Menghitung Warisan di Museum Negeri Sumut


Anak-anak itu tingginya masih sepinggang orang dewasa. Mereka, siswa Madrasah Ibtadaiyah (MI) –setingkat Sekolah Dasar (SD)- Al-Fachran, bergelontoran di lantai keramik Museum Negeri Sumatra Utara (Sumut) di jalan HM Joni Medan. Mereka cekikan melihat manusia purbakala Phitecentropus Erectus yang tinggi dan berdada bidang itu. Wajahnya tak mirip dengan mereka.

museum negeri sumutMereka sibuk mencatat, sesekali menatap wajah purba yang mirip kera itu, setelah itu mereka tergelak lagi bersama-sama. “Manusianya ‘kok mirip monyet ya,” kata mereka. Kawan-kawannya yang lain menimpali sambil terkekeh. Suasana jadi riuh. Tiba-tiba mereka sibuk mencatat kembali; salah seorang guru memalingkan wajahnya ke arah mereka.

Gigi saya tersembul melihat itu. Dengan sedikit jingkat, saya sudah di belakang seorang di antara mereka. Saya intip lembar catatan anak itu. Dia menulis, judulnya; sejarah manusia purba. Dia berbalik dan cengegesan, kemudian berlari ke tempat ibu gurunya berdiri. “Ayo, keterangannya dicatat, jangan cuma ketawa. Nanti ibu tanya di sekolah,” kata guru mereka.

Setelah itu mereka berkeliling secara berkelompok. Desain gedung yang mirip huruf “U” itu memang memudahkan para pengunjung untuk melongok satu persatu koleksi museum.

Museum dibagi atas dua kategori, yaitu koleksi untuk pameran tetap dan temporer. Di lantai satu, tepat di depan pintu masuk, ada ruangan panjang yang diberi kursi pengunjung. Di depannya itu ada sebuah display besar. Waktu saya ke sana, layar display sedang dimatikan. Layar itu punya fungsi untuk  menginformasikan soal isi seluruh museum dan sejarah Sumut, baik dari bidang arkeologi, budaya hingga perjuangan kemerdekaan.

Di kirinya, nah… di situlah terpajang gambar-gambar dan replika manusia purbakala itu, plus gugusan planet-planet. Di sana juga ada ornamen-ornamen suku bangsa dan budaya yang ada di Sumut seperti suku Melayu, Batak Toba, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing, Phak-pak dan Nias. Ada juga fosil dan serta benda-benda pra sejarah yang kebanyakan dibuat dari batu dan kayu. Rumah tradisional juga ada. Ruangan itu bernama ruangan lobi utama.

Di sebelah barat, masih di lantai satu, museum memamerkan koleksi jenis-jenis kayu dan hewan. Di sana ada sebuah tengkorak besar yang rupanya tulang-belulang seekor gajah. Ada juga patung Hindu Buddha yang terbuat dari perunggu dan batu yang ditemukan arkeolog di situs Kota Cina, Labuhan, Medan dan areal candi Padang Lawas, Tapanuli Selatan. Di ujung sana ada anak-anak SD yang sedang melihat mata uang –istilah kerennya numismatik– kuno, naskah-naskah kuno seperti Pustaha Lak-lak dan beberapa ritus budaya suku bangsa daerah lainnya.

Naik ke lantai II di bagian Barat, pengunjung bisa melihat koleksi benda etnografi berupa peralatan rumah tangga tradisional, senjata dan alat perdagangan purba. Pokoknya, pernak-pernik kehidupan orang zaman dulu. Di seksi ini juga khusus disajikan koleksi budaya dari Thailand.

Menyeberang ke bagian Timur, ditampilkan berbagai koleksi hasil kerajinan seperti tembikar, anyaman dan tenunan. Di sana juga ada alat musik tradisional seperti Gundala-gundala (Karo) dan Hoda-hoda (Simalungun), Sigale-gale sampai Gondang Sembilan.

Masih di lantai satu, pengelola museum juga memajang koleksi foto dan informasi pada perang kemerdekaan RI, khususnya di Sumut. Foto-foto nama pejuang yang biasanya lebih akrab diingat melalui nama jalan, terpampang di sana. Mulai dari foto Jamin Ginting, Tengku Muhammad Hasan (gubernur Sumut pertama), AS Rangkuti (mantan Walikota Medan) sedang berpakaian militer dan seterusnya.

Bagi yang ingin tahu sejarah pers dan media massa di Sumut juga ada. Di sana ada foto repro dari Soeloeh Merdeka, surat kabar Sumut pertama sejak proklamasi Kemerdekaan, yang diprakarsai oleh Arif Lubis. Kemudian juga ada Pewarta Deli yang dibikin oleh Mohammad Said (pendiri Harian Waspada), Mahmud Nasution, Amarullaj Lubis dan kawan-kawannya. Juga terlihat sebuah koran bikinan orang Tionghoa yang turut memberitakan perjuangan kemerdekaan RI, Harian Rakyat, yang dipunyai oleh Wang Yen Si.

Informasi soal radio perdana di wilayah Sumut ini juga bisa dibaca di sana. Di wallpaper museum dikisahkan, NIP Xarim membeli pemancar pertama berkekuatan 350 kwh dari Singapura. Dia dibantu oleh Kepala Penerangan Resimen V Divisi X dan seorang pegawai PTT berkebangsaan Jerman. Nama radionya keren, Radio Rimba Raya dan mulai mengudara pertama kali pada 1947. Nama-nama lain yang disebutkan di antaranya Kolonel Husin Yusuf, Letnan Abdurahman TWH, dan Wahid Lubis.

Radio ini cukup hebat dalam berkomunikasi karena menyampaikan informasi dalam enam bahasa, yaitu bahasa Indonesia, Inggris, Arab, Cina, Urdu dan Belanda. Radio perjuangan ini selalu dipancarluaskan oleh All India Radio dan Australian Broadcasting.

Mengunjungi museum negeri Sumut ibarat menerawang seluruh Sumut sekali lintas ruang dan waktu. Habis itu, nikmati juga es kelapa muda dan jajanan lainnya, yang sudah menggoda di luar areal parkir. Kayak anak-anak SD itu. (*)

11 thoughts on “Menghitung Warisan di Museum Negeri Sumut

  1. Bang aku nggak usah dianterin aku udah tau kok ?
    hihihii

    tulkiyem orang malang? ati-ati, radarku bisa sampe malang lo …😀

    Like

  2. Lo.. gimana abang Nirwan ini ..?!!
    ya sementara ini masih dimalang , sebentar lagi klo dah lulus pasti bang Nirwan pasti kaget…….!
    aku pulang kampung….awas ya..klo ketemu langsung aku cubiiiiiiiiiiiiiiiiit sampe lecet biar kapok..
    hihihihi

    jadi tambah penasaran ajah sm ne orang… iyem siapa sih? pembantuku gak ada yg namanya tulkiyem…

    Like

  3. @ Nirwan
    Awas..! kalau sudah lihat yg namanya Tulkiyem jangan lupa istri lo ? bisa gawat nih…!

    wadoh hahahahahah😛 bicara istri pulak, hahahaha

    Like

  4. kira2 rame ya ngga bang pengunjung museum kita sekarang?
    sama kurasa dengan sepinya rumah ibadah…:D

    rame kali! banyak semut, rayap, kecoa, tikos , pokoknya banyaklah , tp mereka gk mau diwawancarai …😀

    Like

  5. bang
    bleh ga minta data semua koleksi di museum sumatera utara
    kemarin….
    waktu kesana…
    cepat bgt tutupnya

    agak susah. aq agk pelupa orangnya. data tertulisnya entah kusimpan di mana…😀 dateng ke sana agak pagian aja.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s