Puisi Perlawanan Penyair Palestina


Pertama, saya girang bukan kepalang ketika seorang sastrawan senior di Sumut, A Rahim Qahar –biasa disingkat ARQ– memberikan artikel kebudayaannya kepada saya.

Namun, setelah membacanya, kegirangan saya berubah menjadi kesedihan, bulu roma pun merinding. Di benak saya langsung melintas, dulu, Iqbal adalah seorang penyair, yang kemudian membahasakan pemikiran Islamnya dalam bait-bait sastra. Selama ini, kita telah meluputkan sastra Islam, padahal kita punya sejarah yang memberitakan sastra juga merupakan satu kekuatan, suatu gerak yang langsung menikam jantung sehingga tak sadarlah kita kalau kulit kita sudah digores pisau.

Beliau kerap dipanggil “ayah”, sebuah simbol pengakuan kultural terhadap seorang figur. Ketika Saddam digantung, beliau mementaskan pergelaran Sajak Buat Saddam Hussein di Taman Budaya Sumatera Utara pada 2008 lalu. Pergelaran itu dinilai banyak orang lebih mirip aksi teatrikal daripada pembacaan puisi semata. Dan Ayah Rahim ini seolah menampar-nampar saya, kalau Palestina telah lama dibingkai oleh puisi. Puisi yang menggerakkan, puisi perjuangan, puisi perlawanan.

Ayah Rahim telah mengizinkan saya untuk mempostingnya di blog saya. Inilah artikel beliau.

=======

Puisi Perlawanan Penyair Palestina

A.Rahim Qahhar

Atas nama Orang Palestina: Nida ‘
Mata dan tato di tangannya adalah Palestina
Namanya, Palestina
Mimpi dan cita-citanya, Palestina
Duk pembalutnya, kaki dan tubuhnya, Palestina
Kata-katanya dan diamnya, Palestina
Suaranya, Palestina

Lahir dan matinya, Palestina

A Rahim Qahhar
A Rahim Qahhar

LARIK puisi Mahmoud Darwish penyair Palestina yang wafat Agustus tahun silam, menghentak-hentak memori kita akan tragedi kemanusiaan yang berlangsung di Jalur Gaza. Di saat semua mata tertuju kepada fokus yang sama: Palestina! Puisi di atas menancapkan fondasi sekaligus merupakan tekad bahwa negeri Palestina tidak akan pupus oleh senjata.

Konflik panjang selama enam dasawarsa sejak perang Arab-Israel, membuat para penyair Palestina terkondisi untuk melahirkan puisi-puisi perlawanan. Dari generasi ke lapis generasi, seperti Jabra Ibrahim Jabra (1920-1994), Ghassan Kanafani (1936-1972), hingga ke lapis berikutnya, Sahar Khalifa, Ezzidine Al-Manacirah, Layla Nabulsi, Samih Al-Qasim, Anton Shammas, Sami Al-Sharif, Ibrahim Souss, juga Tamim Al-Barghouti (32) penyair muda yang dijuluki sebagai “Raja Penyair”.

Lima penyair papan atas yang acap disebut sebagai ikon Palestina adalah Mahmoud Darwish, Ibrahim Touqan, Abu Salma, Abdelrahim Mahmud dan Kamal Nasir. Mereka layak disebut sebagai promotor atas lahirnya puisi perlawanan, sejak zaman penjajahan Inggris di Palestina.

Mahmoud Darwish yang mewariskan 40 antoloji puisi dan pernah mengatakan ‘andai kematian, tak mencabut nyawaku seperti pencuri, tapi datang layaknya elang’ ini begitu tegar dengan puisinya yang menentang zionis Israel . Kita simak larik puisinya berjudul “Kartu identitas”:

Camkan!/Aku adalah orang Arab/Dan nomor KTP 50.000/Aku punya delapan anak-anak/Dan yang kesembilan/ akan datang setelah musim panas/ Apakah kamu akan marah?/ Leluhurku/ Telah ada sebelum lahirnya zaman/ Dan sebelum munculnya masa/ Sebelum pinus dan zaitun/ Sebelum tumbuhnya padang rumput/ Kau curi ladang bapaku/
Dan tanah tempat kami bercocok tanam/ Aku dan seluruh anak-anakku/ Dan untukku dan cucu-cucuku/ Tak satu pun yang kau sisakan/ Kecuali batu-batu/ Akankah penguasa kalian merebutnya juga dari kami?

Sebelum Mahmoud, penyair nasionalis lainnya adalah Ibrahim Touqan yang mati muda dalam usia 36 tahun. Penyair ini meroket sejak puisinya dipublikasikan saat ia berusia 18 tahun, melahirkan puisi-puisi perlawanan semasa revolusi atas Inggris. Pada periode 1936-1939 puisinya yang monumental adalah “Tanah Air”. Larik puisnya begini:

Tanah airku/ Tanah airku/ Kemuliaan dan kecantikan/ Keagungan dan kejelitaan/ Engkau berada di bukit/ Hidup dan penyelamatan/ Kegembiraan dan harapan/Engkau berada dalam suasana/ Akankah kulihat engkau/ Aman dan nyaman/Bersuara dan terhormat/ Akankah kulihat engkau / Dalam bayangan/ Meraih bintang/Tanah airku/ Tanah airku/. Pemuda tidak pernah lelah/ Tujuan mereka adalah kemerdekaan/ Atau mereka mati/ Kami akan minum dari kematian/ Karena kami tidak akan menjadi hamba bagi musuh/ Kami tidak ingin/ Kehinaan abadi/ Maupun kehidupan menyedihkan/ Kami tidak ingin/ Tapi kami akan kembali/ Kepada kemuliaan/ Tanah airku/ Tanah airku.

Ibrahim yang cinta puisi sejak remaja ini berhasil pula menggiring adik perempuannya Padwa Taouqan yang akhirnya mampu mensejajarkan dirinya sebagai penyair wanita Palestina.

Sahabat karib Ibrahim Touqan adalah Abu Salma, dengan nama asli Abdelkarim Al-Karmi. Persahabatan mereka bangun dengan puisi, mencerminkan betapa kecintaan dan kerinduan mereka terhadap Palestina. Pada 1978 Abu Salma menerima anugerah Sastra Internasional dari persatuan penulis Asia-Afrika dan Anugerah Zaitun dari Palestina.

Kita lihat kecintaan Abu Salma terhadap Palestina dari puisinya ”Kami Akan Kembali”

Demi cintaku Palestina, bagaimana aku dapat tidur/ Sedangkan spektrum penyiksaan ada di mataku/ Aku menyucikan dunia dengan namamu/ Dan jika kamu tidak suka biarkan aku keluar/ Aku telah dipelihara perasaan penuh rahasia/ Pada hari-hari yang meluncur berbicara tentang/ Persekongkolan dengan musuh dan teman-teman/. Demi cintaku Palestina!/ Bagaimana aku hidup/ Anda jauh dari dataran dan lautan/ Di kaki gunung yang dicelup dengan darah/ Yang memanggil-manggil diriku/ Dan di cakrawala yang muncul mencelup/ Menangis di pantai memanggil diriku/ Dan aku menangis di telinga waktu/ Aliran pelarian yang memanggil diriku/ Mereka menjadi asing di negeri sendiri.

Penyair Palestina tak hanya berjuang dengan mata pena. Secara fisik, ada beberapa penyair yang juga aktivis militan, ikut dalam kancah revolusi. Sebut saja Abdelrahim Mahmud, dia adalah murid Ibrahim Touqan yang hidup tegar mengalahkan gurunya. Abdelrahim selain menulis sejumlah puisi perlawanan terhadap penjajah Inggris, pernah bergabung ke Irak dan kembali ke Palestina, akhirnya meninggal dunia di medan perang di dekat Nazareth pada 1948.

Abdelrahim bisa saja beranggapan dirinya sebagai martir yang mati syahid, maka ia menulis sajak berjudul “Martir”:

Aku akan membawa jiwaku di tanganku/ Dan melemparkannya di lembah kematian/Itu adalah kehidupan yang baik membuat teman senang/ Atau kematian yang membuat marah musuh/ Yang mulia jiwa manusia mempunyai dua tujuan/ Mati atau untuk mencapai segenap impian/ Apa arti hidup bila aku tidak tinggal/ Takut dan apa yang kumiliki bagi orang lain dilarang/ Ketika aku berbicara, semua dunia mendengarkan
Dan suaraku bergema di antara semua orang/ Aku bisa melihat kematian, tapi aku terburu-buru/ Ini adalah kematian lelaki.

Yang amat tragis adalah Kamal Nasir! Usia 13 tahun sudah memenangkan lomba cipta puisi di sekolahnya. Masa mudanya jadi wartawan sekaligus memperkuat posisinya sebagai penyair, hingga menjadi Pemred Majalah Falasteen Al-Thawrah. Pada 1973 ribuan pengungsi dideportasi dari Palestina termasuk para dosen, guru, dokter dan tokoh professional lainnya, saat itulah Kamal Nasir ditembak oleh pasukan Israel .

Tentara Israel mungkin sangat kenal dengan tampang Kamal; bukan sekadar penyair yang puisi-puisinya mengecam Zionis. Tapi sekaligus pula Kamal Nasir itu dibunuh karena pernah menjadi anggota Komite Eksekutif PLO. Kemanakannya, Tania Tamari Nasir menceritakan bagaimana ia menyaksikan foto-foto saat Kamal Nasir dibunuh. Kamal ditembak dengan muntahan sejumlah peluru, tubuhnya disalibkan pada dua buah rudal yang diletakkan di lantai, kemudian ditembak.

Puisi monumental Kamal Nasir di antaranya berjuduk ”Sebuah Cerita”;

Aku akan memberitahu kamu sebuah cerita/ Sebuah cerita yang hidup di dalam mimpi manusia/ Sebuah cerita yang berasal dari dunia bawah tenda/ Dibuat oleh kelaparan dan dihiasi dalam gelap malam/ Di negeri saya, dan negeri saya adalah segelintir pengungsi/ Dari dua puluh orang terkumpul setengah kilo tepung/ Dan menjanjikan sebuah relief … bingkisan parsel/ Ini adalah cerita tentang kelompok penderitaan/
Yang berdiri selama sepuluh tahun dalam kelaparan/ Menangis dan sekarat/Dalam kesulitan dan hasrat.

Demikianlah, konflik batin penyair mungkin tak cukup hanya untuk memancing gejolak melahirkan puisi-puisi perlawanan. Ada yang merasa puisi tak kongkrit lagi, harus disertai dengan fisik. Itulah bahasa perang, di mana semua taktis dianggap absah. Dan penyair bijaklah yang mafhum untuk memilahnya. (*)

8 thoughts on “Puisi Perlawanan Penyair Palestina

  1. Masih ada lagi, sebuah tulisan tentang ‘Penyair Wanita Palestina Melawan Zionis’ rencananya akan dimuat Minggu 11 Januari 2009 di suratkabar Medan Bisnis. Silakan simak!

    maju terus, Yah.🙂

    Like

  2. MALU (AKU) JADI ORANG INDONESIA
    Taufiq Ismail (140508)

    I
    Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
    Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
    Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
    Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
    Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
    Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
    Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
    Whitefish Bay kampung asalnya
    Kagum dia pada revolusi Indonesia
    Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
    Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama
    Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya
    Dadaku busung jadi anak Indonesia
    Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy
    Dan mendapat Ph.D. dari Rice University
    Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army
    Dulu dadaku tegap bila aku berdiri
    Mengapa sering benar aku merunduk kini

    II
    Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
    Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
    Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak,
    Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
    Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
    Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
    Dan kubenamkan topi baret di kepala
    Malu aku jadi orang Indonesia.

    III
    Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
    Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi
    berterang-terang curang susah dicari tandingan,
    Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu
    dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek
    secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,
    Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan,
    senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan
    peuyeum dipotong birokrasi
    lebih separuh masuk kantung jas safari,
    Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,
    anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,
    menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,
    agar orangtua mereka bersenang hati,
    Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum
    sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas
    penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,
    Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan
    sandiwara yang opininya bersilang tak habis
    dan tak utus dilarang-larang,
    Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata
    supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,
    Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,
    ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,
    sekarang saja sementara mereka kalah,
    kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka
    oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,
    Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia
    dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli,
    kabarnya dengan sepotong SK
    suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,
    Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,
    lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,
    Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,
    fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,
    Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat
    jadi pertunjukan teror penonton antarkota
    cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita
    tak pernah bersedia menerima skor pertandingan
    yang disetujui bersama,

    Di negeriku rupanya sudah diputuskan
    kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa,
    lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil
    karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta,
    sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
    Di negeriku ada pembunuhan, penculikan
    dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh,
    Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng,
    Nipah, Santa Cruz dan Irian,
    ada pula pembantahan terang-terangan
    yang merupakan dusta terang-terangan
    di bawah cahaya surya terang-terangan,
    dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai
    saksi terang-terangan,
    Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,
    tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang
    menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.

    IV
    Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
    Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
    Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
    Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
    Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
    Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
    Dan kubenamkan topi baret di kepala
    Malu aku jadi orang Indonesia.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s