Alhamdulillah, SBY Memilih Boediono …


Walau kening mengernyit-ngernyit, SBY (konon) akan menetapkan Boediono pada 15 Mei mendatang. Kalaulah benar SBY telah melakukan istikharah dan kalaulah nama Boediono itu hasil istikharah yang dilakukan SBY, saya hanya mengucapkan Tuhan telah memilih calon yang cocok untuk dirinya. Dalam kepala saya menghayal-hayal, mungkin seperti ini jawaban dari Tuhan; “Inilah kawan yang pantas untukmu. Inilah jawabanku untukmu!”

Saya sungguh percaya akan Tuhan saya, dan kali ini pun Tuhan telah memberikan jawaban yang sungguh-sungguh “menarik” atas apa yang dilakukan SBY selama kurun 5 tahun dan sebelum-sebelumnya. Soal pasangan ini akan menang atau tidak di lima tahun ke depan atau malah jatuh ke jurang kehancuran pada Juli nanti, bukan porsi postingan ini.
* * *

Saya teringat pada sebuah cerita mantan Presiden, Abdurrahman Wahid, kala dia masih bersekolah di Timur Tengah dan waktu itu pulang ke Indonesia. Di sebuah rumah ibadah, entah bagaimana caranya dia mendengar seorang pelacur memanjatkan doanya kepada Tuhan. Si pelacur itu berdoa agar “dagangannya” laris. Gus Dur kemudian menuliskan, kebutuhan dan kepentingan setiap manusia kepada Tuhannya berbeda-beda.

Entah cerita itu benar atau hanya karangan Gus Dur saja (atau malah saya yang salah ingat), namun kisah Gus Dur itu telah memikat saya. Benarlah Tuhan itu maha pengasih dan penyayang. Dia tidak seperti kita manusia yang gampang marah, yang terlalu mudah emosional atau malah terlalu cepat sekali mengambil keputusan saat apa yang kita inginkan itu tidak tercapai.

Tuhan bagaimanapun menciptakan seluruh manusia agar beribadah kepadanya, agar menyembah dan menuruti perintah-perintahnya dan menjauhi larangannya. Ketika itu belum dilakukan manusia, dan si manusia yang membandel tadi memohon kepadanya, maka Tuhan tak kehilangan kekayaaannya sedikitpun kala dia mengabulkan permohonan si bandel tadi.

Tapi Tuhan tidak akan campur tangan seluruhnya dalam persoalan manusia. Dia sebutkan, maka adakanlah segolongan dari kamu yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dia suruh manusia itu berkelompok dan bergolong-golongan untuk melakukan tugas-tugas yang dia berikan. Jadi, Tuhan amat sangat mementingkan skenario.

Memang sepertinya ada counter dari “konsep skenario” itu, yaitu kalimat “kun fayakun”. Tapi kan itu mutlak milik Tuhan itu, jadi anggaplah seperti hak prerogatif. Dan jangan sangka kalau Tuhan akan memakai kalimat itu serampangan. Jangan pula beranggapan kalau itu digunakan Tuhan dalam keadaan mendesak atau darurat (karena Tuhan mustahil terkena kondisi itu). Toh, ketika Mekkah adalah dalam keadaan gawat darurat “jahiliyah”, Tuhan malah tidak serta menciptakan Muhammad langsung jadi, plek-tumplek. Dia buat dulu skenario Abdillah dan Aminah, Abdul Muthallib, Abu Thalib, Khadijah, dan serangkaian peristiwa hingga umurnya 40 tahun, kala dia menjadi nabi dan rasul. Dan setelah Muhammad jadi nabi pun, tidak serta-merta Makkah langsung berubah jadi surga.

Namun, jangan dulu beranggapan Anda-anda yang kebetulan melakukan tugas-tugas ketuhanan atau yang berniat untuk menegakkan itu di muka bumi ini, merupakan “wali”, utusan atau malah rasul Tuhan. Justru, Anda harus mulai dari kata “hamba”.

Tentulah, pengertian “hamba” itu akan lain artinya bila dimasukkan dalam kalimat-kalimat seperti; “hamba Allah”, “hamba-hamba SBY”, atau seperti “Hamba-hamba asing”. Jadi, dalam kata “hamba” sudah terselip dan tersurat satu kata lain yang harus dicari dan dipadankan yaitu “tuan”.

Dus, Apapun pilihan Anda, yang membuat Anda berbeda dengan yang lainnya adalah “tuannya”. (*)

26 thoughts on “Alhamdulillah, SBY Memilih Boediono …

  1. Kok SBY-Boediono gak dibahas?🙂
    Lanjut terus Bang. Senang baca tulisan Bang Nirwan. Saya link tulisan Bang Nirwan yah..

    ngeri aku baca ulasan awak soal SBY-Boediono itu,😀. okeh sip.🙂

    Like

  2. Alhamdulillah SBY memilih Boediono…

    Memilih kepentingan untuk siapa, negarakah ……

    Kriteria yang ditawarkan dari paket capres/cawapres ini masyarakat yang menilai, laku atau tidaknya tinggal tunggu hasil pilpres nanti.

    Jangan Golput daftarkan segera jika belum terdaftar di DPT, suara anda suara ….

    === Harapan Itu Masih Ada ===

    Like

  3. SBY kok milih aliran NeoLiberal to …?
    wadoooh ….mudah2an negara kita bukan negara kuli lagi…?! Budiono = NeoLiberal
    Hidup Amin Rais karena beliau nggak suka Neo leberal.
    Kenapa SBY nggak milih Hatta Rajasa ..? atau HNW atau yang lain…?
    Kenapa kok harus Budiono…?
    ampuuuun…….ampun….!

    Like

  4. SBY ga ingin kelak akan ada yang mengakui kesuksesannya…tapi jelas sekali kalau SBY mematuhi permintaan pihak asing intinya SBy penganut Liberalis….kebijakannya sesungguhnya banyak mencekik usaha orang dengan modal pas-pasan itu terbukti dengan banyaknya pasar-pasar para pemodal menengah keatas

    dalam hal politik, kuku pengusaha besar itu lebih berpengaruh daripada pengusaha modal pas-pasan.

    Like

  5. Tulisan aku terinspirasi dari tulisan abang yang selalu kritis dengan bahasa “jurnalis”-nya.
    Sip…dah, at least kita menggunakan ‘perahu’ yang sama.😀

    wah, terimakasih deh kl gitu,😀

    Like

  6. “…kalaulah nama Boediono itu hasil istikharah yang dilakukan SBY, saya hanya mengucapkan Tuhan telah memilih calon yang cocok untuk dirinya…”

    Jika seandainya itu bukan hasil istikharah…, apa tanggapan anda?
    😛

    kl sempat, sy akan buat tulisan yg baru untuk itu.🙂

    Like

  7. Politik itu cepat berubahnya,
    Belum apa2 udah gembar-gembor
    Taunya beberapa detik udah berubah lagi
    Opini sebelumnya jadi basi.

    Like

  8. Ya, kita lihat saja apa yang dapat dihasilkan oleh pasangan SBY-Boediono. Buat saya, say NO to SBY…

    Like

  9. Assalamualaikum,

    Saya heran dengan para pembaca disini yg meng-claim Boediono itu beraliran neoliberal.

    Buktinya mana ya?
    Kalo memang iya, anda memangnya mengerti paham neoliberal itu apa??
    Saya coba asumsikan kalo ekonomi neoliberal itu pahamnya negara2 barat spt Amerika dan Eropa, kok mereka sejahtera-sejahtera saja ya sampai sekarang?? so, ada apa dengan neoliberal dong?

    ah, tong kosong nyaring bunyinya saja nih kawan2 yang sotoy ttg Boediono ini neoliberal.

    Like

  10. @ ben
    Mau tau Neo-Lib, baca buku seorang Economic Hit Man di Gramedia atau A Game As Old As Empire.
    Bung Hatta sudah jauh-jauh hari, Bung Karno sudah sejak sebelum merdeka, sudah mengerti tentang Neo-Lib.
    Mengapa Amerika Neolib bisa kaya, karena ia menjerat neolib Indonesia.
    Neolib adalah orang yang memuja-muja konsep ekonomi IMF dengan utang besar untuk mengkayakan orang kaya, dan memiskinkan orang miskin.
    Artikel 1:
    http://nusantaranews.wordpress.com/2009/05/15/menelusuri-sisi-sisi-lain-pak-boed-yang-saya-kenal/
    Artikel 2:
    http://nusantaranews.wordpress.com/2009/04/10/john-pilgers-sang-penguasa-dunia-baru-di-indonesia/

    Like

  11. wkwkkkwkkwkwkwkkwkwkkwkwkwk…………….
    Jangan samakan masyarakat kita dengan masyarakat negara lain, di Indonesia mayoritas rakyatnya buta dengan politik, sehingga pada akhirnya yang akan menang adalah calon yang bagi2 duit diakhir yang akan dipilih. Saran saya kepada team capres & cawapres jangan buru2 bergerak, kumpulkan dana dan lakukan serangan di akhir2 masa tenang, jaminan menang akan didapat. kalau ada yang menghalangi berarti memutus rezeki orang, hukumnya dosa. HIDUP MONEY POLITIC!!!!!!

    Like

  12. @ taUbat mengatakan: 14 Mei 2009 pukul 9:47 am:

    ada sebuah partai yang selalu bilang elektabilias si hnw tinggi, elektabilitas si hatta rendah, elektabilitas si anu rendah. sekarang partai tersebut pada akhirnya mendukung boediono, pendukungnya bilang “Kriteria yang ditawarkan dari paket capres/cawapres ini masyarakat yang menilai, laku atau tidaknya tinggal tunggu hasil pilpres nanti” ==> tidak konsisten dan tidak objective.

    tentang boediono yang semula ditentang pks, yg saya tahu persis adalah beliau dosen saya di fe ugm. orangnya sederhana, kalem, cukup bersih , tidak bermasalah.bicara seperlunya. kalo sekarang sy tidak tahu. mudah2an tetap sama. dan berharap yg dimiliki dia saat itu tidak berubah.

    Like

  13. Alah kalian smua Lebay…. Sok tewu…. kalian kan pengamat semua….coba deh kritik pasangan jk -wir.moga-pro…kok adem ayem aja….balance dung…emangnya mereka itu ga ada bobroknya…ga mungkin lah…ada presiden or wapres mau menghancurkan negaranya… kalo emang ada tembak mati aja… pasti ada yg siap jd penembak jitu…

    Like

  14. @Lebay

    duh …akikah mau jga dunk koment …..
    akikah gak suka dech ….sama koment si lebay ….
    terserah maunya yg punya blog dump…kok loe ngatur2 sich ……..?!?? jijay dech ah …..

    wkwkw…..wkwkwkw…..

    akikah ogah kalau Si leBaY jdi mimpin lagi ……

    deeeee……

    Like

  15. Mengapa Boediono ‘Mendadak Muslim’?

    Pernyataan SBY bahwa Boediono adalah muslim taat (saat deklarasi SBY-Boediono di Bandung, 15 Mei lalu), sepertinya hanya ungkapan politik saja. Targetnya tak lebih untuk mengelabui pemilih muslim. Bukankah aneh, SBY bisa menilai seseorang muslim taat atau tidak? Seolah SBY merebut otoritas Tuhan?

    Like

  16. Saya juga meragukan sebutan Boediono sebagai muslim yang baik. Karena hingga saat ini, Boediono belum menunaikan ibadah haji. Padahal, soal kemampuan, tak perlu diragukan. Hartanya saat ini sekitar Rp 18 miliar. Soal kesehatan, dia terbukti sehat sebagaimana pemeriksaan dokter RSPAD. Lalu, inikah sosok cawapres yang muslim sejati?

    Like

  17. Mendukung SBY tapi menolak Boediono. Begitulah sikap politik Ketua MPP PAN, M Amien Rais. Ia menolak Boediono karena paham ekonomi yang dianut mantan Gubernur BI itu bertentangan dengan pemikirannya. Dalam soal ekonomi, Amien justru lebih sreg dengan JK.

    “Ya memang seperti itu (sejalan dengan ekonomi JK), karena dalam buku saya, sudah saya tuliskan bahwa visi ekonomi saya itu berbeda dengan Pak Boediono,” ujar Amien sebelum Rakornas PAN di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (26/5).

    Like

  18. Saya mendukung SBY menjadi wakil dari JK. JK sangat cepat dan lugas dalam mengambil keputusan. Punya ide2 yang brilian. Mengingatkan kita pada sosok BJ Habibie. Alasan kenapa SBY jd hanya jadi wakil presiden adalah karena saat ini kita butuh pemimpin yang penuh inovasi, mandiri dan bermartabat. SBY sangat bagus dalam masalah hubungan luar negeri dan pengembangan good governance. Tp masalah utama bangsa ini adalah kemiskinan dan kemelaratan. Satu poin lebih untuk JK.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s