SBY-Boediono: Teknokrat, Birokrat dan Demokrat


Masuknya nama Boediono di pentas pilpres 2009, memperlihatkan betapa SBY memanfaatkan resistensi masyarakat terhadap partai-partai politik. Kedua, leburnya politik Islam simbol dalam peta politik Indonesia. Itu dua di antara faktar-faktor yang membuat SBY memilih Boediono. Dan, itu kata guru saya.

Alasan itu memang menarik. Politik Islam memang harus kalah sebelum bertarung kali ini. Kubu partai Islam seperti PPP, PKS, PAN dan PKB memang langsung pasang badan ke SBY begitu hasil pileg sudah diketahui. Kekalahan itu jelas tergambar ketika tidak adanya simbol Islam yang duduk sebagai kandidat dalam pilpres kali ini. Kemenangan terpampang di kubunya kaum “nasionalis” dan “kekaryaan”.

Tapi tunggu dulu. Itu kalau mainstream politik lama masih hendak dipakai untuk melihat pola politik di masa reformasi ini. Pilpres 2009 telah menggambarkan ada pergeseran etalase politik yang begitu kuat. Apakah pergeseran itu sebuah kemajuan atau kemunduran, mesti hati-hati juga melihatnya.

Pertama, majunya Boediono adalah titik kulminasi dari berlikunya jalan kaum birokrat dan teknokrat untuk kembali ke peta pertarungan kekuasaan. Dua kelompok ini selama ini memang harus puas berada di luar pertarungan itu dan cukup tahu diri dengan posisinya yaitu hanya sebagai pendukung atau alat pendulang suara. Reformasi 1998 dinilai telah menjadi aral bagi mereka untuk bertarung di kekuasaan. Mereka harus puas ketika dikembalikan pada status alat negara dan pemerintahan. Kekalahan Habibie menjadikan peran politik kekuasaan teknokrat jadi tutup buku di Indonesia.

Kaum teknokrat sebenarnya bisa lebih fleksibel. Kebiasaan mereka yang selama ini apolitis, justru membuat kaum teknokrat harus bertekuk lutut pada politik. Mereka punya pekerjaan (dan pekerjaan itu dicintainya), namun seringkali politik justru dirasakan menjadi penghambat. Ibarat dalam sebuah mobil, teknokrat ini gasnya. Kali ini, mereka mau jadi supir.

Kedua, pentas politik pasca Reformasi menjadi partai politik begitu dominan. Puluhan parpol berdiri dan parpol-parpol itu begitu leluasa dalam menentukan kebijakan negara. Birokrasi dan teknokrat tersingkir dan posisinya, sekali lagi, alat bagi kekuasaan.

Ketiga, militer tetap tak mau melepaskan negara ini pada kaum sipil. Sepuluh tahun reformasi, mereka terus menduduki posisi penting dalam keputusan negara dan pemerintahan, dan kemudian naiknya SBY menjadi presiden adalah kemenangan besar mereka, setelah reformasi hendak menyingkirkan mereka pelan-pelan dari politik, yang dimulai ketika F-ABRI di MPR dihapuskan.

Apa yang bisa dilihat dari kedua hal ini? Jalur kekuasaan Orde Baru jelas telah kembali ke relnya. Adanya jalur ABG (ABRI-Birokrasi-Golkar) sebagai model itu, kini tampak kembali ke permukaan. Partai politik yang demikian jumawa selama ini kini harus puas di urutan kedua. Gambaran dari calon-calon yang mentas adalah perlambang untuk itu.

Dari sisi positifnya, kini semua komponen masyarakat terbuka untuk merebut kekuasaan; baik dari parpol, birokrasi, militer, kampus, pengamat, pemikir, pengusaha dan lain-lain.

Mengapa SBY mau menerima hal itu? Dia semakin sadar, kalau posisinya ternyata tidak sekuat seperti yang dicitrakan selama ini. Walau dia memenangi pemilu 2009, namun dia sadar, dia belum tentu menang pilpres. Dia tahu, kemenangan partai Demokrat bukanlah karena kinerja mesin politik Demokrat sudah teruji. Orang memilih demokrat bukan karena calegnya tapi karena dirinya. Banyak ditemukan dalam pileg kemarin, masyarakat lebih menyontreng logo parpol demokrat daripada calonnya. Artinya apa? SBY meragukan kinerja mesinnya sendiri. Kita tidak bisa membayangkan pekerjaan politik hanya ada di pencitraan yang sifatnya lebih elitis. Namun, pekerjaan seperti keluar masuk kampung lebih menentukan. Jadi operator-operator lapangan itu yang sedang dicemaskan oleh SBY.

Karena itu, dalam kemenangan demokrat kemarin, tergambar jugalah betapa SBY sangat bergantung pada kinerja jaringan birokrasi yang selama ini dengan lelah dibinanya. Untuk itu, SBY sangat berhutang budi pada Mendagri Mardiyanto dan Mendagri yang sebelumnya.

Ketergantungan SBY pada pemerintahannya itu memang menjadi pucuk dicinta ulam pun tiba bagi kaum birokrat dan teknokrat. Setelah selama ini kaum ini lebih banyak dibola-bolai oleh kaum parpol, kini mereka punya sandaran baru untuk naik ke permukaan. Maka, birokrat dan teknokrat adalah kaum-kaum yang selama ini bekerja keras bagi kemenangan demokrat. Lha, seorang gubernur kepala daerah saja malah menjadi deklarator SBY kok.

Apa hubungannya dengan Boediono? Apa yang disebutkan SBY bahwa Boediono adalah pekerja keras adalah benar adanya. Boediono adalah salah satu simbol kaum teknokrat yang selama ini bekerja keras untuk kemenangan demokrat. Lihatlah kampanye di pemilu kemarin, isu yang terus dibawa SBY dan demokrat adalah perekonomian dan kinerja pemerintahan. Siapa pula yang pernah mendengar ekonom handal dari demokrat?

Dan itu pula yang diperdengarkannya kepada partai-partai koalisi demokrat di pilpres. Tifatul Sembiring bukan orang ekonomi, ya pantas saja tak bisa melawan argumentasi ekonomi tim-nya SBY. Jadi secara sadar, strategi SBY di pilpres akan tetap perekonomian. Dia akan terus menggiring diskursus pilpres ke dalam ranah-ranah ekonomi, suatu sektor yang amat sangat handal dikuasai oleh timnya.

SBY dan timnya kemungkinan besar tak akan mau meladeni bola-bola pertarungan ideologi politik dan aliran politik. Dia hendak menggeser pertarungan politik dari arah dikotomi primordial (Jawa dan non Jawa), militer-sipil dan nasionalis-Islam. Sekali lagi, itu bukan pemikiran SBY, tapi permainan strategik kaum teknokrat dan birokrat.

Kaum teknokrat dan birokrat akan kehabisan nafas kalau meladeni pertarungan di wacana itu, karena justru parpol-lah yang menjadi penguasa di ranah itu.

Namun itu tak akan mudah. Popularitas dan elektabilitas tetap menjadi kunci dalam pertarungan pilpres yang lebih mengutamakan figur. Dan untuk itu, SBY harus bekerja keras untuk memasarkan Boediono ke kampung-kampung. Sebagian energi pasangan ini akan tersedot untuk Boediono. Dalam hal ini, SBY walau sudah meragukan kekuatan citranya, namun setidaknya bila diukur dari figur lain dia masih unggul. Itu membuatnya percaya (bukan yakin) kalau siapapun pasangan yang dipaketkan padanya masyarakat pasti akan menerima karena adanya faktor SBY di sana. Internal partai demokrat tak akan seratus persen mendukung Boediono karena faktor-faktor birokrat dan teknokrat tadi. Apalah lagi, parpol-parpol koalisinya.

Masalah lain yang demikian krusial adalah seberapa besar budget yang dimiliki oleh Boediono. Kalau ini tak terjawab, maka yang menjadi pertanyaan adalah sumber-sumber dana kampanye SBY. Tentulah korporasi asing tak akan duduk-duduk menunggu siapa pemenang pilpres. Justru, korporasi asing sudah sedemikian jumawa di Indonesia ini. Kita kan tidak cuma berbicara soal Exxon, Freeport dan semacamnya itu, tapi juga industri lain seperti Carrefour dengan gurita ritelnya dan yang lain-lain lagi.

Neo Liberalisme tetap akan melekat pada sosok Boediono. Dia bermazhab ekonomi pasar. Pendapatnya soal kontrol negara terhadap pasar pasca deklarasi kemarin, jelas tak bisa diterima karena perlindungan bagi masyarakat, kemandirian negara, perlindungan sumber daya alam dan kesejahteraan umum (ingat kata-kata umum artinya bukan kaum konglomerat yang punya kapital besar saja), tak akan nyambung. Itulah makanya dalam makna neo-liberalisme juga melekat kata lain yaitu neo-kapitalisme dan neo-kolonialisme/imperalisme.

Setakat ini itu dulu lah. Banyak yang harus diperbincangkan, misalnya reformasi yang terus mencari jalan, politik Islam, neo-liberalisme/kapitalisme/kolonialisme. (*)

15 thoughts on “SBY-Boediono: Teknokrat, Birokrat dan Demokrat

  1. InsyaAlloh Alloh meridhoi Pak SBY dan Pak Boediono jadi Presiden..
    Karena yang terbaik dari yang baik…
    Amiiin

    Like

  2. Ada yg berani taruhan dengan saya bahwa hutang Indonesia kalo SBY-NO terpilih akan bertambah? 2000 Triliun sepertinya angka yg realistis untuk dicapai pasangan SBY-NO di pemerintahan 5 tahun kedepan.’

    Ayo SBY-NO genapin 2000 Triliun. ^_^ Biar rusak bangsa ini di tangan asing.

    “Bukan apa yg diucakan tapi siapa yg ada disekelilingnya”

    Like

  3. mASA BODO mau SBY mau JK Mau Amin Ato Mega Bowo
    semuanya nggak bisa bawa negri ini makmur apalagi adil……? mendingan gue pilih Budi anduk aja nggak bikin gua stresss, malah bikin gua ketawa……….hahahahaha

    Like

  4. @Ditya Rizky Yudistira
    Tahun 2009-2010 saja akan menarik utang luar negeri diatas 10 miliar dolar. Ditambah utang dalam negeri. Dalam 3 tahun, 2000 tahun. Tidak perlu tunggu 5 tahun…🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s