Ekonomi “Jalan Tengah” SBY, Kompromi Sosialisme-Kapitalisme?


Dalam sebuah acara di televisi, “Capres Bicara” di Trans TV, SBY terang menyebut “ideologi ekonomi politik”-nya dengan “jalan tengah”. Dia membenturkan dua kubu bertolak belakang sekaligus: sosialisme di satu sisi dan kapitalisme di sisi yang lainnya. Dia mengatakan ekonomi komando yang –konon- dipegang teguh oleh sosialisme maupun sistem pasar bebas ala kapitalisme, sama-sama tak bisa diterapkan di Indonesia. Tapi hal-hal positifnya tetap ada.

Dalam perjalanan ideologi di Indonesia, yang dikatakan SBY ini jelas sungguh berbahaya. Kalau dia mengambil hal positif dari sosialisme, maka amat patut diduga sosialisme telah diterapkan dalam kebijakan negara. Padahal ada TAP MPRS No. XXV/1966 yang sudah melarang paham itu.

Pertama, lontaran seorang Presiden yang mengatakan ekonomi jalan tengah di antara dua kutub itu, jelas sekali telah mengambil sisi-sisi “positif” dari ideologi sosialisme dan kapitalisme. Bila dipertentangkan dengan ketentuan yang ada di ideologi negara Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945, maka tidak satupun ketentuan yang menyinggung-nyinggung soal sosialisme dan kapitalisme.

Setahu saya, ekonomi kita yang berdasarkan ideologi Pancasila jelas bukan hasil jalan tengah ataupun kompromi dari dua ideologi; sosialisme-kapitalisme. Tidak ada yang mengatakan itu, baik orang sekarang maupun para founding father kita. Ir Soekarno telah terang-terang mengatakan, Pancasila lahir dari bumi Indonesia dan dicetuskan oleh orang-orang Indonesia sendiri. So, kalau tiba-tiba seorang kepala negara memuja sisi positif dari sosialisme maka patut diduga ada hal-hal yang sangat membingungkan dari sisi hukum akan soal itu.

Saya juga tak mengerti, apakah ia ingin mengatakan bahwa perlindungan sosial kepada masyarakat dan pengendalian negara terhadap ekonomi pada ukuran tertentu, dia ambil dari ideologi sosialisme?

Ataukah dia ingin mengatakan bahwa adanya pasar bebas di Indonesia ini, dia tarik dari ideologi kapitalisme?

***

Tanri Abeng yang ikut dalam acara itu, memuji soal “kuliah” SBY di acara itu. Tapi saya merasa itu bukan pujian, tapi justru sebuah sindiran. Atau mungkin saja sebuah warning karena SBY telah melontarkan suatu hal yang cukup berbahaya. Tapi tentu, saya memang tak tahu persis apa yang ada di benak Tanri Abeng ketika bertanya setelah SBY menelurkan prinsip ekonomi “jalan tengah”-nya.

Menurut saya, dalam acara itu kelihatan sekali kalau SBY telah sangat kesulitan dan terpojok dengan imej neo-liberalisme yang melekat kuat di dirinya dan Boediono. Walau yang dikatakannya soal neoliberalisme itu sangat-sangat debatable, melirik apa yang diinginkannya yaitu yang penting rakyat sejahteramaka dia sebenarnya tak perlu membantah dirinya adalah seorang neolib. Kalau dia yakin neolib mampu menyejahterakan rakyat, untuk apa pula dia membantah dirinya seorang neolib? Dari situ saja kelihatanlah kalau yang dikatakan oleh tim suksesnya yaitu imej neolib tak punya pengaruh apa-apa bagi citra SBY-Boediono dan konon malah menaikkan tingkat elektabilitas paket ini, adalah sandiwara politik yang menggelikan. Kalau tak terpengaruh mengapa pula mesti dijelaskan secara khusus?

Ironisnya, counter prinsip neo-lib itu justru menimbulkan persoalan baru yang demikian dahsyat.

Dalam prinsip keilmuwan, tak ada yang salah ketika Anda membahas sosialisme dan kapitalisme. TAP MPRS itu, untungnya, masih sedikit berbaik hati untuk hal itu. Namun, ketika ia dilontarkan oleh seorang kepala negara, presiden, kepala pemerintahan, yang juga seorang calon presiden untuk lima tahun mendatang, dan kemudian mendasarkan apa yang dilakukannya pada kurun 2004-2009 adalah dengan konsep “jalan tengah antara sosialisme-kapitalisme”, maka benak saya langsung bertanya-tanya “apakah sosialisme dan kapitalisme sudah sedemikian longgarnya diterapkan di dataran kebijakan sebuah negara yang punya aturan kalau ideologi itu adalah sama sekali dilarang?”

Persoalan kedua adalah betapa tidak awasnya penyelenggara pemilihan umum maupun yang mengawasi, akan hal tersebut. Hal ini bisa menandakan kalau persoalan ideologi yang tiba-tiba menyeruak dalam pentas pilpres, seolah-olah dianggap angin lalu saja.

Persolan ketiga, seingat saya dan juga setahu saya, setiap level aparatur hukum dan keamanan, seperti kejaksaan, kepolisian dan militer, punya organisasi khusus yang memelototi persoalan ideologi, misalnya di bagian intelijen. Ketika acara itu disebarluaskan dan seorang presiden berbicara sepatutnya juga itu mendapat perhatian khusus.

Karena itu kemudian tidak dipersoalkan, maka langsung dalam kepala saya terbersit apakah di dataran sosial politik dan hukum, kita sudah bisa menerapkan ideologi sosialisme dan kapitalisme?

Dan lantas, apakah negara ini sudah membolehkan penyebarluasan ideologi sosialisme dan kapitalisme?

Dan kalau demikian, bagaimana dengan status TAP MPRS tersebut? Apakah ia kini hanya menjadi macan ompong saja atau malah diskriminatif?

Komponen bangsa dan terutama SBY mesti tegas dalam hal itu. jangan lagi pakai omongan “lanjutkan”, melainkan “Jelaskan!” (*)

17 thoughts on “Ekonomi “Jalan Tengah” SBY, Kompromi Sosialisme-Kapitalisme?

  1. assalamu alaikum wr. wb.

    alhamdulilah…
    Selamat akhirnya golput berhasil memenangkan jumlah suara terbanyak!
    Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung Partai Golput,
    baik yang dengan penuh kesadaran dan keikhlasan maupun yang tidak.
    Lho, maksudnya? Ga Nyambung & Ga Jelas? :-\

    Sudah saatnya kita ganti sistem!
    Sistem yang lebih “pro rakyat” dan lebih “berbudi”…
    Ayo kita ganti secepatnya, “lebih cepat lebih baik”…
    Mari kita “lanjutkan” perjuangan dakwah untuk menegakkannya!
    Sistem Islam, petunjuk dari Sang Maha Pencipta!

    Lihatlah dengan hati dan fikiran yang jernih!
    Aturan Sang Maha Pencipta diinjak-injak
    dan diganti dengan aturan yang dibuat seenak udelnya!
    Dan lihat akibatnya saat ini, telah nampak kerusakan
    yang ditimbulkan oleh sistem sekulerisme dan turunannya
    (seperti: kapitalisme, sosialisme, demokrasi, dsb) di depan mata kita!

    Banyak anak terlantar gara2 putus sekolah.
    Banyak warga sekarat gara2 sulit berobat.
    Banyak orang lupa gara2 ngejar2 dunia.
    Dan banyak lagi masalah yang terjadi gara2 manusia nurutin hawa nafsunya.

    Lihat saja buktinya di
    http://hizbut-tahrir.or.id/2009/05/12/kemungkaran-marak-akibat-syariah-tidak-tegak/
    http://hizbut-tahrir.or.id/category/alwaie/
    http://hizbut-tahrir.or.id/category/alislam/
    dan banyak lagi bukti nyata yang ada di sekitar kita!

    Untuk itu, sekali lagi saya mohon kepada semua pihak
    agar segera sadar akan kondisi yang sekarang ini…
    dan berkenan untuk membantu perjuangan kami
    dalam membentuk masyarakat dan negeri yang lebih baik,
    untuk menghancurkan semua bentuk penjajahan dan perbudakan
    yang dilakukan oleh manusia (makhluk),
    dan membebaskan rakyat untuk mengabdi hanya kepada Sang Maha Pencipta.

    Mari kita bangkit untuk menerapkan Islam!
    secara sempurna dan menyeluruh.
    mulai dari diri sendiri.
    mulai dari yang sederhana.
    dan mulai dari sekarang.

    Islam akan tetap berlaku hingga akhir masa!
    Dan Islam akan menerangi dunia dengan cahaya kemenangan!
    Mohon maaf apabila ada perkataan yang kurang berkenan (-_-)
    terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.

    wassalamu alaikum wr. wb.

    Like

  2. Adududuh Maasss….Sakit mataku baca tulisan ini, kalo bisa ganti template yang terang dong? Aku rasa template lama masih yg terbaik buat blog ini. Thx.

    tenkiu atas atensinya. sedang berusaha mengubah suasana aja.🙂

    Like

  3. Sudahlah !tak ada guna dibahas lebih dalam, “neolib” itu kan wacana politik bukan wacana ilmiah.Diantara mereka (capres &cawapre) itutak ada yang pantas dibela dan didukung, gayanya aja yang pro wong cilik, pada hal mereka itu “wong licik”. Betul nggak bro!?

    selalu ada gunanya. Neolib sudah berada pada tingkat yang sungguh berbahaya. ah, bayangkanlah, 11 tahun reformasi, ternyata baru sekarang orang meributkan neolib. 11 tahun!😀

    Like

  4. @dir88gun2
    geli sekali membaca komentar anda…apa benar Golput menang ?..trus coba anda cari data, yang menang itu Golput Ideologis seperti organisasi anda atau Golput administratif..itu harus anda perjelas!, Jika tidak, Ilusi anda untuk membentuk “sistem islam” ala HT (meskipun saya sampai sekarang belum mengerti sejenis “binatanG” apakah itu) cuma Igauan anda di tengah hari bolong, yang mohon maaf, ketinggalan zaman, yang tidak ada prakteknya dimanapun, dipojok dunia ini.

    @ Tukang ngarang

    sebagai ajang centil-centilan anda dalam menulis, beberapa artikel anda terbilang okelah!, tetapi sayang, menurut penilaian saya, untuk ukuran jurnalis, anda menganggap para pembaca yang berseliweran “mengintip” blog anda, adalah sekumpulan manusia bodoh yang naif.

    Contohnya ?..dalam tulisan “SBY Berjudi”..anda bilang begini ““ketidakmengertian SBY terhadap teori neo-liberalisme karena dia adalah tentara dan gelar ‘doktor’nya bukan studi ekonomi”, ..Faktanya ? apa benar SBY Doktornya bukan kajian Ekonomi..? ha..ha..sengaja saya “diamkan” saja pernyataan ini..berharap akan ada orang yang membantah..tetapi toh tidak ada !

    lalu dalam tulisan ini dikatakan TAP MPRS No. XXV/1966 ?….ha-ha..hari gini ngomongin produk hukum Jadul kayak begitu…lihat lagi Tap MPRS itu udah dicabut belum ? Kalau anda kurang yakin “sowan” saja ke mantan Presiden Gus Dur

    terakhir, apa salah menerapkan ekonomi-politik jalan tengah…

    Mestinya anda cari data, Kevin RUUD, PM Aussy dari Partai Buruh saja terang-terangan bilang sistemnya begini “Kapitalisme Sosial-Demokratis”..ada “bau” Sosialis disitu…

    kalau anda mempermasalah sosialis, yang katanya acuannya menggunakan Tap MPRS itu..wah..wah Prabowo mestinya sudah ditangkap oleh BIN atawa Bareskrim, karena dia mengembar-gemborkan Nasionalisasi aset ala pemerintahan sosialis di dunia ini, seperti venezuela dan Bolivia….

    mestinya sebelum para Capres-Cawapres itu lolos seleksi sebagai kontestan menuju RI -1, saya sarankan ada Uji Ideologi, yang dilakukan BIN atau Mabes Polri..begitu ya…agar ideologi mereka masih “Pancasila”…(yang sebetulnya dalam tulisan anda terdahulu anda ejek sebagai “ideologi pembunuh”..)

    Sekarang sebelum saya “lanjutkan!”..anda “Jelaskan!” dulu duduk masalahnya secara lebih cerdas lagi..(sebelum saya tertawa lebih keras lagi)..monggo Lebih cepat ..Lebih Baik!

    salam

    mas ryono yg bersemangat.😀

    Pertama, sy jelas kurang tahu banyak tipikal pengunjung blog saya. jadi sy tak akan gegabah menganggap mereka sbg orng yg bodoh dan naif. Termasuk juga kepada Anda. Take it easy ajalah.

    Untuk gelar doktor SBY itu, sudah saya tanggapi melalui salah satu komentator di blog ini yang bahkan sudah mengungkapkan gelar doktor SBY berikut desertasi sekalian sm penguji-pengujinya. Komentar saya ringkas saja: “dan kemudian apriantono dilantik menjadi menteri pertanian RI…” Saya kira, untuk orang-orang sekelas Anda, bisa mengerti arah komentar saya itu. Tp kalau tidak, ya, apa boleh buatlah.

    soal Tap MPRS itu, ah, … gak perlu nanya mas Dur.
    menurut Ketetapan MPR RI Nomor I/MPR/2003 soal Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat tentang Peninjauan terhadap Materi dan Status Hukum Ketetapan MPRS dan Ketetapan MPR RI Tahun 1960 sampai dengan Tahun 2002, TAP MPRS No XXV ttg PKI “wa” komunisme/sosialisme dan kawan-kawannya, masuk dalam kategori II yaitu dinyatakan tetap berlaku dengan ketentuan. Silahkan cek lagi.

    soal kevin ruud itu gak perlu saya persoalkan, analogi yang Anda tawarkan itu, gak masuk dalam mindset saya. Australia banget gitu, lho.🙂

    soal ekonomi politik jalan tengah itulah yang justru jadi persoalan. Jalan tengah dari mana? Kl merunut dari statemen SBY di tivi kemaren, dia jelas mengatakan dari kubu “Sosialisme” dan “Kapitalisme”. Nah, ini dia yang harus dia jelaskan lagi.

    Kalau soal si prabowo itu, kayaknya Anda satu tipikal dengan SBY. Justru itulah yang saya tuntut penjelasan dari si SBY. ha, apa memang nasionalisasi aset itu berasal dari kubu “sosialisme”, dan benarkah kalau negara melakukan itu, telah pula berarti menerapkan sosialisme. kan sudah saya pertanyakan, “Saya juga tak mengerti, apakah ia ingin mengatakan bahwa perlindungan sosial kepada masyarakat dan pengendalian negara terhadap ekonomi pada ukuran tertentu, dia ambil dari ideologi sosialisme?”

    Nah, silahkan uji ideologi capres-capres Anda itu…

    Ngonooo..mas ryonoooo …😀 (tertawalah sebelum tertawa itu dilarang…. kata almarhum mas Donooooo …)

    Like

  5. Banyak komen yg dihapus nih ! dah penuh ya ?

    🙂 mmm, emg gak ada yg komen kale … wakakakakkk😀

    Like

  6. Sorry,aku gabung lagi.
    Kawan, wacana ekonomi “jalan tengah” ala SBY yg kau munculkan dalam tulisanmu sungguh menarik untuk dicermati dan diperbincangkan.
    Menurutku boleh jadi itu bisa menjadi sebuah diskursus konsep ekonomi alternatif bagi bangsa ini
    Namun,sepertinya ada satu hal yg perlu dipertanyakan, yaitu dimanakah posisi ekonomi Pancasila dalam konteks ini ? Apakah ada relevansi,signifikansi dan sinkronisasi antara konsep ekonomi “jalan-tengah”nya SBY dengan konsep ekonomi Pancasila ? Mari kita eksplorasi dan diskusikan bersama-sama. Trim’s.

    nah nah, justru itu. ekonomi “jalan tengah”-nya SBY itu diambilnya dari mana? dari Pancasila? kok dia malah nyinggung-nyinggung kutub “sosialisme” dan “Kapitalisme”… aneh itu.

    note: cemana kabare, fan…😛

    Like

  7. 1) Melalui ideologi Pancasila, sudah cukup jelas bahwa ekonomi yang harus dijalankan oleh negara adalah yang adil secara moril maupun materil (sila ke-1 dan sila ke-5). Sehingga semestinya seorang pemimpin mengerti betul bahwa ia menjadi Calon Pemimpin Indonesia, bukan pemimpin Singapura, Ethiopia, Rusia, Jepang, Amerika atau Australia.
    2) Ideologi Pancasila tidak muncul dengan sendirinya (creature). Perjalanan pendidikan dan pengetahuan bacaan yang diperoleh dari Soekarno, Moh Hatta, Syahrir dkk tidak terlepas dari konsep-konsep yang ia pelajari dan ilhami dari Sosialis Karl Marx, Liberalis Adam Smith dan nilai-nilai kultur-keagamaan masyarakat nusantara. Bagi saya, tidak masalah jika benefit sosialis + kapitalis “ditempelkan” dalam perkembangan konsepsi Pancasilaisme.
    3) Soekarno sendiri tidak memusuhi paradigma sosialis, dan sejak 1927 ia manawarkan perpaduan golongan Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme untuk membangun bangsa.

    😀 Saya ambil contoh lain. Muhammad dulu tak pernah sama sekali mempelajari sosialisme, tapi dia perintahkan untuk melindungi fakir miskin, anak yatim, kaum mustadha’afin dst. Kedua, baitul mal negara harus dibagi-bagikan dan setiap orang kaya-kaya wajib dipungut zakat dan tak boleh menumpuk-numpuk kapitalnya. Ketiga, pasar dan perdagangan diatur dengan sistem yang adil dan kejujuran. Keempat, semua orang berhak menjadi pedagang dan mencari harta sebanyak-banyaknya. Dan untuk itu, tak pernah pula Muhammad belajar soal kapitalisme.

    Pancasila lahir di antaranya dari sisi positif sosialisme-kapitalisme? Mungkin saja, tapi kalau perbincangan Pancasila itu hanya didominasi oleh sosok seperti Soekarno, Hatta maupun Sjahrir. Miskin betul kita kalau perbincangan ideologi dan isme di dunia ini hanya didominasi oleh kubu sosialisme dan kapitalisme (walau harus diakui kurun abad ke-19 dan 20 -saat perjuangan kemerdekaan dan masa Indonesia berdiri- dua ideologi itu paling mengemuka).

    Terlalu banyak yang ikut andil dalam mendirikan negara ini, tapi sejarah politik telah menghapus itu dengan tinta-tinta berbau kebusukan. Kita suka sekali memalingkan wajah kepada Eropa namun lupa dan alpa kalau kita juga punya sejarah tradisi yng mandiri dan hubungan historis dengan belahan dunia yang lain, di mana sosialisme dan kapitalisme tak jadi perbincangan.

    Nah, ketika seorang pejabat negara dan kebetulan pula ia seorang Presiden yang ingin menjabat kedua kalinya, melontarkan soal sosialisme dan kapitalisme, maka tanda tanya semakin besar. Dia ambil sisi positif dari sosialisme dan kapitalisme, tapi negara justru melarang paham itu untuk diterapkan. Hipokrasi telah terjadi (lagi). Di satu sisi negara melarang, tapi di sisi lain negara justru menerapkan.

    Buanglah jauh-jauh paham sosialisme dan kapitalisme itu kalau ingin konsisten. Kalau semua sudah sepakat Pancasila, ya sudah, Pancasila. Dengan bernama Pancasila, itu berarti dia sudah tak punya hubungan lagi dengan ideologi manapun. Dia ideologi sendiri. Jangan lagi berapologi ini adalah sebuah tafsir baru perekonomian dan dijuluki sebagai “jalan tengah”. Jahat sekali kita ketika “jalan tengah” itu sendiri justru tidak digali dari ideologi Pancasila tapi dari kutub lain yang berseberangan: sosialisme dan kapitalisme. Kalau ternyata, mesti lagi mengambil dari jalur ideologi lain; buat apa ada Pancasila itu?

    Dengan ini, harus diperinci lagi Pancasila itu apa sebenarnya? Saya sama sekali tak sepaham dengan Soekarno yang menganggap ini hanya seperti “gado-gado” yang kemudian bisa diperas-peras hingga menjadi rumusan “gotong royong”. Kalau itu memang betul hasil rumusan dari banyak founding father (baik yang disebutkan maupun yg tak disebutkan oleh sejarah), maka sepele betul dia memandang sebuah pemikiran dan ideologi negara. Sesepele ketika dia berusaha menjadi “bapak bangsa” (dan mungkin ingin sampai tahap “bapak dunia) yang ingin memayungi tiga paham besar sekaligus; nasionalisme-islam-komunis. Apalagi, dia sendiri sadar kalau langkahnya itu bukan hanya sebagai strategi penyeimbang bandul politik kala itu, melainkan lebih jauh dari itu; dia tahu yg dihadapinya adalah pemikiran dan ideologi.

    Like

  8. ah bingung aku nih…. pancasila sudah mulai dilupakan… sosialis hanya digembargemborkan… kapitalis menyeruak dikalangan borjuis…

    jadi musti bagiaman dong saya seorang kasdes mendidik dan membina rakyat yang dibawah… karena kades merupakan pemimpin sejati ditngkat paling bawah yang bersetuhan langsung dengan masyarakat…walau tidak ada gajihnya…eh berarti setelah diperas-peras gotongroyaong juga ya he heheheheeh

    gak ada gaji tapi dapet tanah bengkok …😀

    Like

  9. pernyataan politik yang inklusif sekedar untuk mendapatkan dukungan politik nasional maupun internasional…

    jalan tengah atau the third way-nya Giddens yg dimaksud?

    atau sebenarnya ingin mengatakan ideologi ekopol-nya kalau tidak sosialisme demokrat ya kapitalisme humanis???

    sekeping mata uang dengan dua sisi yang berbeda… tetap aja impor… titipan… antek…

    yup …

    Like

  10. When it walks like a FOX, sounds like a FOX, looks like a FOX, its probably a FOX, even when it claims to be a sheep.

    sesuatu yang sudah sangat jelas di depan mata, mau disamarkan seperti apa pun, tetap terlihat jelas

    semoga

    oh, maybe it must be a FOX…🙂

    Like

  11. jalan tengah sih jalan tenganh..tapi jalan tengah yang ditawarkan sby ini ranjau semua..ayo siapa mo ikut..ha..ha..

    Like

  12. jalan tengah sih ngomong doang, ntar kalo dah menang neoliberalisme, kapitalismenya keluar. sebelum pemilu rakyat yg menentukan, disayang-sayang, eh sesudah pemilu rakyat dianggap budah/sampah.

    yup. itu benar

    Like

  13. untuk keseimbangan dengan mengambil jalan tengah sangat sulit
    pastinya condong ke dalam salah satu bagian tersebut

    ekonomi jalan tengah sekedar lips service, apologi dan justifikasi dari ketidakadilan ekonomi.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s