Indonesian Slumdog


“Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin dan himpunkanlah aku ke dalam golongan orang fakir miskin.” (Muhammad SAW)


* * *

Bernama Jamal Malik, dia adalah seorang yang selalu lurus-lurus saja pandangannya. Hampir saja dia menjadi naif kalau tidak ada abangnya, Salim; seorang yang realitis memandang hidup. Mereka menjadi yatim dan piatu, saat Ibu mereka tewas ketika gerombolan bersenjata tajam dan tumpul menyerbu perkampungan muslim mereka. Kampung mereka, kampung mayoritas muslim di Mumbai, India itu, adalah sebuah perkampungan para “slumdog”. Sudahlah anjing, kumuh pula lagi.

Menarik sekali. Film itu, “Slumdog Millionaire”, seperti yang telah Anda tahu, meraih Oscar dan Golden Globe Award sebagai Film Terbaik 2008. Film yang bercerita soal kemiskinan, terbuang, mempertahankan hidup, nasib, buruknya hukum, kesenjangan sosial di India itu, menjadi jawara setelah dinilai dan ditonton oleh para juri dan masyarakat yang lahir dari bangsa yang kaya, berpendidikan, modern dan maju; Eropa dan Amerika.

Saya merindukan film-film seperti itu bisa diproduksi oleh negeri sendiri. Kita bukan tak punya yang kayak gitu. Film Gie, Tjut Nya’ Dhien, Jenderal Naga Bonar 1 dan 2, adalah di antara film-film kita yang bernas, cerdas dan tentu saja bermutu. Baik dari sisi cerita maupun penggarapan.

“Nonton yuk, Wan,” kata seorang teman.
“Film apa?”
Real Pocong.”
“Gak mau. Aku takut hantu,” jawab saya.

Aneh memang. Atas gerangan apa sineas Indonesia bikin film hantu kalau masyarakat kita sendiri takut sama hantu? Oh, itu karena masyarakat kita gemar film hantu. Lho, bukankah hantu itu menakutkan? Saya geli lagi, tapi kemudian murung.

* * *

Kita takut tapi kita ingin melihat. Kita tutup wajah kita memakai sepuluh jari namun sedikit-sedikit kita mengintip dari sela-selanya.

kemiskinan Kita, Indonesia ini, tak akan mau mengakui kalau kita miskin. Kita lebih senang disebut bangsa yang kaya. Kita akan langsung bentangkan argumen-argumen kita. Di Indonesialah minyak dan air bisa menyatu. Di negara-negara Timur Tengah, minyak saja yang banyak. Tapi tanah mereka gersang.

Kita tak mau disebut miskin, karena kita lebih senang bila dijuluki “negara berkembang” daripada negara dunia ketiga. Konon, kata itu lebih bermartabat.

Kita masih berpandangan bahwa kemiskinan bukanlah potret sebuah martabat. Gara-gara kita disebut negara miskin, kita merasa jatuhlah harga diri kita sebagai manusia. Kita pun terus berusaha menutup-nutupi kemiskinan itu dengan tidak mengakuinya. Kalau ada orang kelaparan, kita bilang dia “kurang gizi” atau “gizi buruk”. Kalau dia tak punya rumah, kita sebut dia “tuna wisma”. Kalau dia bodoh, kita sebut dia “buta aksara”.

Yang penting, kita akan selalu berusaha menutup-nutupi kemiskinan, kebodohan dan kelaparan kita. Saya yakin, skenario untuk menjual kemiskinan dalam Pemilu 2009 memang gila-gilaan. Lihatlah iklan politik salah seorang calon Presiden soal pendidikan. Di sana, masyarakat kita bilang, anak-anaknya ingin jadi dokter, tapi pendidikan mahal. Kita boleh sinis karena adanya skenario itu, tapi bukalah mata kita lebar-lebar karena itulah kondisi kita yang sebenar-benarnya. Itulah potret yang selama ini kita tutup-tutupi dengan sadar.

Kita selalu mengumbang-ngumbang prestasi kita. Petani kita masih miskin-miskin dan masih terikat tengkulak, pupuk-pupuk entah kemana, tapi kita terus mengatakan kinerja Departemen Pertanian sudah sungguh-sungguh luar biasa.

Kita bangga sudah menurunkan harga minyak, tapi kita yang negara penghasil minyak ini, tak merasa aneh dan miris akan hal itu. Adik saya hingga saat ini masih lagi mengantri minyak tanah dan kalau ada truk tanki minyak tanah merapat ke kampung kami (yang terletak di kota Medan itu), kaum ibu langsung pergi ke dapur, bergegas mengambil derigen minyak tanah mereka. Mereka gembira karena tanki yang ditunggu-tunggu itu datang!

Ketika ada partai politik menjelang Pemilu 2009 menawarkan paket dan kupon sembako murah, begitu bahagianya keluarga-keluarga kita. Dalam tawaran itu, minyak goreng bisa dihargai hingga setengah dari harga pasar. Dan kaum ibu menyambut tawaran itu dengan girangnya. Mereka girang!

Kita ini orang miskin yang takut disebut miskin. Kita ingin selalu disebut negara kaya, negara bermartabat, negara yang punya kekuatan dan kemampuan super. Berjuta “padahal” bisa kita ungkapkan untuk meng-counter hal itu. Dan “padahal-padahal” itu tak susah untuk ditebak. Semuanya berintikan “kita adalah bangsa kaya-raya dan pintar-pintar”. Dan kita pakailah kalimat ini; “kemampuan SDA dan SDM kita setaraf dengan bangsa-bangsa maju”.

Kita, walau miskin, pun tak ingin mengemis. Kita takut akan kesan itu. Jangan-jangan, kalau kita mengumbar kemiskinan kita, kita disangkakan sedang membutuhkan bantuan, hutang atau apapun yang semacamnya itu, dari orang luar, dari bangsa-bangsa lain yang selalu kita puja-puja; tak ia dari Amerika, tak ia dari Eropa, tak ia dari Cina, Arabia, Persia, Australia, atau sebutlah yang lain-lain lagi.

Kita buat Pemilu kita dengan menyontreng, padahal kita tahu sendiri, masih banyak orang Indonesia yang gemetar tangannya kala memegang dan menulis dengan pena. Kita sekali lagi, menutup-nutupi kebodohan kita sendiri. Baru kali ini, baru kali ini, dari sebegitu panjangnya sejarah Pemilu Indonesia, baru kali inilah kita memakai pena.

Hitunglah sudah berapa umur kalimat “mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum…” itu dalam Pembukaan UUD 1945. Hitunglah dan tanyakan karena generasi yang lahir ketika konstitusi itu dibuat, masih lagi hidup.

Sampai ajal merenggut pun, mungkin Indonesia tak akan pernah mengakui kalau kita adalah sebuah negara yang miskin, bodoh dan lapar. Kita tak akan pernah mengaku.

Persoalan-persoalan kita ini seperti hantu; kita takut akan hantu, tapi kita mengintip dari sela-sela jemari, dan kita tak mau mengakui kalau kita takut akan hantu. Just like a slumdog. (*)

15 thoughts on “Indonesian Slumdog

  1. Hadits tesebut diatas adalah Hadits palsu.
    waktu negara2 islam dijajah oleh Barat, ratusan tahun, banyak ulama2 yang menjadi kaki tangan penjajah.Hadits itu kalau disebarkan kdp umat islam bertahun tahun, maka umat islam malas bekerja dan berilmu,karena ingin mengikuti sunnah Rasul yang miskin.

    Sesungguhnya ALLAH dan Rasul menginginkan umat islam yang kaya ilmu,harta dan uang, agar bisa membantu orang2 yang miskin(bukan di bantu)dan banyak meninggalkan warisan2 kepada anak2 dan cucu2 agar gerasi berikutnya lebih maju.

    ALLAH berfirman;
    a good man leaves an inheritance to his children’s children.”

    http://latifabdul.multiply.com/

    Akan banyak versi untuk itu. Baca lagi tulisan ini.🙂

    Like

  2. Begitu cintanya Rasulullah kepada umat miskin, sehingga beliau mengatakan demikian.
    Betapa celakanya orang-orang yang kaya itu tak tau untuk apa kekayaannya, karena sebenarnya kekayaan itu hanya titipan dan Allah si Empunya.

    Terlepas shahih atau tidak hadits tersebut, ada makna teramat dalam yang bisa kita ambil dan tanamkan kedalam sanubari.

    Kita bukanlah siapa-siapa, hidup pun dari setitik air hina dan matipun menjadi tanah, kalau mati menjadi emas dan berguna bagi orang banyak serta tak berbau busuk aku boleh bangga.

    Lebih baiklah miskin dari pada kaya cuma menjadi sampah.

    ************

    …himpunkanlah aku ke dalam golongan orang fakir miskin.

    sangat dalam.

    Like

  3. Miskin harta bisa dicari di dunia ini
    miskin iman dan akhlak kayak penjabat indonesia kita ini sangat susah obatnya

    salam kenal

    ditunggu dukungan dan kunjungannya

    terimakasih

    salam kenal juga.ok sip,thank yiu bang..😀

    Like

  4. kalau boleh memilih lebih baik kaya, daripada miskin jadi sampah

    kaya dengan beriman kepadaNYA..

    bukan beriman kepada yg lain…

    begitulah realitas indonesia terkini, perubahan butuh proses, perhatian kita adalah awal dari perubahan yang lebih baik

    😀 kecil disuka, muda terkenal, tua kaya raya, mati masuk surga….

    Like

  5. “Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin dan himpunkanlah aku ke dalam golongan orang fakir miskin.” (Muhammad SAW)

    Bagaimana dengan doa “Rabbana, atina fiddunnya hasanah wafil akhiraati hasanah wakina azabannar”

    Bukankah setiap muslim itu harus berbahagia mendapatkan dunia dan akhirat?

    Mohon pencerahan🙂

    Muhammad adalah Al-quran yang berjalan, jadi tidak akan pernah ada pertentangan. Dus, bahasa Alquran dan Muhammad diperbuat begitu luasnya, sehingga ia bisa berlaku untuk seluruh ruang dan waktu, dalam beberapa dimensi. Bila pandangan guru mengaji kita haruslah dipahami betul-betul, dicermati sedetil-detilnya, apalah lagi ucapan dari seorang kekasih Tuhan?

    Saya kira, ini representasi dan keberpihakan Muhammad pada orang dan golongan lemah, atau disebut orang mustadha’afin secara keseluruhan. Orang kaya dapat membayar pengawal, membangun rumah besar dan berpagar untuk melindungi dirinya dari perampok, keganasan alam dan seterusnya. Sementara orang miskin sebaliknya, selalu ditindas dan tertindas, ditokoh-tokohi, dijual-jual, terik harus ditahankan, hujan harus diterima, dan seterusnya.

    Siapakah pelindung mereka? Muhammad ada di sana untuk mereka dan menjadi bagian dari mereka. Muhammad bukan memusuhi orang kaya dan selanjutnya tak menyuruh orang untuk menjadi orang miskin, bahkan terus mendorong setiap orang agar berusaha mencapai kebahagiaan dunia akhirat (plus bebas api neraka). Justru yang disuruh Muhammad adalah melindungi fakir miskin dan anak yatim, bagaimana agar golongan ini bisa diangkat dan dilindungi oleh Islam dari kemiskinannya. Bagaimana Anda bisa merasakan penderitaan orang lapar kalau perut Anda kenyang?

    Di sisi lain, bukankah kebahagiaan tak selalu diukur dengan materi? Orang tak punya uang ‘kan belumlah tentu tak bahagia. Orang miskin belum tentu pula ingin menjadi kaya. Jadi definisi bahagia itu kan tak sesempit uang dan semacamnya itui. Namun, seberapa gelintirkah orang kaya (ataupun berpotensi menjadi kaya) yang ingin menjadi miskin? Bukankah ini berbanding terbalik dengan begitu banyaknya orang yang ingin menjadi kaya?

    Maha Besar sang Khalik, hanya orang-orang besar, luas pengetahuan, sungguh dalam jiwanya, saja yang mampu melakukan itu. Yang terpilih itu adalah al-Musthafa, Muhammad.

    Setakat ini, itu dulu.🙂

    Like

  6. sesekali tak ada salahnya berpikir, “saya muslim, saya harus kaya, dengan kekayaan saya insya Allah bisa berbuat banyak untuk sesama, ibadah semakin mudah, bermanfaat bagi masyarakat”

    ayo dunk optimis, jangan bersedih gitu dengan mengatakan kita miskin, muslim itu harus kaya, kaya hati, kaya harta, dengan catatan dengan kekayaannya itu bisa menyumbang kemaslahatan ummat setidaknya di lingkungannya.

    salam.

    salam juga untuk Anda.🙂

    Like

  7. hidup sederhana…Nggak punya apa2.. tapi Banyak cinta…..

    gak punya apa-apa mah fakir …😛

    Like

  8. Indonesia tak cuma miskin harta
    tapi juga miskin kreativitas
    …di negeri ini harga2 selalu naik,
    cuma harga diri saja yg selalu turun😉

    untung masih ada yg bisa “naik” bang… hahahaha

    Like

  9. Tuna Wisma,Tuna Susila,Tuna Rungu,Tuna wicara,Tuna Dhaksa,Tuna Karya dan masih banyak tuna-tuna lainnya.

    Itu Wan, Bahasa Sanksekerta.

    Tapi, kalau orang Batak bilang “Tuna” juga, maksudnya “ninna tu ninna”. Cakap-cakap doang

    PBC…parte banyak cakap

    Like

  10. Ingat……….! sholat dan bertobatlah engkau seakan hidupmu tinggal esok hari………
    carilah harta sebanyak mungkin seakan usiamu 1000 tahun . tapi yang satu ini jangan lupa diri.

    yg ini : Tuntutlah ilmu sampai kenegeri Cina , kalo yang ini nggak perlu karena di indonesia sudah banyak cina…..hihihihihi(sok tau)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s