SBY Giring Pilpres ke Diskursus Ekonomi


Ini kata guru saya. SBY dengan jeli memanfaatkan resistensi masyarakat terhadap partai politik dalam pencalonan Boediono sebagai calon wakilnya. Kedua, SBY dan timnya membikin semacam pertentangan baru terhadap jalur politik Islam yang selama ini masih konvensional; Islam simbolik. Itu di antara indikator pemilihan Boediono yang bukan orang parpol maupun organisasi keagamaan.

Pemilihan Boediono sekali lagi meyakinkan publik kalau selama ini SBY tetap sangat setia pada kubu ekonom-ekonom neoliberalisme. Lebih parah dari itu adalah ancaman-ancaman neo-kapitalis dan secara sadar atau tak sadar, geranyangan neo-kolonialisasi yang berganti baju di abad millieneum ini. Sementara, Boediono dalam pidato dan kemudian diperkuat dengan statemen-statemen timnya di media massa, terus membantah kalau Boediono adalah budaknya neo-liberalisme.

Ini semacam perlawanan SBY terhadap peta perpolitikan tanah air selama kurun waktu puluhan tahun di Indonesia dan juga terhadap mind-set Indonesia secara keseluruhan. Dengan sistematika deklarasi dengan konseptualisasi kampanyenya yang sedemikian mirip dengan perjalanan Obama ketika mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika Serikat, jelas sekali, dia menginginkan dan menggiring pertarungan di pentas kepresidenan 2009-2014 dalam sebuah pertarungan ekonomi.

Ketika Boediono digamitnya sebagai wakil, maka dalam pertarungan yang seperti itu, dia telah maju dalam selangkah. Sebenarnya pun dia sudah menang dua langkah. Pertama dia punya modal besar dari pemilu legislatif dan koalisi yang terjadi kemudian, dan kedua modal pencitraan figurnya yang masih dominan.

Tampaknya, ini merupakan cara utama bagi SBY untuk menang dalam pilpres. Itu juga merupakan pertanda bahwa SBY sendiri telah merasa kalau dia belum tentu menang dalam pilpres. Kali ini, lawan yang dihadapinya tidaklah seperti di 2004 lalu. Mungkin orangnya sama, tapi tingkat kesolidan dan tim yang kuat serta dipadu dengan tingkat ketidakpuasan yang begitu tinggi dari mantan-mantan tim dan pendukungnya dulu selama lima tahun terakhir, telah menjadikan sebuah titik akumulasi yang sedemikian kuat untuk menolak SBY menjadi Presiden kembali.

Pentas pilpres 2009 dan diskursus yang terjadi di dalamnya, memang masihlah konvensional. Peta bisa dibaca dengan dua indikator utama saja yaitu partai politik dan aliran politik. Tak heran kalau dinamika koalisi tiba-tiba sebegitu derasnya mengalir dalam beberapa hari setelah pemilu legislatif selesai. Ini memang disengaja dan bukannya terjadi dengan sendirinya.

Partai politik dan elit politik yang di dalamnya sudah terkungkung dalam pola berpikir; politik adalah kekuasaan dan kekuasaan adalah perbincangan utama dari politik, tak menginginkan komponen lain dari negara untuk masuk ke dalam arus itu. Wilayah kekuasaan adalah urusannya orang-orang politik dan itu dilambangkan dengan partai politik.

Tentulah, dalam perbincangan kekuasaan, tidak ada yang mau ketinggalan. Tak juga militer, birokrasi dan teknokrat; tiga bagian penting yang selama ini hanya punya fungsi sebagai “alat” negara. Tiga komponen inilah yang kemudian bertarung dengan partai politik untuk mencairkan perebutan kekuasaan di Indonesia.

Maka pertarungan pentas pilpres adalah dialektika dari empat komponen besar di negara ini; militer, birokrasi, teknokrat dan partai politik (plus elit). Inilah yang terus tarik-menarik.

Ketika SBY memilih Boediono maka perjuangan panjang kaum teknokrat (plus birokrat) telah berhasil memasuki pentas itu. Kini, perjuangan kekuasaan tidak hanya dimonopoli oleh partai politik dan militer saja. Birokrat dan teknorat juga menjadi penting. Mereka selama ini tidak mau hanya menjadi “alat” dan cuma mendukung saja; karena mereka juga mau berkuasa.

SBY jelas tergoda dengan semangat membara yang dikeluarkan dua komponen itu. Kemenangan demokrat adalah juga kemenangan mesin-mesin birokrasi dan teknokrat dalam menggenjot para pemilihnya. Untuk hal itu, jalannya tak akan mulus. Demokrat tentu tak akan mau begitu saja kalau SBY terus dilingkupi oleh orang-orang birokrasi dan teknokrat.

Sadar atau tidak, giringan SBY ke arah perbincangan politik menjadi perbincangan ekonomi politik itu, tampaknya mulai berhasil. Dengan perbincangan ekonomi politik ini, maka jalan untuk mencari penyandang dana SBY dan Boediono akan makin terkuak. Masa’ sih Boediono gak keluar duit dalam sebuah proses politik dan SBY mau terus menyuapi Boediono?

Nah, eng-ing-eng … dari Boediono tentulah tak akan keluar kata sedikitpun siapakah yang membiayai kampanyenya. Sebagai “tukang olah perekonomian” tentulah dia tahu prinsip kapitalis; modal sekecil-kecilnya untung sebanyak-banyaknya… (*)

9 thoughts on “SBY Giring Pilpres ke Diskursus Ekonomi

  1. SBY masih tetap akan menang walaupun tipis jarak perolehan suaranya.

    Itu yang justru nantinya akan memicu instabilitas politik.

    wih, ramalannya …😀

    Like

  2. ha…ha…
    Kader PAN, Mendiknas Bambang S meminta agar para kepala daerah mempromosikan pendidikan gratis dengan benar dan tepat.
    Ini mesin politik birokrat kah?

    🙂 tentu. mesin birokrat digerakkan dengan sistem hirarki dn instruksi. kl tak ada sistem yg begitu menjanjikan (selain faktor ekonomi dlm program/proyek pemerintah) seperti itu, parpol-parpol tentulah tak akan memasukkan orang2nya di departemen dan pemerintahan pusat/prop/kab/kota. jgn lupa, kepala daerah sangat menentukan, karena perpaduan antara sentralisasi departemen dalam negeri dan otonomi daerah, sangat berpengaruh bagi militansi kaum birokrat hingga di level paling bawah. Jgn lupa pula, kotak suara, penyontrengan, dan panitia pemilihan berkait erat dengan kepala lingkungan (RT/RW), kelurahan dan kecamatan.

    Like

  3. Jadi kira-kira Bang, Amien Rais memburu “negara api” mana?

    Susah ditebak. mungkin indikatornya adalah perekonomian non washington consensus, perlindungan rakyat kecil, kemandirian dan perkuatan harkat martabat bangsa.🙂

    Like

  4. Isu Neolib yang melekat akhir-akhir ini dalam diri bakal cawapres Boediono membuatnya menjadi bulan-bulan lawan politiknya., Namun, jika bukan seorang neolib, mantan Gubernur BI seharusnya tenang-tenang saja.

    Boediono tidak perlu melakukan klarifikasi ataupun bantahan bila memang bukan penganut neolib. “Bekerja saja lah, tidak usah membuat statement yang sifatnya menantang. Itu namanya takabur. Biarkan saja orang menilai sendiri dia itu neolib atau bukan,”.

    Like

  5. assalamu alaikum wr. wb.

    alhamdulilah…
    Selamat akhirnya golput berhasil memenangkan jumlah suara terbanyak!
    Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung Partai Golput,
    baik yang dengan penuh kesadaran dan keikhlasan maupun yang tidak.
    Lho, maksudnya? Gak Jelas?😐

    Sudah saatnya kita ganti sistem!
    Sistem yang lebih “pro rakyat” dan lebih “berbudi”…
    Ayo kita ganti secepatnya, “lebih cepat lebih baik”…
    Mari kita “lanjutkan” perjuangan dakwah untuk menegakkannya!
    Sistem Islam, petunjuk dari Sang Maha Pencipta!

    Lihatlah dengan hati dan fikiran yang jernih!
    Aturan Sang Maha Pencipta diinjak-injak
    dan diganti dengan aturan yang dibuat seenak udelnya!
    Dan lihat akibatnya saat ini, telah nampak kerusakan
    yang ditimbulkan oleh sistem sekulerisme dan turunannya
    (seperti: kapitalisme, sosialisme, demokrasi, dsb) di depan mata kita!

    Banyak anak terlantar gara2 putus sekolah.
    Banyak warga sekarat gara2 sulit berobat.
    Banyak orang lupa gara2 ngejar2 dunia.
    Dan banyak lagi masalah yang terjadi gara2 manusia nurutin hawa nafsunya.

    Lihat saja buktinya di
    http://hizbut-tahrir.or.id/2009/05/12/kemungkaran-marak-akibat-syariah-tidak-tegak/
    http://hizbut-tahrir.or.id/category/alwaie/
    http://hizbut-tahrir.or.id/category/alislam/
    dan banyak lagi bukti nyata yang ada di sekitar kita!

    Untuk itu, sekali lagi saya mohon kepada semua pihak
    agar segera sadar akan kondisi yang sekarang ini…
    dan berkenan untuk membantu perjuangan kami
    dalam membentuk masyarakat dan negeri yang lebih baik,
    untuk menghancurkan semua bentuk penjajahan dan perbudakan
    yang dilakukan oleh manusia (makhluk),
    dan membebaskan rakyat untuk mengabdi hanya kepada Sang Maha Pencipta.

    Mari kita bangkit untuk menerapkan Islam!
    mulai dari diri sendiri.
    mulai dari yang sederhana.
    dan mulai dari sekarang.

    Islam akan tetap berlaku hingga akhir masa!
    Dan Islam akan menerangi dunia dengan cahaya kemenangan!
    Mohon maaf apabila ada perkataan yang kurang berkenan (-_-)
    terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.

    wassalamu alaikum wr. wb.

    walaikum salam. ada banyak yg perlu diteliti soal Islam.🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s