Sepotong Tumpeng Kala Maulid


quranSewaktu kecil, di madrasah kami, Ibtadaiyah Al-Ittihadiyah, setiap maulid nabi Muhammad  selalu dilakukan acara. Ada lomba baca al-quran, azan, tafsir, busana muslim, gerak jalan dan macam-macam. Kalau tidak salah, saya sudah berani ikut-ikutan lomba waktu umur saya tujuh tahun. Saya ikut lomba azan dan baca quran. Saya tak pandai betul melantunkan qiraat, walau ayah saya pernah juara mengaji. Tapi minimal dapatlah juara harapan. Saya tak kebagian piala tapi hadiah buku tulis. Namun, senangnya bukan main.

Kala lomba azan -sudah tabiat saya dan teman-teman sekelas dulu- bukan malah jadi lomba indah-indahan, tapi lomba kuat-kuatan suara. Siapa yang dapat nada paling tinggi, bolehlah agak nyombong dikit sama teman-teman. Tapi tetap yang selalu menang itu namanya Azra’i. Dia ini memang muadzin tetap di mesjid dekat madrasah kami. Suaranya tak pernah melengking, tapi ‘kok rasanya enak betul mendengar lantunan azannya.

Tahun kemarin, saya lewat lagi di depan madrasah itu. Tak besar memang, cuma ada lima ruang kelas. Guru yang dulu mengajar saya tinggal seorang. Guru-guru yang lain umurnya relatif sepantaran saya dan ada juga yang di bawah saya. Sesekali ibu saya pernah mengobati kerinduannya mengajar anak kelas satu. Tapi sesekali saja memang karena beliau sudah pensiun sejak lama. Dia pernah berkata kepada saya begini: “Jadi guru itu sudah darah daging, jadi sebenarnya tak bisa ditinggalkan.”

Saya selalu tercenung mendengar itu. Dari madrasah itu, dia hanya mendapat gaji Rp 75.000 sebulan. Itu bagi dia yang sudah senior. Bagi yang muda-muda, di bawah itu. Sepuluh tahun reformasi, gaji di madrasah itu saya ketahui memang naik 100%, tapi nilainya cuma Rp 150.000 per bulan. Beberapa tahun yang lalu, pemerintah kota memberikan insentif kepada guru-guru madrasah. Mereka senang betul, walau itu hanya diberikan per triwulan (tiga bulan sekali) dan nilainya pun tak besar-besar amat: Rp 125.000. Tapi saya dengar belakangan, insentif itu sudah tak jelas lagi juntrungannya. Beberapa guru madrasah yang tak pegawai negeri memang menyambi menjadi guru-guru mengaji privat. Untunglah di kota seperti Kota Medan ini, masih banyak orang tua yang tak bisa atau tak sempat mengajarkan anaknya mengaji. Mereka sedikit terbantu di sana.

Saya tercenung kembali di atas sepeda motor saya. Waktu berjalan sungguh cepatnya tapi perubahan justru berjalan di tempat. Anda tahu prinsip berjalan di tempat? Capek-capek sendiri dan tak beranjak ke mana-mana: ke depan tidak, mundur juga tidak. Akhirnya, ya, berhenti sendiri. Kalau tak maju-maju dan daripada berjalan di tempat, saya rasa lebih baik mundur saja ke belakang. Kalau mundur, bisa menabrak-nabrak, dan kalau sudah menabrak-nabrak bisa bikin orang marah.

Saya bermimpi orang-orang akan marah melihat ironisnya pendidikan madrasah. Saya menghayal-hayal kalaulah orang-orang akan makin kesal melihat banyak anak-anak tak bisa lagi mengaji alif ba ta tsa dan seterusnya.

Tapi orang sekarang, anehnya ‘kan, tak merasa marah dengan kondisi itu. Kita tenang-tenang saja karena kita yakin nanti produk-produk IT yang kita bikin, atau yang dibuat orang lain, bisa mewakilkan kita dalam ibadah-ibadah kita. Saya membayangkan suatu saat, khutbah Jum’at bisa-bisa dihalalkan ketika digantikan via file Mp3, Mp4, Mp5 dan seterusnya. Kita kantongi itu dan kita dengarkan di mesjid-mesjid tanpa ada khatib di mimbar sana. Lihatlah ketika azan atau pra azan, kita mendengarkan lantunan orang mengaji justru dari kaset atau CD, dan azannya pun, seperti kita dengar di tivi-tivi. Namun, jangan salah paham dulu kalau goresan ini anti IT.

Boleh jadi kita memang “suntuk” ketika mendengar orang mengaji di mesjid, suaranya sember, makhraj dan tajwidnya amburadul. Paling sering kita dengar itu ketika Ramadhan, orang berlomba-lomba tadarussan. Kita jengkel, “Sudah jelek, keras-keras pula,” bisik kita. Kita pun meminta agar mik mesjid tidak dipakai dan cukuplah di mesjid itu saja yang dengar. Kita pun mengalaskan itu dengan kalimat; justru yang jelek tak perlu diperdengarkan karena bikin malu saja. Alasan kita kedua; seharusnya umat islam lebih bertoleran, mungkin saja ada umat lain yang bisa terganggu atau ada pula umat muslim yang terusik dan terganggu ibadahnya di rumah.

Saya kira, itu semua karena kita terkadang tidak lagi mendengar dan merasakan “keindahan” agama kita, Islam. Islam itu lembut dan kelembutan itu bisa menghanyutkan dan memberi kita kedamaian. Kalau indah, pasti kita tak keberatan.

* * *

Saya mendengarkan orang mengaji di komputer saya. Saya bisa mendengarnya sekaligus membaca terjemahannya. Saya menemukan suasana lain, sebuah suasana yang biasanya juga sering saya temui dalam melihat ranah kesenian lain yang lebih ngepop, nge-rock, foto, lukisan, film, puisi ataupun prosa. Terkadang saya mengesampingkan terjemahannya.

Dia tidak gegap-gempita tapi mengantarkan kita ke relung yang sangat dalam, yang saya sendiri sebenarnya tidak tahu ukurannya seperti apa. Dia tak menghentak-hentak, membuat jantung dan adrenalin saya berdegup-degup kencang seperti ketika saya mendengarkan sebagian besar lagu band favorit saya: Metallica.

Pengalaman setiap orang tentulah berbeda, tapi tentu ada garis universalitas yang bisa kita nikmati bersama-sama. Kalau saya tak menemukan suasana itu ketika mendengar Arifin Ilham atau Jefri Al-Buchari bersenandung, janganlah salahkan saya dan saya tak dalam posisi untuk membenci apa yang mereka lakukan. Suatu saat saya justru bisa duduk terpukul ketika mendengar Marhaban-marhaban di kampung, atau di saat lain malah tak punya pengaruh apa-apa.

Saya baru paham, mengapa dulu nabi Muhammad menyuruh Bilal untuk melantunkan adzan di Makkah. Saya kira, Muhammad sangat-sangatlah paham, memanggil orang untuk beribadah seharusnya dilakukan dengan keindahan dan kelembutan, meski isinya adalah perintah. Bahwa yang sedang memanggil itu bukannya seorang budak berkulit hitam dan berbibir tebal; melainkan yang Maha Indah dan yang Al-Lathif (lembut).

Ghirah keislaman taklah selalu pada kegiatan yang “revolusioner”, dihadiri jutaan umat manusia, berinfak miliaran, atau apapun itu yang bersifat “njelimet”, rumit, massif, radikal dan yang semacamnya. Kita tahu, Islam kita sedang berada di titik nadir dalam sejarah dan kita membutuhkan gerakan yang benar-benar radikal. Tapi paling tidak, sepotong tumpeng, menikmatinya dengan seluruh keluarga, dan mengirimkan salam pada sang Musthafa, bisa sedikit bermakna. Tak perlu banyak, sedikit saja. (*)

14 thoughts on “Sepotong Tumpeng Kala Maulid

  1. hari ini, maulid di musholla dekat rumah, justru sepi.. orang mengunci diri di rumah masing – masing.. cuma sebagian yang datang dan mengirimkan makanan.. peringatan maulid selesai, lagu lagi2 berkumandang.. rindu maulid yang syahdu.. rindu Rasulullah SAW.. rindu sekali..😦

    kl rindu shalawat aja.😀

    Like

  2. Selamat merayakan ultah Nabi… bos, tukeran link yah, link blog yang fantastic ini sudah dimasukkan di blog saya, Mauliate godang… Sai anggiat ma marlas ni roha hita di ari hatubuon ni Rasulta on.

    salam untuk (tondi) al-musthafa. oke, kutautkan langsung. mauliate godang abanganda.😀

    Like

  3. wuoo… ternyata orang2 islam di madrasah juga ngrayain ultah nabi jugak ya, ga cuman di kraton2

    sebelum sy lahir, madrasah mmg selalu begitu.🙂

    Like

  4. Tulisan yang menarik,

    Kadang menjadi dilematis juga ya, antara Islam yang kaffah dengan tradisi budaya lokal Indonesia.

    Ada sekelompok yang membolehkannya, ada sekelompok yang (karena ingin kaffah, hanya bersumber Quran-Sunnah thok) maka mereka pun meninggalkan tradisi-tradisi lokal seperti tumpengan.

    Well, aku sih gak kontra sama keduanya, aku malah miris kalau ummat Islam ini malah jadi terpecah karena persoalan tersebut.

    Semua sah-sah saja punya persepsi yang berbeda, sesuai dengan pengalaman masing-masing yang berbeda.

    Yang penting UKHUWAH dan keTAUHIDan tetap terjaga.

    Jangan sampai sesama muslim saling mengkritik yang berujung pada kebencian antara satu dengan yang lainnya. Semoga tidak demikian. Wallahu ‘alam.

    salam untuk Anda.🙂

    Like

  5. Biarkan mereka menjalankan adat tumpengan, selamatan dll.
    biarkan mereka yang menjalankan sesuai Al Qur’an dan Hadist tok.
    yg penting rukun2 aja tdk saling menjelekan, kalau saling menjelekan itu adalah kesempatan Setan utk mengadu domba..

    mungkin saja tumpengan yg dilakukan justru berdasarkan alquran dan hadits.🙂

    Like

  6. Muslim khas perkampungan bilang begini… “ini kan tradisi, sudah turun-temurun”
    Muslim khas perkotaan pun bilang lain lagi… “kami tak puas dengan tradisi saja, kami ingin mengkaji bukan karena alasan Islam keturunan tapi karena kesadaran sendiri”

    Ya udah, yang rukun aja, ukhuwah tetap terjaga ya🙂
    Kalau kritik-kritikan nanti ditertawakan orang luar.

    Peace

    salam untuk Anda.🙂

    Like

  7. “Ghirah keislaman taklah selalu pada kegiatan yang “revolusioner”, dihadiri jutaan umat manusia, berinfak miliaran, atau apapun itu yang bersifat “njelimet”, rumit, massif, radikal dan yang semacamnya. Kita tahu, Islam kita sedang berada di titik nadir dalam sejarah dan kita membutuhkan gerakan yang benar-benar radikal. Tapi paling tidak, sepotong tumpeng, menikmatinya dengan seluruh keluarga, dan mengirimkan salam pada sang Musthafa, bisa sedikit bermakna. Tak perlu banyak, sedikit saja.”

    Semuanya sah-sah saja, ghrirah keislaman harus ada pada diri setiap muslim, yang jangan itu menjadi jumud, futur, tak pandai bermuhasabah/tafakur. Yuk mari berbuat semampu kita untuk ummat ini🙂

    Like

  8. Sebenarnya sepengetahuan saya yang sangat sempit ini, Islam tidak mengajarkan adanya hari ulang tahun, apalagi sampai merayakannya misalkan dengan tumpengan.

    Itu mah hanya tradisi saja, selama tidak mengandung syirik sih menurut saya sah-sah saja sebagai rasa syukur.

    Namun, kadang keinginan kita untuk kaffah (hanya bersumberkan Quran-Sunnah) menjadi dilematis dan mendapat kritikan dan pertentangan.

    Kesimpulannya, ya silahkan jalani masing-masing jangan saling meledek. Yang nggak boleh itu malah hilangnya ghirah keislaman kita dan pada jumud tak bersemangat beragama.

    Jadi sah-sah saja semuanya, yang di kampung dengan tumpengan sederhananya yang menurut pemilik blog ini “tak perlu banyak, hanya sedikit saja” atau yang mewujudkannya dalam acara besar di masjid-masjid perkotaan. Semua insya Allah sedang berusaha mencintai Rasulnya dengan cara nya, selam tidak syirik mengapa harus diributkan?

    Kiyai perkampungan sangat menjadi tauladan dan wajib kita hormati, begitupun yang diperkotaan seperti Arifin Ilham, dsb. sangat kita hargai usaha dakwahnya ditengah masyarakat kota yang kian kritis dan hedonis.

    So, yang jangan itu ya jumud🙂
    Semangat kawan!

    sepengetahuan saya, aqiqah adalah rasa syukur terhadap anak yang baru dilahirkan. Tapi akan banyak tafsir untuk itu. Tulisan ini bukan soal apakah tumpeng itu tradisi atau tidak, tapi cinta terhadap seorang Muhammad. Untuk soal itu, kita kesampingkan saja soal Islam kota atau kampung, jumud atau ijtihad. Seperti yang saya tuliskan, sesekali saja, tak perlu njelimet-njelimet. Kalau tak bisa buat tumpeng, kl di medan ya “nasi lomak” ato kue lapis mungkin, ato kl tak sempat juga, hidangkan teh ke tengah keluarga, minum bersama dan kirimkan salam pada Al musthafa.🙂

    Like

  9. gw hargai apapun cara kalian dalam menyambutnya kerinduan akan Rasul, bukan hanya dirindu tapi juga dicontoh.

    gw hargai yang merayakan ala madrasah
    dan gw juga menghargai dengan ala yang menurut pemilik blog ini “njelimet” tapi gw hargai juga konsep “merayakan” maulid seperti itu.

    semuanya baik, mau yang sederhana atau yang besar-besaran, tidak apa-apa, bagus semuanya.

    sip😀

    Like

  10. Udah lama ga denger suara ngaji di mesjid2, jadi rindu suasana itu walaupun dulu terdengar tak enak ditelinga. Nice story…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s