Demokrat Tak Akan Koalisi dengan Golkar


Pertama, hasil pemilu belum akan usai dalam waktu yang singkat. Komisi Pemilihan Umum (KPU) sedang dalam keadaan pusing tujuh keliling, dibombardir dari segala penjuru. Sementara, Partai Demokrat dan pemerintahan SBY sudah lepas tangan atas kinerja KPU. Jadi, ada kemungkinan KPU akan makin molor kerjanya. Kalau makin molor, maka partai-partai politik akan makin trengginas di lapangan Panitia Pemilih Kecamatan (PPK), KPUD kab/kota dan KPUD Propinsi untuk mempermak hasil pemilu dari TPS-TPS.

Jadi, hasil quick count sangat-sangat tidak bisa dijadikan pegangan. Apalagi, variabel penghitungan lembaga survey hanyalah partai. Padahal, penghitungan pemilu 2009 ada pada partai, caleg dan partai+caleg. Belum lagi suara tidak sah dan mereka yang tidak berpartisipasi. Pada saat tulisan ini dibikin, baru akan sekitar 10 juta suara yang masuk. Sementara jika diambil angka aman dari potensi golput (yang 30-50%) sebesar 30% saja, maka jumlah pemilih bisa berkurang sekitar 120-130 juta. Itu berarti, rekap data yang masuk ke KPU masih hanya sekitar 10% saja.

Sedangkan, bila diprediksi potensi suara tidak sah sebesar 20-30% maka itu akan berdampak pada Bilangan Pembagi Pemilih (BPP). Permainan politik di tingkat lapangan akan terjadi di kisaran persentase suara tidak sah dan suara golput. Jadi, semakin besar margin, maka semakin lebar pula kawasan untuk merubah hasil pemilu. Tentu, tak ada susahnya mengubah angka “1” dengan angka “7” seperti tertera di rekap yang ditulis dengan tangan bukan? Itu mendapat alas lain yaitu hancur leburnya sistem IT di semua tingkatan panitia pemilu.

Untuk dua hal itu, partai-partai seperti Golkar dan PDIP adalah jagonya. Lihatlah di 2004 kemarin ketika Golkar menjadi pemenang pemilu di saat-saat akhir penghitungan, setelah sebelumnya persentase dan angkanya masih terus di bawah PDIP. Perbedaan PDIP-Golkar dengan Demokrat seperti tertera di rekayasa quick count ataupun rekayasa real count KPU, hanyalah 5%. Dengan permainan lapangan yang lebih ganas, karena puluhan ribu caleg akan terus bekerja keras untuk kepentingan dirinya sendiri (bukan seperti pemilihan presiden, pilkada-pilkada, dan metode sistem nomor urut seperti yang sudah-sudah yang sifatnya lebih “elitis”), maka hitung-hitungan di atas kertas menjadi semakin minimal efektivitasnya.

Kedua, karena itu pula, Demokrat yang berada di atas angin hingga sekarang hanyalah “menang start” belaka. Mereka akan terus mengumbar propaganda “kemenangan” ke mana-mana, demi menguasai informasi politik di tingkat lapangan. Perang politik adalah perang informasi. Semakin menguasai informasi, maka kemungkinan menang akan semakin tinggi. Maka, settingan Demokrat dan SBY saat ini adalah “gula” dan yang lain adalah semut adalah dalam kerangka itu. Itu semua dilakukan karena SBY dan Demokrat hingga-hingga kini belum bisa memastikan apakah mereka akan menang atau tidak.

Dus, langkah politik selanjutnya adalah mengolah dan memastikan siapa-siapa partai yang masuk dalam “peta koalisi di atas kertas” seperti yang mereka propagandakan. Sesungguhnya, peta koalisi yang mereka rancang itu adalah dalam satu design khusus untuk mengamankan perolehan suara, yang saya kira, mereka sendiri cukup terkejut dengan “hasil pemilu” itu.

Ketiga, dengan kerangka itu, maka mereka akan terus menggasak Golkar dan PDIP, dua rival utama mereka. Golkar akan dipecah dengan masuknya Akbar Tanjung dalam bursa wapres. Ini sudah dilakukan dari dulu. Di Sumatera Utara, orang Akbar seperti H Abdul Wahab Dalimunthe yang dulu merupakan sesepuh Golkar Sumut yang dipecat oleh Ali Umri (Ketua DPD Golkar Sumut dan orangnya JK), diperkirakan akan menjadi calon jadi anggota DPR RI dari Partai Demokrat dengan perolehan suara yang diperkirakan “juara umum” di Sumut.

Jadi, tugas Akbar bila ingin bersanding dengan SBY adalah mengamankan Golkar. Kalau Akbar dapat merongrong JK dan menghabisinya (dalam rapimnas maupun rapimnasus), maka adalah probabilitas yang sangat besar SBY akan bersanding dengan Akbar.

Masalahnya adalah hasil pemilu belum lagi usai, sementara JK saat ini masih sangat-sangat kuat di DPD dan DPP Golkar. JK telah awas dengan rencana itu dan kemudian mengumpulkan DPP Golkar. Tujuan tak lain tak bukan adalah mengonsolidasi DPD dan DPP dalam hasil pemilu dan menghadapi capres 2009.

Bagi saya, itu artinya, JK ada dalam posisi melawan SBY dan Demokrat. Posisi JK akan diuntungkan (dan didukung penuh) dengan begitu banyaknya orang Golkar yang merasa ditelikung dari belakang oleh Partai Demokrat (dan SBY). Tidak hanya dalam pilkada-pilkada, tapi juga dalam pengerjaan proyek-proyek pemerintah. Itu makin diperparah dengan “hasil pemilu” telah mencoreng dengan serta merta mereka-mereka yang selama ini menjadi pemain utama dalam arus politik di Indonesia selama puluhan tahun.

Golkar tetap tidak akan menjadi oposisi, karena posisi oposisi akan menjauhkan mereka dari kekuasaan eksekutif di mana di sanalah dirancang program-program pembangunan. Sampai tegang urat leher Anda, Golkar tak akan pernah menjadi oposisi seperti PDIP.

Bila Golkar dalam posisi melawan SBY dan Demokrat, maka peta koalisi Golkar ada pada PDIP yang telah dirintis dengan susah payah oleh Surya Paloh dan Taufik Kemas. Hingga kini, cuma SBY-lah yang tidak pernah dijumpai oleh Megawati, sementara JK sudah bersalam-salaman dengan mesra dengan Mega. Dengan dua “tabiat politik” yang sama antara PDIP dan Golkar, apalagi mendapat kejadian yang sama –sama-sama merasa dikhianati oleh SBY– maka jalan koalisi keduanya menjanjikan kekuatan politik yang sangat-sangat besar. Lebih besar dari 2004, plus dengan mesin-mesin yang penuh amarah dan dendam terhadap “pengkhianatan” yang dilakukan SBY dan Demokrat selama ini. Ini akan lebih besar dari koalisi yang dirancang Demokrat

Maka, akan tersisa satu (atau dua) calon presiden lagi yang dalam kerangka itu akan menjadi pemecah pertarungan antara SBY vs Mega dan JK. Maka partai-partai kelas menengah harus mengambil sikap tegas: apakah bertarung melawan ataukah hanya sekedar partai rental saja.

Apakah Mega akan berpasangan dengan JK? Tidak ada masalah. JK akan mengukur dirinya yang seorang Bugis dari Makassar dengan Megawati yang berdarah Jawa.

Satu yang tetap pasti dalam pertarungan Presiden adalah Megawati (PDIP) tidak akan pernah mundur dalam melawan SBY. Dengan cara apapun, dengan budget berapapun! (*)

28 thoughts on “Demokrat Tak Akan Koalisi dengan Golkar

  1. Perhitungan Parliamentary Treshold 2,5% untuk CAD yang akan duduk di senayan dalam mewakili partainya artinya jika dikaitkan dengan menentukan Calon presiden sudah masuk persyaratan.

    Keharusan 20% atau 25% jika koalisi sepertinya mengada-ada/grand design untuk menutup kesempatan adanya calon presiden yang baru.

    Masyarakat mengharapkan adanya persaingan yang sehat dan baik.

    Koalisi sah-sah saja.

    Like

  2. PKS & PDIP Sumringah…… Demokrat tertegun….. Gerindra & Hanura senang bercampur kesal…… PAN,PKB,PPP cari peluang….. GOLPUT nonton sinetron……

    nonton formula 1 aja …😀

    Like

  3. pokok nya GOLKAR mesti sama DEMOKRAT. .
    PDIP sama GERINDRA & HANURA aja
    PDIP kuat koq untuk kalah ke2 kalinya secara FAIR dari GOLKAR & DEMOKRAT
    tapi kalau DEMOKRAT & PKS gak sudi dah. pasti SUOMBONG nya minta apyun tch PKS, liat aja belum koalisi/menang aja sudah ancam2 SBY gt & jelek2 in Golkar lg. giman uda menang HAYO, sama koalisi nya aja gt, gmna nanti sama oposisi!!!

    mulai lagi nich propaganda PKS dibuat2 : ngejodoh2in Golkar & PDIP
    liat aja apa lagi manuver2 PKS ngejauhin SBY & Golkar

    Like

  4. SBY tak ada lawan. Dengan siapapun pasangannya: Kalla, AT, TS, HNW, AR atau siapapun. Bila demokrat berhasil koalisi dengan Golkar, PKS, PAN, PPP, PKB dan 20 Partai Gurem, maka yang terbentuk adalah Koalisi “Super”.

    Koalisi Super ini bisa dibagi dua. Pertama pengusung SBY dan wakilnya dan yang kedua mengusung Anas Urbaningrum atau Edhie Baskoro Yudhoyono dengan wakilnya. Jadi walau diboikot siapapun, pilpres harus tetap lanjut.

    Jadi pilpres kali ini bukan antar koalisi atau partai tapi antara pemimpin incumbant dengan calon pemimpin muda. Siapkah Indonesia menuju perubahan???

    AR itu siapa?

    Like

  5. Kalaupun PDIP, Gerindra dan Hanura bersatu, tidak akan ada pemilihnya. Rakyat yang takut kehilangan Indonesia tak akan memilih Mega, mereka yang takut dengan masa lalu militerisme tak akan memilih Prabowo dan Wiranto.

    Lagian mana mau Prabowo jadi cawapres-nya mega. Mana mau Wiranto jadi menterinya Prabowo. Orang PDIP sendiri tak lagi endorse Mega. Siapa pihak mengerti SBY tak ada tandingnya saat ini.

    Semua pihak sudah mengerti, kini rakyatlah yang menentukan siapa calon pemimpin yang layak.

    Like

  6. Kalaupun PDIP, Gerindra dan Hanura bersatu, tidak akan ada pemilihnya. Rakyat yang takut kehilangan Indonesia tak akan memilih Mega, mereka yang takut dengan masa lalu militerisme tak akan memilih Prabowo dan Wiranto.

    Lagian mana mau Prabowo jadi cawapres-nya mega. Mana mau Wiranto jadi menterinya Prabowo. Orang PDIP sendiri tak lagi endorse Mega. Siapa pihak mengerti SBY tak ada tandingnya saat ini.

    Semua pihak sudah mengerti, kini rakyatlah yang menentukan siapa calon pemimpin yang layak. Golkar tak mungkin bersatu dengan PDIP. Berkoalisi dengan PD, golkar akan membawa keuntungan yang lebih besar

    Like

  7. Tanggal 10 Mei 2009 saatnya pendaftaran Capres, hari gini masih meributkan DPT, Perhitungan Suara, Koalisi dan tetek bengek lainnya.

    Jika Capresnya nanti berkutat hanya di SBY, MEGA dan JK alangkah baiknya penyelenggaraan pemilu capres dapat di evaluasi lagi ada atau tidak nya pemilu. (sudah dipastikan yang jadi) = (biaya)

    Pun apabila nanti terselenggara juga pemilu dengan format lama atau baru yang perlu diperhatikan jangan Golput, jika tidak berkenan pada pilihannya karena bermasalah semua namun dicari mana yang masalahnya paling sedikit (bukan malaikat).

    Anggota Dewan dari perwakilan Partai atau independen sudah ditetapkan jadi tidak signifikan lagi pengaruh partainya.

    Ada sedikit sangsi KPU menyelesaikan perhitungan suara dengan tempo yang telah ditetapkan !

    DPT harus diselesaikan sebelum pilpres. di sana salah satu titik kunci melihat Pemilu 2009. jgn terbawa arus untuk mempeti-eskan DPT.

    Like

  8. Koalisi membodohi rakyat dan percuma pemilu kalau harus koalisi dari awal koalisi aja gak usah pemilu2an ngabisin uang rakyat sajah…bah…

    penguasa memang pintar-pintar…

    Like

  9. kalau tak ingin memfosil,
    sudah saatnya Golkar siap
    berada di luar centre kekuasaan
    btw, yng menarik ditunggu
    manuver apa yng bakal
    dilakukan Amien Rais,
    agar PAN bs memberi peran
    penting dlm menentukan siapa
    pemenang Pilpres nanti

    SBY baru sadar (lagi) dengan Amien.

    Like

  10. kalau orang takut Prabowo & wiranto karena militeristik masa lalunya trus gimana tch ngejelasin yang namanya SBY yang sama juga militer, gak ada ap2 tch!!, biasa aja. Poltak koq dukung SBY tapi tolak militer, ANEH benar!!

    gak masalah kalau SBY menang telak, YANG PENTING PKS gak jadi wakil presiden……!!
    DEMOKRAT & GOLKAR koalisi, untung besar untuk SBY & negara KU Indonesia.

    PDIP partaiKU, SBY masih presidenKU

    Like

  11. Emangnya lo yg ngatur…….?
    Pokoknya…………? pokoknya……….?
    lo sok pinter. Mau SBY & PKS mau SBY Golkar
    biarin aja kenapa…!?
    yg tolol itu ya kamu Say…!?

    Like

  12. Rakyat gembira dan cemas!

    Gembira karena SBY bakal menjadi calon kuat pemimpin negeri ini. Pemerintahan berlanjut dan program-program tidak ada yang tersendat.

    Cemas karena SBY tak ada lawan sepadan. PDIP, Golkar, Hanura dan Gurem pada “kembut”. Rakyat patut cemas, karena “kecintaan” dan “dukungan total” itu bisa saja dimanipulasi kelak. (semoga tidak, tidak SBY tapi bagaimana dengan lingkarannya?)

    Indonesia telah merasakannya 30 tahun lebih. Bukan tak ada contoh. Presiden Aljazair, Azerbaijan, Venezuela dan Rusia bahkan mengubah UU pemilu agar bisa terpilih untuk term yang kesekian kali. Kecintaan rakyat kepada presidennya bak pisau bermata dua. Akankah suatu saat bisa dipercaya??? apa jaminannya??? Duh serba salah.

    Semoga pavoritku SBY bisa memahami ini. Siapaun kelak presidennya, negeriku tetap Indonesia… partaiku tetap.. ehem.. ehem…:-)

    Bung Nirwan, apapun kombinasi dan campuran bahan-bahan koalisi di atas, seharusnya bisa membuat pemerintahan yang kuat dan juga dukungan parlemen yang kuat. Tapi, jangan lupa, Indonesia juga harus punya oposisi yang kuat. Check and balance adalah takdir dunia politik. Kalau tidak takdir lain menunggu: Power tends to corrupt.

    Pertanyaannya sekarang adalah: Siapakh yang bisa melawan kutukan reformasi??? akankah kita ketemu orangnya

    Salam peace..

    (maaf bung moderator, kemaren kompiku lag.. jadi komen sampai tiga kali, maklum daku yang fakir bandwidth

    tak akan ada perubahan dari SBY. selamat gigit jari dengan SBY. piss.🙂

    Like

  13. @say no to pks

    hahaha, didoktrin apa kau sama pdip? sampe tak terkontrol gitu kata2 kau
    *in one simple word: urakan
    mending ga usah kau sebutlah itu nama partai kau, bikin malu partai aja

    Like

  14. Kok…hanya membicarakan tiga capres ini lagi?
    Padahal kebijakan capres-capres ini selama memimpin sebagai Presiden dan Wakil Presiden tidak memberi perubahan secara signifikan. Bayangkan saja, Mega yang mengobral BCA yang telah disehatkan BPPN dengan harga 10 triliun padahal terdapat obligasi rekap negara sebesar 58 triliun + aset.
    Utang ini terus dibayar hingga pemerintah SBY-JK. Tidak tanggung-tanggung, triliun rupiah digunakan untuk membayar utang najis atau secara tidak langsung mensubsidi orang yang sudah kaya (Farallon, Djarum) dari uang rakyat yang mayoritas miskin.
    Parahnya lagi, untuk membayar utang, pemerintah SBY meningkatkan jumlah utang luar negeri + dalam negeri selama 4.5 tahun hingga mencapai angka 1667 triliun.
    Inikah profil capres kita?
    Sepucuk tulisan saya : SBY atau Mega : Capres Bermental Korup,Bodoh atau Penakut?
    Trims

    Susilo Bambang Yudhoyo …. NO!
    Megawati Soekar …. NO!

    Like

  15. Untuk menutupi kekecewaan terhadap masyarakat pada pesta demokrasi (pemilu) alangkah baiknya KPU yang mempunyai hajat/mandat dapat menyajikan/memberikan sebagai pencerahan/penyegaran/perbaikan pada babak pilpres nanti.

    Berlakulah proporsional sajikan capres yang dipandang seimbang dan tawarkan pada masyarakat, agar masyarakat dapat menikmati/merasakan aurora pesta yang sesungguhnya.

    Sayangkan rumahnya telah ditempeli baliho, bendera, stiker dll dengan relanya tapi tidak terdaftar, untuk membalut luka alangkah baiknya berikutnya berikanlah yang terbaik.

    ==== Harapan Itu Masih Ada =====

    Like

  16. Alhamdulillah…………………………..
    Pemilu kemaren sy dapat rejeki dari caleg2, kalau di itung2 lumayan juga.
    Pilpres nanti kira2 sy dapat rejeki lagi nggak ya?????
    HIDUP MONEY POLITIC !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    Like

  17. “AR itu siapa?”

    Maksudnya Aburizal Ramli?? hehehhe.. eh itu Aburizal Bakrie yah… tapi AR yang pasti adalah Amien Rais: Ompung Reformasi. Mana tahu setelah bertapa, beliau muncul lagi.

    Eh malah, Amien Rais juga “kembut” nggak tahu kenapa. PAN khabarnya “dinasehati” kembali ke pangkuan SBY. Apakah SB juga bakal “meper”???

    😀 interesting bukan?

    Like

  18. @ Goput
    Emangnya lu dapat berapa put…?
    didaerahku soalnya paling tinggi 20.000
    kalo caleg bisa dapet banyak ya percaya aku..?
    masalahnya calegnya kan banyak..?
    tapi klo pilpres..? paling cuma dari tim sukses masing2
    waduuh klo yang satu ini jangan golputlah……
    kan sayang !

    Like

  19. untuk bisa mengalahkan sby dengan demokratnya,semoga ibu mega berjiwa besar untuk mengusung capres dari luar pdip seperti pak prabowo atau pak wiranto dengan wapresnya dari partai pdip sendiri

    Like

  20. Akhirnya Demokrat jadi juga tidak berkoalisi dengan Golkar, semula ada pendapat mana mungkin Golkar dan Demokrat akan berpisah dengan alasan orang2 di Demokrat adalah orang Golkar sebagian besarnya. (Saudara Tua)

    Ada anggapan jika Demokrat akan berkoalisi harus didahulukan Saudara tuanya dan yang lain menunggu giliran atau ada perhitungan2-annya dulu. (ikatan persaudaraan)

    Selamat Demokrat yang memiliki SBY dan no.31 dan menjadikan kemenangannya, Keberuntungannya juga bagi Calon Anggota Legislatif DPD yang bernomor peserta 31 banyak mendulang suara banyak ironisnya bukan dari kalangan intern Demokrat sendiri.

    Sekarang Hanya Demokrat yang bisa melangkah menuju presiden yang lainnyapun berharap menuju presiden sibuk juga dengan koalisinya.(membangun Capres tandingan)

    === Harapan Itu Masih Ada ===

    Like

  21. salam damai merdeka
    Aku ingin indonesia damai, pemilu membuat masyarakat indonesia jadi galak-galak padahal kalo orang pintar dan cerdas pemilu sesungguhnya hanya sebagian kecil dari demokrasi mengapa masyarakat indonesia menjadikan segala-galanya untuk membangun manusia seutuhnya, berkuasa dengan cara yang kurang etika dan martabat membuat bangsa ini seperti belantara.
    KALO BOLEH USUL TAPI JANGAN ASAL, BEGINI SESUNGGUHNYA BANGSA INI PUNYA SIAPA KOQ HAMPIR SETIAP SAAT BAPAK-BAPAK DAN IBU HANYA SENTIMENTIL AJA APA NGGAK BISA MEMBANGUN NEGRI INI KALO NGGAK JADI PRESIDEN. TOBATLAH PARA BAPAK-BAPAK DAN IBU YANG AMBISI MENGUASAI NEGRI INI. KAYAKNYA MASYARAKAT INDONESIA BOSAN DENGAR BAPAK-BAPAK DAN IBU BICARA MELULU BAGAIMANA NEGRI INI SAYA KUASAI.
    $$$$$ MASYARAKAT KECEWA DENGAN CARA INI $$$$$

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s