Sihir SBY, Indonesia Makin Mundur Ke Belakang


cengengGeli, lucu, aneh, ironis, tragis, sekaligus memuakkan. Seorang Presiden, yang mencalonkan diri lagi untuk periode keduanya, bicara soal sihir yang dikenakan kepadanya. Di hadapan para kyai, di hadapan orang, ah, ada pula Mas Tifatul Sembiring, Presidennya PKS, dia berbicara soal sihir. Luar biasa!

SBY jelas-jelas telah panik sekaligus cengeng. SBY panik betul dengan naiknya popularitas dua kandidat lain, JK dan Prabowo, terutama Jusuf Kalla di hadapan pemilih muslim.

Entahlah. Bagi saya, inilah cara SBY menegaskan dirinya kalau dia sedang panik! Panik dan pusing tujuh keliling, dan lantas mengeluarkan jurus lamanya; memposisikan diri sebagai orang yang sedang dizalimi.

Tapi SBY, itu tak bakal mempan lagi. Dulu tahun 2004, Mega bisa jadi kambing hitam SBY. SBY dengan gampang mengolah isu dia dicampakkan oleh Megawati. Tapi kini, bagaimana cara dia untuk minta belas kasihan rakyat lagi? Posisinya kan sudah nomor satu. Kalau sudah nomor satu, tentulah tak bakal ada yang mampu mendzalimi dia. Malah posisi nomor satu adalah sebuah posisi yang paling gampang untuk menzalimi orang lain yang di bawahnya.

Pusing dia mencari-cari masalah, dan akhirnya ketemulah salah satu cara meminta belas kasihan dari rakyat pemilih; ya, alam supranatural.

Ini gambaran masyarakat kita sebenarnya. Kalau semua sudah kepentok, dukun pun bertindak. Kalau semua sudah buntu, alam supranatural menjadi pelampiasan. Yang suka dengan sihir, pelet, guna-guna dan semacamnya itu, tidak cuma golongan masyarakat yang tak berpendidikan dan miskin. Bukankah sering didengar artis yang suka pakai pemanis, atau pedagang dengan penglarisnya, dan seterusnya?

Sihir yang dibilang-bilang SBY adalah sebuah konsekuensi dari seorang individu yang terus kesusahan mencari kambing hitam dari kegagalan politiknya selama ini. Ini perilaku normal. Ketika semua cara rasional dan logik tak ketemu, maka dunia supranatural maupun transendental lantas menjadi pelarian.

Tapi untuk membahas sihir itu “legal” atau illegal dalam khasanah ilmu Islam, biarlah para ahli hukum Islam yang bicara. Namun saya kira, ini bukan soal percaya atau tidak percaya soal sihir. Apakah sihir itu ilmiah atau tidak, itu bukan masalahnya.

Problemnya adalah dia seorang Presiden, yang ingin mencalonkan dirinya kembali. Dan di saat posisinya terus jatuh dan peluang untuk memperpanjang masa jabatannya semakin tipis, kepanikan melanda. Dulu dia digdaya setelah kemenangan partainya di legislatif dan kemudian tiba-tiba semua orang datang kepadanya untuk bergabung dan berkoalisi, dan kini, setelah beberapa bulan, popularitas dan citra anjlok, maka itu punya dampak psikologis yang sangat mengerikan. Saya sudah pernah menyinggung ini beberapa waktu lalu dalam tulisan yang bertema “bagaimana seandainya SBY kalah?”

Popularitas memang sangat membahayakan. Banyak artis lokal, nasional maupun internasional, sejak dulu, hingga kini, yang terjebak di arus popularitas itu. Semua cara dihalalkan, asalkan dia tetap terkenal, namanya tetap dikenang, disebut-sebut dan selalu dijilat-jilat oleh pengagumnya.

Kebanggaan terhadap diri, menganggap diri adalah segala-galanya, adalah perilaku yang identik dengan kesombongan. Dari tampilan yang diberikan SBY selama ini di media, dari perkataan, intonasi dan gaya bicaranya, orang memang tak akan langsung bisa menilai sebuah kesombongan. Hanya orang yang sangat-sangat jelilah yang bisa melihat kesombongan yang berbaju “tawadhu” itu.

Dan yang paling utama yang dapat melihat itu adalah Tuhan dan si individu itu sendiri. Bagi saya, SBY jelaslah sudah tak bisa lagi mengendalikan diri atas dampak psikologis dari dinamika politik yang berkembang akhir-akhir ini. Setelah bumbung kemenangan partainya, setelah semua orang menjilat-jilat kepadanya, tiba-tiba dalam sekejap mata, perubahan drastis terjadi.

Mulai dari tim suksesnya yang berkelahi terus, melakukan blunder terus, dan kemudian disahkan dengan anjloknya popularitas yang disusun oleh lembaga survey, baik yang milik lawan dan malah oleh tim survey sendiri, dan seterus-seterusnya, ini adalah sebuah komplikasi psikologis yang tidak main-main.

Kemarin-kemarin dulu saya sudah tulis soal kemungkinan akan adanya penyakit jiwa dari seorang Presiden, dan negara ini hingga sekarang belum punya rumah sakit jiwa yang khusus mengobati seorang mantan Presiden. Dan kini melihat pongah tingkah laku SBY, saya makin khawatir saja soal penyakit kejiwaan itu.

Sakit jiwa memang tak kasat mata. Yang mengalami sakit jiwa pun pastilah tak ingin disebut dia sedang sakit. Tapi, kalau semua sudah berjalan tak normal seperti biasa kehidupan sehari-hari, dan kalaulah seorang Presiden menyinggung-nyinggung hal yang sama sekali tak disentuh oleh konstitusi manapun di seluruh dunia ini –misalnya soal sihir–, maka pastilah ada yang salah dengan itu.

Seingat saya sejak zaman Soekarno, Soeharto, Habibie, Abdurrahman Wahid dan Megawati, tak satupun yang mengucapkan soal sihir atau guna-guna. Soal guna-guna, santet, hingga sihir selayaknya dibungkam habis, dan digantikan dengan perilaku yang rasional, logik, metodologik dan dapat dipertanggungjawabkan. Kalaupun praktek itu masih ada di masyarakat kita, maka justru itu menjadi PR untuk diberantas, bukan untuk dinaikkan derajatnya menjadi pembicaraan serius di tingkat kenegaraan, atau malah dimaktubkan dalam Undang-undang. Itu adalah persoalan kultural yang mesti dihadapi dengan cara kultural juga. Kesemuanya sadar, itu bukan untuk diceritakan.

Gus Dur memang sering diberitakan suka mengunjungi kuburan, tapi carilah catatan baik dari media maupun lembaran negara, kapankah dia pernah bilang dia kena sihir? Bahkan, kalaupun dia ditanya soal kebiasaannya yang dianggap orang sebagai “supranatural”, Gus Dur sering menepis, membantah dan malah memplesetkannya menjadi guyonan.

Hanya SBY-lah, yang tanpa ditanya, tanpa disinggung dan tak pernah disentuh-sentuh soal itu dari lawan politiknya, tiba-tiba mengatakan dengan sangat serius, di hadapan para ulama, dirinya telah kena sihir.

Itulah pertanda kalau negara ini tak pernah maju. Sahabat … negara Indonesia, negara kita ini, telah mundur ratusan, ribuan tahun ke belakang. (*)

19 thoughts on “Sihir SBY, Indonesia Makin Mundur Ke Belakang

  1. takut ah komen nanti disihir wkwkkwkkkkkkk, good post slm kenal
    rasio apa klenik, klenik apa rasio ????

    salam kenal juga. yg pasti postingan ini pake rasio. pengennya sih sihir, tp gak pande .. hehehehe😀

    Like

  2. PILPRES turun drajat jadi PILKADES… kalo di PILKADES rame tuh masalah sihir n dukun..
    Ada ada saja calon Kades yg satu ini🙂

    memang aneh tuh kades.😀

    Like

  3. Sihir, santet atau apapun istilahnya memang akrab di telinga masyarakat.Bahkan untuk kalangan intelektual sekalipun.Kebetulan di blog saya ada secuil cerita tersebut. silahkan mampir.terima kasih

    saya akan mampir. thanks.🙂

    Like

  4. SBY sepertinya masih mengandalkan strategi “dizalimi” yang memang sukses di tahun 2004. Sayangnya, SBY tidak memahami bahwa masyarakat makin cerdas dan dapat menilai bahwa “kezaliman” itu umumnya dilakukan oleh orang yang berkuasa. Masyarakat juga bisa melihat bahwa orang membuat dirinya seolah-olah dizalimi justru menebar provokator yang narsis, rasialis dan tiran. Terakhir bicara sihir, semakin menujukkan dirinya sebagai tokoh yang cengeng dan selalu mau dikasihani. Bagaimana seorang figur yang lamban, peragu dan cengeng bisa diharapkan memimpin bangsa yang besar ini. Jangan “LANJUTKAN” penderataan rakyat

    Like

  5. Saya lihat justru SBY yang dikelilingi tukang sihir yang menyihir masyarakat dengan survei bohong, iklan satu putaran, pernyataan narsis dan rasial

    dari segi politik kekuasaan machiavelis itu wajar-wajar saja.🙂

    Like

  6. Doktor Haji Soesilo Bambang Yudhoyono barangkali pernah di-ruqyah oleh ustadz beken pks di mesjid-mesjid yang dikelola oleh kader-kader handal pks di batam. Namun karena kurang direstui oleh jin-jin Woshington maka SBY tetap tidak imun terhadap sihir dan setan.. Kemarin sby nyoba2 melawan sihir dengan cara menggelar majelis zikir di CikeAS… Artinya, sby sangat lemah dan tidak memiliki iman karena untuk menolak sihir saja masih mengandalkan kehadiran habib dan para santri.. Andaikata dulu ketika sby sedang nego dengan Exon Mobile mengahadirkan para habib dan santri-santri pilihan di blok Cepu, tentu SIHIR SETAN AMERIKA tidak akan pernah menekuk otak dan hati sby sehingga menyerahkan kekayaan RI kepada asing.. Sayangnya, sby tidak berkehendak untuk melawan sihir amerika yang menghancurkan martabat bangsa itu. malahan sby menikmatinya.. Pantesnya yang jadi presiden adalah pak kades di kampung saya saja dech ketimbang waria cengeng dan pengecut..

    sihir sihir ….😀

    Like

  7. sihir itu konon namanya tebar pesona dan permainan survey serta jaringan kekuasaan..
    yah itulah Indonesia, siapa yang berkuasa, one step ahead

    😀 mari berzikir …

    Like

  8. biar tak sihir SBY jadi babi…trus diberantas…ha..he..

    wah kl jadi babi ngepet, banyak duit dong …😀

    Like

  9. sihir itu ada, bung!. sebagaimana dunia ghaib, metafisik, supranatural itu ada. Untuk alasan ini, saya pun tak mau Mengkhotbahi anda perihal Sihir yang memang jelas-jelas di kitab Suci alqur’an-pun ada, dan Rasul SAW -pun pernah kena tulahnya…apalagi seorang SBY. saya kira anda harus baca konteks pernyataan SBY bung, bahwa beliau itu sedang dalam konteks memberi ceramah dalam lingkup sebuah majelis Dzikir, pointnya sebetulnya bukan pada sihirnya tetapi pada keutamaaan dzikirnya..apa itu salah…dan pastinya trik menghalalkan segala cara itu selalu ada untuk memenangkan kompetisi…dan bisa jadi ini dilakukan oleh kompetitornya. Arbi Sanit yang pakar politik-pun tidak menganggap itu sebuah blow-up dari teori “zalimisasi”…bahkan dalam beberapa hal Incumbent ini memang diDzalimi..sebut saja kasus SARA “istri Boediono”..dan “dikuyo-kuyo” oleh SI CHAPLIN JK..itu pun dengan isue ecek-ecek pula sebuat saja “Iklan Satu Putaran!!”.

    Justru ini bung masalahnya, Jika Gus Dur lebih suka mengunjingi makam-makam, lalu Bung Karno, Soeharto yang katanya suka semedi di gua-gua..yang merupakan Contoh terang sosok Praktisi Klenik..lha SBY cuma Korban Klenik kok dipermasalahkan habis-habisan..

    Lagipula Popularitas SBY toh masih kisaran 50 % -70 %…dan ini cukup untuk mewujudkan Pilpres satu Putaran..coba sebutkan lembaga survey mana yang bilang SBY anjllok ke level 20-40 % ?..kecuali lembaga survey ecek-ecek yang jauh dibandingkan dengan misalnya LSI, PUSKAPTIS dan Kompas,….

    huh..saya muak dengan anda bung!..

    kau jangan ikut-ikutan panik.🙂

    Like

  10. Siapapun pasangannya; kalo saya Lebih Baik Pilih Mas Prabowo Subianto. Manusia Super Abad 21 Macan Asia dari Indonesia. Daripada milih SBY sudah tau gimana, ngapain mau Lanjutkan Kemelaratan. Daripada milih JK sudah tau gimana, ngapain mau Lanjutkan Animar Impor Beras. PRABOWO 2009 – 2019

    Like

  11. ha hahahahha aq pengalamanku nih bung sihir bertebaran di waktu pikades eh aku sih pecaya diri aja sama Allah… terus lawan aku tuh sombong banget eh menurutku itu juga hehehe mengggap dia akan menang eh kalah sama aku bung… jadi setres sampai sekarang bung dia saking percaya dirinya mau mengang tapi aku kasihan sama dia … bagaimana caranya ya bung supaya dia sadar dari stersnya kan dia mau maju lagi katanya 5 tahun kedepan…. cari obatnya ya bung supaya stersnya sembuh kasihan dia…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s