Sunni dan Shiah adalah Kita


“Yang harus terus diasah adalah apakah metodologi dan kesimpulan kita itu bisa menjawab tantangan zaman. Apakah Islam bisa menyediakan formula-formula untuk hal-hal seperti modernisasi dan seterusnya…”

* * *

============================

(Tulisan ini diniatkan sebagai jawaban saya atas komentar Bang Londoner di artikel Karbala dan Palestina. Bang Londoner ini salah seorang abang saya yang sekarang mukim di negeri Queen Elizabeth, London. Saya takut, bila saya menjawab singkat, akan membuat salah paham sehingga saya memilih menuliskannya dalam artikel tersendiri. Karena artikel ini cukup panjang, bila Anda berkenan untuk menyimaknya, ya, agak-agak sabarlah sedikit membacanya. )

============================

DOKUMEN wikipedia soal shiah itu perlu diteliti ulang dengan jernih. Ada banyak kecenderungan di sana. Sebagai salah satu informasi, ya, bolehlah. Nantilah kita bicarakan soal ini.

Sudah banyak yang membicarakan soal sunni dan shiah. Ulama sekaliber Quraish Shihab yang seorang sunni pun harus mendapat tentangan hebat dari suatu kelompok pesantren yang mengklaim sunni. Perlu juga kita melihat di salah satu pusat shiah di qum, filsafat dan irfan diajarkan dengan penuh gegap gempita. Umumnya, shiah menguasai teori-teori filsafat dengan luar biasa, seperti Khomeini, Murthada, Mulla Sadr, dst. Karena itu, fanatisme buta itu bisa diperdebatkan juga. Walau kita juga bisa melihat di soal hukum Islam ada kekhususan dan kecendrungan tersendiri, misalnya, taqlid terhadap marja’.

Tapi sepengetahuan saya, taqlid terhadap marja’ ini pun punya kriteria lagi. Jadi marja’ boleh berganti, namun mesti dilandasi argumentasi yang kuat. Yang jadi inti persoalan dan benang merahnya adalah adanya sebuah keharusan kalau soal-soal hukum Islam mesti ditentukan oleh yang memang ahli di bidang tersebut, sehingga tidak semua orang bisa melakukan ijtihad dalam soal hukum syar’i. Logikanya adalah apakah seseorang yang tak fasih membaca Al-Fatihah, bisa dijadikan rujukan dalam hal fiqh? Umumnya taqlid itu lebih pada hal-hal fiqh saja.

Lantas, ini berdampak pada kultur. Ibu saya, seorang sunni, mengaplikasikan fiqh dari para ustadz-ustadznya yg sunni, dan biasanya dia hanya mengambil hukum dari salah satu ustadz tertentu yang dirasakan bisa dilaksanakannya. Di situ sebenarnya dia sudah taqlid. Bila jawaban tak ditemui di salah seorang ustadz, maka dia akan mengambil dari ustadz lain yang bisa menerangkan persoalan itu. Di situ dia sudah ijtihad sebenarnya. Kalau kita sudah merasa bisa menemukan formula dan kesimpulan untuk sebuah wilayah fiqh, dan kemudian kita memperbandingkannya dengan pendapat para ahli, dan jawaban kita bisa diterima, ya pintu ijtihad tak tertutup sama sekali. Namun, kalau itu bukan konsentrasi bidang kita, ya kita terima saja, jangan malah menjadi bid’ah.

Namun tentu yang demikian itu ada level-levelnya. Demikian juga ada level-level ustadz. Bila niat kita bersih, maka kita wajib percaya Allah pasti akan menunjukkan jalan. Wong, jalan ke neraka juga ditunjukkan Tuhan kok.

* * *

Darimana referensi dalil-dalilnya? Di situlah kemudian terjadi perdebatan yg sangat panas antara hadits-hadits ahl bayt dan sunnah ahlil sunnah al wajamaah. Banyak yg memvonis, shiah hanya mengambil hadits dari golongan ahl bayt. Ini tak benar seluruhnya, Siapa bilang shiah tidak menganggap seorang Abu Bakr Shiddiq -yang dulu tangannya diangkat tinggi-tinggi oleh Ali ketika bai’ah- sebagai seorang yang bisa dipercaya dalam menyampaikan hadits? Atau Abdurrahman ibn Auf dan Umar ibn Khattab, misalnya. Siapa bilang shiah tak mempertimbangkan hadits-hadits yang punya sanadnya muncul dari kalangan sunni? Mereka-mereka ini bukan ahl bayt dalam kategori keturunan. Saya tak memungkiri, banyak juga dari kalangan shiah yang tidak percaya kepada orang-orang yang disebutkan belakangan. Itu betul, tapi kita mesti melihat dengan lebih jernih.

Pengambilan hukum mestilah langsung kepada Alquran dan Muhammad. Bagi shiah, Umar dan Abu Bakar bukanlah orang yang berhak menetapkan hukum Islam. Namun, ketika Umar dan Abu Bakar berijtihad mengambil hukum, maka kesemuanya mesti disesuaikan dengan apa yang telah diucapkan, dilakukan dan diisyaratkan oleh Muhammad. Yang tidak sesuai, boleh dibuang, karena bila seorang sunni tidak menganggap ke-12 imam shiah adalah ma’shum, hal selayaknya juga diberlakukan kepada Umar, Abu Bakar dan Utsman yaitu mereka ini juga tidak ma’shum.

Otomatis, kesemua orang, terkecuali Muhammad adalah tidak ma’shum. Namun, setelah di dataran ini, kita mesti mengedepankan husnudzon dan berprinsip bahwa Tuhan tidak berpangku tangan melihat dunia yang diciptakannya. Karena itu, kita mesti berkeyakinan, bahwa Allah punya prerogatif untuk memilih dan mensucikan seseorang dari dosa. Kalaupun dia bertindak dosa, maka dosa itu adalah tidak disengajanya sebagai seorang manusia biasa. Saya berkeyakinan, Allah mestilah telah mensucikan Hasan, Husein, Ali Zainal, Ja’far, Musa Al-Kazim dan sampailah Imam Mahdi, tidak hanya dalam kerangka menjaga kesucian keturunan Muhammad, namun juga sebagai penjaga kebenaran dan harga diri Islam. Kita harus memandang itu sebagai skenario Tuhan.

Saya seyakin-yakinnya, Allah tidak dalam posisi berpangku tangan dalam hal itu. Namun, yang mesti kita ingat, keturunan Muhammad itu tidak hanya ke-12 orang keturunan langsungnya, namun juga banyak lagi. Di situlah kemudian, bahkan Imam-imam shiah sendiri mengatakan, seseorang tidak diukur berdasarkan keturunannya tapi berdasarkan perilakunya.

Nah, shiah zaman sekarang tak dalam lingkup 11 imam. Yang masih tersembunyi adalah Imam Mahdi. Namun, bagaimana menyikapi ketiadaan Imam Mahdi dalam rentangan masa ini? Shiah kemudian membuat kriteria, berdasarkan petunjuk-petunjuk yang telah digariskan oleh imam-imam terdahulu, dalam sebuah sistem. Dengan begini, maka kita bisa menolak anggapan, siapa bilang imam shiah yang sekarang itu ma’shum? Namun kita juga berpandangan, kalau sebuah mekanisme bisa diberlakukan untuk menjaga kesucian. Ini tak jauh beda seperti mencipta lingkungan sekolah seperti yang kita inginkan. Tentulah ada error dalam hal itu, namun, titik tolaknya adalah bagaimana menekan error itu seminimal mungkin. Error itu pasti ada, karena kita manusia dan yang diurus juga manusia.

Nah kita juga lantas tak boleh lupa, bahwa dunia juga dipenuhi oleh orang-orang awam. Karena itu, kita juga mesti kritis, apakah imam-imam, khalifah ataupun yang sesudahnya itu ma’shum atau luput dari kesalahan. Untuk pembuktiannya, kita bisa membongkar habis sejarah, secara hati-hati, ingat secara hati-hati. Tapi ingat juga, waktu tak pernah berhenti sementara persoalan justru semakin padat. Kalau kita tak sempat dan kita tak paham ilmu seputar itu, mari kita tugaskan orang lain yang dalam bidang itu untuk membongkarnya. Hasilnya, kita nikmati bersama-sama.

Prinsipnya begini saja. Orang-orang pilihan dalam dunia ini sangat-sangat sedikit. Namun, orang-orang yang terus mensucikan dirinya dan menjaga dirinya dari kemungkaran dan dunia, itu bukan tak ada, tapi sangat-sangatlah sedikit. Kita pun mungkin menemukan, ada orang-orang yang wara’ di lingkungan kita, yang tak mau tunduk pada dunia dan terus-menerus mensucikan dirinya. Nah, dengan demikian, sampai level manakah keilmuwannya dan di bidang apa? Mungkin kita lantas teringat konsep sufi. Saya menghargai banyak keinginan orang yang mensufikan dirinya di dunia modern ini. Bagi saya, sebagian besar itu lebih karena sebuah kegelisahan menghadapi dunia modern yang jahiliyah ini. Banyak orang memerlukan ruang-ruang kontemplasi, namun kebanyakan itu diraih untuk diri sendiri. Tentu itu tak memadai bila kita letakkan dalam sebuah kerangka dunia, kerangka sosial. Yang ingin diciptakan adalah masyarakat madani, masyarakat Islami, masyarakat yang menganut prinsip-prinsip ilahiah. Di sinilah kita memerlukan model kepemimpinan. Sunni menyebutnya sistem khilafah, sementara shiah mengakui Imamah. Dataran itu berkaitan dengan kekuasaan. Dokumen “Wilayah Al-Faqih” yang disusun Imam Khomeini dan ulama Iran lainnya, bisa jadi rujukan untuk ini.

Namun, hal ini juga menyuratkan perbedaan yang sungguh besar. Nanti akan berbenturan dengan dalil-dalil yang ada dalam Islam. Kekuasaan adalah tafsir, dan tafsir pasti selalu berbeda. Di situ yang sudah bermain adalah argumentasi. Argumentasi biasanya berhubungan dengan kalah-menang. Di ruang itu, yang sering kita abaikan adalah kerelaan untuk kalah dan sikap bijak dari orang yang menang. Namun, yang paling sering kita lupakan adalah soal kemaslahatan umat. Kita perlu menguji apakah model khilafah ataukah imamah yang punya kemungkinan kemaslahatan paling besar, ataukah mungkin saja ada model-model lain.

* * *

Saya berpendapat, secara umum musthala’ah hadits antara sunni dan shiah sebenarnya tak jauh beda. Di sini, kita mesti awas, ada kategori dalam melihat hadits. Hadits sejatinya adalah sesuatu yang disandarkan pada Muhammad, sementara di sisi lain ada Atsar, yaitu sesuatu yang disandarkan pada sahabat. Apakah Atsar, bisa jadi sumber hukum? Kita punya ahli hukum Islam, mari pergunakan ilmu mereka untuk hal tersebut.

Di tingkat itu, ada perbedaan lagi misalnya prioritas shiah untuk mengambil sumber hukum dari para Imam Shiah terlebih dahulu. Nah kemudian, bila itu tak ditemukan, timbul lagi perbedaan dari segi metode. Misalnya sunni membolehkan qiyash, tapi kemudian dijawab oleh shiah (di sini saya berikan jawaban Imam Ja’far Ash Shaddiq, yg kemudian oleh sunni disebut sebagai pendiri Mazhab Ja’fariyah), “Apakah kau menganggap agama yg diturunkan Allah kepada Muhammad tidak lengkap?”

Jadi, saya beranggapan, kalau saya lebih memilih jalan intelektual dan ini membawa saya pada asumsi bahwa perbedaan-perbedaan itu lebih kurang di dataran metodologi saja. Dari sini, kita bisa menganggap wajar kalau sebuah kesimpulan tentu berbeda. Dan saya kira, itu bisa diselesaikan dengan memperbandingkan antara metodologi dan hasil kesimpulan nanti. Saya setuju pendapat Jalaluddin Rakhmat (yang disebut sebagai salah seorang tokoh Shiah di Indonesia) yang mengatakan, yang dikedepankan sebenarnya adalah akhlaq daripada fiqh.

Untuk soal politik, IPTEK, ekonomi, dst, pintu ijtihad tak sesempit seperti dalam persoalan fiqh. Saya kira, itu karena persoalan seperti thaharah (bersuci) dan lain-lainnya itu, umumnya tak berbeda jauh antara masa nabi dan masa sekarang. Yang menjadi permasalahan adalah ketika persoalan tafsir yg didasarkan atas metodologi yg berbeda, tidak bertemu dan kemudian hendak dipersamakan. Di situ, pasti timbul pergesekan. Muhammadiyah itu sunni, NU itu sunni, tapi untuk menentukan jadwal Idul Fitri saja berbeda. Yang ideal, kalau bisa sama mengapa mesti berbeda? Itu sebuah hal yang sulit namun kita tak perlu seperti bermimpi-mimpi untuk itu. Kita harus merelakan kondisi itu. Ada qabil ada habil, ada Muhammad ada Abu Lahab, ada Fir’aun ada Musa dst. Jangan sampai kita berpikiran goblok dan menggugat Tuhan untuk mensurgakan seluruh dunia ini. Jangan kita timpakan hal-hal seperti itu kepada Tuhan, nanti Tuhan bisa tertawa. Kata Iqbal, “Tuhan menciptakan tanah, dan manusia menciptakan tembikar.”

Di situlah, kita perlu mengedepankan akhlaq daripada fiqh. Tak perlu kita merasa metodologi kita yang paling hebat dan paling benar, kalau ternyata kemaslahatan umat tidak tercapai. Di ranah intelektual, itu memang kewajiban, tapi di ruang awam, banyak yang harus dipertimbangkan. Islam sudah punya jawaban untuk itu, “silaturahim” dan “ikhlas”, dua hal yang paling sulit dalam sebuah kerangka “akhlaq”. Akhlaq itu adalah seperti pakaian, dialah yang akan pertama kali dilihat orang kepada Islam.

* * *

Yang harus terus diasah adalah apakah metodologi dan kesimpulan kita itu bisa menjawab tantangan zaman. Apakah Islam bisa menyediakan formula-formula untuk hal-hal seperti modernisasi dan seterusnya. Kalau bisa, maka di situlah baru benar kalimat yang mengatakan “Islam mengendalikan zaman dan bukan terikut zaman.” Yang patut kita sadari adalah di dunia ini tidak hanya Islam yang bermukim, tapi juga Nasrani, Yahudi, Hindu, Budha, atheisme, dan seterusnya. Jadi, sampai kapanpun, Islam akan terus bertarung. Pertarungan itu adalah sebuah dialektika. Dialektika mewajibkan ijtihad, sehingga jumud dan taqlid (dalam kategori tertentu) itu kita haramkan saja.

19 thoughts on “Sunni dan Shiah adalah Kita

  1. Sepertinya anda harus belajar lebih banyak mengenai mengapa sunni dan syiah rafidhah susa untuk bersatu 🙂

    Mohon kalau mengambil kesimpulan, dipikirkan masak2 serta memiliki referensi yang valid

    Shiah bukan syiah. Tapi, terangkanlah kepada saya seperti yang Anda maksudkan….🙂

    Like

  2. yupz,
    artinya ketika kita sedang belajar, mestinya harus tau diri, apakah diri kita pantas mengeluarkan statements yang diri kita sendiri juga tidak mengerti secara jelas mengenai hal tersebut 🙂

    Like

  3. ck ck ck………………

    saya kira… logikanya… persoalan berabad-abad Sunni dan Shiah adalah persoalan kita, ya?😕

    iya, ini persoalan kita. Mesti mengedepankan akhlaq berintikan silaturahim dan keikhlasan.

    Like

  4. Shiah bukan syiah. Tapi, terangkanlah kepada saya seperti yang Anda maksudkan…

    Hahaha…
    barusan saja anda memberitahukan ketidakpahaman anda mengenai masalah ini.
    Shia is not syiah ??? Wow…. sangat “mengagumkan” sekali cara pandang anda mengenai hal tersebut 😀

    Anda sudah mengoreksi kalimat Anda seperti yang saya katakan.😀 yang betul itu, “Shiah” bukan “Syiah”. …. weleh-weleh …

    Like

  5. kebanyakan literatur english menyebutkan shiah,sedangkan diindonesia sering ditulis syiah.Kata ini berasal dari kata tunggal yaitu shi’i , setahu saya, mungkin ada yg bisa mengoreksi bila sy salah

    Like

  6. Islam yang disampaikan Rasullullah tidak mengenal sunni, syiah atau suffi, hanya islam. Kenapa mencari perbedaan toh kita sama sama Islam, bersyahadat, kitabnya Alquran. Bagaimana mungkin Islam tidak dibantai kalau Ummat Islamnya sendiri berkutat mencari perbedaannya, boro2 mau bersatu, satu sama lain lebih baik membantu kaum kafir daripada membantu saudaranya sesama muslim yang lain mahzab. Saya sangat setuju pendapat anda Islam sunni, syiah, suffi itu adalah kita, Hanya Allah yang berhak menghakimi seseorang itu kafir atau bukan

    Like

  7. Sepertinya anda belum mengerti sepenuhnya mengenai maksud saya. Oke, mungkin statement anda yang satu ini bisa menjadi bahan pemikiran untuk anda, mengapa saya sampai berkata seperti diatas 🙂


    Darimana referensi dalil-dalilnya? Di situlah kemudian terjadi perdebatan yg sangat panas antara hadits-hadits ahl bayt dan sunnah ahlil sunnah al wajamaah. Banyak yg memvonis, shiah hanya mengambil hadits dari golongan ahl bayt. Ini tak benar seluruhnya, Siapa bilang shiah tidak menganggap seorang Abu Bakr Shiddiq -yang dulu tangannya diangkat tinggi-tinggi oleh Ali ketika bai’ah- sebagai seorang yang bisa dipercaya dalam menyampaikan hadits? Atau Abdurrahman ibn Auf dan Umar ibn Khattab, misalnya. Siapa bilang shiah tak mempertimbangkan hadits-hadits yang punya sanadnya muncul dari kalangan sunni? Mereka-mereka ini bukan ahl bayt dalam kategori keturunan. Saya tak memungkiri, banyak juga dari kalangan shiah yang tidak percaya kepada orang-orang yang disebutkan belakangan. Itu betul, tapi kita mesti melihat dengan lebih jernih.

    Makanya, kalau ngomong yang jelas, mas, maksudnya apa. Sejak awal saya sudah bertanya, maksud Anda itu yang bagaimana, tapi Anda malah ngeles. Di komentar yg ini pun, Anda tidak menyampaikan sanggahan Anda, pendapat Anda, di mana letak ketidaksetujuan Anda, ataukah Anda punya referensi lain. Lha wong, Anda ‘kan cuma nyuruh saya belajar, tapi beda gramatikal shiah dan syiah saja Anda tidak tahu.

    Saya jelas punya referensi, tapi saya tidak sedang menulis sebuah makalah yg penuh catatan kaki. Tapi di sini bukan tempatnya. Di dunia maya ini banyak melintas orang-orang awam, Mas. Anda harus paham soal itu. Anda harus paham meletakkan mana yang bisa dibaca awam, atau mana yang bisa dibaca orang-orang berkategori pintar dan berilmu seperti Anda ini.

    Pun, Anda boleh lihat di seluruh postingan ini, tidak ada satupun ayat Alquran dan hadits yang saya cantumkan. Saya yakin seyakin-yakinnya, bila itu saya cantumkan, maka pembicaraan akan melebar kemana-mana. Bayangkan, itu selevel Al-quran dan Hadits, kononlah lagi sekelas pandangan ulama yang jumlahnya jutaan itu. Jadi, ini jawaban saya soal istilah “rafidhah” itu. Kan sudah saya tulis, soal tafsir semua orang bisa berbeda. Tapi apakah karena janggut Anda lebih tebal dari saya, lantas kita perang hadits dan bawa pentungan ke jalan-jalan trus berkelahi? Sudahlah itu, sudah habis energi kita. Postingan ini tidak dalam kerangka itu.

    Kalau Anda punya pendapat, silahkan saja tanggapi. Kalau menurut Anda, tulisan ini masih dangkal, beri masukan. Kalau menurut Anda, ada kesalahan dan tak cocok, debatkan saja. Kalau menurut Anda, tulisan ini tak masuk kategori tulisan berilmu seperti Anda itu, ya, abaikan saja.

    Sebagai seorang yang menuliskan id dengan kata “Muhibbin”, Anda seharusnya bisa lebih paham soal itu daripada saya. Saya sudah tuliskan di awal-awal postingan ini, bila Anda berkeinginan menyimaknya, maka sabar-sabarlah sedikit membacanya. Seorang muhibbin sepatutnya jeli, awas dan paham.

    Salam untuk Anda.🙂

    Like

  8. A magnum opus!

    Thanks Wan atas tulisannya. Kapan-kapan ijtihadnya boleh kita kupas lebih jauh lagi ya.

    Wassalam

    Sip bang…😀 kl sm orang shar’i bisa mati kutu aku. Hahahaha, aku taqlid ajalah Bang.

    Like

  9. @ ki Joko Bodo
    ini namanya diskusi yg sangat perlu utk bekal kita dihari kelak,bukannya mau ngotot perbedaan tapi mencari kesamaan2 yang dapat menyatukan dan kerukunan sesama muslim.. gitu lo om…? bukan berarti melupakan saudara kita yg dipalestin, omong2 rambutnya masih panjang..nih..! mbok ya berubah jadi joko yang pinter ,,om..!

    Like

  10. tapi beda gramatikal shiah dan syiah saja Anda tidak tahu.

    Hahaha….
    Anda mengatakan saya tidak mengetahui beda gramatikal diatas ? Coba anda tilik lagi pernyataan anda, soalnya saya sendiri merasa aneh setelah membaca profil anda yang dikatakan telah mengambil gelar sarjana, tapi memahami pendapat saya saja, anda belum mampu. Beginikah hal yang bisa disebut wartawan ???

    Baiklah, sedikit saya coba buka mengapa syiah dan dan sunni akan susah bersatu (mengingat sangat sulit sekali bagi anda untuk memahaminya) :

    Perbedaan tata cara ibadah mungkin hal yang wajar, jika memiliki dasar yang jelas. Namun hal yang paling suka disesalkan sunni adalah, kebiasaan kelompok syiah yang suka mencela dan memaki para Sahabat dan keluarga Rasul Saw
    Itu yang menjadi masalah utama pertentangan kedua kelompok.

    Thats why dari awal saya mengatakan kepada anda, lebih baik mengumpulkan dulu fakta yang valid mengenai masalah ini. Jangan suka menyebarkan kebohongan kepada publik, terhadap hal-hal yang anda sendiri saja belum mengetahui secara jelas.
    Semoga bisa dimengerti oleh anda dan rekan jurnalistik yang lain.

    I’m sick with the journalist who write and tell others about something which they don’t know well about it, especially for fake journalist

    weleh weleh … aneh ini orang.
    “…Saya tak memungkiri, banyak juga dari kalangan shiah yang tidak percaya kepada orang-orang yang disebutkan belakangan. Itu betul, tapi kita mesti melihat dengan lebih jernih.”

    Saya menyarankan, agar Anda membaca ulang. Itu pun kalau mau. Saya malas mengulang-ngulang kalimat kepada Anda. Kalau Anda belum bisa memahami tulisan saya, ya sudah. Saya kira, para “muhibbin” yg lain tidak seemosional Anda ini. Jgn-jgn gara-gara Anda ini, para shiah nanti tetap merasa kl para sunni tetap saja mencela mereka. Mudah2an, komentar Anda tidak mewakili para “muhibbin” dan sunni secara keseluruhan. Tapi ya, itu resiko-lah. Dan saya kira, persoalan utamanya bukan di titik itu kok. Persoalan-persoalan seperti itu hanya di tingkat awam saja. Imam Syafi’i saja bilang soal rafidhah itu kok. Nah, tapi ntar kl dibilangin begitu, yg pada gak setuju bakal bilang, ah omongan Imam Syafi’i itu kan dikarang-karang orang shiah saja. (weleh-weleh….)

    Tapi kok sepertinya Anda telah setuju dengan pendapat saya ya?😛

    Like

  11. sunni & shiah … tergantung anda mau pilih yg mana …??? (sama sama islam).
    yg penting ..jadilah manusia yg bermoral mulia dan ingat allah.

    Like

  12. Thanks atas tulisannya yang bikin gw nambah pengtahuan baru.
    Jujur kadang gw berfikir kalau Islam gw karena faktor turunan thok. Dan banyak masyarakat kita mungkin demikian seperti gw? Namun, sejatinya kita berislam karena kita mengkaji, memahami atas kesadaran sendiri dan kita pun akan berkesimpulan bahwa Islam memang agama fitrah bagi gw, bagi kita semua sebagai manusia. Wallahu ‘alam.

    soal pemikiran dan pmahaman sunni-syiah, gw juga gak tau banyak. yang gw tau ya sesuai Qur’an dan Sunnah. Tapi nampaknya perbedaan dalam memandang sesuatu juga memang realitanya ada. So?

    Like

  13. biarkan saja perbedaan itu bergulir….(jgn turut campur).
    biarkan mereka yg memang hoby ber konflik …..
    pikirkan saja bagaimana caranya menjadi manusia yg mulia di hadapan allah ……(that`s all).

    Like

  14. Hebat banget ya grand design ini hingga bisa memecah belah umat Islam turun-temurun sampai detik ini…hmmmmm
    Ya kedua-duanya ya KITA.
    Kok saya lebih sreg ya dengan pendapat “JADILAH MANUSIA YANG BERMORAL MULIA DAN INGAT ALLAH SWT”

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s