Magnet Negeri Datuk-datuk Malaysia


Pariwisata telah menjadi pemasukan negara terbesar kedua di Malaysia, setelah industri manufaktur. Tahun 2008 lalu, lebih 2,4 Juta orang Indonesia –dari 22 juta lebih wisatawan asing di Malaysia– melancong di negeri itu. Inilah sebuah industri yang rancak dikelola para datuk.

* * *

Dato’ Seri Abdul Rahman Said terus mengumbar senyum manisnya. Pria muda bertubuh tinggi dan berkulit bersih itu menyalami satu per satu undangan dari 23 negara. Malam itu, di acara makan malam yang disertai sajian seni budaya Malaysia, sosok yang masih berkerabat dengan Raja Malaysia, Seri Paduka Baginda Yang di-Pertuan Agong Al-Wathiqu Billah Tuanku Mizan Zainal Abidin ibni Al-Marhum Sultan Mahmud Al-Muktafi Billah Shah, dan kini berposisi sebagai Timbalan Menteri Pelancongan Malaysia (semacam Departemen Pariwisata di Indonesia-red) itu, menyampaikan salamnya.

Makan malam itu merupakan rangkaian acara dari Mega Familiarsation Programme (Mega Fam) Malaysia, sebuah even pariwisata yang dikoordinir Tourism Malaysia Promotion Board, sebuah institusi di bawah Kementrian Pariwisata Malaysia sejak tahun 2000 lalu. Tahun 2009 ini, acara itu berpuncak dalam sebuah seremonial nan megah bertajuk “Malaysia Welcomes the World” di Dataran Merdeka, Kuala Lumpur (KL), akhir Maret lalu.

Malaysia memang fokus mengurus pariwisatanya. Sejak krisis ekonomi melanda negara-negara Asia, terutama Asia Tenggara, pada 1997 lalu, pemerintah negeri Melayu itu langsung banting setir menggarap sektor yang selama ini justru belum dilirik serius oleh Indonesia: pariwisata. Sejak 1999, Malaysia aktif mencanangkan Colours of Malaysia, dengan menggarap intensif potensi kebudayaan dan tradisi lokal untuk dijual ke mancanegara. Mulai dari ranah kesenian, kuliner, busana dan lain-lainnya, dikelola secara profesional hingga bisa menjadi sumber duit yang melimpah-limpah. Kuliner seperti Lemang Periuk Kera, Opor Daging (Pahang), Kek Lapis (Sarawak), Nasi Kerabu (Kelantan) dan lain-lain, “disamakan nilainya” dengan fast food a la Eropa dan Amerika.

Keberpihakan pemerintah yang kuat tampak pada momen malam Minggu itu. Raja Malaysia tampak duduk di tengah-tengah masyarakat dan partisipan, menikmati sajian budaya lokal (Melayu) maupun ras yang juga dominan di sana, seperti India (Tamil) dan Tionghoa. Dentuman kembang api menutup even itu, dan semua pihak yang terkait dengan pariwisata Malaysia di sana dan penjuru dunia, termasuk Medan, Sumatera Utara, pun mafhum: kembang itu pertanda pekerjaan harus digenjot hingga titik maksimal.

“Tahun ini, kami menargetkan lebih dari 25 juta orang mengunjungi Malaysia,” kata Dato’ Seri Abdul Rahman Said di sela-sela sajian makan malam itu. Dan dia memang terus tersenyum.

* * *

Kesan pertama begitu menggoda. Hal itu langsung melintas kala menginjakkan kaki pertama kalinya di Bandara Kuala Lumpur International Airport (KLIA), Malaysia. Bandara yang berbentuk huruf “U” dengan luas 72 kali lapangan sepakbola itu, memang menjadi salah satu bandara tersibuk sekaligus terbaik di dunia.

“Cik, buat apa ke Malaysia?” selidik seorang petugas imigrasi kepada saya setelah melihat paspor saya. Dia perempuan, keturunan tamil. Lumayan manis. Tapi selidikan matanya itu benar-benar menusuk.

I’m on duty,” kata saya. Dia terus membolik-balik paspor saya. “Mane tiket pulang? Kok tak ade ini?!” kata dia lagi. Intonasinya jelas meninggi.

Saya mengernyitkan kening. “Oh, itu ada sama ketua rombongan,” jawab saya sambil menunjuk ketua rombongan di sebelah saya. Eh, dia malah mendelikkan matanya pada saya. “Nape tak bilang dari tadi?!” hardik dia.

Saya langsung “tinggi”. “Eh, kau gak ada bilang. Kau bilang la dari tadi,” tukas saya pakai logat Medan.

“Eh, kok menjawab pula,” sungut dia.

Saya sudah emosi. Tapi rekan di belakang langsung menggeser saya dan menyuruh saya menunggu di balik gerbang imigrasi. Dia hanya cekikikan. “Selamat datang ke Malaysia,” bisik dia kepada saya.

***

Penggarapan infrastruktur untuk menunjang pariwisata ini memang menjadi pembeda dengan negara-negara lainnya di Asia Tenggara. “Jangan buang puntung rokok sembarangan, Cik,” kata Abdul Azzam, seorang tour guide yang ditugaskan Malaysia Tourism untuk mendampingi kami, “Nanti kena denda seribu ringgit.” Sebagian rombongan dari Medan, Sumut, yang diorganisir oleh Malaysia Tourism Board (MTB) Medan pun tersenyum kecut. Di depan, sopir Bus Persiaran, Cik Koboy –panggilan akrabnya-, tak bisa menyembunyikan senyum simpulnya.

Noor Azman Samsudin, Director Malaysia Tourism Board (MTB) Medan, sebelumnya di Medan, sempat berbincang-bincang mengenai Malaysia. Katanya, Malaysia telah lama menjadi tujuan wisata dari orang Indonesia. Lagipula, “Banyak orang Malaysia yang punya kerabat di Indonesia dan demikian juga sebaliknya,” ucap Azman.

Well, dia memang tak asal bicara. Data yang diperoleh dari Tourism Malaysia, pada 2008 lalu, 10% dari total wisawatan yang datang ke Malaysia, berasal dari Indonesia. Bila dirinci, dari 22 Juta lebih pelancong ke Malaysia pada 2008 silam, Indonesia “menyumbang” 2,4 juta. Kala dibandingkan dengan data tahun 2007 (1,8 juta orang), loncatannya cukup tinggi, 34,6%. Untuk soal ini, “kompetitor” Indonesia pada 2008 lalu adalah Singapura (11 juta orang), Thailand (1,4 Juta orang) dan Brunei Darussalam (1,08 juta orang).

Memang tak cuma pengunjung dari Indonesia yang meningkat tajam. Pelancong dari negara Timur Tengah pun melonjak. Bila dibandingkan data tahun 2007 dan 2008, wisatawan asal Iran meningkat mencapai 132%. Tak dari negara Islam saja memang. Lonjakan luar biasa justru tercatat dari negara Laos, 136%. Sementara dari negara-negara Eropa, lonjakan wisatawan asal Irlandia dan Belanda mencapai 64% dan 63%.

Dan, ah… tahun 2007 Malaysia telah mampu mengumpulkan income US$ 15 Miliar dan US$ 22 Miliar (2008) dari industri pariwisatanya.

Malaysia di abad 21 bak magnet; menarik wisawatan dari Ras Rumpun Melayu, dan juga bangsa dari ras lainnya di seluruh dunia. Inilah sebuah industri yang dikelola dengan rancak oleh para datuk. (*)

4 thoughts on “Magnet Negeri Datuk-datuk Malaysia

  1. Cik, terasakah mereka sebelah mata saja melihat Indon? Di Air port itu, oleh si
    Keling puteri itu, tak terasa Martabat disangkal? Apa kata Manohara?

    ah, manohara …😀

    Like

  2. malaysia…malaysia …negeri yg suka menginjak-injak martabat bangsa Indonesia…….
    tak menarik untuk dibicarakan !

    Like

  3. bg.. dari dulu sampai sekarang tulisanmu ga berubah..
    kapan kita nonton bareng? hehe

    kl gak berubah, berarti gak maju-maju.😀 ayok kapan aja.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s