Prabu Buwono


Jumlah orang Jawa di Indonesia ini mayoritas. Pusat kekuasaan, tempat bermukim para Presiden Indonesia dan ibukota negera, ada di Pulau Jawa. Lebih dari 50% orang Indonesia berdiam di Pulau Jawa, sehingga siapapun yang ingin menguasai Indonesia maka dia harus berkibar-kibar di Pulau Jawa. Segala indikator itu, termasuk yang lain-lain yang mungkin ada di benak Anda, menjadi ukuran kalau Presiden Indonesia haruslah orang Jawa. Itu konvensi alias hukum tak tertulis.

Dus, adalah “kecelakaan sejarah” ketika BJ Habibie, seorang anak kelahiran Pare-pare Sulawesi, tiba-tiba duduk di singgasana istana Indonesia. Kecelakaan itu adalah jalan pikiran orang-orang yang mendukung konvensi “jadi-jadian”: Indonesia harus dipimpin oleh orang Jawa. Masak sih pulau yang jelas-jelas bernama Jawa dipimpin oleh orang Sulawesi?

Habibie hancur lebur pasca 1999. Orang “terpintar” di Indonesia itu tergusur dan tak diingini lagi menjadi Presiden. Setelahnya, trah itu kembali lagi ke rel-nya; Adurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono. Orang Jawa kembali berhasil merebut tahta istana negara.

Riil politik seperti ini paling tidak sudah berumur sejak Indonesia merdeka. Indonesia sebelum 1945 tidaklah masuk hitungan, karena yang ada di ruang itu hanyalah: Kerajaan “lokal”, Belanda dan Jepang. Sekali lagi: tidak ada “Indonesia” sebelum 17 Agustus 1945.

Kerajaan-kerajaan berserak-serak di sebuah daratan dan lautan yang bentuknya paling unik ini. Setiap pulau besar punya beberapa kerajaan dan kerajaan-kerajaan itu dipimpin oleh raja dan sultan. Dan setelah Belanda dan Jepang, tiba-tiba saja, Indonesia lahir. Walaulah seluruh sejarah sebelum “Indonesia” menuturkan kalau di dalam rentang panjang kawasan yang melintasi khatulistiwa ini bersendikan pada kerajaan (kerajaan suku bangsa, kerajaan Belanda dan kekaisaran Jepang), pemikiran modern telah membungkam habis ide kerajaan. Hingga kini, tidak ada yang tahu pasti, mengapa para pahlawan (yang sebagian justru adalah raja-raja, putra mahkota ataupun mereka yang berkaitan dengan keturunan raja) itu seperti “alergi” atau mungkin trauma dengan model kerajaan dan lebih memilih bentuk “Republik”.

Dalam Undang-undang Dasar 1945, pembukaan dan batang tubuhnya, serta Pancasila, Indonesia tak mau lagi menyentuh-nyentuh format kerajaan. Jawaban paling sederhana adalah hal itu keluar dari pemikiran paling “realistis”: karena kerajaan mana pula yang mau tunduk pada kerajaan yang lain?

Tiba-tiba semua orang Indonesia bersuka-ria dengan model “Kesatuan”, Bhinneka Tunggal Ika. Laiknya Archimedes berseru, “Erureka!”. Itulah, konon, format yang paling bisa diterapkan di Indonesia. Pemikiran “Serikat” kemudian dianggap sebagai produk “impor” dari Belanda yang kalaupun diterapkan di Indonesia (melalui RIS) lebih merupakan “pemaksaan” bukan “kerelaan”.

Aneh memang. Walau Indonesia sudah memberangus habis “kerajaan”, Indonesia maupun “orang Indonesia” masih lagi senang mengingat-ngingat dan mengagung-agungkan kerajaan. Lihatlah ketika ingin menjadi pejabat, penguasa, caleg atau ketika manusia Indonesia membangga-banggakan darah dan keturunannya, sedapat mungkin akan dikaitkan dengan “raja”, “bangsawan” de el el, de el el.

Ada yang tertawa akan hal itu. Katanya, dalam kacamata politik kekuasaan –hingga hukum pun- kerajaan sudah habis, hancur, binasa. Riil saja, bahwa Keraton Yogyakarta, Surakarta, Bone, Deli, Sriwijaya dan seterusnya, tak punya kuasa apapun di Indonesia. Yang tertawa makin terbahak; raja dan kerajaan macam apa pula yang mau hanya mengurus soal “kultur” tapi tak ingin menoleh soal politik kekuasaan?

* * *

Raja adalah magnet. Untuk menjadi raja, dibutuhkan egosentrisme yang sebesar-besarnya; bahwa dia adalah orang pilihan dan bukan orang lain. Dalam kata raja berdiri sebuah konsep esa, satu yang tak pernah dua, tak ada sekutu. Dia adalah satu dan yang lain adalah nol mutlak. Maka seorang raja dianggap sebagai perlambang tuhan itu sendiri.

Karena dia menjadi causa, maka dia pula yang menjadi tempat memohon. Karena itu dia dianggap memiliki berkah, dianggap sebagai suatu yang memberi kehidupan. Sejarah manusia telah menggambarkan betapa takutnya manusia pada kematian dan sebaliknya siapapun dan apapun yang memberi kehidupan, dialah tumpuan harapan. Karena dia tempat berharap, maka raja tak boleh mati, karena kalau dia mati, maka kehidupan akan musnah.

Dia akan dilestarikan melalui jalan darah; sebuah jalan yang paling aman dan steril dari masuknya anasir-anasir “yang lain”. Karena itu raja adalah keabadian itu sendiri.

Raja mustahil untuk lemah, sakit dan miskin. Dia tidak boleh sekedar cukup, dia harus berlebih dan punya kelebihan. Karena kelebihannya itulah yang menjadi pertanda kalau dia mampu (dan jika dia mau) membagi-bagikannya kepada yang di luarnya.

Dalam kata itu tidak ada konsep rakyat, kumpulan orang-orang. Yang ada adalah dia sendiri dan yang lain-lain di luar itu adalah untuk menghamba dan melayani dia. Raja bukanlah pelayan, karena raja adalah yang harus dilayani.

Dalam raja, tidak ada konsep rasionalitas, karena rasio meminta argumentasi. Argumentasi mensyaratkan daya kritis dan salah satu kemungkinan dari kritisisasi adalah konflik. Dia akan membawa suatu hal yang mungkin bertentangan dengan konsep awalnya. Sebagai dialektika, maka kemungkinannya menjadi 50-50; apakah menjadi pro ataukah kontra. Maka pekerjaan raja adalah membungkam probabilitas, mengedepankan kepastian dan keharusan. Bukan hukum karena hukum bersendikan keadilan melainkan doktrin.

Adalah doktrin, kalau setiap bayi oleh Firaun, dianggap sebagai Musa yang akan menghancurkannya. Dan karena itu harus dibunuh. Doktrin raja adalah kesatuan tiga ruang waktu; lalu-kini-depan. Dia menjangkau “akan”, sebuah masa depan.

Dalam raja, tidak diperbolehkan kontra atau negasi, melainkan segala cara harus dilakukan agar tetap pro; dulu, kini dan masa mendatang.

Maka sharing alias pembagian kekuasaan adalah hal yang haram, yang akibatnya adalah neraka, suatu yang digambarkan dengan api yang membakar dengan menyala-nyala. Maka yang dituntut oleh raja adalah ketakutan dan tunduk setunduk-tunduknya. Tingkatan paling tinggi dari tunduk adalah menaruhkan kepala ke tanah, ke kaki si raja, ke buwana yang setiap hari diinjak oleh si raja. Maka, bila ada raja maka harus ada sujud, dan tidaklah sekedar membungkukkan badan alias ruku’.

Sujud adalah deskripsi paling real dari hilangnya harga diri, martabat, derajat kemanusiaan, rasionalitas, ilmu pengetahuan dan seterusnya. Di kepala itu, terletak dahi dan otak, yang konon menjadi tempat sangkutnya setiap nyawa di badan manusia. Artinya, seluruh hidup harus diserahkan kepada sang raja.

Itulah. Tuntutan sang raja bukanlah sekedar upeti, pajak, sesembahan, sesajian dan seterusnya. Tak sekedar hidup, bahkan mati pun harus diserahkan. Maka si raja adalah tempat bernaungnya seluruh nyawa. Karena itu, raja adalah kumpulan nyawa-nyawa manusia yang dengan rela dan kepasrahan menyerahkannya tanpa syarat.

Maka raja bukanlah konsep kemanusiaan melainkan ketuhanan. Dia adalah spritualisme transendansi yang di bagian terbesarnya adalah persoalan “hati”; sesuatu yang ketika sujud letaknya lebih tinggi dari posisi otak. Dan janganlah lupa, koneksi antara otak-indera-hati-nafsu selalu berkecamuk, berpilin-pilin laiknya korelasi antara kepala-hati-kemaluan. Maka ketika si manusia berpanjat kepada rajanya, pertama dia akan memuja, memuji terlebih dahulu tapi tetap tak akan pernah lupa bermohon rezeki yang melimpah.

Setiap raja akan merasa dia tuhan. Dan sudah menjadi “karakteristik tuhan”, jikalau ada tuhan yang lain, maka dia akan menegasikannya; seperti Firaun dulu. (*)

16 thoughts on “Prabu Buwono

  1. hhhhhh……

    sah2 aj p habibie ngaku2 anak pare2 but tetep aj nyokapnya orang jawa asli, asli purworejo, basa jawanya pun…. wuiiiii…. hualuuusss…. banget

    jawa is the best😀

    Like

  2. “Dan janganlah lupa, koneksi antara otak-indera-hati-nafsu selalu berkecamuk, berpilin-pilin laiknya korelasi antara kepala-hati-kemaluan”

    Me: Ko jadi porno yah??

    iya ya kok jadi porno?😀

    Like

  3. jawa lagi jawa lagi

    kynya harus pindah pusat pemerintahannya diluar jawa dulu deh… siapa tahu presidennya bukan jawa lagi…

    kt orng india, na mungkin he ….😀
    btw, emg gak isa comment di log mu ya …?

    Like

  4. kalo yg dipikirin yang begini aduuuuuuuhh bisa2 jadi Republik indonesia serikat neh………..!

    jangan, ntar dikatain makar pulak…🙂

    Like

  5. @bang nirwan

    mungkin2 aja kali bang, meskipun terjadinya 1.000 tahun lagi…. hehe

    btw masa sih ga bisa coment bang, kynya bisa deh, coba aja lagi…

    iya gak isa… multiply keknya agak sirik sm wordpress ini😀

    Like

  6. yang munkin terjadi nih… ibu kota jakarta akan pindah ke karawang (kota tandingan) sebab dalam sejarahnya belanda sudah membuat demikian… bisa dilihat sekarang jakarta sudah kebanjiran istana sudah kebanjiran jadi musti pindah…

    kalau gus dur mau pindah ke balikpapan… eh keburu diturunkuan sama amin rais

    nah kalau saya yang jadi persidennya akan dipindahkan ke kota tandingan tadi sebab sejarahnya demikian… jadi tetap dijawa lo bang…

    seperti saya orang jawa (brebes) jadi kades di tanah sunda puwakarta merantau baru 5 tahun… tapi tetap di jawa juga ya…

    ya terserah deh puyeng banget mikirin begituan..

    salam kang nmas

    🙂 tenang saja pak kades, saya sama sekali tak anti jawa, ipar saya orang jawa, keluarga, sahabat kental saya jawa tulen, jadi sudah melebur semuanya…🙂

    Like

  7. hidup jawa….. hehe

    mungkin selama masih menganut sistem sentralisasi, jawa tetap superior dari daerah2 lain, karna diuntungkan dengan keuntungan secara geografis.

    maka dari itu sih sy berharap sekarang tidak hanya otda, tetapi lebih ke-arah mem-federalisasikan daerah setiap provinsi

    ada dua keuntungan dari hal ini, selain ekonomi jg anak daerah yg berpotensi dan mempunyai kapabilitas yg baik dapat terblow-up secara politik, jd tidak hanya yg di jakarta saja atau dipulau jawa….

    bagaimana ?
    tapi sy rasa hal ini banyak yg menentang habis-habisan… terutama dari pihak-pihak yg merasa terancam keddukannya.. seperti pengusaha hitam, politikus hitam… n buanyak lg yg lain…

    Like

  8. Tapi saya nggak hitam lo bang Jamal,,,?!
    o ..iya kenalan dulu Mas Nirwan ..
    nama asli Lisdiana panggilan Gadis..
    asli Malang Seputaran UNIBRAW.
    Tulisannya Bagus ..hihihihihi, sangat bisa diharap.

    ok sip😀

    Like

  9. Omong2 Bung Nirwan ada turunan orng jawa mana ya ?
    kok sepertinya ada turunan dari Tegal at0 Gombong
    ato mungkin dari Jawa Dwipa hehehehe
    Munkin juga turunan Ken Arok hihihi

    yg pasti kekuasaan di jawa masih keturunan Ken Arok …😛

    Like

  10. Kalau boleh saya persempit lagi, yang dimaksud dengan ‘jawa’ itu Jakarta? Sentralisasi itu saya lihat tidak seluas pulau Jawa, melainkan sebuah kota yang terletak jelas-jelas di Jawa, namun tidak pernah mengakui bahwa dirinya berada di tanah Jawa. Bila anda kebetulan orang Jawa dan bertemu orang Jakarta, besar kemungkinan dia akan berkata, “Oh, anda dari Jawa ya?” Ouch. Indonesia bukan negara republik, melainkan negara ‘kapitalis’ lho.

    kl dipersempit lagi, yg dimaksud dengan “oh anda dari Jawa ya” itu kan, kalau tak salah, Jawa Tengah. gimana kl dipindahin aja ibukota itu ke Papua ya …🙂

    Like

  11. lha wong sy ini dari Jakarta kok ditanya mau pulang ke Jawa ya mbak ? emangnya Jakarta ini bukan Jawa ?
    halaaah…………..!
    harusnya pertanyaannya mau ke Malang Mbak ? ato mauke Surabaya Mbak ?

    Like

  12. Dari luar Jawa banyak pengusaha, mereka menjadi sukses karena masih sedikitnya tantangan dan gesekan-gesekan keras yang terjadi seperti di kehidupan Jawa.
    Bukan mendukung Jawa, tetapi cerita di lapangan masih menjadikan Jawa alternatif yang pas untuk memimpin, karena mereka orang-orang yang terbiasa kerja keras, bukan cuma hasil darah atau keturunan, atau malah hasil kesuksesan yang didapat karena tidak ada saingan yang keras.

    agak susah juga mendefinisikan faktor kerja keras dengan kesukuan.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s