanya. hati nurani saja tak cukup. Akal sehat, argumentasi, apa yg kita inginkan kepada negara ini dan seterusnya.

    Like

  4. Ah aku pilih lanjtkan saja. Korupsi-korupsi, daripada dari nol lagi dan lebih gak jelas

    sori, pilihan kita beda.😀

    Like

  5. whahhh..canggih betul analisa anda!..Jk itu capres “Ujug-Ujug”..sebetulnya dia bilang masih nyaman jadi RI-2 karena alasan SARA, bahwa Presiden kebiasaannya adalah Jawa..tetapi ulah Surya Paloh yang ngompor-ngompori, plus “keseleo Lidah” Ahmad Mubarok..mka seperti disinyalir MULADI, bau emosional–bukan rasional–terasa dalam menCapreskan JK. Jadi pertanyaannya apakah mungkin mengejar “ketertinggalan” elektabilitas dari SBY, cuma dalam hitungan Masa kampanye yang 1-2 bulan saja!. Kecuali ada “gempa politik”. ..menurut Syaiful Mujani..mungkin saja jika JK dikasih waktu 1 tahun..bisa jadi..jadilah Presiden dia..jadi pernyataan..”bayang-Bayang kekalahan SBY” saya kira cuma KECENTILAN hipotesis saja dari si empunya tulisan ini…

    lalu Sang Jurnalis kita ini juga Lupa, Justru Jika JK-Wir masuk putaran kedua..sesuai survey LRI yang rupa2nya punya Johan O Silalahi…yang jelas-jelas Tim Ses-nya, saya menduga, Komunikasi yang sebelumnya digagas Hatta-Kiemas akan berlanjut ke pelaminan “koalisi”..karena saya yakin MEGA itu udah “out of date”..sementara PDI-P harus berkembang lepas dari bayang-bayang Soekarno, menjadi partai rasional, dan ini semua Butuh DUIT, 5 tahun jadi Oposisi malah membuat Sang Banteng Kurus dan kurang Gizi..maka merapat ke kubu Incumbent adalah sebuah pragmatisme politik yang wajar dan sah-sah saja demi mendapat kredit kekuasaaan (baca : duit!).

    Dan Golkar, jelas, akan semakin pecah, ditinggal PDI-P, apalagi santer, bahwa pencapresan JK tegak diatas “kaki-kaki beringin” yang lumpuh. Tim Alpha akan semakin intens bergerak (Agung, Abu Rizal, Akbar) memobilisasi DPD 2 untuk merapat ke SBY (ini pernah dilakukan Akbar Tanjung pasca keoknya Golkar di Hotel Arya Duta)..karena menurut MULADI masa depan Golkar Suram jika jadi Oposisi….walhasil “bayang-bayang JK mengemas Koper lalu beli tiket di pelabuhan Tanjung Priok mencari Kapal yang akan mengantarkannya ke Makassar” saya kira semakin Nyata…

    Dan Prabowo..hahaha…”Soekarno kecil” itu bukan cuma dari sering pakai Pantalon, dan secuil Klaim Permadi…saya kira Ibu Menkes Kita Siti Fadillah supari dialah “the real Little Soekarno”..yang tegas-tegas melawan konspirasi WHO_Eropa-Amrik dalam urusan Kesehatan!….

    Prabowo silahkan saja menelpon raja Yordania untuk menghentikan suplai Minyak..agar harga minyak dunia Naik..atau sekalian telpon Ahmadinejat–yang akhir-akhir ini sedang benci Barat–untuk menBlokade minyaknya ke Eropa..tapi apa mungkin!..lha wong Ekonomi itu urusan Duit kok…semuanya butuh Duit..gak ada urusan sama Ideologi…mau yang di Timur tengah, Amerika Latin, Afrika itu ramai-ramai Jual minyak ke Eropa + Amrik…silahkan saja “menunggu” meteor jatuh mas prabowo!..

    Akhirul kata..SBY menang satu putaran lebih baik..dan terbukti Jk sendiri minder dengan iklan ini..trus hobi menyerangnya kumat di debat kemarin-kemarin…lagi-lagi tulisan si abang kita ini mudah sekali dibantah!…hahaha

    —salam–

    Like

  6. oke saya LANUTKAN!..saya sedang semangat..jika PDI-P Merapat Demokrat, lalu Golkar malah jadi Incumbent lagi..maka Demokrasi kita akan seperti Kartel Politik..sejenis Koalisi raksasa yang ramai-ramai mengitari eksekutif..walhasil Pemerintahan lebih Stabil….tetapi bisanya “kekuasaan besar itu Korup..saya usul saja..Buat bung Nirwan..atau siapa saja yang saat ini –terlihat lebih keren–karena jadi TUKANG KRITIK….buat Partai baru saja..yang tugasnya memobilisasi Kritis yang Extra Parlementer…

    Oh..ya jika “style” Demokrat mirip-mirip yang di Amrik..wah-wah ini saya pikir Momen saja..sama persis ketika PARTAI Buruh di Aussie pimpinan KevIn RUUD menang..sontak Mochktar Pakpahan -pun bermimpi bahwa “Partai Buruhnya” menjadi besar dan menang seperti di Australia..jadi wajar-wajar saja…

    hahaha….

    🙂 Saya senang Anda cukup bersemangat. Saya kira, persiapan JK sudah lama. Yuddi itu test case, seperti juga si Rizal yang kemaren kampanye ingin menjadi capres. Kini dua-duanya tercatat tim sukses JK dan SBY. Masalah yang ada sama JK cuma satu saja: dia bukan orang Jawa. Jadi, dia menunggu move SBY hingga Pileg 2009 berakhir. Dalam hal ini, SBY jelas kalah kelas dengan JK soal politik. Ada sebuah pepatah: “Jangan pernah beritahu apa yang ada di kepalamu kepada orang yang bukan keluarga.” Hanya orang-orang yang jeli bisa mencium itu. Ahmad Syafii Maarif adalah salah seorang dari sedikit orang yang jeli. Dia bilang, “JK is the real President”. Buya Maarif ini orang Minang, non Jawa, sama seperti JK yang orang Bugis. Ini dampak sekaligus dorongan yang luar biasa. Tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan “konvensi kekuasaan Jawa”, saya kira itu yang ingin dikatakan oleh Buya Maarif. Jadi, kalau Anda -termasuk isi email “Andi Mallarangeng”- masih menganggap sebuah kampanye kekuasaan itu hanya dilakukan 1-2 bulan saja, saya tak akan mengomentarinya.

    Prabowo juga begitu. Dia melanglang buana lama di Timur Tengah. Sudah lama dia lakukan itu hanya supaya dia bisa kembali lagi ke Indonesia. Yang lain-lain, nanti saja saya komentari.🙂

    Like

  7. Analisis bro Nirwan mantap abis…dua jempol buat bro
    memang jika dihadapkan SBY Vs Mega sudah pasti kemenangan di pihak SBY sehingga SBY memang berharap berhadapan dgn Mega namun prediksi saya putaran kedua nanti yang akan berhadapan adalah SBY Vs JK sehingga membuat kubu SBY gelagapan karena JK itu orangnya Smart,Sederhana dan lebih nampak keberpihakannya pada rakyat ekonomi lemah terbukti dengan bersedia namanya dipakai sebagai nama merk sepatu di cibaduyut yaitu JK Collection.

    Like

  8. LANJUTKAN perjuangan membangun bangsa ini dengan LEBIH CEPAT LEBIH BAIK, karena kita semua harus PRO WONG CILIK.. aasik juga kalo disinergikan..🙂

    😀

    Like

  9. Analisa sesaat yang sesat , hehehe..:

    Kalo SBY dan Mega yang maju, bakal banyak yang Golput, karena yang tidak pilih SBY dan pilih JK bakal tidak akan pilih Megawati, utamanya Ormas Islam, karena Ormas Islam biasanya konsisten.

    Kalo SBY dan JK yang maju, partai Islam bakal tambah ditinggal pendukungnya yaitu Ormas Islam.

    Kalo Mega dan JK yang maju, Partai Islam dan Ormas Islam bakal bersatu, bukan karena persamaan, tapi karena Partai Islam terkenal suka mengambil keuntungan.

    Like

  10. Jelas JK itu Lebih Baik, Itu kita lihat di penampilannya pada debat capres putaran pertama sampai putaran terakhir. Di putaran pertama hanya JK yang naik panggung sambil menyalami kandidat yang lain. Putaran kedua lagi-lagi JK menjadi bintang debat dengan penjelasannya yang gamblang dan ngak terlalu muluk. di debat terakhir dia malah berhasil menyudutkan sBy dengan menyitir iklan Pemilu satu Putaran yang diklaim sBy bukan iklan Dia dan JK mengatakan bahwa iklan itu iklan ilegal.

    Like

  11. lebih cepat lebih baik…..
    pasti!

    sayang SBY kepopularitasannya menurun akhir2 ini gara2 tim suksesnya yang sering bikin masalah….
    yang paling paranh itu gaya bicara jubirnya yang benar2 merasa diatas angin. Menyinggung sara juga…

    saya ga peduli tuh presiden darimana asalnya.
    mau dari jawa kek, papua kek, asal bisa menuntun negara kita ke arah yang LEBIH BAIK.

    asumsi saya sebagai orang biasa: lanjutkan-> berarti gitu2 aja donk 5 tahun kedepan? membosankan! kapan majunya negeri ini?

    Like

  12. Emang pemilu Indonesia sudah demokratis?
    Emang sosialisasi di kantor-kantor pemerintah seperti apa?
    Emang PNS digiring ke mana?
    Emang Amrik cuman diam saja?
    Kekuatan “uncle sam” mendukung proses neoliberalisasi kapitalis masih kental!

    pekerjaan bertambah banyak.

    Like

  13. bangsa ini kalo mau maju, maka seluruh komponen anak bangsa harus mau berlari, nggak cukup cuma berjalan..
    jadi LEBIH CEPAT LEBIH BAIK

    Like

  14. “Mega yang juragan galon minyak itu”

    terimakasih..ada sumbernya?
    tolong jelaskan, atau opini? jika opini tolong kabari ya..penasaran juga, jangan2 opini..kayak saya sering nulis opini..hehe

    🙂 Fakta soal itu bukan hal yg baru. Silahkan cek lagi.

    Like

  15. Nirwan Syahputra: SBY Ingin Mega di Putaran Kedua, Bukan JK…

    Yang tambah persoalan, posisi JK di Golkar justru akan semakin menguat, bahkan lebih kuat dari ikatan SBY di Demokrat. JK-Win akan menjadi magnet besar dengan kekuatan super. Kubu Akbar Tanjung di Golkar akan semakin tahu diri dan realistis.

    Like

  16. He he he..
    Sayangnya semua analisisnya salah ya..
    Liat perolehan suara sementara melalui perhitungan cepat.. JK-WIN meleset jauh dari yang dibayangkan….
    Salam Damai Indonesiaku!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s