The Real Politics: Golkar vs PAN


“ … Partai lain tak menakutkan bagi Golkar. Pakem tritomi ideologi: nasionalis, kekaryaaan, dan Islam, telah menjamin itu semua. Partai-partai Islam akan berkelahi di ladang sempit. Di ideologi nasionalis, siapa yang bisa menandingi PDIP? Nah, siapa pula yang bisa menggeser Golkar dari ideologi yang nyata-nyata berdasar dari namanya sendiri, kekaryaan? …. “

tikus

Kepada orang-orang Golongan Karya (Golkar) dan Partai Amanah Nasional (PAN), saya sodorkan tesis itu. Mereka tertawa, tak percaya. “Benarkah demikian? Golkar jauh, PAN kelas menengah,” kata mereka. Tak apa-apa, saya bilang. Politik memang sulit dimengerti, bahkan oleh mereka-mereka yang setiap hari berkecimpung di dunia politik sekalipun.

Saya tekankan pada mereka –mereka pun mengumpat saya telah gila-, that’s my hypothesis; pertarungan sesungguhnya ada di Golkar dan PAN. PDI Perjuangan (PDIP)? Mohon maaf, mereka partai besar, tapi untuk permainan, mereka harus belajar dari Golkar. Mereka punya warna? Jelas.

Di postingan-postingan saya sebelumnya, saya sudah menulis, kalau pemain sebenar-benarnya dari politik di Indonesia hanya ada dua yaitu Golkar dan Militer. Hingga kini, saya masih bertahan di hipotesis itu. Tapi sekarang, saya harus menambahkan satu variabel lagi, yaitu PAN.

Kinerja politik tidak selalu diartikan pada besar atau tidaknya suara di parlemen, atau malah siapa yang duduk di kursi kekuasaan. Dua-duanya itu memang indikator, tapi tidak selalu.

PDIP di 1999 menjadi partai pemenang pemilu, tapi ternyata gagal ketika menjadi Presiden. Padahal, pemilihan Presiden 1999 masih lagi dilakukan oleh MPR. Apapun alasannya, sebagai partai mayoritas, PDIP seharusnya duduk di sana, sebagai Presiden. Tapi ternyata tidak. Mereka tidak menjadi Presiden, dan tidak juga menjadi Ketua MPR dan tidak juga di DPR. Siapa yang ada di sana? Presiden Abdurrahman Wahid (PKB), Ketua MPR Amien Rais (PAN), Ketua DPR Akbar Tanjung (Golkar). PDIP cuma kebagian kursi nomor dua, Wakil Presiden (Megawati) dan beberapa kursi kabinet. Di kabinet, jangan sangka mereka menjadi mayoritas, karena ternyata, yang duduk di sana justru adalah pembagian kekuasaan menurut partai-partai. Artinya, PDIP sebagai partai pemenang pemilu, tidak bisa berbuat banyak.

Ketika Megawati naik menjadi Presiden, konstelasi kekuasaan berubah. Mega dengan segala daya upayanya membentengi kabinet hingga militer untuk menuju Pemilu 2004. Namun, dia gagal dua kali. Gagal menjadi Presiden 2004, dan gagal menjadi pemenang pemilu 2004. Pemenangnya adalah Golkar. Beralihnya PDIP menjadi pihak oposisi pemerintah, serta-merta mencerabut tangan-tangan mereka di kekuasaan formal (kabinet pemerintahan). Di parlemen, partai terbesar kedua ini, lagi-lagi harus menerima pil pahit. Kekalahan mereka yang paling telak adalah lolosnya RUU Pornografi dan Pornoaksi menjadi UU.

So, asumsi ini melandaskan pada konsepsi “permainan politik”, bukan statistika politik.

Saya kira, perhatian kita bukan ke Golkar-nya, karena -entah mengapa- tidak ada satu tesis pun di Indonesia ini yang mengatakan bahwa Partai Golkar adalah partai kecil. Jadi, kita anggap saja dulu kalau itu benar. Masalahnya, mengapa harus PAN?

* * *

Tidak ada penjelasan soal ini kalau Anda melihat berita-berita yang ditampilkan di media massa. Perhitungan media modern adalah kisah untung rugi. Siapa yang paling banyak memberikan keuntungan kepada media, maka dia akan menjadi headline. Siapa yang paling banyak merugikan, maka yang ada berita-berita sisipan, kalaupun tidak ada sama sekali. Siapa yang paling banyak menerima keuntungan dari konflik SBY-Mega? Ya tentu media.

Ini berkait erat dengan prinsip-prinsip marketing politik. Siapa media yang mendapat iklan proyek pemerintah? Ya, Media Indonesia. Punya siapa? Ya, Surya Paloh. Siapa Surya Paloh? Ya, Ketua Dewan Penasehat Golkar. Surya Paloh itu pebisnis murni. Dia tak akan ragu menjemput Megawati di depan gerbang Metro TV untuk diwawancarai acara KickAndy. Ini soal bisnis semata. Dia tidak bisa disalahkan di situ.

Siapa di balik TV One? Ya, Grup Bakrie. Siapa komandannya? Ya, Aburizal Bakrie. Siapa Bakrie. Nah, ini dia. Selain orang Golkar, Bakrie juga dulu adalah penyandang dana SBY-JK di 2004 lampau. Jadi, untuk pebisnis tulen, tidak ada keraguan untuk bermain di mata sisi yang sebenarnya tak berbeda jauh. Bakrie punya alasan, bukankah Golkar menjadi partai pendukung utama Yusuf Kalla, wakil Presiden RI?

Jadi, untuk melihat PAN, Anda harus lebih teliti lagi. Tak cuma kacamata, tapi pakailah mikroskop. Adalah pertanyaan super serius, mengapa PAN sampai tak diundang oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dalam pertemuan antara pengusaha dan partai politik. Sofyan Wanandi, penggagas pertemuan itu, bahkan harus meminta maaf kepada Yusuf Kalla, yang hadir di pertemuan itu. Dia menyalahkan stafnya yang salah berhitung, karena tidak memasukkan PAN sebagai satu di antara tujuh partai penerima suara terbanyak di 2004. “Staf saya salah menghitung, karena suara PAN lebih banyak dari PKB dan PKS. Saya minta maaf,” kata dia.

Drajad Wibowo, ekonom yang ada di PAN, tak mempersalahkan itu. Mengapa? Itu karena, dari semua partai yang ada, hanya PAN-lah yang memiliki platform ekonomi paling jelas dan yang paling tegas menohok sumbu kekuasaan. Buku “Selamatkan Indonesia” yang dikarang Amien Rais itu, dijadikan sumber acuan dalam platform ekonomi PAN. So, adalah hal yang sah-sah saja, kalau Apindo sampai tak mengundang PAN dalam pertemuan antara pengusaha-parpol. Wong sudah ada platform-nya kok. Ini bukan karena idola saya, Amien Rais, semata. Kalau Anda mengaitkan ini dengan kecintaan saya dengan Amien Rais, itu urusan Anda.

* * *

Di antara platform itu, ada hal yang paling disoroti PAN, yaitu UU Migas, UU BUMN dan UU Penanaman Modal. UU Migas, UU BUMN dibuat di zaman Megawati. Dengan adanya UU ini, kekayaan alam dan (ingat!) pengelola kekayaan alam itu (BUMN), bisa dijual ke luar negeri. UU Penanaman Modal yang dibikin SBY, makin ngeri lagi. Ketika semuanya boleh dijual ke luar, SBY memberi landasan hukum bagi masuknya kapitalis asing untuk menguasai apapun yang ada di Indonesia ini.

Tiga UU ini menyangkut seluruh hidup orang banyak di Indonesia. Bumi air dan kekayaan alam, seperti dimaksud amandemen UUD 1045 pasal 33 sudah dipertaruhkan. Semua perilaku bisnis di Indonesia, mengacu pada perangkat konstitusi dan UU yang berlaku di bawahnya. Jadi, wajarlah kalau Apindo tak mengundang PAN, karena Apindo tahu, platform PAN adalah menohok apa-apa yang selama ini menjadi sumber pemasukan bagi banyak pengusaha kelas kakap dan pejabat yang diuntungkan dengan kondisi itu. Yang tahu kondisi gila ini, cuma tiga partai; Golkar, PDIP dan PAN sendiri. Dan kondisi yang dinikmati pengusaha dan pejabat di Indonesia ini, dilakukan sepenuhnya atas bingkai politik yang dimainkan oleh Golkar dan PDIP (1999-2004).

Partai lain, maaf, harus belajar banyak soal itu. Toh, Anda bisa lihat di berita-berita kalau Sofyan Wanandi pasa pertemuan parpol-pengusaha itu sudah ngomong, “Parpol harus belajar banyak soal ekonomi.”

Pertanyaannya, bagaimana PAN bisa menang dan mewujudkan itu? Kita harus balik pertanyaan ini dengan tesis: “jangan sampai PAN sampai menang karena mereka akan menggugat dan membatalkan perangkat UU yang memfasilitasi masuknya asing ke negeri ini yang nyata-nyata menjadi sumber pemasukan bagi pejabat dan pengusaha di Indonesia”. Maka segala cara harus dilaksanakan untuk menghempang PAN.

* * *

Pertama, adalah merancang persoalan sistem pemilu dulu. Hanya ada dua partai yang setahu saya sangat jeli soal “bahayanya” model sistem suara terbanyak dalam sistem pemilu, PAN dan Golkar. Jadi, kalau tiba-tiba pasca putusan MK, ada partai-partai yang muncul dan mengatakan mereka memperjuangkan model suara terbanyak, maklumi saja, itu dalam kerangka kampanye pemilu. Sekali lagi, itu sah-sah saja. Tapi permasalahannya adalah, bagi saya, cuma ada dua partai yang memang paham “bahayanya” model suara terbanyak itu ketika digagas oleh PAN di parlemen; PAN dan Golkar.

Mengapa? Karena model suara terbanyak adalah daya upaya bagi menggerus kuatnya suara Golkar (dan PDIP) dalam seluruh pemilu di Indonesia (kecuali 1955). Sampai kapan pun model nomor urut itu diberlakukan maka tritomi ideologi partai: nasionalis, kekaryaan dan Islam, tak akan pernah hapus. Golkar sudah merancang itu puluhan tahun. Dan sistem itu juga yang membuat kekuasaan mereka tetap langgeng, walau dihempas badai reformasi 1998 sekalipun!

Mengapa? Karena nomor urut membuat aspirasi rakyat tersumbat di parpol dan mengakibatkan partai menjadi “negara dalam negara”, berkumpulnya para elit, membagi-bagi kekuasaan (dan uang tentu saja) dan seterusnya. Sistem yang digagas Soeharto dengan manisnya itu, telah menghambat setiap orang yang ingin berperan serta aktif dalam politik. Karena terhambat, maka masyarakat menjadi apolitik. Karena apolitik, kekuasaan jadi langgeng dan hanya berputar di situ-situ juga bukan?

Model nomor urut membuat elit partai tak perlu susah-susah turun langsung ke masyarakat. Karena suara masyarakat nantinya akan diakumulasikan ke nomor yang lebih tinggi. Sistem itu membuat setiap orang harus melewati birokrasi politik yang begitu tinggi. Bukankah prinsip birokrasi adalah “bila bisa dipersulit mengapa harus dipermudah?” Birokrasi ini membuat merit system masyarakat menjadi tertolak sama sekali, karena yang berkuasa sepenuhnya adalah partai politik. Tak heranlah bila sistem warisan kekuasaan, kedekatan kepada elit, ataupun yang dikatakan orang sekarang dengan “dinasti politik” menjadi karakteristiknya.

Golkar tahu serangan PAN itu ditujukan kepada dirinya, bukan partai-partai lain. Namun, Golkar adalah partai yang dewasa, karena itu mereka tak lantas berdemonstrasi di jalan-jalan untuk menghempang gerakan itu. Politik praktis, ya, dijalankan di parlemen dan pemerintahan. Kalau ada partai yang demonstrasi padahal ada wakilnya di parlemen, maka tertawakan saja partai itu, karena itulah pertanda kalau partai itu sangat lemah kinerjanya di parlemen dan pemerintahan. Kalau memang tidak bisa mewarnai parlemen, ya tak usah jadi anggota DPR, jadi aktivis saja!

Makanya yang menerapkan suara terbanyak sebelum adanya putusan MK adalah PAN dan Golkar. Bila PAN terus berlari dengan putusan internal soal suara terbanyak, maka Golkar lebih diam-diam, mereka masih menunggu putusan MK, sembari menerapkan model itu secara diam-diam di internal. Eh tak dinyana, sistem model suara terbanyak internal yang diterapkan oleh PAN membuat kader-kader dan caleg PAN dari pusat sampai daerah, berlari kencang. Masing-masing bekerja, tanpa disuruh, tanpa diinstruksikan. Dan semua mencari duit sendiri.

Dan itu semua, hingga sebelum akhir tahun 2008 kemarin, telah semakin merisaukan pusat-pusat kekuasaan. Partai lain tak menakutkan bagi Golkar. Pakem tritomi ideologi: nasionalis, kekaryaaan, dan Islam, telah menjamin itu semua. Partai-partai Islam akan berkelahi di ladang sempit. Di ideologi nasionalis, siapa yang bisa menandingi PDIP? Nah, siapa pula yang bisa menggeser golkar dari ideologi yang nyata-nyata berdasar dari namanya sendiri, kekaryaan?

Golkar pun terus bergerak, sementara PDIP masih anteng karena mereka yakin MK tak akan mengeluarkan putusan, setidaknya sebelum pemilu 2009. Tapi Golkar sudah sangat khawatir. Yang patut dipahami dari kerisauan Golkar adalah –salah satunya- masuknya artis akan membuat perolehan suara PAN di tingkat DPR Pusat akan semakin tinggi, dan itu bagi Golkar sangat berbahaya. Golkar sangat-sangat paham, artis-artis itu belum tentu terpilih kok, tapi suaranya nanti ada, ya jelas. Golkar sadar, fungsi artis diletakkan di sana memang diandalkan untuk mendulang suara. Mereka juga tahu, tidak ada yang perlu dirisaukan soal “artis” itu karena semua orang punya hak yang sama dalam berpolitik. Tidak dia ustadz, tukang becak, tukang bakso, kalangan ustadz sampai para bandit sekalipun!

Dan duarrrr… putusan MK keluar di siang bolong. Hahahaha… jangan Anda kira, Golkar tidak berada di balik putusan itu. Sekali tepuk, Golkar telah menghabisi riwayat parpol-parpol menuju 2009.

Partai-partai tergagap. PDIP terpaksa menyodorkan kaum perempuannya ke medan pertempuran. Demokrat kemudian bilang model terbanyak bikin money politic. Wah, sejak kapan pula pemilu tidak gila money politic-nya? PKS galau dan bilang putusan MK bikin aturan jadi amburadul dan sistem level kader yang dipakai jadi berantakan, karena sekarang, mereka yang tidak diprioritaskan pun diam-diam kampanye. PPP terdiam seribu bahasa dan bilang perempuan jadi korban. PBR tak tahu hendak mengadu ke mana. PKB makin terpecah.

Dan akhirnya, KPU pun pusing.

* * *

PAN lantas dikeroyok rame-rame dan diserang dengan masuknya artis-artis dalam barisan caleg. Itu sudah bisa diperkirakan. Golkar tahu, mereka akan tak harus bersusah-susah menghabisi PAN untuk soal itu sebab partai lain akan menyorot itu. Para caleg yang selama ini “main-main” setelah mendapat nomor urut jadi dan telah keluar uang banyak, terpaksa turun gunung. Untuk menang, uang memang akan semakin banyak keluar. Dan siapa partai yang paling banyak uangnya? Golkar, PDIP, mungkin juga Demokrat, mungkin bisa Gerindra, dan mungkin saja Hanura.

Setelah itu masuklah skenario kedua, perlu dirancang bagaimana meminimalisir kemunculan PAN dan antek-anteknya di media massa. Itu soal gampang, karena media massa nasional sudah dipegang oleh elit politik. Bahkan, pembikin majalah sekelas Tempo saja, Goenawan Moehammad, sudah harus membikin tulisan di catatan pinggir-nya, kalau Prabowo telah berusaha memecah-belah Tempo. Nah, baru-baru ini, Don Bosco Selamun, mantan Pemred Metro TV, mantan Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), balik lagi ke SCTV. Secara profesional dan politik, itu gampang saja; ada tawaran yang lebih menggiurkan bagi Don Bosco. Bila Anda jeli membaca tulisan saya ini, maka paling tidak Anda sudah bisa memperkirakan akan ke mana nantinya SCTV itu.

Dus, tak dinyana, tak diduga, SBY-Megawati pun terikut arus dalam percaturan politik tingkat tinggi itu. Mereka berkelahi dan rakyat pun bosan pada pertengkaran mereka… dan lantas mengemukalah gerakan yang sudah digagas diam-diam dan hati-hati selama bertahun-tahun; kepemimpinan alternatif!

Trilogi kekuasaan sejak zaman tempoe doeloe: gold, gospel dan glory, ternyata masih asyik dipergunakan untuk melihat perpolitikan di Indonesia ini. Bung, ini soal politik kekuasaan! (*)

– –

foto: lupa ngambilnya di mana🙂
(kl tulisannya kepanjangan, ringkasin aja sendiri. Hargai saya dong, sudah capek-capek nulis, disuruh ngeringkasin pula lagi. hahahaha … )

36 thoughts on “The Real Politics: Golkar vs PAN

  1. Dan siapa partai yang paling banyak uangnya? Golkar, PDIP, mungkin juga Demokrat, mungkin bisa Gerindra, dan mungkin saja Hanura.

    Jadi mudah ringkasannya dari tulisan diatas ada kemungkinan berkoalisi menjadi partai oposisi dari hasil suara pemilu nanti, gitu aja kok repot hehehehe………

    amien….🙂

    Like

  2. golkar memang partai terhebat sepanjang sejarah per-politikan diindonesia. dan tidak-lah mudah mengalahkan mereka.pada dasarnya sy stuju dgn pandangan bung nirwan ini, sy melihat kalangan ekonom dari pan yg ada didpr sedikit banyak concern atau sensitif thd kebijakan ekonomi pemerintah yg sangat tergantung dari ekonomi amerika dibandingkan dgn sikap kalangan ekonom dari partai lain. pdip-pks memang merupakan partai yg memiliki kuantitas pemilih yg lumayan, tapi scara kualitas political sy kira masih jauh dari mewarnai atau setidaknya mempengaruhi alur politik kesejahteraan ke arah positif bg indonesia. sedikit kita akui pks adlah partai yg sehat, tapi klo sy sdh liat platform ekonomi-nya masih mentah dan abu-abu atau tidak jelas kerangka berfikir dr flatform tsb, hanya menjelaskan mana baik dan mana yg buruk. well.. sy kira golkar masih jd pemenang pemilu..

    amien…🙂

    Like

  3. awas… “propaganda metro TV”…!!! (partai golkar).

    sayangnya masyarakat kita tidak sejeli itu…(penulis),masyarakat hanya tahu siapa yg bisa jamin kesejahteraan mereka.
    soal UUD 45,intrik elit politik,…mau jadi apa negera ini..?.itu soal yg nggak penting…(bagi mereka).
    ekonom asal PAN memang hebat & amanah (faizal basri)..ah sayang dia nggak punya chanel untuk merubah kondisi perekonomian indonesia.
    (saya berharap tahun dpan beliau jadi menteri ekonomi).

    kondisi sudah berubah…(semoga)..masyarakat semakin kritis & jeli milih pemimpin.

    amien…🙂

    Like

  4. Kalau ada partai yang demonstrasi padahal ada wakilnya di parlemen, maka tertawakan saja partai itu, karena itulah pertanda kalau partai itu sangat lemah kinerjanya di parlemen dan pemerintahan. Kalau memang tidak bisa mewarnai parlemen, ya tak usah jadi anggota DPR, jadi aktivis saja!

    Partai mana ini? Aku tersenyum sajalah…

    senyum itu memang ibadah 🙂

    Like

  5. politisi Golkar memang hebat2 dan msh sulit ditandingi,
    tp kalau PAN, yang hebat itu cuma Amien Rais, SB,
    Drajat Wibowo……kl yang lain-lain,
    termasuk temen Pak Nirwan yg di Medan itu…..yah begitulah😉

    ah enggak la bang, banyaklah, termasuk abang senioran aku yang dari dairi itu, bang. tengoklah dia sebentar lagi bang, hahahaha😀

    Like

  6. Eko Patrio, Wulan Guritno
    Mandra, Krishna Mukti
    Wanda Hamidah, atau yang lain.

    HIDUP PAN! PAN MENANG!!!

    hidup amien, (halah!) hahahaha😀

    Like

  7. kenapa ya gw gak pernah lagi dengar gaung PAN di 2009 ini, era-nya cuma mentok sampe reformai aja pas pemilu 1999.

    dimana-mana orang masih betah berlama-lama bicara golkar, pdip, demokrat dan pks. juga yang baru gerindra.

    PAN itu partai apa ya? kurang ada gaungnya

    Pertanyaan Anda itu sudah saya jawab melalui tulisan ini. Jadi, baca lagi, hihihihi…😛

    Like

  8. Golkar ga pernah hebat! Sapa bilang Politisi Golkar hebat2? Politisi Golkar adalah sampah yang penuh intrik dan menghalalkan segala cara dengan muka tambeng.
    Justru yang menjadikan Golkar dan Politisi Golkar seakan terlihat hebat2 adalah Rakyat Indonesia sendiri dan force addictive dari “luar sana”! Pasalnya? Pasca Reformasi 1998, Rakyat Indonesia menghempas diri mengulam kekecewaan “Kehidupan kami semakin memburuk; para petinggi itu tidak bisa diharapkan terlalu banyak. Keadaan lebih baik sebelum ini”. Saat itulah turun “ya’juj wa ma’juj” yang datang dari tempat-tempat yang tinggi yang melihat kenyataan bahwa Indonesia memiliki peran strategis di Asia Tenggara diharapkan selalu berada pada posisi Gold Stability. Kenyataan yang ada tidak ada yang bisa diharapkan dari tangan Sipil, tetapi Militer juga telah menorehkan wajah buruknya. Lakukan sesuatu kata Ya’juj wa ma’juj. Jengis Khan pun ga tinggal diam {orang sibuk Global Finance Crisis, mereka merancang Shuttle mirip Shuttle Nasa}; hinakan, dinakan agar terangkat harkat dan martabatnya, jadikan mereka seolah tertindas untuk kemudian “…is the be(s)t” babat segala UU ttg eksistensi mrk. Selanjutnya tebak sendiri… seperti sekaran inilah outcomes-nya.

    Amien Rais dengan PANnya memang hebat, tapi kehebatan Amien Rais seperti hebatnya Cat Air; indah dikala kering, kusam dikala basah.
    Lihat… buka lembaran 1998, begitu besar pengharapan kelompok tertindas kepada Sosok Amien Rais. Tapi Amien Ratis kehabisan nafas seperti harus berlari sendiri ditinggal pecinta-pecintanya dan harus ngarang Gus Dur is the be(s)t… Pff!, Amien Rais pun sudah menampakkan tanda-tanda berKKN -sesuatu yang beliau gaungkan- justru ketika beliau belum menjadi “apa-apa”. Apa kata mereka, ahh… lum apa-apa sodara diya dah duduk di sana, ponakan diya dah duduk di sana, adiknya dah duduk di sana. Hhh… ternyata sama saja! Selamat berjuang Bung Amien, kembalikan citra Anda seperti ketika Anda berada di antara Lautan Mahasiswa/i.

    Thx. Huehehehe…

    Bukan sekedar melihat, tapi saya justru telah membongkar-bongkar lembaran 1998. Jejak Amien ternyata tidak dimulai dari tahun itu.

    Like

  9. Golkar dan PAN? Golkar sih masih eksis, lha kalau PAN? Malah makin aneh aja arah pergerakannya, bukti kekecewaan di PAN ada dalam wujud PMB (Partai Matahari Bangsa).

    Saya kecewa PAN tidak merekrut Ruben Onsu dan Nona Ivan Gunawan untuk jadi caleg, biar mengukuhkan kalau PAN itu super seleb show, hiburan buat anggota DPR dikala jenuh, what a joke party!

    Pantas Amien Rais negor SB, soalnya maen rekrut sembarangan! Anda bisa katakan hak berpolitik itu hak semuanya, ustadz, kiyai, artis, tukang beca, dsb.

    Hak sih hak saya setuju, tapi kalau nggak menghitung diri yang ngapain memaksa cuma buat dulang suara, nggak elegan ah…

    Mending bahas partai lain kayak Golkar, PDIP, PKS, Demokrat.

    Yang lain-lain itu sudah dibahas dan masih akan terus dibahas.🙂

    Like

  10. Adrian Maulana, Silvana Herman, Ernasari, Derry Drajat, Jimmy Gideon, Ismail AFI, Surya Kondang In, Tito Sumarsono, Tessa Mariska, Novi Candra, Diaz Sari, Eka Sapta Suami dari Iyet Bustami, Rensi Milano, Astrid Darmawan, Popy Bareta, Ferry Gugun, Maylaffayza, Lucky Sumantri, Krishna Mukti, Mandra, Wanda Hamidah, Eko Patrio, Wulan Guritno…

    Dipilih-dipilih, kita bikin gedung DPR-RI jadi keren…

    hihihihihi….

    Like

  11. @ rajeta, sy kira pa amien masih concern dgn bangsa ini, cuma masalahnya adalah lawan2 politik-nya pa amien bkn sembarangan, As Dibalik smua ini.. termasuk anda sendiri yg secara tdk langsung di-giring oleh media untuk lupa thd seorang reformis sperti pa amien.

    memang gila orang media ini, hihihihi😀

    Like

  12. Adanya fenomena alam bila ada partai imagenya selalu buruk dan tidak memberikan manfaat apapun bahkan yang mencuat hanya aib dan aib saja maka dengan sendirinya akan hancur dan lenyap ditelan waktu.

    Like

  13. Cuma dengan rekayasa genetika, “darah” Soeharto bisa pupus. Tapi, kalau hanya sekedar transfusi maupun cuci darah, wah gak mungkin rasanya menghilangkan ‘amis’ darah Soeharto.

    Tanya aja si Brewok Surya Paloh, MNC Group itu sebenarnya punya siapa? Tanya aja si Brewok Surya Paloh, menyamai rekor Soeharto sebagai Ketua Dewan Pembina Golkar berkat andil siapa?

    Surya Paloh pebisnis murni? Anda salah Bung Nirwan. Anda bisa tanya ke Amien Rais, siapa sesungguhnya Surya Paloh

    Makanya, PAN harus menambah volume otaknya plus menambah depositonya, jika mau memutus dan meretas ‘DNA’ nya Soeharto di Pertiwi ini.

    Salut Bung, tulisannya benar-benar jadi setrika. Ha ha ha

    Surya Paloh ini dulu lama tinggal di Medan, bung.😀 Kl yang lain-lain, saya akan tanya langsung ke Surya Paloh, hahahahaha …. Jangan lupa, bisnis juga selalu memakai jalan politik. ah, kalau menambah volume otak dan deposito itu, tak perlu kita betengkar, kusetujui 100% untuk itu!

    btw, aku gak pande nebak siapa bung ini… jgn-jgn bung arbi sanit, hahahaha

    Like

  14. 4Jamalsmile. Yupp.. Anda benar dan salah. Justru saya suka Bung Amien. Kalo kemudian saya “menyambungkan” suara dari balik dinding2 bambu yang rapuh dan beralaskan tanah itu, tidak berarti saya lupa kepada Bung Amien. Tapi Anda jg harus ingat deal spt apa dg AS? Adakah Bung Amien disana?
    Itu sebabnya saya kagum sekaligus prihatin dg Bung Amien; beliau disodorkan sekaligus dipecundangi! Makanya saya kembali “dorong” beliau kembalikan Citra. Thats all.

    Huehehehehe…

    Like

  15. Salam infotainment!
    Menurut gwe DPR perlu diberikan suasana baru, penyegaran yang lebih menghibur.
    Nah, dari PAN bisa berkontribusi, kan sebelum sidang rakyat bisa karaokean dulu bareng artis, atau maen sinetron dengan episode “rakyat menjerit”

    Kalau PAN dapat suara bagus di 2009, misalkan 15% lebih gwe harap cawapres yang mendampingi adalah artis juga.

    Alternatif capres-cawapres PAN:
    Amien Rais-Derry Drajat
    Dien Sjamsuddin-Krishna Mukti
    Soetrisno Bachir-Wanda Hamidah

    Aku dukung deh, penggemar infotainment sejati pasti dukung dong🙂

    eh, sejak kapan pula Dien Syamsuddin diterima kalangan PAN? wah payah juga …😛 ayo-ayo jgn gunain internet just for fun ya, bisa diketawain artis nanti hahahahahaha …..

    Like

  16. Waduhhhh maakkkk……….artikel ini yang aku tunggu2 dari dulu, ternyata buronan satu ini sepaham juga, kalau kita ikuti dari awal memang begitulah, apalagi kalau kita baca buku “Selamatkan Indonesia” abah amien.
    Kalau saja penduduk Indonesia tidak terburu2 memilih Partai, Pelajari satu persatu, aku yakin akan menemukan Partai mana yang harus kita pilih. Bukannya baru mempelajari satu partai (itupun hanya katanya) sudah memuja dan mengambil kesimpulan. Tekhnologi sudah canggih, bahkan sampai ke desa, tinggal merubah watak, jangan selalu mempercayai berita tanpa mencari kebenaran. Partai adalah suatu organisasi yang bukan dimiliki oleh satu orang, bukan pula dijadikan wayang oleh partai lain. Partai bukan ajang jual beli agama, riak, ego, dan menjadi takabur. Seyogyanya Kader sebuah Partai memiliki hak yang sama, bukan apa kata ketua. Apalagi dengan di sahkannya system caleg suara terbanyak, itu menandakan kalau kita bukan hanya memilih Partai, akan tetapi lebih ke calegnya.

    Pertanyaan :
    Ada yang hafal diluar kepala nomor dan nama2 PARTAI PesertaPemilu 2009?????

    hafal? akakakakakkakkk… ampon ampon dj

    Like

  17. Sayangnya, PAN setelah pak Amien lengser, malah tidak mencerminkan sosok sbg partai pembela “wong cilik”. Lbh asyik dengan perekrutan artis sbg caleg. Sayang bangeeet….

    artis juga punya hak yang sama dengan orang yang berprofesi sebagai petani, tukang becak, buruh bangunan, dokter, pengacara dan lainnya. Semakin tinggi hujatan kepada artis yang masuk politik, justru akan semakin lucu dan kekanak-kanakan kedengarannya jadinya.🙂

    Like

  18. wadoh……..ketinggalan berita nih……….Amien Rais lengser dari Partai Artis Nasional (PAN) ???????.Kemana dia sekarang?????, Di Partai mana dia?????

    Like

  19. ahhh…
    ternyata disini rupanya jawaban yang saya cari!
    Kenapa sejak kemarin membaca Kompas, PAN kok tidak diikutsertakan.. Malah ada PKS disana:-/ Bukan mendiskreditkan PKS, tapi kan PAN juga masih patut diperhitungkan..
    terimakasih sharingnya..
    🙂

    sip sip …😀

    Like

  20. Rupanya buat gregetan ….. eh salah maksudnya rupanya simpatisan dan kader golkar yang dibilang lebih pengalaman dan maju dari partai2 lainnya, kok sepi2 saja yang berkomentar di blog ini pada kemana,…….. yang dikatakan sang pakar ?

    Miris juga melihat Golkar (partai lama) belakangan terakhir ini, pemberitaan dan dikenyataannya yang selalu ramai dibicarakan seputar “dari akibatnya (penyebabnya)” dan nyaris tidak terdukung lagi dimasyarakat, jika demikian pemilu 2014 nanti keberadaannya masih dapat dipertahankan?

    yg komentar lagi pada kampanye … hahahaha

    Like

  21. Golkar memang hebat… PDIP juga. Dua-duanya patut dipuji. Hanya saja yah itu.. korupsinya itu… dulu di instansiku kepalanya simpatisan PDIP.. Suka nyumbang dan sedekah dengan aktivis… eh ternyata sekarang ketahuan, dia yang sudah pensiun pun kena sama BPK, ternyata selama memimpin milyaran uang sudah terkorup.

    Syukurlah sekarang kita punya atasan baru. Orang Sulawesi campuran Sumatera. Tegas dan berwibawa. Tapi kemana-mana ngagungin JK mulu. Seakan-akan masih sodaranya Jusuf kalla ketua Golkar itu, belakangan ini banyak kita yang tidak salut lagi, bayangkan dalam 6 bulan saja sudah berhasil mengantongi “1,5 milyar lebih”, menurut perkirakaan kasat mata.

    Seperti biasa mana ada yang mau melapor. Udahlah, anggap aja itu rezekinya. Biarlah nanti kalau ada pengawa yang datang baru kena dia.

    Salut buat partai-partai besar. Tapi kebiasaan mereka menempatkan orang-orangnya di instansi pemerintah itu sangat tidak bisa diterima akal sehat. Janganlah departemen dibuat sapi perahan. Menang sih korupsi-nya tidak besar.. masih dibawah 5 milyaran.

    Tapi kan ini bukan BUMN, bukan perusahaan, ngapain harus nempatin orang segala.. yang ntah kenapa harus korupsi.

    Buat Jusuf Kalla… Salah satu departemen di dekat lapangan benteng menjadi sapi perahan orang-orang yang mengaku masih sodara dengan Bapak. Benar atau tidak tolong tinggalkanlah budaya itu. Dulu “kader-kader” PDIP dibabat habis karena perangai korupsi, jangan pulalah diganti dengan simpatisan Golkar yang juga korupsi juga. Malu kita punya partai besar-besar yang banyak kai tangannya yang korop di lapangan.

    Dulu setiap orang yang korop pasti ngaku-ngakunya masih orang dekat Mega atau pentolan DPP PDIP, bahkan banyak maling yang ngantongin kartu anggota PDIP agar segan polisi memenjarakannya. Nah sekarang apa bedanya dengan golkar.

    Tidak bermaksud rasis, mohon pak JK memangkas habis kepala-kepala instansi yang ngaku-ngaku sodara itu, ntah kenapa memang berasal dari Sulawesi. Yang suka-sukanya korupsi dan ngutak-atik anggaran sebuah instansi dan bersembunyi dibalik nama Jusuf Kalla. Rakyat yakin pak wapres bukanlah tipe orang seperti itu, tapi “sodara-sodara” itu loh… yang tega melubangi uang negara. Yang tega seenaknya korupsi. Libas habis Pak. Jangan gadaikan nama Golkar.

    Like

  22. @bawahan , Ga usah di-gadaikan golkar , wong partainya korup dari 32 tahun yg lalu ko! jd jgn heran.. klo golkar rumah-nya para koruptor intelektual.. golkar itu lebih berbahaya dari yahudi skalipun..

    Like

  23. Wah udah lama nih gak nyambangi Blog sang Buronan…ternyata makin hebat aja nih…kali ini Saya ikut urun rembut untuk satu aspek aja yah…EKONOMI…

    Nirwan said…
    “mengapa PAN sampai tak diundang oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dalam pertemuan antara pengusaha dan partai politik. Sofyan Wanandi, penggagas pertemuan itu, bahkan harus meminta maaf kepada Yusuf Kalla, yang hadir di pertemuan itu. Dia menyalahkan stafnya yang salah berhitung, karena tidak memasukkan PAN sebagai satu di antara tujuh partai penerima suara terbanyak di 2004. “Staf saya salah menghitung, karena suara PAN lebih banyak dari PKB dan PKS. Saya minta maaf,” kata dia.

    Drajad Wibowo, ekonom yang ada di PAN, tak mempersalahkan itu. Mengapa? Itu karena, dari semua partai yang ada, hanya PAN-lah yang memiliki platform ekonomi paling jelas dan yang paling tegas menohok sumbu kekuasaan. Buku “Selamatkan Indonesia” yang dikarang Amien Rais itu, dijadikan sumber acuan dalam platform ekonomi PAN”

    luarbiasa…kita bisa sepaham soal ini……
    PAN pasti sengaja gak diundang APINDO..karena mereka akan kalang kabut jika yang datang Dradjad Wibowo dan mungkin malah Amien Rais dalam menghadapi para panelis dari APINDO….kalau itu terjadi…ha..ha..ha..abis para panelisnya

    saat acara itu ditayangkan …saya hanya “gak tega” melihat para “ekonom jadi-jadian” yang dibawa partai dibuat begitu “oon” oleh para panelis yang orang-orang profesional dan mumpuni dibidangnya

    ambil contoh “ekonom” PKB Eko Putro Sanjoyo,yang gelagapan mendapat pertanyaan santun tapi “dalem” dari seorang Arwin Rasyid (Dirut CIMB NIaga) yang punya pengalaman bisnis segudang soal apa yang ditawarkan PKB melihat fenomena pelambatan ekonomi di kawasan Asia yang akan menurunkan kesejahteraan rakyat secar umu, tentu saja Pak Arwin datang dengan pertanyaan yang juga merujuk pada data-data indikator ekonomi yang terbaru…dan saudara….si “ekonom” PKB menjawabnya tanpa data-data indikator ekonomi yang valid dan menjawab secara berputar-putar tak jelas ..akhirnya tentu saja gak menjawab apa yang ditanyakan
    kesimpulannya diskusi menjadi ajang berkelit Parpol dengan menjawab pertanyaan yang butuh jawaban real dengan jawaban serba normatif dan terjebak dalam sebuah diskusi gak berarti……

    wajar jika akhirnya sang penggagas diskusi dengan pasrah bilang
    “Setelah (diskusi) ini, kami akan menyimpulkannya lalu membagi ke semua anggota dan mereka yang menentukan pilihan sendiri. Kami juga ingin ada diskusi lanjutan yang lebih detail dengan pembahasan mendalam yang lebih spesifik seusai diskusi ini,” ujar Sofjan.
    http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=220571

    akhirnya…..siapapun nanti yang akan jadi presiden…..
    nampaknya untuk pos ekonomi harus merelakan pada ahlinya seperti Pak Boediono,Bu Sri Mulyani,Bu Marie Pangestu dll…yang jelas bukan bagian dari partai politik…..yang diundang diskusi

    Sayang juga gak liat para ekonom PAN berdiskusi dengan para pengusaha….sehingga apa yang ada di benak para ekonom PAN dalam era Soetrisno Bachir tak terungkap….
    apalagi nantinya DPR akan kehilangan seorang Dradjad Wibowo yang sangat kritis dan mampu mengimbangi kecanggihan para pejabat ekonomi Republik ini seperti Pak Boediono,Bu Sri Mulyani,Bu Marie Pangestu dll…dalam membahas berbagai isue Perekonomian dan Kesejahteraan di DPR RI…misal soal kelalaian BI dalam mengawasi produk-produk derivatif yang akhirnya merugikan nasabah dan Bank kayak produk “Dual Currency Deposit” “Callable Forward” “kasus Antaboga Bank Century” dll..yang akhirnya memaksa BI mengeluarkan peraturan BI yang meregulasi berbagai produk derivatif ini….

    karena Pak Dradjad Wibowo gak mau lagi jadi caleg PAN……dengan alasan yang masih sumir dan remang-remang….

    jadi Bung Nirwansyah….nantinya PAN bisa-bisa gak “bunyi” lagi di berbagai perdebatan ekonomi di negara ini baik di DPR maupun di media…dan itu artinya semua partai akan sama njembretnya dalam menata platform Ekonomi bangsa ini…dan akan sangat bergantung pada para teknokrat ekonomi….apakah kondisi ini baik ato buruk?….nyatanya tanpa cawe-cawe parpol di sektor ekonomi ….perekonomian kita lumayan juga dalam menghadapi badai krisis finansial sampai saat ini..

    …jadi sapa butuh ekonom Partai…

    hahahahaha…ngeri kita kalo orang ekonomi dah ngomong…😀 tapi selalu akan banyak cara, semakin sulit permainan, justru semakin asyik. Yah kayak-kayak pengusaha itu la, kl gampang kali dapet untung, duitnya jadi gak kerasa …. gpp .. nanti boediono, sri mulyani dan marie pangestu dijadiin sparring partner aja … mas drajad masih di lingkar terdalam Amien, mas faisal juga, dan yang lain-lain itu… nah, yang jadi masalah kan ekonom UGM ini… gimana kalo kita tandingkan aja ekonom UI sama UGM ,,,, hahahahaha😀

    Like

  24. Yang pinter itu Ya Amin Raisnya……!
    yang huebat itu ya Amin Raisnya Bos….!
    yang paling huuuuuuuuuuueeeeeeeeeeeeebaaaaaaaaaat lagi itu ya Amin Rais

    Like

  25. PAN sudah bikin aku sakit hati…..maaf aku nggak mau lagi…………………???????????
    Tapi Amin Rais bikin aku bangga ……………
    pokoknya apapun yg terjadi Amin Rais Presiden 2009

    Like

  26. ha..ha..ha..lae Nirwan ini ada aja….menurut saya …ekonom yang baik dan bertanggung jawab itu bukan cuman ada di UGM ama UI lho…dari Universitas lain juga hebat sumbangannya bagi perekonomian bangsa lo bos…bahkan ITB itu banyak menghasilkan praktisi dan ekonom yang hebat lho jangan salah….misal Raden Pardede yang alumnus ITB,Arifin Panigoro dll….ya gak…btw oot dikin emang di tanah batak itu ada Radennya juga yah..he..he..he…

    berita bagus lho kalok Bang Faisal Basri masih di lingkar dalam Pak amien?..apa bener Bro..bukannya beliau berdua ini dikabarkan berseberangan?….kalok dah akur Allhamdulillah banget deh….

    apa nih lae..dengan ekonom UGM ?…kurang galak yah..ato kurang idealis..he..he..he..ato malah kurang populer..he..he..he…kan mereka dah diwakili Pak Boediono,Mas Anggito Abimanyu,Mas Tonny Prasetiantono,Pak Gunawan Sumodiningrat dll….tapi emang yang bikin sedih…sampek sekarang konsep ekonomi kerakyatan seperti yang diapungkan Alm Prof.Mubyarto belum “laku” dalam strategi perekonomian Indonesia……

    I’m Sorry ngelantur…..kembali ke topik…
    Seandainya emang PAN masih mendapatkan suara signifikan dalam PEMILU 2009 itu merupakan surprise …mengingat sampai saat ini banyak pihak…termasuk saya….masih skeptis dengan berbagai persiapan PAN dalam menghadapi PEMILU 2009…saya sendiri tidak punya preferensi memilih partai Bro…saya lebih prefer memilih CALEGnya…so ..mungkin “split ticket” adalah opsi yang paling rasional saat ini….jadi bisa jadi pilihan untuk DPRD II,DPRD I dan DPR RI dari partai yang berbeda…..
    sayang sekali Dradjat Wibowo gak mau dicalonkan lagi….seandainya dia ada di Dapil V Jawa Tengah…saya akan pilih doski…he..he..he.

    btw..makin sip nih analisanya….

    orang luar memang terus menggosok agar mas faisal keluar saja dari lingkar Amien… biar trio ekonom Amien: Dradjad-Faisal-Didik Rachbini… jangan bandal kali. sama kasusnya kayak Rizal Ramli, siapa bilang Rizal Ramli itu gak sowanan sama Amien, ya gak? hahahahaha …. lha, aku mah dari dulu senang kali la sama mas anggito itu, pande main biola lagi hehehehe … Itu realita di lapangan, UI dan UGM adalah poros ekonom di Indonesia, malah ada blok-bloknya lagi, blok ekonomi pasar (UI) n blok ekonomi kerakyatan (UGM). Jadi kuyakinkan la sama abang kl aku gk ada maksud mengecilkan universitas lain. Suer! hahahaha…

    oya, tulisan ini memang gak ditujukan supaya orang milih PAN, kalau rasa-rasanya kek gitu, itu dah di luar kontrol saya la, hahahaha ampon dj deh … cuman ya itu lah realitasnya, lha kan sofyan wanandi dah ngomong jelas, tegas, lugas, dan … kecewa dengan parpol lain.😀

    soal perolehan suara PAN nanti, gak bisa juga kita pakai analisis media massa, ya mesti dikaitkan juga dengan pertempuran politik di lapangan. sebagai partai menengah (bukan gurem) seperti PAN, adalah suatu keanehan mengapa gerakan politiknya kok “tidak kelihatan” di permukaan dataran media massa. Apalagi banyak artisnya, bukankah artis-artis ini bintangnya media massa? nah, aneh itu… Yang diam-diam makan dalem ini justru yg bikin ngeri ini, bang …. apalagi, untuk urusan suara terbanyak (yg milih caleg itu) PAN justru sudah start duluan, sementara yg tanggap soal itu ya cuman Golkar.😀

    Like

  27. Sekali PAN tetap PAN …………………

    PRINSIPKU : Di Negara yang BOBROK SULIT UNTUK MENDAPATKAN PEMIMPIN YANG BAIK.

    HIDUP PAN !!!!!!!!

    Like

  28. delaPAN contreng PAN
    delaPAN kembali ke PAN
    delaPAN cepat pulang ke PAN

    aku menunggumu delaPAN
    untuk kembali di 2009

    Like

  29. iki tesis opo fanatik ya?mbok ya sing masuk akal mas….mas…..tapi ora opo2…..sapa tahu tesis mas bener….kita lihat aja ya setelah tanggal 9 april hhihiihihi……

    jangankan Anda, wong orang PAN dan Golkar aja gak percaya kok, hahahahaha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s