Incredible Hulk dan Kebudayaan Monster


“A great civilization is not conquered from without until it has destroyed itself from within.”(Will Durant)

* * *

Bruce Banner (dimainkan oleh Edward Norton) adalah sosok yang lembut namun cerdas. Ia dipekerjakan oleh seorang Jenderal Amerika bernama Jenderal Theddeus Ross (William Hurt) dalam sebuah proyek pembuatan prajurit super bagi tentara Amerika. Ia menjalin kasih dengan anak sang jenderal bernama Betty Ross (Liv Tyler).

Formulasi ditemukan dan Bruce yang terkena efek radiasi gamma harus rela ketika hal itu mengakibatkan dirinya menjadi sebuah makhluk yang tak cuma super tapi juga monster.

Monster berkulit hijau yang ini penuh amarah, yang logika dan perasaannya berada di tahap paling minimal. Yang ada dalam dirinya hanya kekuatan yang harus diledakkan dan dilampiaskan. Alter ego-nya menjadi dominan.

Bruce pun jadi buronan dan mengasingkan diri ke Brazil. Ia bekerja di sebuah pabrik obat dan belajar bela diri untuk mengendalikan emosi amarahnya. Pasalnya, amarahnya itulah yang menjadi pintu masuk sosok Hulk dalam dirinya. Secara perlahan ia bisa mengendalikan amarahnya hingga Jenderal Ross yang terus mencari Bruce akhirnya menemukannya. Terpojok, Bruce pun berubah kembali menjadi Hulk. Seterusnya, film ini kemudian bercerita soal pencarian penawar bagi kekuatan menakutkan yang dimiliki Bruce.

Berbeda dengan versi pertama film ini, The Hulk (2003) yang ditukangi oleh sutradara asal Hongkong, Ang Lee, film The Incredible Hulk (2008) lebih padu mengkombinasikan “perasaan” seorang makhluk super dan aksi-aksi luar biasa dalam film ini.

* * *
Tak seperti karakter superhero yang lain yang bisa berubah menurut keinginan sendiri, ciri khas Hulk adalah perubahan itu tidak inginkannya dan hal itu berasal dari kemarahan. Di kemarahan itulah kekuatannya.

Karena itu, bagaimana seorang yang marah bisa membedakan yang benar dan salah? Hulk memang tak sedang ingin berdebat ilmiah, namun ia cukup menjelaskan perbedaan karakter dasar dari seseorang sebelum menjadi Hulk menjadi pembedanya. Bila ia berasal dari seorang Bruce Banner yang lembut, baik hati dan pecinta sejati, sosok Hulk menjadi protagonis. Sedang bila ia berasal dari seorang tentara bernama Emil Blonsky yang ambisius, sangar dan sudah “jahat”, ia akan menjelma menjadi the abomination yang antagonis.

Sosok Hulk juga menjadi perenungan sendiri. Bagaimanakah keadaan psikologis seorang manusia ketika berubah menjadi yang tidak diinginkannya dan justru menjadi buronan seluruh pihak, dan bukannya malah menjadi pahlawan. Tak seperti karakter komik yang lain seperti Superman dan Spiderman yang diidolakan masyarakatnya, Hulk adalah superhero yang menakutkan, dari segi ukuran, kekuatan, maupun daya penghancurnya.

* * *

Kamus bahasa Inggris meletakkan arti incredible sebagai hal luar biasa dan tidak masuk akal. Kebudayaan jenis Hulk ini didasari oleh kemarahan. Walau ia seorang yang lembut, tetap saja kelembutannya akan hilang oleh kemarahan.

Hulk dan the abomination adalah dua makhluk yang lahir dari satu gen: gen Bruce Banner yang sedang marah dan berubah menjadi Hulk. Laiknya hukum sebab-akibat dan karakter hitam putih, dalam diri manusia potensi untuk menjadi jahat dan baik sama besarnya. Ia juga seperti makhluk manusia di awal-awal dulu. Adam-Hawa melahirkan Qabil yang antagonis dan Habil yang protagonis.

Makhluk manusia, ironisnya, harus lahir dari keturunan Qabil, yang lebih kental unsur jahatnya. Itu karena Qabil telah membunuh Habil demi mendapatkan Iqlima, si cantik jelita. Dengan demikian, unsur kerusakan secara genetika, lebih kental unsurnya hidup dalam diri manusia daripada unsur baiknya.

Itulah makanya, skenario penciptaan alam semesta meletakkan utusan-utusan langit yang ditugaskan untuk kembali menyebarluaskan kebaikan di atas dunia. Rasul, nabi dan kitab suci diciptakan untuk itu. Rasul dan nabi tidak diciptakan untuk menjadi orang sejenius Isaac Newton, walau Tuhan bisa dengan gampang membuat hal itu semua.

Keresahan kerusakan di muka bumi ini yang dulu diungkapkan para malaikat ketika penciptaan Adam, memang terbukti. Mulai dari zaman Adam hingga Indonesia nantinya tidak lagi dipimpin oleh Susilo Bambang Yudhoyono, kerusakan itu akan tetap ada.

Salah satu uraian Jean Paul Sartre dalam eksistensialismenya adalah kerangka “pilihan”. Manusia setiap saat berhak memilih dia ingin seperti apa dan kemudian harus mempertanggungjawabkan pilihannya itu.

Nah, si Bruce Banner tadi pun begitu pada awalnya. Ia memilih untuk bekerja dalam sebuah eksperimen bagaimana membuat manusia super. Sengaja atau tidak, ia sendiri kemudian terimbas langsung dari penelitiannya itu. Ia menemukan formulasinya. Dan ia memilih untuk menjadi “kelinci” percobaan.

Dasar untuk “manusia super” itu memang sudah terbentuk. Bukankah ketika orang sedang marah karena emosi, kekuatannya menjadi berlipat-lipat? Variabel kedua adalah pada saat ketakutannya sedang melanda, kekuatan akan menjadi berganda.

Ini gampang betul contohnya. Bila Anda ketakutan sedang dikejar anjing, maka bisa-bisa tembok setinggi 2 meter bisa Anda lompati dengan mudahnya. Sebaliknya, bila Anda sedang tidak dalam kondisi itu, Anda bisa-bisa harus menghabiskan umur Anda untuk melakukannya.

Dengan demikian, nalar ataupun akal pikiran manusia yang merupakan kekuatan utama dari manusia, toh harus juga tunduk pada dua emosi manusiawi ini; marah dan takut. Bukankah kerusakan lebih banyak diakibatkan oleh dua hal ini?

Bila manusia berpotensi merusak, maka potensi kebudayaan juga demikian. Kebudayaan Hulk adalah kebudayaan yang lahir dari rasa amarah. Amarahnya membuat daya penghancurnya luar biasa besar. Kebudayaan Hulk adalah kebudayaannya para negara dan bangsa yang merasa sebagai super power. Mulanya ia berasal dari kodrati kemanusiaan yang hakiki, namun kemudian berubah ganas karena kebudayaan itu tak punya lagi akal sehatnya. Akal sehatnya mati dan yang muncul adalah daya penghancurnya.

Peradaban besar juga muncul dari ketakutannya. Film Apocalypto yang disutradarai Mel Gibson yang bercerita soal Peradaban Suku Maya di Amerika Latin, dengan baiknya bertutur soal ini. Menurut film ini, kebudayaan dan peradaban ini dibentuk oleh rasa ketakutan yang dalam terhadap kemurkaan sang Dewa. Mereka kemudian mengorbankan manusia dengan menyembelihnya dan menjadikan darahnya sebagai persembahan. Manusia menjadi tak ada harganya. Dan kemudian, sejarah manusia mengenal peradaban suku Maya sebagai salah satu peradaban terbesar di dunia.

Atas nama peradaban dan kebudayaan superpower, manusia telah melahirkan para monster! Dan kita menikmatinya … (*)

3 thoughts on “Incredible Hulk dan Kebudayaan Monster

  1. Kawan, menurutku kalu monster itu orang biasa dan tuna kuas itu tak bahaya dan gampang dijinakkan.Tapi kalu monsternya penguasa baru bahaya, karena kepalanya dua.Machiavelli pernah bilang, suatu saat penguasa itu bisa jadi seekor singa yang buas dan kejam, tapi disaat yang lain ia juga bisa menjadi seekor rubah yang sangat licik.

    memang asyik jadi penguasa. semakin tinggi godaannya, semakin tinggi tantangannya.😀

    Like

  2. sepertinya saat ini lebih penting jadi orang baik dari pada orang penting itu sendiri. Karena ketika orang penting memiliki keuatan dan tidak meiliki kebaikan dalam hatinya maka dia akan jadi monster yang paling menakutkan…he..he

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s