Senyuman (Calon) Anggota Dewan


Senyum itu ibadah dan ibadah itu imbalannya pahala. Pahala itu tiket ke surga. Ibarat kuis, semakin banyak tiket pahala, maka semakin banyak pula kemungkinan untuk menang. Benarlah bila manusia itu selalu mengedepankan aspek untung rugi dalam hal apapun. Bahkan kepada Tuhan pun begitu. Dan Tuhan, tentulah tidak marah sama sekali. Dia maha kaya dan maha bijaksana.

Tuhan memang telah mempertontonkan kekuasaannya. Manusia, walau ingin sekali menjadi tuhan yang punya kekuasaan penuh, tetaplah manusia biasa. Di situ sebenarnya asyiknya menjadi manusia ini. Dia dari yang tidak punya kekuasaan, ingin menjadi penguasa. Kalau keinginan tak tergapai, ya, tak apa-apalah. Chairil Anwar saja bilang, “Sekali berarti sudah itu mati.” Jadi, hidup yang sekali ini, kalaulah bisa, dibuatlah “berarti”. Dus, apapun “arti” hidup itu nanti, ya, urusan nantilah itu.


Begitulah saya melihat banyaknya anggota legislatif dan orang yang kepingin jadi legislatif alias calon legislatif. Saya tersenyum, melihat semua foto-foto yang dipajang yang memenjarakan kita dari segala penjuru hingga ke dompet kita itu, juga sedang tersenyum.

Ada yang nampak lesung pipi, ada yang pede memperlihatkan susunan giginya yang tak bagus-bagus amat, ada yang matanya berbinar-binar, ada yang tangannya terkepal dan seterusnya. Benang merahnya adalah semuanya sedang tersenyum. Semuanya mencitrakan dirinya dekat dan akrab dengan masyarakat. Siapapun tahu, untuk kenal, dekat dan kemudian akrab, senyum memang modal utama. Semacam ada chemistry di praktek “senyum” itu. Senyum itu pasti bisa memikat orang, senyum itu lebih prasangka baik daripada buruk, dan seterusnya-seterusnya.

Nah tapi, kalau semua orang tersenyum, senyum itu bisa-bisa “inflasi” alias banjir senyum. Kalau sudah inflasi, akibatnya mudharat. Dunia komunikasi mengenalnya dengan istilah “flooding” alias melubernya pasokan informasi.

Gula tak akan bisa larut dalam air kalau kandungan gula dalam air sudah cukup alias mencapai titik jenuh. Dengan asumsi begini, maka kalau masyarakat yang tertimpa banyak informasi akan mencapai titik jenuhnya. Informasi yang masuk akan semakin selektif, disesuaikan dengan kemampuan “wadah”. Yang tak terpakai akan dimuntahkan. Tak akan ada belas kasihan terhadap yang terbuang itu. Itu bukan urusan masyarakat.

Ditinjau dari ranah persuasi, para caleg yang sudah tersenyum itu melupakan dua hal yang paling penting: simpati dan empati. Simpati mengindikasikan adanya keterkaitan antara subjek dan objek, sementara empati adalah kemampuan subjek untuk memposisikan diri dalam persoalan objek. Dua hal ini tak tampak, padahal dua hal inilah yang menjadi tolok ukur setiap masyarakat untuk memilih. Hubungkanlah itu dengan dua hal yang biasanya menjadi tolok ukur dalam dunia pemilu yaitu popularitas dan elektabilitas.

Popularitas adalah sebuah persepsi, sebuah kognisi yang bisa jadi mempengaruhi keputusan. Namun, indikatornya tetap saja “bisa jadi”. Karena itu, makna popularitas sebenarnya adalah “bisa jadi tidak”. Para artis memiliki tingkat popularitas yang tinggi, namun hanya artis-artis tertentu saja yang mampu mempengaruhi gaya hidup dari fansnya. Penjualan kaset grup Slank dan Ungu saat ini, boleh jadi dimenangkan oleh Ungu. Tapi semua orang sepakat, kalau tingkat determinasi Slank terhadap fanatisme kelompoknya jauh lebih tinggi. Fanatisme yang diraih Slank jauh lebih signifikan daripada Ungu.

Mengapa? Secara sosiologis, Slank telah mampu membuat semacam identitas kelompok. Hal ini membuat hal yang lebih jauh yaitu ikatan kelompok. Karena ada ikatan, maka ada kode etik yang mesti dipatuhi. Karena kode etik itu pula, karakter Slank jadi mudah dikenali. Ini tidak bisa hanya diselesaikan oleh sebuah “defenisi” dari Slanker saja. Dia perlu ruang untuk berproses, ruang untuk para fans saling bertemu. Ruang itu jangan selalu diartikan sebuah tempat atau wadah, tapi dia bisa juga berupa “ideologi”, kesamaan nasib, kesamaan tujuan, dan hal-hal abstrak lainnya. Jangan anggap sepele dengan hal ini. Karena justru di ruang nan abstrak itu, para fans justru semakin kuat.

Kerumunan orang atau crowd di sebuah konser belum memastikan adanya ikatan yang kuat. Hanya orang-orang yang terikat pada suatu “ideologi” tertentu yang akan menampakkan loyalitas, konsistensi, kebersamaan dan itu semua nantinya akan menentukan perilaku mereka.

Para caleg kita tak melihat ke sana. Yang mereka pikirkan hanyalah popularitas alias frekuensi keterkenalan antar sesama manusia. Padahal, perkenalan itu tahap pertama saja, tahap-tahap selanjutnya justru lebih sulit. Seperti orang pacaran, kenalan dulu, telepon-teleponan, sms-smsan, ketemuan, janji makan, nonton, mengungkapkan perasaan dan menjalin hubungan. Selesai? Belum. Karena hubungan pun bisa kacau dan berhenti di kemudian hari. Yang lebih parah, malah bisa jadi kebencian atau permusuhan. Hampir seluruh jenis ikatan kena penyakit ini: ikatan darah, suami-istri, persaudaraan, parsadaan, apalagi lagi pertemanan. Semua bisa kacau balau.

Dus, adalah jauh lebih sulit meningkatkan hubungan yang ada ke jenjang yang lebih jauh dan dalam. Misalnya saja, dari hubungan pertemanan meningkat menjadi hubungan persaudaraan. Dari hubungan yang berlandas faktor kepentingan menjadi faktor pengorbanan dan cinta.

Sebagian besar caleg kita, nol besar dalam hal itu. Yang mereka pedulikan adalah “iklan”, “promosi” dst. Mereka tak mau duduk bersama kita, berkunjung ke rumah, mencangkul parit-parit kita, atau konon pula malah menjadi saksi dari perkawinan anak, saudara dan teman-teman kita. Mereka disibukkan oleh perilaku politik “langit-langit”: berada di awang-awang dan tak ingin berpijak ke tanah. Mereka meletakkan dan menempel gambar-gambar mereka di pagar-pagar rumah kita, tapi tak mau masuk ke pekarangan kita.

Itu bukan tak mau mereka lakukan, tapi karena backmind para caleg kita itu memang sudah terpola seperti itu. Itu karena mereka bukan merasa menjadi “wakil”, tapi “pejabat” dan “pemerintah”. Mereka lebih ingin memerintah dan bukannya melayani. Mereka memposisikan dirinya dalam kelas sosial yang paling tinggi, atau setidaknya satu tingkat lebih tinggi dari masyarakat pemilihnya.

Hidup bagi para caleg ini memang tak cuma sekali. Karena ketika mereka gagal terpilih, mereka akan mencoba lagi 5 tahun ke depan. Ah mungkin tak sampai, karena di pilpres, pilgub, pilkada, pilkades, politik kantor, politik organisasi, politik kelompok dst dst, mereka akan terus bermain. Mereka tak pernah menyerah, semua agar mereka bisa duduk di kursi politik yang sebenarnya sangat panas itu.

Bagi kebanyakan orang, mungkin mereka adalah para bangsat-bangsat politik yang terus menipu rakyatnya demi keuntungan pribadi. Kebanyakan orang akan memaki-maki mereka, tidak memilih mereka dan mungkin pula menyuruh orang untuk tak memilih mereka.

Mungkin bagi kebanyakan orang, mereka ini adalah kumpulan orang-orang bodoh yang kerjanya menipu saja. Namun saya kira, di situlah letak persoalannya. Orang bodoh perlu orang pintar. Bila orang-orang bodoh dan bangsat ini tak pernah menyerah untuk mendapatkan kursi, mengapa pula Anda yang pintar, penuh gagasan, masih punya idealisme, kejernihan pikiran dan seterusnya-seterusnya, harus menyerah melihat keadaan ini? Bila mereka terus punya energi untuk berbuat jahat, mengapa pula Anda harus kehabisan tenaga untuk berbuat baik?

Bila saya seorang yang naif, bukankah Anda seharusnya tidak menjadi naif seperti saya? Senyumlah, karena senyum itu adalah ibadah. (*)

19 thoughts on “Senyuman (Calon) Anggota Dewan

  1. yeah…. orang bodoh perlu orang pintar, begitu pula sebaliknya orang pintar butuh orang bodoh.
    Jadi kalo semua orang pengin jadi bloger (baca: orang pintar), siapa yang …..

    (eh sori… di tipi ada cinca laura, keburu abis)

    Like

  2. wah wah…biar saja bangsat2 itu (politikus) bergerak, bagi kami pergerakan mereka itu tak lebih dari gerakan ulat daun. yg cuma bisa menjilati masyarakat dgn janji manis OmOng k0s0ng ..!!
    percaya aj…ntr jg keadilan akan datang,kehidupan semakin baik & terjadi perubahan.

    mungkin.🙂

    Like

  3. Tak ada kata menyerah… Semua berawal dari niat, lalu dilanjutkan dengan ucap dan tindak… Satunya niat, kata dan perbuatan… Tabik…🙂

    suatu yg sulit bs menimbulkan skeptis, pesimis dan optimis. hanya yg optimis yg plg kuat🙂

    Like

  4. Jangan seyum-senyum sendiri Wan….ntar….
    Au ah…..
    Hiii~~~~~~~~~~~~~~~

    memang udah agak “gawat” ini bang, RSJ jauh pula … hahahaha

    Like

  5. Bersenyum-senyum dahulu bermuram-muram kemudia.

    Bergelimpangan calon2 kuat utamanya potensi di daerah, dengan ketentuan setiap partai minimal dapat mengantongi suara 4.275.000 (PT 2,5%) dari 171.068.667 pemilih.

    Senyuman membawa luka

    11000 caleg bisa jadi 1000 tim sepak bola aja lebih potensi, hehehehe………

    ah, tim sepakbola, that’s a good topic.😀

    Like

  6. Kapan Bang Nirwan Nyalon Caleg sambil senyum..senyum..? hiii

    nanti-nanti, bukan sekarang, itu pun kl ada yg mau nyalonin … kl foto saya mah banyak merengutnya…hahahahaha

    Like

  7. Ditempatku ada Caleg ..eh gak sukses alias gak jadi.. ee.. malah dia cemberut terus…dompetnya yang tersenyum terus ..walaah isinya habis kok bang..!

    Like

  8. Ada seorang Profesor; yang saya kenal. Sudah jadi kebiasaan dia untuk tidak dengan senyuman ramah menyapa orang yang menyapa dia. Seakan begitu banyak orang yang mendambakan dia, terlebih dia menilai -sepertinya- orang yang menyapanya bukan level.

    Seiring waktu sampailah ia pada saat musim ramai pencalegan diri; ntah malaikat mana yang membisikkan agar ia ikut serta. Baleho, pamflet, kartu nama bersebaran dimana-mana. Ahirnya sampailah ditangan saya kertas-kertas itu melalui seseorang yang saya kenal.

    Saya tersenyum: Orang begini mau mencaleg? Jangan-jangan uangnya bakal habis tidak karuan. Betapa tidak? Populer tidak, pengabdian di masyarakat terbawahpun tidak terdengar, bagi-bagi uang tidak, mengesankan diri seorang feodalis. Yaah… hanya mengandalkan “Aku Professor!”

    Saran saya: Keluarkan uang sedikit sebelum melangkah, belanjakan uang Rp.10.000,- sebelum hilang ratusan juta rupiah.
    Apa itu?? BELI CERMIN ALIAS KACA CERMIN; Murah Cuman Rp.10.000,-
    Siapa saya, pantaskah saya, apa yang telah saya perbuat untuk orang banyak, mampukah saya mengemban amanah, benarkah tujuan saya murni untuk pengabdian? Dan banyak lagi pertanyaan…

    Like

  9. salam dari bandung

    Para penyembah kekuasaan tanpa rasa malu mempertontonkan kebodohannya di hadapan rakyat dengan iklan politiknya.

    Dan rakyat jelata yang menganut ediologi “ hasal perut kenyang” mau saja di bodohi oleh janji-janji politik kaum penyembah kekuasan tanpa ada perasaan di bodohi dari tahun-ketahun dan hanya bisa beronani dalam pikiran menunggu sang ratu adil.

    “betapa gobloknya hidup di negeri para badut”
    http://esaifoto.wordpress.com

    Like

  10. Bukan cuman Memilih Caleg Yang Salah yang akan menimbulkan Gangguan Pada Kepercayaan. Tuh gara2 salah milih Presiden menimbulkan Gangguan Pada Kepercayaan (MUI).

    Yang mw bikin Pojokan Baru buat Kelompok Non-Block… Silahkeeen…
    Mottonya:

    “Dilarang Mencoblos Milik Orang atau Mencoblos Sesama Jenis”

    Like

  11. Sebagian besar caleg kita, nol besar dalam hal itu. Yang mereka pedulikan adalah “iklan”, “promosi” dst. Mereka tak mau duduk bersama kita, berkunjung ke rumah, mencangkul parit-parit kita, atau konon pula malah menjadi saksi dari perkawinan anak, saudara dan teman-teman kita. Mereka disibukkan oleh perilaku politik “langit-langit”: berada di awang-awang dan tak ingin berpijak ke tanah. Mereka meletakkan dan menempel gambar-gambar mereka di pagar-pagar rumah kita, tapi tak mau masuk ke pekarangan kita.

    Saya Setuju 10.000 %. mereka hanya datang ke pelosok2 saat menjelang pemilu setiap 5 tahun sekali. berjanji akan membangun desa yang dikunjunginya padahal mereka bukan berfungsidan bertugas “membangun”. Sudah saatnya rakyat memilih figur yang benar-benar terbukti mengerti dan berani menyuarakan hak2 rakyat yang sering diabaikan bahkan kadangkala dirampas oleh para penguasa. salam

    Like

  12. Kalau kita tanya kpd semua caleg di indonesia, mereka pasti bingung, mau memberikan materi untuk rakyat dianggap money politic, nggak ngasih rakyat menuntut.

    Dan kalau kita tanya ke rakyat kita, pilih caleg yang ngasih atau caleg yang nggak, mereka akan menjawab yang ngasih, dengan alasan2 punya massa, untuk posko, malu sama team caleg lain, dll.

    Jadi kalau caleg/partai sudah duduk dikursi empuk, jangan menuntut lagi lah……toh kan suaranya sudah dibeli. Kalau ada undang2 yang melarang rakyat menerima imbalan dari caleg, saya yakin pasti rakyat akan demo. Kita sebagai rakyat hendaknya lebih sering berkaca, jangan melulu menyalahkan caleg yang jumlahnya jauh lebih sedikit dari rakyat. Kita masih butuh caleg2 setiap lima tahun untuk menghidupi kita. kecuali undang2 larangan menerima/meminta materi/uang dari caleg/partai dibuat, barulah kita nggak berani. tapi nggak yakin UU ini akan ada. HIDUP MONEY POLITIC !!!!!!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s