Dedd, y, mi, z, war


dedi-mizwarSebelum menulis ini, di benak saya melintas-lintas satu kata: hak. Tapi kemudian, si “hak” ini seperti emoh untuk dituliskan. Seolah-olah dia bergumam kepada saya begini. “Bung, jangan sematkan saya pada sosok Deddy Mizwar. Ini lebih dari itu. Gara-gara Bung, saya nanti tak sanggup lagi bercengkrama dengan kata-kata yang lain. Ini bukan sekedar hak, Bung. Ingat itu!” gumam si “Hak”.

Saya bingung. Kalau lebih dari itu, lalu apa? Apa ada yang lebih tinggi dari hak? Setahu saya, ya, orang-orang sering mengaitkan “hak” itu pada sesuatu yang “tinggi”, seperti sepatu hak tinggi. Ah, makin ngelantur-lah saya. Karena saya gak mau ngelantur sendirian, ya, saya ajaklah rekan-rekan sekalian untuk ngelantur bersama saya. Tenang, Anda masih bisa mengelak ‘kok. Saya kasih tau caranya; jangan baca lagi setelah kalimat ini diakhiri dengan tanda titik.

Deddy Mizwar bukan selebriti, dia artis. Ada keanehan kala orang memandang artis ini. Dari asal katanya saja, sesungguhnya berat menyandang kata itu. “Art” berarti seni. Jadi, artis dalam pengertian yang sempit, ya, seniman. Agak aneh memang. Orang sekarang ternyata membeda-bedakan makna “artis” dan “seniman”. Orang lebih memilih “artis”, yang (memang) berkesan lebih keren dan modern.

Tapi yang lebih patennya, “artis” itu lebih berarti ekonomis. Penghasilan orang yang berprofesi “artis”, entah mengapa jauh lebih tinggi dari “seniman”. Dari sisi ini, kalau kita latah, bahasa Indonesia itu rupa-rupanya berdampak juga pada kemiskinan. Semakin sering Anda memakai bahasa Indonesia, sebagai turun pula harga pasar Anda. Semakin banyak kosakata bahasa Inggris Anda ketika berujar, maka semakin “high” pula “profit” Anda. Semakin banyak semakin intelek, semakin intelek semakin banyak Anda didengar orang, semakin banyak didengar orang semakin tinggi popularitas Anda, semakin tinggi popularitas tentulah akan semakin menjulang daya tawar Anda. Nah, kalau daya tawar sudah menjulang, tak heranlah rumah Anda bisa makin bertingkat. Semakin bertingkat rumah Anda, makin kuat pula status sosial Anda. Kalau status sosial makin tinggi, tentulah, Anda mulai bisa mencoba-coba untuk menjadi kepala lingkungan atau ketua RT.

Saya juga terpengaruh hal itu. Kalau disuruh pilih, apakah Dedi Mizwar itu artis atau seniman, saya akan lebih memilih “seniman”. Tak ngerti saya, kok, bisa-bisanya di kepala saya ini, berputar-putar pemikiran kalau “seniman” jauh lebih greget daripada “artis”. Seniman itu lebih mendalam, atau meminjam kalimat orang kampus: lebih substantif. Dia tak sekedar berpikiran ekonomis, tapi lebih bermakna kultural sosiologis. Dia bisa mempengaruhi, tidak hanya sekedar melempar wacana, tapi jauh menelusup hingga ke “backmind” orang-orang. Pengaruhnya lebih terasa.

Dia bermain-main di ranah hati, suatu tempat di mana setiap orang bebas dan tak perlu malu untuk merintih, mengeluh, tertawa, sedih, atau bentuk-bentuk emosi yang lain. Hati tak bersifat “sosial”, yang bisa ditengok-tengok oleh orang lain. Kayak puasa, hanya Tuhan dan kita saja yang tahu. Kalau tiba-tiba mulut kita bau, toh, orang masih hanya bisa menduga-duga, “Ini bau karena puasa, karena jarang sikat gigi, atau malah habis makan jengkol, ya?”

“Loh, kalau ada 40 juta lebih orang miskin di Indonesia ini, apakah itu tidak gagal namanya?” sentak Deddy Mizwar. Jawaban Dedi dalam suatu wawancara itu, langsung menumbuk otak saya yang sedang meloncat ke mana-mana. Termasuk juga kalimat yang ini, “Mengapa tak Mayjen Saurip Kadi saja yang jadi presidennya?”

Tapi kali ini saya ‘gak mau dihardik sama pikiran saya. Sekali-sekali, biarkan saya berjingkrak-jingkrak, biarkan saya tak pake logika, biarkanlah saya bermain-main. Wahai kertas-kertas, pulpen, outline, corat-coret, mampuslah kalian sana!

Jenderal Deddy, saya berharap banyak pada Anda agar bisa menerangkan kepada orang Indonesia yang tolol-tolol ini, siapa Anda. Bulan Ramadhan kemarin, Anda sudah menampar-nampar orang yang berpuasa dengan kalimat “Para Pencari Tuhan”. Dua tahun berturut-turut pula. Yang Anda bilang itu benar, Jenderal Dedi. Orang Islam kok malah nyari Tuhan? Orang Islam kok malah nyari kedamaian lewat Anand Krishna? Aqidah kita sudah hancur berantakan. Saya setuju, dua ribu sembilan persen saya setuju!

Ya wes… inilah dia.

Dedd….. (baca death)

y … (baca why)

Mi … (baca me)

Z … (baca jet)

War… (bawa perang)

Salam untuk Anda. (*)

8 thoughts on “Dedd, y, mi, z, war

  1. yah bagus juga untuk sebuah pembelajaran bagi pencerahan para elit politik yang sudah semau gue dan kayanya dia aja yang paling pintar…

    sip kang … nanti kan, kita-kita orang bawah ini juga yang disuruh pilih … emang orang tu aja yang bisa semau gue … hahahaha😀

    Like

  2. Setelah sukses pemilihan kades mungkin ada Rencana mencalonkan jadi CAPRES
    (capres bungursai) Huaahahahahaaa

    Like

  3. salam kenal mas dari saya jangan lupa kunjungi blog saya ya barangkali ada yang seharusnya tidak di terbitkan…

    🙂 salam kenal juga… ok, langsung berangkat…😀

    Like

  4. hihihii.. om, keknya kalo yg dibahas non-PKS, blognya jadi adem ayem yagh..🙂
    eniwei, Deddy Mizwar pasangannya sapa ya? kok ndak terkenal.. di Facebook ada jg tuh yg agak rada kepedean, namanya Inang Basri.. tp kok ak ndak pernah dengar namanya.. apa ak yg ndak baca koran/ gmn.. hihihihiii..

    hihihihihi… masa’ sih😀 yah dedi mizwar maennya sm jenderal jg, scr politik gk menguntungkan. tp si jenderal wakilnya itu benar-benar cerdas. ato awak ajalah jd wakilnya.😛

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s