Medan, Kota Ancur-ancuran!


Sesuai kesepakatan hukum dan politik, tanggal berdirinya Kota Medan ditetapkan pada 1 Juli 1590. Hampir lima ratus tahun kemudian, tepatnya jelang harijadi yang ke-419, ide Kota Medan Kota Metropolitan yang digagas sejak sebelum Walikota Abdillah terpilih menjadi Walikota Medan tahun 2000 lalu mendapat ujian. Kota yang diniatkan sebagai kota yang mempunyai tiga pilar penting yaitu jasa, industri dan religius, dengan kondisi pasca millenium ini justru menyajikan hal yang sebaliknya.

Pembangunan pasar modern seperti plaza dan mall memang maju pesat secara kuantitas. Namun di sisi lain menimbulkan persoalan pada eksistensi pasar tradisional. Hotel, apartemen dan gedung-gedung bertingkat memang terlihat menjadi wajah baru kota yang lebih modern, namun ternyata persoalan tata ruang menyembul ke permukaan ketika tak jelasnya konsep pemerintah tentang kawasan perindustrian, pemukiman, jasa dan perkantoran, serta pemerintahan. Itu diperparah dengan kondisi infrastruktur yang sama sekali tak mencerminkan sebuah kota modern; mulai dari jalan yang rusak parah, banjir, timbunan sampah, drainase yang berantakan, aliran sungai yang kotor dan makin sempit dengan pemukiman kumuh di tengah-tengah inti kota, dan seterusnya.

Persoalan lain muncul ketika Kota Medan dirasakan terlalu kecil dan sempit baik dari segi kawasan maupun jalan-jalan, bila dibandingkan pertumbuhan yang pesat mulai dari jumlah kendaraan, kawasan-kawasan sektoral (pemukiman, perkantoran, pemerintahan, ekonomi, dst) , dan terutama dengan konsep “wah” mengenai definsi “metropolitan” itu sendiri. Hingga kini, bahkan pembangunan Fly over Amplas, jalur kereta api yang justru menambah kemacetan kota, ring road yang tak rampung-rampung, justru menjadi sentra-sentra baru yang membuat masalah tersendiri. Dan jangan lupakan kisah “sedih” di pintu gerbang kota: bandara Polonia, pelabuhan Belawan dan terminal Amplas dan Pinang Baris.

Dari segi sosial politik, sebagai sumbu utama dari pergolakan politik di luar pulau Jawa, Kota Medan yang merupakan ibukota propinsi Sumatera Utara, justru mengalami dilema tersendiri di mana inilah sebuah kota yang pucuk pimpinan pemerintahannya, Walikota dan Wakil Walikotanya justru masuk penjara!

Inilah sebuah kota yang kelanjutannya justru dipimpin oleh seorang penjabat yang bukan dihasilkan oleh sebuah pemilihan langsung oleh rakyatnya, dan seperti ramai diberitakan justru menumbuhkan persoalan-persoalan dalam kinerja pemerintahan, seperti tersendatnya pengesahan APBD, terkendalanya proyek dan program pembangunan pemerintahan dan seterusnya.

Medan, Kota Ancur-ancuran! (*)

8 thoughts on “Medan, Kota Ancur-ancuran!

  1. Wan, kondisi Kota Medan seperti sekarang ini terjadi, ketika berbagai kebijakan tidak tanpa melalui Feasibility study. Kalaupun ada Feasibility study, hasilnya pasti merupakan “pesanan”. Itu, pertama.

    Kedua, ketika para elit seenak perutnya melanggar Tata Ruang Kota. Coba lihat Wan, berapa puluh ribu bangunan di Kota Medan berdiri bukan pada kawasan peruntukannya. Tapi, Eksekutif melalui persetujuan Legislatif, memberikan izin pendirian bangunan, yang nota bene buat berusaha tersebut. Konsekwensinya, sudah pasti kawasan tersebut menjadi kawasan, macet, padat dan sumpek plus banjir, karena tidak ada lagi kawasan resapan air. Lihatlah, kawasan di seputaran kantor “ente” Wan, itu salah satu contoh kasus.

    Ketiga, Ini juga terjadi, ketika para elit harus mengembalikan modal yang sudah tergerus habis untuk duduk di “kursi tinggi”. Suka maupun tidak, mereka harus menuruti kemauan pengusaha.
    Salah satu bukti, ketika pembangunan ring road alias lingkar luar. Tujuan awalnya sih, untuk mengantisipasi kemacetan. Namun apa yang terjadi? lagi-lagi Tata Ruang Kota dilanggar, dengan menjamurnya bangunan kegiatan bisnis. Lihatlah nanti Wan, di kawasan itu, juga menjadi kawasan macet dan banjir. Soalnya, 30 persen kawasan resapan air itu, tidak ada sama sekali.

    Makanya, nanti kalau “ente” menang Pilkada, harus keluarkan Perda yang isinya mengharuskan seluruh warga Kota Medan harus menggunakan “lereng” sebagai kendaraan biar kota tidak macet, jalanan lebih awet Ha ha ha…

    Mengatasi persoalan banjir, itulah yang paling rumit. Kota Medan kan seperti cawan. Dari sudut elevasi, sesungguhnya permukaan air lebih tinggi dari daratang Medan. Jalan satu-satunya, ya harus ada waduk di setiap kecamatan, yang berfungsi menampung air hujan untuk sementara.

    Itu dululah Wan, macam Abang pulak yang punya Kota Medan ini, qa qa qa

    Like

  2. sorry lupa nyebutin nama. itu td abang wan. Andi Nasution

    bang andi siapa? gak kenal tuh, wakakakakakakkkkkk😛

    Like

  3. medan …???????
    m’nurut gw mah ya geto-geto ajjhh…
    tp ttp pingin ksono..
    k medan maksudnya…he he..he

    Like

  4. medan memang lagi ancur sekarang. tapi sejauh-jauhnya kita berjalan, pasti pulangnya ke medan juga..sepakat sama tanpa nama “medan is the best” deh…

    Like

  5. ada apa dengan medan…..?
    keliatannya biasa2 aja tuh…!
    malah makin baik,,, tinggal bersihin dikit dah beres…!

    Like

  6. Tulisan yang kritis dan berimbang. ‘nBASIS tahun 2005 pernah menerbitkan buku berjudul “Kota Medan Berubah atau Ambruk”. Ramalan itu untuk 2005-2010.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s