Nasib SBY dan “Turunnya” Harga Minyak


Soesilo Bambang Yudhoyono agaknya mesti hati-hati dalam menurunkan harga minyak. Bukan soal politik pilpres, saya kira, sebagai incumbent, dia sudah menang start di situ.

Begini. SBY seharusnya menghitung juga penjajahan Israel kepada Palestina akan membikin harga minyak makin melambung tinggi. Dia harus memakai para analis Departemen Luar Negeri kita, dan bukannya staf luar negerinya si Dino Patti Djalal itu. Yah, katakanlah si SBY ini tak percaya sama para diplomat RI yang kebanyakan hanya jalan-jalan di luar negeri itu, tapi jadi lucu pula kalau dia manut-manut kali pada si Dino. Wong, si Dino ini saja sudah bahan ejekan baik di acara Democrazy dan Republik BBM kok. Pakailah analisis politik internasional langsung dari kampus, atau sewa saja analisis profesional, atau malah kalau dia mau sebenarnya dia bisa menelepon Obama. Tanyakan langsung, “Mas Obama, kapan kira-kira mas mau menghentikan pembantaian ke Israel?”


Hitungan pertama, berapa lamakah perang di Israel itu terjadi. Semakin lama, harga minyak akan semakin tak menentu.

Kedua, apakah ini nanti kemudian menjalar antara Libanon vs Israel dan Iran vs Israel. Kalau sudah menjalar ke wilayah itu, bisa dipastikan harga minyak makin fluktuatif. Ini sudah terjadi beberapa waktu lalu, ketika terjadi perang Libanon vs Israel 2006 lalu yang membuat harga minyak menggeliat-geliat. Yang harus dipikirkan sama SBY dan staf-stafnya itu adalah korelasi positif antara poros Iran-Libanon-Palestina.

Faktor ketiga, si SBY mesti melongok kebutuhan minyak Amerika dan Cina. Baru-baru ini dikabarkan Amerika menjadi pemesan dan konsumsi minyak tertinggi walau ekonomi mereka sedang hancur lebur. Gara-gara dua negara ini pula, harga minyak bisa dipermainkan. Bukan makin rendah, tapi tentu makin tinggi. Karena semakin tinggi permintaan, semakin tinggi pula harga. Ingat pula, di dataran penguasa minyak dunia itu ada Iran dan Venezuela yang sekarang telah dinobatkan menjadi musuh Amerika.

SBY jangan hanya pake ilmu matematiknya Sri Mulyani Indrawati. Karena teori IMF racikan ibu nan manis ini, sudah keok ketika dia salah dalam menyusun prediksi APBN sehingga harus defisit gara-gara harga minyak yang “tak terprediksikan”. Sri Mulyani dan tim ekonomi SBY jelas sudah gagal total dalam ekonomi Indonesia. Bongkar pasang kebijakan ekonomi –terutama harga minyak- dalam hanya beberapa bulan (Mei ke Oktober ke Desember-ke Januari) merupakan salah satu indikasinya. Soal duit kok, main-main, begitulah logikanya. Kalau mau naik, ya, benar-benar diperhitungkan, dan kalau mau turun, ya, juga jangan ditarik ulur. Jangan dalam hitungan bulan harga minyak definitif bisa fluktuatif. Yang kena getahnya itu, ya, di sektor bisnis di mana kepastian harga menjadi syarat utama dalam menyusun rencana kegiatan. Yang paling kena getahnya, rakyat juga.

Seorang pengusaha di Medan bilang kepada saya, “Harga minyak berapapun ‘gak jadi soal, mau Rp 15 ribu, mau Rp 6 ribu, pokoknya berapapun. Tapi yang penting, jangan berubah-ubah terus. Ini sudah harga minyak tak tentu, harga dolar juga macem-macem. Pusing kami nyusun rencana anggaran.”

Dia kasih gambaran ke saya. Misalnya untuk enam bulan, mereka pasang kurs Rp 11.000 per dolar. Yang dikirim itu misalnya saja pisang, ditetapkan harga -setelah dimasukkan keuntungan dan macem-macem- 1 dolar per kilo, atau Rp 11 ribu per kilo. Jadi harga itu yang harus dibayar pembeli, misalnya, di Inggris. Kalau yang dikirim adalah satu ton saja, artinya harga total 1000 US dolar alias Rp 11 juta. Barang pun dikirim. Karena untuk orderan ekspor impor biasanya tidak cash & carry -artinya ada rentang waktu- maka yang Rp 11 juta itu, kita misalkan saja dibayar enam bulan berikutnya. Nah, kalau di enam bulan berikutnya itu harga dolar tiba-tiba menjadi Rp 10 ribu per dolar, maka dia sudah rugi seribu rupiah per kilo, atau Rp 1 juta per total yang diekspor. Yang untung ya pihak Inggrisnya. Yang rugi, ya eksportirnya.

Harga BBM punya pengaruh kuat pada nilai tukar dolar. Apalagi, dalam skala luas, terutama di Indonesia yang sangat rentan ini (naik BBM sedikit harga-harga sembako langsung naik, dan ketika BBM turun sembako ogah turun), ditilik dari hal distribusi, dia jelas mempengaruhi harga, baik harga distribusi, produksi, maupun di tingkat konsumsi nanti. Semakin fluktuatif nilainya –tak tentu apakah turun apakah naik – maka si pengusaha bakal terus-terusan bingung nyusun mata anggaran. Silap-silap malah bangkrut pula.

Harga minyak turun, bukan berarti si pengusaha bakal mereguk keuntungan besar. Kalau semula ditetapkan harga daging Rp 15.000/kilo dengan perhitungan harga distribusi yang disumbangkan BBM Rp 5.000, maka logikanya harga bisa turun. Itu yang ada di masyarakat. Katakanlah misalnya turunnya menjadi Rp 4.500, maka harga daging jadi Rp 14.500. Masalahnya, kalau turunnya itu nanti pada 25 januari mendatang, maka kemungkinan besar produsen, distributor dan konsumen akan lebih menunggu harga turun. Lha, apa mau masyarakat beli daging kalau dia merasa harga daging itu bakal turun? Itu pun masih was-was, karena pengusaha belum tentu mengumumkan turunnya harga. Karena itu pula, akan terjadi penumpukan di gudang-gudang dan lantas terjadilah kelangkaan di masyarakat.

Teorinya, begitu pula yg terjadi ketika kelangkaan BBM kemarin. Para SPBU sudah memesan dengan harga Rp 6.000, eh, tiba-tiba harga diturunkan jadi Rp 5.500 dan kemudian Rp 5.000. Jadi, daripada mereka memesan dengan harga Rp 6.000, si pengusaha galon minyak lebih memilih memesan pasca harga turun saja. Dia pun sebenarnya “enggan” pula melepas stok yang ada di SPBU.

Tapi ya, saya sebenarnya kurang percaya juga dengan teori ini. Pasalnya, galon minyak di Indonesia ini, pada manut semua sama Megawati Soekarnoputri dan Taufik Kemas. Wong, mas Taufik itu toke galon minyak terbesar di seluruh Indonesia ‘kok.

Jadi, semua ada unsur politiknya. Penurunan harga BBM, pasti diikuti dengan kelangkaan minyak.

* * *
Dulu Sri Mulyani bilang, untuk menyusun APBN ada patokan harga BBM, nah, kalau turun terus seperti sekarang, berapa patokan harga BBM versi APBN? Tidak jelas. Mau dibuat harga 80 dolar per barel, eh harga minyak dunia sudah 40 dolar per barel. Katanya pula, equilibrum APBN 2009 ada di kisaran 45 Dolar per barel. Selisihnya dialosikan kemana? Oke, katanya nanti untuk menghapus subsidi, ini dikurangi dulu nilai subsidinya. Tapi itu kan nanti, dan lihat dulu nilainya. Selisih 20 dolar per barel saja, itu sudah sangat besar, lho, apalagi kalau harga minyak terus turun dan konon pula si SBY itu bilang ada kemungkinan harga minyak akan turun lagi. Jangan lihat angkanya, lihat perkaliannya. Jangan-jangan, selisihnya itu dikorupsi pula. Atau jangan-jangan, jadi dana kampanye pula. Ah, tapi ya sudahlah, kita berbaik sangka saja dulu, walau kita bisa senyum-senyum sendiri bila kita membandingkannya dengan rusaknya mental para pejabat di Indonesia ini.

Jadi, SBY dan tim ekonominya sudah jelas tidak konsisten dengan programnya sendiri. Ini juga jadi pukulan telak bagi sarjana-sarjana ekonomi yang terlalu manut pada konsep anglo-saxon.

Kalau menyusun APBN saja harus ditentukan rate harga minyak per barel, maka demikian pula para pengusaha itu ketika menyusun anggarannya, mesti ada rate yang jelas dan tegas. Kalau semua serba tidak jelas begini, maka bisa-bisa kampanye SBY kepada masyarakat soal turunnya harga BBM, justru menjadi bumerang. Itu karena pengusaha sudah “suntuk” dibuat SBY yang cuma sibuk mematut diri di depan kaca televisi.

SBY 2009? Ah, Anda sendirilah yang menjawabnya … (*)

= = =

PS: segala pertanyaan soal teori ekonomi dimohonkan diajukan saja kepada srimulyani.com

😛

59 thoughts on “Nasib SBY dan “Turunnya” Harga Minyak

  1. Turunnya harga minyak dunia mampu dimanfaatkan SBY secara lihai dengan menurunkan harga BBM dalam negeri.

    Tentu ini menjadi iklan politik bagi SBY untuk maju lagi kedua kali jadi Presiden. Soal prestasi.., nol besar.. Banyak janji politik semasa kampanye dulu yang tidak dipenuhi.

    Yang pasti, selama masa kepemimpinan SBY, bencana alam yang memakan korban jiwa dan harta benda terus datang silih berganti. Pertanyaannya.., “Akankah kita mau ambil resiko untuk kedua kali terjadinya bencana alam bahkan lebih besar ketika SBY terpilih lagi???”

    Jawaban ada di tangan kita semua…

    pepatah jangan jatuh pada lubang sama agaknya sudah mulai terhapus di kebudayaan Indonesia.🙂

    Like

  2. Sekali lagi, Adakah kepedulian pemerintah pada masyarakatnya begitu sangat tega mengombang-ambingkan harga, yang hanya dinikmati para spekulan besar. Berpatok tak jelas Dollar atau BBM kenyataan di lapangan harga terus melambung.
    Fungsi kontrol/kinerja SBY dan pembantunya semakin tidak jelas naganya merambah keterpurukan saja.

    Menaikan harga BBM ala SBY :
    US$. 70.00/barel dari Rp. 2.500 menjadi Rp. 4.500
    US$ 125.00/barel dari Rp. 4.500 menjadi Rp. 6.000
    US$. 45.00/barel dari Rp. 6.000 menjadi Rp. 4.500
    Mana turunnya Bpk SBY……………

    Hak angket panggung sandiwara, menaikan harga dengan semena-mena tak ada pertanggung-jawabannya. Penderitaan masyarakat semakin nyata mana keadilannya ……………

    wah.. anda lebih jeli dari saya. sip….😀

    Like

  3. Bung tolong di koreksi tulisanx diatas..kan bung mengatakan jika asumsi 1 kg pisang yaitu 1 dollar trus yg dkirim seribu ton jadi harganya yah 1 juta US bukannya 1000 US…maaf sebelumnya..

    oiya iya…😛 sori..sori…thanks atas koreksinya ya…

    Like

  4. suka tdk suka, sy kira sby pada detik2 pemilu 2009 msh mempunyai pencitraan positif thd sebagian besar pemilih . dan suka tdk suka pemilih yg sebagian besar ini msh saja berharap banyak kpd sby. gmn nih bang nirwan?

    Positif atau tidak itu tergantung informasi yg sampai kepada rakyat. Surveylah daerah sekitar kita di lingkungan kita, maka ibu-ibu kita, bapak-bapak kita, warung-warung kopi, akan bercerita soal kemuakan mereka kepada SBY yang terus mematut-matut diri di kaca-kaca televisi sementara rakyatnya terus merana di tingkat bawah. Politik ideologis hanya bisa dihempang dengan money politic dan machiavelistis yang refresif. Musuh terbesar Pemilu 2009 adalah money politic. Siapapun di antara kedua orang yang terus berkelahi ini, Mega dan SBY, akan memakai instrumen ini di tingkat bawah. Keduanya tak menguntungkan bagi perbaikan negeri ini. Mari awasi dengan sangat-sangat ketat mulai dari minus 1 H pemilihan, TPS, PPS, PPK, KPU. Selamatkan Indonesia!

    Like

  5. Jangan Banyak ceritalah semua dikasih hati rakyat ini makin suka-sukanya ……. bila perlu naikkan aja pak sby biar tau rasa semuanya …………. dasar manusia banyak cerita

    Like

  6. kita dukung apa yang ada sekarang, karena terus terang saya kesel kalo lihat salah satu Capres…yang dulu mantan Presiden sepertinya sekarang ini jelek abis padahal kalo dibanding dulu ma sekarang masih bagusan dulu….

    saya sih bukan pendukung SBY tapi tidak semua kebijakan pemerintah itu salah,…..

    Like

  7. setuju bang nirwan, yg sy heran ialah terletak pd peta per-politik-an saat ini,ada kesan pemaksaan untuk positioning capres dan partai tertentu. dlm berbagai survey anehnya partai demokrat slalu diatas,menurut sy ada kesan survei ini mengajak swing vooters beralih ke partai tsb. ditambah saiful mujani skrg bekerja untuk metro tv punyanya surya paloh golkar,berarti teori jarum suntik diberlakukan oleh metro tv untuk membenttuk opini publik,dan pada akhirnya sby-jk terpilih kembali.. sperti pa amien bilang kmarin dikompas.com bahwa sby atau megawati hanya menawar kan kontinuitas,tdk ada perubahan yg berarti. pemilu 3 bln lagi, blm ada tanda2 berpihak kpd perubahan,bahkan poros tengah jilid 2 pun ditolak pks yg notabenenya partai islam.. jd gmn menurut bang nirwan solusi rasional untuk menghadang sby dan mega ini?

    Swing voters itu diciptakan saja. Jadi ada istilah “golput by design”. Sudah saya tulis di tulisan PDIP vs PKS kemarin, saya kurang percaya dengan teori floating mass itu. hehehehe … jadi lembaga survey itu tugasnya cuma satu saja: menakut-nakuti partai dan elit. Oleh siapa? tebak sendiri.😛

    SBY dan Mega ‘kan terus berantem, manfaatkan saja apa yang ada.🙂 PKS jelas gak mau ke poros, wong dia terus merapat ke Mega kok. Saingan Hidayat jadi wapres Mega, ya, cuma Sultan. PKS mana punya duit mau jadi Presiden. Wong, sumbangan kader-kader PKS yg sering dipuja-puji itu, cuma bisa beli nasi bungkus kok, hahahaha… SBY gak mgk bs ditembus PKS. SBY itu pandang sebelah mata sama PKS, karena SBY masih perlu sama Kalla.

    SBY? Yah sama Jusuf Kalla ‘la dia. Mana mau dia hilang duit lagi, apalagi salah satu sumber uangnya, Aburizal Bakrie blg tak mau ambil bagian dalam kabinet mendatang. hehehe😀 So, Golkar-Demokrat versus PDIP-PKS/Sultan. Besar? Ya besarlah dua kekuatan poros ini.

    Partai-partai yang tak kebagian tempat di arus utama itu bakal merapat dalam Poros lain, dan mungkin saja itu Poros Penyelamat Bangsa versi Amien.🙂

    Prabowo, Wiranto, Sutiyoso? Prabowo tembakannya bukan Presiden, dia Wapres. Wiranto sudah tamat, orang-orang Hanura sudah harus kalah sebelum bertempur dengan orang-orang Gerindra. Makanya si Wiranto ini sampe susah-susah ndatengin Mahkamah Konstitusi supaya item capres Independen bisa gol. Sutiyoso? Tak masuk hitungan. Ngurus DKI aja gak becus apalagi ngurus negara.

    Kalau bisa mencawapreskan Prabowo, pertandingan akan jadi seimbang. Duit Prabowo selangit, tapi dia tak punya perahu karena Gerindra itu sejatinya belum ada suara. So, dia butuh perahu. Tapi dia gak akan bisa beli partai-partai seperti PPP, PKB, PAN, PBR dll itu dalam hal calon presiden, tapi kalau cawapres 99% bisa. Prabowo itu pinter dan rasional, dia pasti bisa mengukur kekuatan pribadi. Siapa capres Prabowo dan partai-partai itu? Tebak sendirilah … Hahahahaha😛

    Like

  8. Gak ngira ternyata SBY didukung oleh orang-orang yang oleh Jamal diistilahkan.., “banyak komentar preman,ky nya ga disekolahin ma orang tuanya nih?”

    Saya jadi makin gak pengin dukung SBY.., daripada dikategorikan termasuk kelompok orang yang gak disekolahin sama orang tuanya…
    😀

    Like

  9. hehe.. bisa saja bung mahendra! apa anda sj yg jd capres alternatifnya? biar sy kebagian posisi mentri gitu.. hehe

    Like

  10. Megawati atau SBY atau Amin Rais…? Mega Aku anti..?SBy gak terlalu suka ..? Amin Rais suka banget..tapi..? kurang pendukung..? ah mendingan pilih Bapaku aja…! he he he

    Like

  11. amien rais kurang dukungan …..makanya anda dukung donk ….!??
    jgn hanya mendukung yg sudah mapan …dukunglah yg belum mapan,..biar mapan….. hhehe

    AMIEN RAIS FOR PRESIDENT…..!!!

    Like

  12. saya dukung prabowo saja… GERINDRA

    *halah kok malah kampanye*

    tp itungan di komen no #2 itu bener masuk akal, jadi sebenarnya ga ada penurunan harga yg ada harga kembali ke posisi kenaikan harga pertama..

    Like

  13. bung nirwan, saya ikut nimbrung utk ngasih comment.

    prilaku atau sikap calon pemilih itu setidaknya bisa dikatagorikan atau diklasifikasi pada pengakuan atau pernyataan dia tentang partai atau tokoh dalam pemilu:
    1. sudah punya pilihan pasti. dan tidak akan berubah lagi.
    2. sudah punya pilihan, tapi belum pasti, ada kemungkinan pindah/beralih ke partai atau tokoh lain. (swing voter)
    3. belum punya pilihan. (floating mass)
    4. akan golput.

    survey mencoba merekam kecenderungan pemilih tersebut melalui sample sesuai dengan metode yang dia gunakan. metode ini secara akademik bisa dipertanggungjawabkan dan memang sering terbukti mendekati kenyataan dari populasi. tentunya kalau survey tersebut dilakukan dengan baik dan benar. lembaga survey yang ngaco tentunya akan mati dengan sendirinya, gak ada yang mendengar/percaya.

    masalahnya, kalau bukan survey, lalu dengan apa kita bisa mengukur/melihat kecenderungan pemilih tersebut?

    terus terang saya jadi “gak ngerti” kalau Anda bilang:
    “Swing voters itu diciptakan saja. Jadi ada istilah “golput by design”. Sudah saya tulis di tulisan PDIP vs PKS kemarin, saya kurang percaya dengan teori floating mass itu. hehehehe … jadi lembaga survey itu tugasnya cuma satu saja: menakut-nakuti partai dan elit. Oleh siapa? tebak sendiri.

    di sini bukan masalah percaya atau tidak, tapi swing voters dan yang floating ini memang hal yang biasa dan dapat kita temukan pada prilaku pemilih di manapun.

    itu aja.

    nambah dikit: sekedar catatan tambahan, diantara kasus dalam konteks tulisan anda diatas: sony pun hengkang dari indonesia, memindahkan pabriknya ke malaysia meskipun upah buruh di sana lebih mahal. masalahnya: di negeri jiran ada kepastian. kepastian hukum/aturan, keamanan, prasarana yang bagus, listrik gak byar pet, gak ada pungli, uang jago, dsb).

    makasih.

    Secara teoritis, swing voters dan floating mass itu memang berbeda. Swing voter karakternya peralihan, karena itu sebelum dia beralih atau statis di suatu pilihan, ada ruang tertentu yg harus dilewati. Di ruang itu permainan politik berada, di antaranya adalah konsep “Golput by design”. Ini adalah perilaku politik yg menset agar ada golput.

    Untuk mengalihkan pilihan seorang pemilih yg sudah atau akan memilih suatu partai, mula-mula dia harus digolputkan dulu. Logikanya, otaknya mesti di-brainwash alias diputihkan dulu, krn gak mgk pemilih aktif di PDIP bisa langsung memilih golkar. Caranya macam-macam dan butuh waktu yg tak sebentar. Dlm rangka pragmatis jangka pendek, golput by design ini bisa dijadikan sbg sumber suara. Kok bisa, kan golput? Ya bisa, karena kertas suara org yg golput akan dimainkan di meja panitia pemilu, apakah diarahkan ke calon tertentu, atau malah dirusak secara administratif. Itu salah satu di antara banyak contoh golput by design.

    Ruang peralihan itu bernama floating mass. jd golput, baik yg sadar, tak sadar, maupun yg digolputkan, ada di ruang itu. Mengapa sy kurang percaya pd teori floating mass ini? Itu karena karakteristik sejarah politik indonesia yg sangat jauh berbeda dengan yg terjadi di negara-negara lain, terutama negara maju. Pemilih Indonesia belum rasional karena masih kuatnya kultur paternalistik dan feodalistik. Masih gampang diarahkan ataupun tidak diarahkan pada calon atau partai tertentu. Jadi, di antara para golput sadar, tak sadar, dan digolputkan itu, nanti bisa dilihat besar frekuensinya. Golput sadar (benar-benar sengaja tak mau memilih) itu berada di lapis paling bawah, alias yg paling sedikit jumlahnya. Itu sebabnya, sy kurang percaya, bukan tidak percaya atas eksistensi ruang itu. Hingga saat ini tidak ada kesepakatan berapa besar ruang floating mass itu, yg ada cuma mengira-ngira saja, dan yg paling bisa diukur adalah dari tingkat partisipasi pemilih. Di situlah ada konsep “golput”.

    Semua itu hanya bisa dilakukan atas teori-teori politik yg dikuasainya sepenuhnya oleh para kampus, elit itu memamah, mengkonsumsi dan melakukan apa yang “disuruh” saja. Di situ ada masalah pertanggungjawaban intelektual.

    Survey-survey itu masih dalam kerangka itu. Tujuan survey masih pragmatisme, seberapa besar frekuensi si anu atau partai anu. Survey itu kan deskriptif kuantitatif, bukan kualitatif. Kelemahan metode kuantitatif dalam melihat politik ya itu, karena dia tidak akan mampu menjangkau super-multivariat variabel dalam diskursus sosial politik dan kultur. Apalagi, statistika itu gampang betul diolah-olah, mau berapa persen tergantung pesanan.🙂 Dus, melihat karakter pemilih Indonesia tak bisa dilakukan dengan metodologi sesederhana tabel-tabel persentase. Dia punya fungsi komplemen saja.

    Karena itu, kl pertanyaannya adalah berapa persentase, ya, statistik memang metodenya. Tp kalau pertanyaannya adalah bagaimana, mengapa, dan mau diapakan, maka statistik is out of order. Loh kok survey banyak benarnya daripada salahnya? Namanya design, ya kemungkinan benarnya jadi makin tinggi. Kl suatu partai atau calon ingin menang 37%, ya si lembaga survey bertugas mengolah itu semua, jadi merangkap-rangkaplah semua: ya survey juga ya konsultan politik juga. Apalagi, ada instrumen dari statistik yang “maha hebat”, yaitu margin of error. Kok bisa? Ya bisa, namanya orang pinter, kl gak pinter, ya dia gak kepake.

    Like

  14. BBM turun, SBM naik (lagi)
    maunya SBY sih begitu,
    tapi maunya Pak Nirwan
    bagaimana ? kita sih nurut aja
    hehehe🙂

    Belum turun bang, bandingin aja sama harga minyak di 2005 lalu. Belum lama SBY duduk di Istana negara, eh dah naikin BBM,,,, terus iklan demokrat bilang pula kalau SBY dah tiga kali nurunkan harga minyak …. hahahahaha insulting intelligent aja kerja SBY ini …😀

    Maunya kita bang, ya, Amien jadi Presiden… ngono … hihihihihi

    Like

  15. @bang nirwan. sperti yg anda perkirakan adanya poros alternatif versi pa amien,apakah menurut hal tsb seberapa probabilitas dpt terjadi? dan skiranya hal tsb terjadi menurut anda siapa capres yg kemungkinan dpt menandingi 2 calon kuat yg tlah anda kemukakan diatas?

    SBY dan Mega kepinginnya Pilpres 2009 itu hanya ada mereka berdua. Jadi, poros alternatif itu bakal terus dihempang. Di sini yang jelas goblok bin aneh bin bahlul itu ya Golkar, parpol pemenang pemilu kok melepaskan jalan jadi RI-1. Nah, yg terjadi di Golkar itu jelas-lah kerjaannya SBY dan Mega. Bukan kerjaan Partai Demokrat yah. Bagi SBY, demokrat itu kl bahasa medannya, “KAPERLEK”, kapan perlu pake. hehehe

    Jadi yang main ini adalah SBY dan timnya, dan Mega dengan PDIPnya. Bagi saya, hingga saat ini, untuk memainkan kekuasaan, PDIP adalah partai yang paling solid. Dihantem isu korupsi Agus Tjondro, amoral, dst, masih aja bandel…. PKS?😀 ini partai anak-anak, jadi biarkan saja dia tumbuh dan berkembang. Namanya juga masih ABG. Makanya, ketika dikerling sama Soeharto udah langsung kege-eran. hahahaha, jadi orang-orang ini masih sibuk mencari jati diri: saya ini partai islam, moderat, nasionalis atau gimana ya? Jadi, maklumin sajalah itu.😀 bagaimanapun, PKS masih tetap diperlukan untuk menyehatkan bangsa ini, walau harus ada reformasi yg bersifat revolutif di partai ini.

    Nah, kalau sekelas Golkar saja bisa diobok-obok dengan mudah begitu, konon lagi partai-partai kelas menengah dan teri. Ini memang tidak melulu soal Amien, namun Amien adalah TO yg punya spefisifikasi khusus. Di luar orang-orang itu, cuman dia yang “mengerikan”. Kenapa? Dia punya basis massa, jejak historis yang kuat, pinter pula, koneksi internasional, dll dll. Pokoknya bagus lah.😛 Yang msh bisa bikin tenang SBY-Mega hingga saat ini adalah Amien terus-terusan miskin, itu saja. Namun, untuk soal-soal yang lain, mereka terpaksa bikin tim super khusus untuk mematikan Amien.

    Amien itu sudah TO alias target operasi dengan set agar duduk diem dan out of history. Itu sudah didesign untuk dia oleh orang-orang ini. Jadi, dia selalu dikatakan sejarah masa lalu. Melawan itu tak sulit sebenarnya. Apa ada calon presiden yang kuat sekarang ini bukan orang masa lalu? Hahahahahaha ….. Prabowo, Mega, SBY, Wiranto, Gus Dur, Hidayat, Yusuf Kalla, Sutiyoso dll dll itu emangnya orang masa sekarang? Siapa yg baru? Rizal Ramli, Fadzroel Rahman? Dua orang ini tak punya basis massa, ini intelektual sejati, khasnya anak sekolahan dan mahasiswa. Bolehlah untuk sekedar wacana saja.😛 Mari dukung mereka untuk itu.

    Seberapa besar probabilitasnya? Itu sudah terjadi, karena itu pertanyaannya kita rubah saja: seberapa besar kemungkinan dapat perahu. Nah, di situlah partai-partai kelas menengah itu dimainkan, bagaimana agar partai kelas menengah itu jangan berdialog dengan Amien. SBY-Mega kemarin itu telah kecolongan sebenarnya, waktu Amien diundang dalam Forum Mendengar PPP. Makanya, Bachtiar Chamsyah langsung meng-counter dengan statemen: SBY-JK masih duet yang terbaik. Nah, itu PPP. Di PKB, di-setlah agar Muhaimin pun jadi calon presiden. Padahal Muhaimin sendiri sadar kalau dia saat ini belum naik kelas ke tingkat presiden. Nah, hubungkanlah itu dengan statemen Amien kalau dia cuma perlu 15% suara. Sejatinya, dia bilang itu bukan target PAN, partai yg didirikannya. Karena PAN 1999 dan 2004 kan suaranya cuma sekitar 7%. Jadi, 15% yang dimaksudkannya itu adalah koalisi dari partai-partai yang akan mendukungnya. Siapa-siapa itu? Nanti bakal ketahuan. Semuanya memang menunggu pemilu legislatif, walau semuanya sudah dirancang tahunan. Jangan sampai sebelum pemilu legislatif, design itu sudah terbongkar. Memangnya cuman militer yg bisa bertempur di negara ini hahahaha …

    Kalau Jamal mau, coba aja hitung-hitung kalau Amien diduetkan sama Prabowo. Itu pasti gempar, menakutkan, mengerikan, buat SBY buat Mega, buat Golkar… Gak mungkin? Yg gak mungkin itu, kalau SBY Presiden dan Megawati Wakil Presiden …. hahahaha

    (ginilah kalo nanggapin komentar sambil nyudut rokok, jadinya kepanjangan, mohon maklum….😀 )

    Like

  16. kalau masalahnya menyangkut “trust” memang jadi lain.
    malah bisa jadi repot.
    karena di ranah publik, si “trust” ini masih jadi barang mahal dan langka di negeri ini.

    survey prilaku pemilih memang mengukur “persepsi” yang setiap saat bisa dengan cepat dan mudah berubah (atau diubah).
    lain dengan kuik kon (hehehe ini transliterasi ke bahasa medan) yang mengukur hasil pilihan.

    btw. ada yang seru juga tuh untuk disoraki. yusril pengen maju jadi capres dengan perahu pbb, sementara sang ketuanya, kaban, pengen nyari posisi aman dengan ngajak kawin lagi dengan demokrat.
    terus, yenni putri gus dur memboyong pasukannya di pkb untuk naik ke gerbong mega. cak iming pun mulai sewot.
    lalu, partai (yang mengaku) islam lainnya, pks, pbr, ppp, dan lainnya? anda tentu lebih faham. hehehe. kasihan udah kedodoran sebelum melangkah. saya kira yang maju ke capres, ujung2 nya yang maju ya 4l lah.

    saya kira, quick count masih tetap dalam kerangka itu. wong, pelakunya itu-itu juga kok. pake istilah Adam Malik yg orang Medan itu, “Semua bisa diatur.”🙂

    ya saya setuju dengan empat bakal calon itu. itu kemungkinan paling besar. Tapi Yusuf Kalla maunya cuman 2, maksimal 3. semakin banyak calon, semakin banyak uang keluar.😀

    Like

  17. Terimakasih informasinya.
    Harga BBM memang berpeluang terpengaruh oleh konflik Palestina. Tetapi konflik Palestina merupakan konflik menahun yang insyaAllah akan berlangsung terus hingga akhir zaman. Oleh karena itu, pengaruhnya tidak lagi mengejutkan. Dengan demikian ada dua langkah penting yang perlu dilakukan: Pertama, tingkatkan efisiensi pengelolaan BBM dengan mengaudit secara ketat dan periodik perusahaan milik rakyat, yang bernama Pertamina. Kedua, beri bantuan kemanusiaan dan dukungan politik bagi perjuangan Bangsa Palestina melawan penjajahnya Yahudi Israel, yang didukung Komunitas Iblis Internasional (Yahudi Israel, Amerika Serikat, Inggris, Perancis, dan sekutu-sekutunya).
    Untuk berbagi informasi silahkan mampir ke “Sosiologi Dakwah” di http://sosiologidakwah.blogspot.com

    Like

  18. Menurut saya; pribadi. Rakyat {orang-orang yang tidak memiliki kepentingan politik} sudah lebih pintar menentukan sikap politiknya walaupun secara Teori Politik sangat tidak ilmiah. Rakyat sudah MUAK dengan pemimpin bangsa ini akibat Kebijakan yang mereka tempuh selalu berakibat buruk bagi Rakyat dan memperkaya kroni penguasa dan berbohong ria dengan pengusaha. Nah Rakyat yang lebih pintar menentukan sikap politiknya itu, menentukan sikapnya dengan Menempatkan dirinya pada posisi Acuh Tak Acuh; gak cuman level Presiden bahkan Pemilihan Kades sekalipun!!
    Rakyat hanya bisa berujar: “Gak ngaruh siapapun Presidennya. Aku miskin tetep aja miskin. Aku bisa kaya juga ga karena Presidennya, tapi karena aku sendiri dan ijin Allah!. Zaman sudah berubah, ojo dipokso-pokso ya toh. Bahkan ketika aku yang harus menanggung anak-bini memberi sesuap nasi, ga kerasa bangets bangeetss bahwa Presiden dan Pemerintahnya telah memberi makan. Buktinya duit seperti tidak berharga, sembako mahal, apa-apa serba mahal, cari kerjaan sulit sementara Presiden, Menteri, Dewan hidup dalam kemewahan. Siapapun Presidennya hidup kami tetep aja begini! Ketika waktu kampanye tiba, terpampang baleho minta dipilih. Koq kami disuruh MILIH? Huahahahaha…. Lucu.. lucu. Dulur bukan, famili bukan, apalagi saudara. Sama-sama rakyat, sama-sama manusia merasa lebih minta dipilih! Enak di dia, ga enak di gue”

    Jangan bilang orang-orang yang ga milih itu Golput alias Melakukan Perbuatan Maksiat. Justru Golput itu harus merupakan HAK Rakyat Untuk Tidak Memilih alias Abstain. Artinya? Calon yang dicalonkan itu Tidak Seorangpun Berkenan Di Hati sang Pemilih. Kenapa dipaksa? Kenapa Calon Yang Dicalonkan itu jadi Calon? Konspirasi, Uang!!

    Silahkan lakukan familiar interview ke “bawah”. Presiden hanyalah “lambang pemersatu bangsa” di mata rakyat, ga ngaruh ga lebih!! Rame saat kampanye? karena Uang!! Lagi lagi Uang!! Ambil uangnya; milih? Nanti dulu. Thx.

    setuju.

    Like

  19. Pemerintahan SBY berhasil menurunkan 3x harga BBM, saya tambah bingung saja di negara ini.

    Harga BBM dunia menukik SBY dengan bangganya bermanuver mempolitisasi mempengaruhi masyarakatnya seolah kinerjanya yang berhasil. informasi tak berpihak pada masyarakat dikenyataannya pada pemerintahannya harga BBM dari Rp. 2.500 menjadi Rp. 4.500 dikatakan berhasil menurunkan berulang kali.

    Maaf andai saya dikatakan sudah tidak sabar lagi…….. iya karena dengan cepatnya Pemilu berarti akan ada Presiden baru percayakanlah dan berikan suara yang bisa diharapkan jangan Golput.

    Like

  20. @Karto
    Pasti ini Rosul baru dari indonesia…hehehe
    turunannya siapa ya..to..?
    apa temennya yang kemaren baru ditangkap itu ya..?

    Like

  21. Aku jadi ingat kisah “Wayang Kota” ataupun “Wayang Kampung”. Alkisah… Di sebuah tempat {lingkungan RT} sering terjadi “Kebongkaran Rumah”. Masyarakat mulai resah, salah seorang penduduk yang cukup jeli melihat hal itu bukan kebetulan. Singkat cerita dia mencari tahu dan bermaksud mengatasi masalah itu dan bertemulah dengan para “gerombolan”. Obrol punya obrol para “gerombolan” bilang… :
    ‘Mas… di sini yang jaga sapa ya. Kalo ga ada, kita aja yang jaga. Ga mahal cumaaan… bantuan dikitlah…”

    Penduduk yang pintar itu melobi kesana-kemari, berhasillah ia menempatkan para “gerombolan” itu sebagai penjaga wilayah, sejak itu kampung jadi aman. Ga berapa lama tersiar kabar salah seorang “gerombolan” itu kena Dooorrr!!! di tempat lain. Mmmm… salah seorang dari mereka gagal di tempat lain, tapi berhasil di sini.

    Pesan moral; “gerombolan” itu ternyata yg bikin kekacauan di kampung. Setelah mereka “diangkat” dan dapet jatah bulanan…? Weeekkk…. kampung aman.

    Huehhehhehehe… Miinyak goreeeng…

    gosip tukang minyak, hahahaha… lanjut-lanjut😛

    Like

  22. @Jamalsmile
    Waduuh bener bang ternyata jaman sekarang Rasul punya Web..?
    walaah klo dulu pakek apa ya..?
    lho kok jadinyimpang dari topik diatas…!

    Like

  23. Cari punya cari; tau punya tau. Cari tau! Eh… ternyata Penduduk yang jeli dan pintar itu yang berani bayar tinggi para “gerombolan” itu dan dia seorang Pengecer Minyak Goreng produksi Cepu {Minyak Goreng koq dari Cepu…?}. Pantesan dia bisa bayar lebih dan jelaas para “gerombolan” manut-manut wae. Selain Pengecer Minyak Goreng, dia pun seorang yang tampan {katanya sih… pintar bersolek; Uih… seperti perempuan saja!}. Yang pasti para “gerombolan” kebagian jatah Minyak Goreng Gratis daan… rame-rame dia disukai untuk jadi Pak RT. Jadilah ia Pak RT; huebat…! Kampung benar-benar aman!!

    Baru-baru ini, dia minta dipilih lagi jadi Pak RT setelah masa pengabdiannya hampir habis dan Pintarnya muncul lagi. Kepintaran … apa Kelicikan ya? Dia bagi-bagi Gratis Minyak Goreng di seantero Kampung. Kenapa…? Makluum, kan Komoditas Kelapa Sawit lagi anjlok; dari Rp.1.200,- per Kg harga di pabrik anjlok menjadi Rp.200,- per Kg. Jelaas Minyak Goreng murah; lah… daripada Tandan busuk mendingan dibagi-bagikan Gratis sekalian meMoment-Puntirkan cerita Wayang Kota atau Wayang Kampung. Wadduuh Mak… Mak! Mati aku; gimana SPBUku {rugi aku}, gimana Pabrik CPOku {busuk tandanku}.

    Huehhehehe… Miinyak Cepuuu…

    o o o siapa dia ….😀

    Like

  24. Sebenernya dia tuh ga punya duit! Maksudnya ga pinter cari duit! Tapi sama duit mau… Dia tuh disosokkan, dipanggungkan, diperlambangkan, ditamengkan oleh yang mulai ancur brankasnya diantem sama Global Finance Crisis bahkan sejak segala musibah itu terjadi… dimana-mana!

    Selain sama duit mau, ngaku-ngaku juga mau. Eh… lucu Pak RT koq ngaku karena kebijakan dia sebagai Pak RT-lah Harga Sawit Anjlok sehingga Minyak Goreng turun… Maksudnya dengan mengaku gitu supaya dipilih lagi jadi Pak RT.

    Weleh… Pak RT ternyata bodoh; ga sepintar yang saya kira. Orang semua sudah tau bahkan anak kecil juga tau justru dengan Minyak Goreng yang Naik seenak udel, turun seenak udel akan menghancurkan kuali dapur. Betapa tidak, berapa ribu tetangga yang di-PHK. Berapa ratus PT,CV,Fa,PD jd gila.

    Pak RT nih mirip salah satu cucu saya yang bandel. Ketika Mamahnya ngasih duit jajan lebih sama adik kakaknya, dia ngaku karena dia ngelobi Mamahnya. Ketika dia ngerusak rimot TV, dia cuex sok dingin pura2 ga tau.

    Uuhh… sama saja! Hayoo… sapa yang ga MUAK? Maksudnya sama Pak RT bukan sama cucu sayya…😉

    Huehehehehe…. Karena sayyaa….!

    Like

  25. Masyarakat sekarang sudah tidak bodoh lagi stasiun TV sudah banyak, internet tumbuh subur, koran ada beragam berita, orang terpelajar sampai kepedesaan.

    Janji bakal presiden dalam orasi dikampanyenya “cukup 1 (satu) kali saja jadi presiden” maka jadilah presiden karena memang rumornya saat itu sedang marak adanya “presiden seumur hidup” jadi masyarakat mengharap banyak dari presiden yang baru ini tapi kenyataannya sama sekali tidak mendapat perubahan yang berarti adanya bermain politik terus. bahkan masih mengharapkan jadi presiden berikutnya lalu apa kata dunia ……………

    Adanya nilai2 positif yang tekandung difigurnya tampak dalam kasat mata, penuh percaya dan harap tapi apa yang terjadi kekecewaan demi kekecewaan terus menggayuti.

    5 tahun cukup sudah di rasakan manis getir eranya, positif negatif andalah yang menilai………

    Like

  26. yg jelas…..
    selama “makelar” yg satu ini mimpin…INDONESIA kena sial terus…
    blum genap setaon dia mimpin…eh,..terjadi tsunami di aceh….
    bencana dan bencana datang silih berganti..krisis dimana2….bukannya makmur malah hancur….!!!.

    APA KABAR LAPINDO……????

    Like

  27. setuju…!!!
    (kayak rapat paripurna aja ya,, setujunya semangat betul..)
    satu hal lagi bang yang aku heran,, BBM sudah turun,, tapi ko’ tarif angkutan umum masih menjadi masalah ya..
    memangsih,, sudah diambil kesepakatan antara organda, pengusaha nagkot, satlantas, DPRD, dan PEMKOT, kalau tarif angkot untuk umum 2600 dan pelajar 1600, walaupun dengan perdebatan yang panjang,, tapi kenapa dilapangan antara supir dengan penumpang masih saja terjadi pernag mulut,, supir angkot masih saja bertahan dengan tarif lama walaupun sudah ada ketetapan PEMKOT.
    kalu aku memandangnya sih simpel bang ini ya gara gara sembako yang bukan malah turun tapi malah naik.
    antara supir dan penumpangkan sama sama rakyat kecil,, supir juga nggak mau kalo dapur nggak berasap.
    hal ini dah ku tulis bang di blognya barmas,,
    kalo ada waktu main-main lah kesitu bang..
    he..he..

    sama saja kedua orang itu, sama-sama bengak! blog kelen langsung kulink…😀

    Like

  28. @ putra

    Kinerja pemerintah sudah tidak efektif/maksimal lagi, masa iya MUI harus mengambil alih, yang ringan begini saja tidak selesai …………… lalu apa kata bang Oneng !!!!!

    Like

  29. Mohon Ijin… Rajeta kembali angkat bicara. {huehehehehe…}

    Wahai cucu2qu… tahukah kalian “ilmu” seperti apa yang dipakai Pakde Soeharto sehingga mampu mengangkangi Indonesia selama >32 Tahun???

    Soeharto cuman anak seorang petani. Yak! Cuman Anak Seorang Petani. Tapi justru itulah yang menjadikan Soeharto mampu mengangkangi Indonesia selama >32 Tahun karena Petani punya Palu dan Arit. Palu dipakai petani untuk bikin Pondok, Arit dipakai petani untuk babat rumput ataupun padi. Bisa dimengerti??

    Kalau belum mari kita “nyatakan” karena itu semua kiasan.
    Rumput = Rakyat yang nakal
    Padi = Rakyat yang nguntungin
    Arit = Peraturan / Institusi
    Palu = Rumah / Penjara

    MUI itu ALAT secara umum; melarang merokok adalah ARIT yang akan MEMBABAT {Ntah padi, ntah rumput. Kalo dia teriak berarti rumput. Kalo diam terimalah Arit itu}. Berani nentang Ketok Pala dengan PALU, seleseeeeei…

    Dalam hal ini yang bego sapa??? Jelas MUI, topengnya aja Islam! Agama koq bisa diubah2 dengan dalil inilah itulah. Kalo MUI mau Konsisten bikin pula Fatwa: PRESIDEN DAN KRONINYA DILARANG MENGGUNAKAN MOBIL DINAS KARENA NABI MUHAMMAD S.A.W. GA PERNAH PAKE MOBIL DINAS TAPI PAKE ONTA ITUPUN SEKALI-SEKALI! KEMUDIAN PRESIDEN DAN KRONINYA DILARANG MEMBAWA PROPERTY MILIK NEGARA UNTUK TUJUAN BUKAN KEPENTINGAN NEGARA KARENA UMAR BIN CHATAB LAMPU MINYAK PUN IA MATIKAN KETIKA AKAN DIPAKAI KELUARGA. DAN MUI DILARANG TERIMA UANG GAJI ATAU PENDAPATAN DARI MANPUN JUGA KARENA MENERIMA PENGHASILAN SEBAGAI IMBALAN DARI TINDAKAN KEAGAMAAN ADALAH SAMA SAJA DENGAN MENJUAL AYAT-AYAT ALLAH S.W.T.

    Nah Lhoooo… huehhehhehhe…

    Soeharto itu fir’aun. Onta? hmmmmm …

    Like

  30. Nasib SBY semakin kacau….Kalla mulai gerah dengan demokrat…
    Sudahlah,tinggalkan demokrat… !!(Jelas2 SBY menjilat GOLKAR).

    CARI SAJA KOALISI LAIN………….

    Like

  31. Perumusan panitia angket BBM akan menurun lagi menjadi Rp 3500, walaupun masih dirasakan masih agak tinggi tapi masih ada upaya yang berkelanjutan/berkesinambungan dari Rp 2500 -> Rp 6000 -> Rp 3500 masih surplus dalam hitungan.

    Pemerintahan SBY menetapkan harga BBM :

    Awal US$ 70.00/barrel ditetapkan BBM menjadi Rp. 2500/liter
    Akhir US$ 45.00/barrel ditetapkan BBM menjadi Rp. 4500/liter

    Seharusnya dari US$ 70.00 menjadi US$ 45.00 untuk kepentingan masyarakat harga BBM selayaknya Rp…………./liter (tidak bisa menghitung)

    Bukan minta turun, tapi sebagai orang awam menginginkan harga yang sesuai/patut/pantas yang diberikan kepada masyarakat yang mestinya sepadan.

    Like

  32. @ Umar Bakrie
    kalo tsunami itu ya jangan salahin Presiden dong..?
    untung bukan bapakmu yg jadi Presiden saat ini ….?
    yg disalahin itu ya kita2 ini. karena sudah terlalu sering kita merusak alam ini
    nah rasain sekarang alam membalasnya ….!
    memang sdh waktunya alam memberi peringatan pada kita ……ya masih untung itu baru air, nah …kalo meteor yg sangat besar seperti sejarah musnahnya dinosaurus gimana ? yg jelas pilihlah orang sepandai Amin Rais bisa saya pastikan kemakmuran akan datang ………..hehehehehe (waduh nggak nyabung nih…!)

    Like

  33. Nasib masyarakat sekarang bagaimana, jangan pikirkan terlalu tinggi ke Presiden, tapi masyarakat sekarang dengan kebijakan BBM yang dipermainkan jadi mempengaruhi/memberatkan untuk memenuhi kebutuhan bahan pokok lagi, karena sudah pada naik (pindah harga).

    Nasib presiden sudah tidak ketar-ketir lagi karena negara sudah menanggung/memenuhi kebutuhannya.

    Adakah pertanggung jawabannya ?

    Like

  34. duh,…Lg sakit perut nich …….(mencret).

    JK-Mega ketemu dia langsung sakit perut.. banci amat. hehehehe😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s