Batak, Malim, Sisingamaraja dan eh, Islam?


Saya membongkar-bongkar lagi dokumen yang ada pada saya dan mata saya tertumbuk pada artikel ini, ”Mohammad Said di Antara Ilmuan Sosial” ditulis oleh Shohibul Anshor Siregar. Saya baca ulang lagi dan saya langsung mengontak beliau dan meminta izin agar tulisan ini bisa diposting di blog saya. Beliau tertawa dan berujar, ”Up to you.”

Indonesia Religion

Shohibul Anshor Siregar adalah seorang sosiolog Medan lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM). Dia ini salah seorang cendekiawan muslim yang dulunya diceritakan orang sempat dicegah agar tak lagi pulang ke Medan, Sumut, dari Pulau Jawa. Saya mendapat cerita kalau karir intelektual dan ”politik”-nya akan sangat “cerah” kalau dia tetap bertahan di sana. Maklum, sebelum ke sana, dia mantan Ketua Umum DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sumut tahun 1980-an. Dia ditarik-ditarik untuk masuk ke partai politik, namun hingga kini dia tetap memilih sebagai Dosen PNS di Kopertis Wilayah I Sumut-NAD. Seingat saya, hingga kini, dialah peneliti sosiologi politik yang terus konsisten berada di garis intelektual. Di blog ini, profil dia pernah juga saya postingkan. Orangnya sangat sederhana dan selalu tergelak. Ada yang latah menyebut, dia ini ”sosialis”. Tapi saya tak percaya.

Ini tulisannya.

-||| –

Mohammad Said di Antara Ilmuan Sosial

oleh Shohibul Anshor Siregar

* * *

Akhir 1995 saya menjadwalkan penelitian tentang agama Malim dalam rangka penyelesaian studi di UGM Yogyakarta. Dalam banyak literatur yang saya baca mengenai fokus penelitian saya, saya kerap menemukan nama Mohammad Said yang dicantumkan sebagai penulis buku Dari Halaman2 Terlepas dalam Tjatatan Tentang Tokoh Sisingamangaradja XII.

Setelah mencari ke sana ke mari, termasuk membuka kontak dengan Sekolah Tinggi Theologia Jakarta, akhirnya saya berhasil mendapatkan satu copy (benar-benar fotocopy) buku terbitan Harian Waspada tahun 1961 itu. Saat itu saya sedang menunggu kepastian bantuan biaya dari The Toyota Foundation. Itulah perkenalan saya untuk pertama kalinya dengan Mohammad Said sebagai seorang intelektual yang kemudian banyak sekali mempengaruhi saya dalam memetakan permasalahan penelitian saya. Tak lama setelah itu saya ke Medan, langsung ke Sungai Buluh
Deliserdang (sekarang wilayah Sergai) menemui Mohammad Said. Tidak susah mencari beliau, karena awak angkot yang saya tumpangi dan juga beberapa penumpangnya tahu rumah beliau.
Tukang becak dan orang-orang yang saya temui di sekitar persimpangan jalan pun mengenal beliau, begitupun nazir masjid yang saya temui ketika shalat zuhur sebelum menemui Moh. Said. Secara fisik saat itu beliau sudah amat tergantung pada orang lain. Duduk di kursi roda, dan pendengarannya pun sudah tidak normal. Tetapi saya kira pikirannya jernih, runtut dan tajam.

Menyadari kesulitan beliau menangkap setiap kalimat saya, akhirnya saya putuskan untuk menulis semua pertanyaan. Beliau menjawab setiap pertanyaan saya dengan suara keras sekali dan itu amat bagus untuk tape rekaman. Di akhir wawancara saya tertawa puas. Melihat hal itu beliau seperti marah, tetapi akhirnya tersenyum setelah membaca tulisan saya, ‘Aku seperti berdialog dengan ompungku’.

Pandangan Baru
Fokus penelitian saya adalah mengenai perubahan agama Malim, tetapi bukan sorotan dari aspek pokok ajarannya. Dari penelitian ini saya ingin memberi jawaban mengapa agama yang tidak diakui sebagai agama (resmi) ini justru tidak saja dapat bertahan dalam iklim penuh tekanan kultural maupun struktural yang kuat untuk suatu masa yang cukup panjang.

Banyak orang tidak menyadari perkembangan agama ini yang memang di luar dugaan. Dari Mohammad Said saya inginkan keterangan yang lebih terkait dengan sejarah. Juga tentang hal-hal kontroversial di sekitar agama Malim dan Sisingamangaraja, khususnya Sisingamangaraja XII. Dalam banyak hal beliau memiliki kesamaan keterangan dengan para ahli lain. Katakanlah misalnya missionaris yang penulis Pedersen dan Harry Parkin.

Menurut mereka agama Malim merupakan kelanjutan dari agama Batak kuno yang direformulasi sebagai suatu respon atas perubahan sosial, politik dan ekonomi pada masanya yang diakibatkan oleh kolonialisme dan masuk serta berkembangnya ajaran lain khususnya Kristen. Itulah sebabnya agama ini kemudian tidak saja berkembang sebagai suatu kelompok pemujaan, melainkan juga menjadi wadah pergerakan anti asing yang amat penting di Tanah Batak.

Namun anti asing dalam diri Malim itu sedikit unik karena mengenal kelenturan sampai pada tingkat tertentu hingga tak menjadi kelompok yang gagal menjadi semacam solidarity maker di kalangan warga tanah Batak. Kecintaan terhadap Sisingamangaraja sebagai ikon dipupuk, demikian kata Mohammad Said. Namun meski anti asing, pengikut agama Malim mampu melakukan berbagai interaksi yang mendinamisasi perlawanan terhadap Belanda.

Mungkin sifat kompromi itu yang menyebabkan dalam banyak hal agama Malim menjadi sinkretik dengan menggabungkan ajaran dari berbagai agama termasuk Kristen dan Islam, meski pernyataan ini tidak mengenakkan bagi penganut agama Malim, tentu saja. Sebagai salah satu front yang paling berjasa dalam perlawanan pada masa kolonial, agama Malim memiliki pengikut yang luas tidak hanya di daerah kelahirannya tanah Batak. Persebaran itu mencakup daerah-daerah Simalungun, Asahan, Dairi, Tapanuli Tengah dan bahkan ke daerah perbatasan Aceh. Agama ini amat ditakuti oleh Belanda, yang dalam aksi-aksi perlawanannya sering menyebutkan diri sebagai Parhudamdam atau Sihudamdam.

Mayoritas penulis tentang Batak dan bahkan penganut agama Malim sendiri pada umumnya sefaham bahwa term Malim berarti bersih, suci atau bisa juga bermakna merdeka (Pedersen; van Der Tuuk). Mohammad Said berpendapat lain.

Baginya, sama seperti Harry Parkin dalam bukunya The Toba Batak Belief in the high God (?), Malim mempunyai kaitan dengan fenomena keagamaan dalam Islam khususnya di Sumatera Timur. Malim sama sekali tidak mempunyai kaitan makna dengan pengertian suci, bersih atau merdeka, dan bukan berasal dari kosa kata Batak yang mana pun. Kata Malim berasal dari kata bahasa Arab ‘mu’allim’ yang dikenal sebagai julukan bagi guru agama Islam di kawasan Sumatera Timur.

Bagi Mohammad Said nama agama ini adalah indikasi pertama untuk mengenalinya. Ini sangat ditolak oleh Sidjabat (1988) dalam bukunya Ahu Sisingamangaraja. Mohammad Said menyadari benar bahwa pada umumnya persoalan pandangan subjektif keagamaanlah yang mewarnai kontroversi pendapat di sekitar agama Malim dan Sisingamangaraja XII sehingga tetap merupakan sebuah perdebatan yang tak kunjung selesai. Namun bagi Parkin hal itu tidak merubah kenyataan bahwa agama Malim mempunyai elemen ajaran yang berbau Islam, dan sebutan Malim berasal dari bahasa Arab, bukan bahasa Batak.

Karya Sidjabat (1982) amat banyak memberi sanggahan terhadap beberapa keterangan penting dalam karya Mohammad Said, sehingga sulit menutupi kesan bahwa karya yang disebut pertama diterbitkan hanyalah untuk maksud pemberian sanggahan terhadap karya yang disebut terakhir. Di antara pokok bahasan yang diulas secara mendalam dalam buku ini ialah tentang agama yang dianut Sisingamangaraja. Seingat saya pokok persoalan ini jugalah yang menjadi penyebab tulisan bersambung almarhum HM Joesoef So’uyb pada harian Waspada di-black out sekitar tahun 1979 karena dianggap dapat mengganggu keharmonisan.

Tulisan bersambung itu berakhir begitu saja. Terlepas dari kadar keberagamaannya, namun HM Joesoef So’uyb menunjukkan beberapa argumen yang sukar dibantah tentang Sisingamangaraja XII sebagai seorang pemeluk Islam. HM Joesoef So’uyb bahkan pernah mengatakan bahwa orang-orang Batak muslim perlu mengadakan acara haul atau tahlilan untuk memperingati wafatnya Sisingamangaraja XII. Tampaknya dia ingin munculnya energi politik dari kalangan internal Batak sendiri untuk menggugat distorsi sejarah yang dilakukan oleh para sarjana Barat tentang Sisingamangaraja XII.

Berkaitan dengan pokok bahasan ini stempel kerajaan Sisingamangaraja amat memegang peran penting. Bagi Mohammad Said muatan kalimat yang tertera dalam stempel menunjukkan status keagamaan Sisingamangaraja. Kalimat dalam stempel yang ditulis dalam aksara Batak dan Arab Melayu itu di antaranya terdapat bunyi ‘Hijrah Nabi 1304’. Mohammad Said berpendapat bunyi stempel itu berbobot penyataan teologis, sedangkan bagi Sidjabat hal itu hanya sekadar bukti tentang hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan sekitar yang kebetulan beragama Islam.

Penutup
Saya belum pernah membaca karya Mohammad Said selain Dari Halaman2 Terlepas dalam Tjatatan Tentang Tokoh Sisingamangaradja XII. Tetapi saya berharap tidak berada dalam posisi yang gegabah jika menyimpulkan peran beliau dalam usaha pelurusan sejarah tentang kita. Satu hal saya tidak ragu lagi, bahwa Mohammad Said termasuk di antara penulis Indonesia pertama yang berusaha menjelaskan agama Malim secara berbeda dengan pendapat umum sebelumnya.

Sayangnya jejak itu belum tampak diikuti oleh generasi setelah beliau. Padahal usaha seperti ini memang sesuatu yang amat diharapkan di dunia non Barat. Ketika mereka mempelajari diri sendiri terasa sekali kebutuhan pendekatan bukan Barat agar tidak bias. Mohammad Said telah tiada, namun beliau meninggalkan banyak amal monumental, khususnya dalam penulisan buku-buku sejarah, termasuk Harian Waspada. Tugas generasi pewarisnya untuk tidak sekadar mengklaim kekayaan material dan immaterial besar itu tentu saja. Insya Allah. (*)

= foto: APPhoto/Binsar Bakkara

28 thoughts on “Batak, Malim, Sisingamaraja dan eh, Islam?

  1. memang negara ini terkadang menghambat usaha pelurusan sejarah yang dilakukan oleh manusia-manusia cendekia yang cerdas…

    Like

  2. jelasnya tanya Pak Monang Naipospos (Guru Parmalim di Huta Tinggi – Toba).

    ada rencana ke sana. sebelumnya saya sudah membaca penelitian dari pak regar yang menulis ini. Dalam penelitian itu, salah satu keterangan memang didapatkan dari pak monang naipospos.🙂

    Like

  3. SAYA rasa hasil penelitian yg anda lakukan kurang akurat…..
    dari budaya adat istiadat z batak identik dngn b2(babi)
    sementara islam mengharamkan b2
    jd gak mungkin dong…..
    Malim itu bukan bahasa arab tapi merupakan bahasa btak yg brasal dari kt PARMALIM yg artinya kepercayaan terhadap roh2 nenek moyang…..
    (kepercayaan terhadap begu ganjang)
    jd saya harab penelitian itu di tinjau kembali..
    demi kebaikan dan persatuan orang batak…

    mengapa skarang bnyk org batak menjadi muslim…???
    itu smua karena orang tsbt gila2 jabatan…
    dimana kita ktahui di negara kita ni untuk mendapat jabatan yg baik dan cepat yg paling utama agama kita harus islam…..
    (MAF KT2 saya agak mempropokasi tapi ini dapat kita lihat secara langsung di lapangan)

    Like

  4. Saudara Ucok memberi tanggapan:

    SAYA rasa hasil penelitian yg anda lakukan kurang akurat…..dari budaya adat istiadat z batak identik dngn b2(babi) sementara islam mengharamkan b2 jd gak mungkin dong…..

    Malim itu bukan bahasa arab tapi merupakan bahasa btak yg brasal dari kt PARMALIM yg artinya kepercayaan terhadap roh2 nenek moyang…..
    (kepercayaan terhadap begu ganjang)
    jd saya harab penelitian itu di tinjau kembali..
    demi kebaikan dan persatuan orang batak…mengapa skarang bnyk org batak menjadi muslim…???
    itu smua karena orang tsbt gila2 jabatan…
    dimana kita ktahui di negara kita ni untuk mendapat jabatan yg baik dan cepat yg paling utama agama kita harus islam…..
    (MAF KT2 saya agak mempropokasi tapi ini dapat kita lihat secara langsung di lapangan)

    1. Ada kecenderungan orang-orang sekarang memahamkan bahwa Batak itu Kristen dan makan Babi. Jelas itu amat menyederhanakan, dan tentu tidak benar. Syawal Gultom yang Rektor UNIMED itu asli orang Batak dari Samosir, bukan karena mau jadi Rektor menjadi Islam. Dia pun tak tahu sejak kapan nenek moyangnya menjadi Islam. Ada babakan sejarah menunjukkan tentang upaya politik dan kultural untuk mengesankan bahwa Batak itu identik Kristen dan makan babi. Tetapi Parmalim itu kan orang Batak ya, dan tidak makan babi kan? Memang tidak makan babi mereka itu. Sejak kapan tidak makan babi? Ya sejak usia agama Malim itulah. Sudah lama itu? Ya, menurut klaim mereka ya Malim itu agama orisinal Batak. Jadi Kristen datang belakangan menurut pemahaman mereka.

    2. Definisi Malim yang Saudaraku Ucok tawarkan sukar diterima. Ada sejumlah literatur yang bisa mengantar kita ke pemahaman yang benar, terlepas kita suka atau tidak.

    3. Malim identik dengan pemujaan roh-roh dan begu ganjang? Ro ma hamu denggan tu Huta Tinggi, di si do amanta Marnangkok Naipos-pos na boi mangalehon hatorangan satontang tu pangantusion hamalimon. Memang bukan hanya dalam berbagai bentuk interaksi antar orang Kristen dan Malim sering ada tuduhan miring, juga dalam buku-buku para missionaris sering dipandang bahwa agama Malim itu adalah bentuk hasipelebeguon (pagan). Tentu ada motifnya.

    3. Amat menarik Saudaraku Ucok menyebut bahwa kalau mau dapat jabatan yang baik harus beragama Islam. Tetapi perhatikanlah jumlah orang Batak keseluruhan dengan jumlah orang Batak (Kristen) yang menduduki jabatan-jabatan penting di negeri ini. Ucok tak melihat itu secara objektif. Pernah menghitung berapa orang caleg beragama Kristen di Sumut? Bah, unang be jangan. Artinya, dari jumlah gila-gilaan orang Kristen (Batak) yang ingin bertarung untuk kursi legislatif itu secara faktual membuktikan bahwa mereka merasa amat berpeluang dan tak ada kendala. Muslim amat well come saja tampaknya.

    4. Sesekali periksa dulu berapa orang Islam yang boleh menjadi pejabat di Tapanuli Utara,Samosir, Humbanghasundutan dan Tobasamosir dan apa Jabatannya. Ima lae. Jika ada Koramil yang beragama Islam itu bukan tunjukan Bupati, begitu juga Kapolres, dan pimpinan institusi vertikal.

    5. Mauliate gidang Saudaraku Ucok. Horas jala gabe hita sude.

    Like

  5. oh oh umat islam dan kristen,
    gini ya sayangku,

    dalam agama malim, tentang asal mula manusia aja sudah berbeda jauh dengan versi kalian berdua.

    jadi plis deh bah…. urus agama kalian aja dong bah.

    jangan sok tau ya, jangan bikin2 sensasi tak berbobot yang berbau kontroversi tuk menaikkan traffic blog2 kalian.

    kami bukan market tuk kalian jadikan umat untuk memperluas kekuasaan dalam kefanatikan yg aneh.
    Darah kami darah batak, dan itu juga yg menjadi agama kami.

    jadi, stay away from us dong bah.

    i ma jo tu son

    wassalam dan tuhan memberkati.

    baca lagi.🙂

    Like

  6. Ngomong apaan tuh..
    aku gak ngerti…? kaya bahasa babe gue aja
    aku yg ngerti cuman nang hadong hepeng hahaha
    ngawur pulak nih..

    Like

  7. “…..Mohammad Said berpendapat lain.

    Baginya, sama seperti Harry Parkin dalam bukunya The Toba Batak Belief in the high God (?), Malim mempunyai kaitan dengan fenomena keagamaan dalam Islam khususnya di Sumatera Timur….. ”

    alamak… lama2 di demo ormas islam pulaklah ini agama malim, gara2 diFITNAH memodifikasi ajaran islam.
    hehehe

    jadi begini ya, dulu itu kami gak pake2 penamaan agama, nah, datanglah arab2, dibikin2lah ‘tata cara spiritual’ kami dgn nama agama yg bagus menurut mereka (cari muka gitu), biar mereka gampang berdagangnya.
    tapi gara2 arab2nya sering dimakan (katanya di bikin sop) sama orang batak, ya jadinya gitu deh, cuma sebatas penamaan aja.

    hhehehe

    kekgitulah ceritanya.

    Like

  8. bah “TUKANG NGARANG” rupanya…
    pantas lah… nyesal pulak awak ngomentari tukang ngarang…
    hehheheehehehehe

    Ngarang itu multitafsir .. hahahahaha ….😛

    Like

  9. parmalim itu hanyalah istilah keprcayaan orang orang dulu sebelum masuknya agama2 sekarang ini jadi parmalim itu kepercayaan kepada mulajadi nabolon itulah istilah jaman dulu sebelum mengenal agama yang ada sekarang ini, tapi pada dasarnya kepada penguasa alam semesta ini TUhan YME

    Like

  10. Mr.Batak 2 April 2009 3:12 pm menulis:
    parmalim itu hanyalah istilah keprcayaan orang orang dulu sebelum masuknya agama2 sekarang ini jadi parmalim itu kepercayaan kepada mulajadi nabolon itulah istilah jaman dulu sebelum mengenal agama yang ada sekarang ini, tapi pada dasarnya kepada penguasa alam semesta ini TUhan YME.

    Tanggapan saya:
    1. Sebaiknya kangan pakai atau hindari pemakaian ungkapan “hanyalah”, itu menyepelekan sekaligus menggambarkan ketidak-tahuan.

    2. Konsep “mulajadi nabolon”. Saya anjurkan penulisannya begini Mula Jadi Na Bolon. Substansinya mengindikasikan pengakuan atau kepercayaan kepada suatu zdat yang maha tinggi, maha kuasa, yang menjadi asal muasal segala kejadian. Kira-kira begitu terjemahan untuk istilah Batak tersebut. Ini tak identik dengan gagasan teologi trinitas. Tawhid itu.

    3. Seperti kebanyakan pemberi komentar sebelumnya, mungkin saja Mr Batak diliput oleh main set yang umum di Indonesia bahwa ada dua agama: agama resmi dan tak resmi sesuai dengan pengakuan perundang-undangan yang akhirnya melahirkan elemen-elemen perlakuan poliik, sosial dan lain sebagainya yang berujung diskriminasi.

    Terumakasih untuk topik penting ini.

    Like

  11. Pak Ketua tanggal 29 Maret 2009 10:25 pm menulis tanggapan:

    “….alamak… lama2 di demo ormas islam pulaklah ini agama malim, gara2 diFITNAH memodifikasi ajaran islam.hehehe. jadi begini ya, dulu itu kami gak pake2 penamaan agama, nah, datanglah arab2, dibikin2lah ‘tata cara spiritual’ kami dgn nama agama yg bagus menurut mereka (cari muka gitu), biar mereka gampang berdagangnya. tapi gara2 arab2nya sering dimakan (katanya di bikin sop) sama orang batak, ya jadinya gitu deh, cuma sebatas penamaan aja.hhehehe. kekgitulah ceritanya.”

    Tanggapan saya:
    1. Harry Parkin itu seorang missionaris yang pernah mengajar di Sekolah Tinggi Tehologia Pematangsiantar. Dia begitu berbeda dengan para missionaris dan para pendeta protestan lain. Secara kebetulan pendapatnya tentang Malim sama dengan H.Mohammad Said. Saya kira itu semacam hasil dari objektivitas cara berfikir ilmiah yang memang bersifat universal. Sayangnya tidak ada kebesaran jiwa bagi sebagian orang.

    2. Mr Ketua, mohon pantangkan saja mengajukan reaksi tak sehat hingga terkesan amat emosional dan komentarnya pun jadi tak sehat pula.(ingot hamu ma poda hamalimon i. Agama sebagai sebuah istilah bukan dari Arab, itu masukan dari Sangskerta. Orang Arab menyebut Agama itu dengan sebutan “Dien”. Bisa saja ada penganut Malim yang hanya mengikuti saja tanpa tahu apa-apa tentang Malim itu, apalagi soal sejarahnya. Ini memang bagian tugas bagi para ilmuan. Wajar ada reaksi yang kurang menggembirakan setelah orang lain menunjukkan fakta sejarah.

    3. Orang Arab dalam kehadirannya di tanah Batak amat sangat berbeda dengan kedatangan orang Eropa. Orang Arab berbisnis sambil berdakwah. Orang Eropa malah menyiapkan dana besar untuk memasuki lahan-lahan penggembalaan seperti apa yang dilakukan oleh RMG di Jerman. Nah, di lapangan kedua jenis orang eropa ini (Belanda yang penjajah dan RMG yang “menggembala” tak ayal lagi sering berkolaborasi. Bagi pandangan Eropa yang Belanda yang menjajah akan lebih mudah menguasasi daerah taklukan baru jika penggembalaam sudah dijalankan. Pahit memang kenyataan ini, tetapi kapan kita bisa tegar menatap masa depan kalau tidak pernah belajar kepada sejarah? Di Tapanuli, sama seperti di Aceh, Belanda sama sekali tidak pernah memerintah secara normal keucali sekadar menduduki. Perang melawan pendudukan Belanda penjajah selama 30 tahunan tidak mungkin berlangsung tanpa suatu resep jitu. Tentu resep itu berbeda dengan apa yang ingin difahamkan oleh orang-orang tertentu di Tanah Batak.

    4. Dalam sejarah Batak hanya missionarislah yang tercatat pernah dibunuh (Lyman dan Munson, anda tahu itu kuan?. Arab-arab itu berbaur dengan damai. Jadi, komentar Mr Ketua “tapi gara2 arab2nya sering dimakan (katanya di bikin sop) sama orang batak,…” itu tak didukung fakta.

    5. Komentar ini “alamak… lama2 di demo ormas islam pulaklah ini agama malim, gara2 diFITNAH memodifikasi ajaran islam.hehehe” sesungguhnya tak perlu hadir, apalagi setelah lebih kritis terhadap apa yang menjadi latar belakang dalam setiap kasus kemarahan” kelompok-kelompok tertentu dalam Islam. Contoh, tahun 1954 Saksi Yahowa dan Ahmadiyah itu memang sudah dinyatakan oleh Jaksa Agung RI sebagai sebuah penyimpangan yang oleh itu perlu dibina bahkan jika tidak bisa diluruskan sebaiknya dilarang. Larangan seperti itu pasti mudah muncul dalam agama apa pun termasuk Malim jika ada sekelompok orang yang mengajarkan penyimpangan dalam agama itu. Agama Malim tentu akan menggunakan sumber rujukan paling tinggi jika menghadapi adanya fenomena penyimpangan di dalamnya. Begitulah. Malim ma hita manghatai.

    Like

  12. Aku lahir di Salah satu desa di Sianjur Mula Mula Kab Samosir, Parmalin atau Kristen,Islam anda itu Intelektual tapi tidak berjiwa besar ,dekatkan dirimu ketuhanmu biar umatnya memilih yang terbaik,Urusan agama adalah pribadi ke ilahi,

    Like

  13. coy… saya org siantar asli, siapa Harry Parkin pengajar di Sekolah Tinggi Tehologia Pematangsiantar yg penjelasanya sama dengan H.Mohammad Said ??? tolong diperjelas sejelas-jelasnya…biar saya gali informasinya dengan sangat amat teliti apakah sumber anda jelas dan dapat dipercaya,,kebetulan rumah saya di kawasan Sekolah Tinggi Tehologia.

    kami org batak amat paham teradisi kami,,karna kami lahir dan dibentuk oleh tradisi kami(batak),,kami pelaku karna kami yg mengamalkan trasisi batak bukan narasumber seperti kutipan anda yakni “H.Mohammad Said” entah sipa dan dari negara mana ??

    konseb BABi sdah jelas menjelaska semua ini ,,,coba anda jelaskan BABI-BATAK-ujung2nya singamangaraja jadi islam ???

    bagi batak asli,,bukan batak dalle(asl batak)babi adalah keharusan dalam setiap upacar….yg terahir kita bicara batak secara umum bukan batak di wilayah sumatra timur aja……wajar kalw batak di sumatra timur ad yg beragama muslim karna mereka terkonta minasi dengan batas wilayah ACEH(musli)…jd jangan anda jadikan hanya batak di sumatra timur menjadi patokan. karna pusatnya di samosir sekitar.

    tolong sumber2 anda diperjelas biar kami kaji lebih jauh,,,,,

    Like

  14. Baca lagi tulisannya baik-baik dan cermat-cermat. Kalau masih belum mengerti juga, belajar lagi lebih lama. Perbaiki kosakata Anda dan tatabahasa Anda, karena itu menunjukkan kadar intelektual dan akhlak Anda, sehingga apa yang Anda katakan bisa dimengerti. Kalau sudah mampu melakukan itu, maka ajukan kepada siapa pertanyaan Anda, barulah melakukan pengkajian. Itu perintah saya.

    Like

  15. Saudaraku…sumatera utara daerah barus merupakan daerah tua…yg sudah ada dlm hikayat nabi sulaiman maupun cerita timur tengah,,mari kita dudukan konsep ajaran parmalim itu,,menurut sbgian info ajaran parmalim itu percaya pada satu tuhan,,,terlebih dr cap stempel kerajaan sisingamangaraja..ada andaian saya…islam masuk di sumatera utara..terlebih dahulu dr pantai barat dan timur,,,kata teman saya,,,ada kubur tua muslim di pantai barat…untuk kasus,,perang paderi itu saya rasa masih prematur(1830–an/baru…perang paderi penyebabnya utk pemurnian ajaran islam bukan memaksa org masuk islam,,utk wilayah selatan…tapanauli islam masih bertahan hgga kini karena masyarkt selatan ajaran islam sudah kuat..wlu masih mgunakn marga..biasanya smakin kuat seorg muslim megang agama maka gelar adat,,suku mereka akan hilang,,,ini terbukti pada ipar saya yg marga nasution dan teman saya marga harahap,karena mereka cenderung lebih menyebut mereka melayu,,,coba kita lihat siapa pendiri kota medan…guru patimpus..dan silsilah sisingamaharaja(bhs melayu,,,si singamaharaja=raja tertinggi dan kuat seperti singa.utk wilYh utara kita bisa maklum islam masuk blm sempurna bisa mereka maaf…tdk tau tulis baca…semurni apapun…ajaran islam..klo umatnya tk tau mmbaca..maka lambat laun islam akan terkikis…itu sudah di firman kan allah.swt maka jika teerlalu jauh menyimpang alangkah baiknya kembali berpegang teguh ke tali allah..swt.analisa kedua,,,interaksi masykt tertua(barus)..suadah ada zaman pra sejarah kita…ini bisa kita pahami bisa saja dri konsep paham monotesime nabi musa atau malah sebelumnya ibrahim…karena kita ketahui kapur barus adalah balsem firaun.antara konsep ketuhanan musa dg muhammad amat dekat percaya pada satu tuhan…beda sama konsep maaf..trinitas..padahal urutan kenabian itu ibrahim(monoteisme)…musa(monoteisme..di khitan) ….isa(maaf,,di konsep islam jg monoteisme,,namun karena terjadi erosi,,,jg dianggap monoteisme tapi sudah terkontaminasi konsep trinitas yunani..romawi pra kristen) namun islam kembali ke konsep monoteisme,,,jg berkhitan(sunat),,,dan tuhan menjanjikan al-quran masih di hapal oleh umatnya sampai hari kiamat.ehmmm terlalu jauh,,,ok.kita kembali ke konsep tadi.analisa saya selanjutnya,,,adalah,,,bhw konsep bahwa parmalim itu adalah dr ajaran muslim,,,parmalim…dalam bahasa melayu(induk) adalah para mualim…(skrgpun..kata mualim ini dipelest jd seorang nakhoda kapal laut…krn dulunya…nakhoda kapal adalah para mualim=para ulama)…di dekat tempat istri saya ada beberapa tempat(pasir pengaraian rokan hulu)…ada daerah namanya bukit si kapir…kisah bukti sikapir jauh sebelum perang paderi ada krn tanah rokan…islam suadah lama bertapak..daerah itu..merupakan daerah kebanyak org yg bermarga lubis…jg ada temuan tapak cap…meneurt msrykt itu telapak kaki sisingamangaraja…dan ada jg..org humbang hasundutan beserta rumahnya di daerah rambah samo yg mana sgt terkenal masrykt tarekat naksabandiyahnya……apakah mereka berpernag dulu bersama si maharaja…dan kalah..melarikan diri ke kerajaan rokan?masih perlu peniltian…kebanyakan org melayu rokan kanan,,,bermarga lubis,,,nasution dan ada jg bermarga lain tp mereka kebanyakan jarang menggunakan marganya krn kembali kekonsep islam…yg corongnya ke melayu(islam)..dan menerut sebagian para ahli..danau toba itu jg berbahasa arab..yg artinya cantik.Teman saya bernarga lubis pernah bilang ke saya bahwa marga lubislah yg pertama kali maaf …moga tk tersinggung ….dikristenkan,,namun gagal..setelah ada sebagian masrakat.terkena dan tertipu terutama masyakt yg blm tau tulis baca, masih berpaham animis yg bercampur islam,,,belum kuat akidah,,miskin,,dn belom banyak tau tulis baca terkena dampak.teman saya bilang mereka dikasi uang hgga sampai ke gereja(mohon utk tdk tersiggung..saya tk ada niat utk menghina)dan ini di buktikan adanya daerah bernama natal di tapanuli selatan kan? dan kita sampai kini tk tau dimana kubur sisingamangaraja…..mari kita dudukan bersama…saya..org melayu riau berketuruna bugis,,,dr ibu,,saya jg meniliti konsep satu tuhan di tanah sulawesi…mari kita bersama-sama..utk tdk saling emosi…mari kita pelajari bersama

    betul betul. gak usah emosi.

    Like

  16. JANGAN ASAL BERCERITA TENTANG SISINGAMANGARAJA KALO GA ADA BUKTI OTENTIK YANG MENUNJANG DARI OPINI YANG DIATAS!!! HANYA ORANG SUKU BATAK ASLI PEDALAMAN SANA YANG MENGETAHUI SEJARAH SISINGAMANGARAJA I – XII!!!

    Like

  17. Horas!
    Topik yang bagus dan menarik. Saya baru bisa mampir dan memang topik seperti ini lama saya cari. Mauliate.
    Ada hal krusial yang harus kita cermati dalam topik ini, diantaranya tentang ‘Malim’ dan ‘Agama’. Kedua hal ini sangat berbeda, baik dari bahasa apalagi artinya. Tidak bisa dipungkiri hal tersebut sangat erat hubungannya dengan SEJARAH. Tapi coba sejenak kita letakkan persoalan sejarah ini karena belum ada yang memaparkan KEABSAHAN SEJARAH BATAK kepada kita hingga hari ini.
    Saya tertarik dengan uraian Sdr.djihin yang agaknya ‘mendekati’ keberadaan yang detail tentang saudara yang Par-Malim ini.
    BTW….
    Saya berpendapat agar kita menggunakan salah satu prinsip penelusuran sejarah, yaitu Prinsip: “The Present is The Key to The Past”.
    Fakta saat ini (Orang Batak dan atau di Tanah Batak:
    1. Adanya Par-Malim (orang yang mengikuti ‘ajaran’ Malim
    2. Adanya orang ber-Agama Kristen
    3. Adanya orang ber-Agama Islam
    4. Adanya “klaim” bahwa Malim adalah Islam yang dianut/diikuti oleh Sisingamangaraja.

    Saya fokus ke Malim.
    Secara singkat, Malim itu sudah ada sebelum Agama Kristen dan Agama Islam masuk ke Tanah Batak.

    Malim bukan agama. Malim (arti kata yang sampai saat ini ditemukan dan dipekenalkan) berasal dari kata Mu (=manusia) + ‘allim (=sistem yang murni, suci, bersih atau tunduk patuh, fitrah). Dengan terjemahan bebas bisa diartikan bahwa Mu’alim adalah orang yang mengikuti sistem murni/fitrah. Jika demikian bisa juga Malim itu suatu faham atau ajaran yang berasal dari Sang Pencipta. Ajaran/Faham itu diikuti oleh orang Batak terdahulu dan dilanjutkan oleh Keturunan Batak yang konsist dengan ajaran itu.

    Agama itu usaha manusia untuk mencapai atau memahami ‘suatu kekuatan di luar diri manusia’ yg bisa disebut Tuhan, Ilah, Dewa, dan lain-lain yang setingkat dengan itu.

    Dengan kata lain Malim bukan usaha manusia tetapi Agama adalah usaha manusia.

    Kristen adalah orang yang mengikut Kristus. Sebutan Kristen diperkenalkan oleh Saulus (~Paulus setelah ia bertobat-katanya) sewaktu ia memburu dan membunuh orang yang mengikuti ajaran yang ‘dibawa’ Yesus Kristus. Yesus Kristus membawa ajaran Tauhid, mengenal Allah yang satu, yaitu Allah nenek moyangnya Abraham, Musa, Yakub, Daud, Salomo… Allah yang satu yang disebut YHWH.

    Akan halnya ISLAM yang ‘dibawa’ Muhammad Rasullah, dalam Al Qur’an disebutkan degan jelas bahwa Islam BUKAN Agama tetapi DIEN. Dien adalah SISTEM. QS Al Maidah (5):3, QS 42:13, dll. Dien Islam adalah Sistem Islam atau Aturan Islam atau Hukum Islam yang diberikan oleh Sang Pencipta (= Alloh) kepada manusia untuk diikuti dan diimplementasikan dalam hidupnya. Islam artinya tunduk patuh pada Sistem Alloh, Alloh yang satu yang disebut AL ILAH (ALLOH).

    Jika ada kata saya yang kurang berkenaan mohon maaf.
    Kebenaran adalah Firman Allah (Yohanes 17:17). Yang Haq (Kebenaran) adalah milik Alloh maka janganlah kamu termasuk orang yang ragu (Al Baqarah (2): 147).

    Lalu ajaran yang manakah yang diikuti oleh SISINGAMANGARAJA XII? Hal ini bisa dan pasti dapat diketahui dari peninggalan Beliau.

    Saya akan tertarik menelusuri SEGALA peninggalan beliau yang murni. Dan sampai saat ini belum ‘terekspose’ luas ke dunia luar termasuk saya sendiri belum menemukannya.
    If You have found it, please…sian ias ni roha lehon hamu tu hami, da?!
    Mauliate godang.

    Horas.

    Like

  18. horas….sy baca semua komen saudara…..gimana bangsa indonesia mau maju kalau agama aja diperdebatkan tdk akan ada ujungnya.ingat saudara ,kita lahir di indonesia.dan indonesia itu terdiri dari bermacam2 suku,agama,adat istiadat.kenapa hrs di perdebatkan,yang penting kita sebagai generasi muda harus mengingat jasa2 para pahlawan kita(sisingamaraja apapun agamanya atau asalnya),kembali lagi kehati kita sudah benarkah kita dalam menjalankan ajaran agama kita,saya kira semua agama di dunia ini tidak ada yang mengajarkan keburukan……mari kita renungkan.

    silahkan merenung …😀

    Like

  19. kirain korbannya cuma suku jawa doank, ternyata suku batak juga kena distorsi sejarah, sekarang dicek aja dengan tradisi tulis dan lisan mereka dan segala bauran aspek kehidupan suku tersebut, kita jawa aja banyak literatur yg ‘dibajak’ ama voc dan neo 3g, huehehehehe, kayaknya saya lebih condong, si singamangaraja adalah MUSLIM. horas BAH, eits Assalamualaikum wr. wb.

    Like

  20. bagaimana kalo kita konfirmasi ke nenek moyang muhammad ali atau malcom x, kasusnya kan mirip, orang2 afrika yg sejarahnya terdistorsi, moga2 aja kita semua ga dijadikan kepala suku pigmi yg dipajang di kebun binatang di eropa, karena langka dan aneh, huehehehehe

    😉

    Like

  21. baonk..
    Sisingamangaraja itu islam, ato tidak hanya dia yang tau. tapi dia akan jadi pahlawan batak. tapi kalau kalian baca sejarah kalau dia memang islam kenapa istana kakeknya dulu di musnahkan oleh pasukan imambonjol. dan meninggalkan banyak korban.

    karena sudah baca sejarah la ini makanya ditulis.😛

    Like

  22. Horas kepada semuanya bangsa Batak
    jgn terpancing dgn opini yg tidak jelas dan mengadu domba,
    biarkan mereka bicara apa saja krn mereka adalah banci, dan biarkan opung Raja bangsa batak yang akan menghukum mereka, semua dgn permasalahan yang dihadapi sekarang ini, supaya mereka sadar dgn apa yang mereka lakukan dan ucapkan.
    kepada semua bangsa Batak jgn terpengaruh tetap berdoa Pada Tuhan
    horas…………..

    loh yg nulis ini orang batak juga hahaha

    Like

  23. hahahahaha….setiap orang bisa bicara…..karena tidak ada data yang pasti….mungkin lebih pas demikian. walaupun dia akrab dengan pemeluk agama islam pada masa itu, dia tidak pernah beralih menjadi pemeluk agama islam.dia tetap memeluk agama parmalim.OK

    Like

  24. dunia ini tertawa melihat orang yang menulis blog ini.
    dia berbicara seolah olah orang batak dan mengerti tentang orang batak,
    orang batak aja banyak yang gak tau tentang adat istiadat nya,
    kalau masalah agama sisingamaharaja XII yang kita bicarakan,itu ngampang aja,datang aja saudara ke bakara (rumahnya sisingamaharaja ) gak usah ke rumah dosen..
    datang aja kesana,kalau sisingamahara itu islam pasti ada kebudayaan islam yang tersisa,seprti masjid dll.
    makanya kawan gak usah banyak bicara kw,kalau gak ada bukti yang kongkrit gak usah di publish,bisa tersinggung nanti keluarganya.

    mulut mu harimau mu

    ingat itu.

    dosen saya itu mah sampe berbulan-bulan penelitian di sana.😛 … semua harus dibicarakan, kalau ada yg terganggu, yah, sabar-sabar aja ya.😀

    Like

  25. Malim adalah sifat yang berarti alim {kalam/ Tenang) Parmalim Berarti golongan pengikut ajaran tentang sifat sifat yang alim (kalam /Tenang) menurut hemat saya bukan lah agama tetapi adalah ajaran yang hakiki bermuara langsung ke Sang Khalik. mari kita coba teliti Doa Doa yang Parmalim Panjatkan. aku lebih setuju kalo Parmalim Itu adalah sebagian dari Hindu atau Budha. Lihat cara duduk nya dan cara berdoanya. Didalam doa mereka selalu diakhiri Mauliate 3 X (Terimakasih 3 X)

    hehehe … pendapat baru juga tu.😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s