Palestina, Jauh di Mata Dekat di Hati


Palestina adalah sebuah ruang sejarah yang penuh asap. Dia lahir dari jerit dan ratap akan butuhnya manusia pada onggokan tanah. Manusia memang diciptakan dari tanah, sehingga tak heranlah bila manusia akan saling berkelahi gara-gara tanah.

Tanah adalah lambang kekuasaan, pertanda kalau manusia punya eksistensi. Pertanda kalau di salah satu petak tanah ini, dialah pemiliknya, dan di petak yang satu lagi milik manusia lain. Kepemilikan adalah salah satu pertanda kekuasaan. Kita akan terganggu kalau tiba-tiba seorang manusia lain masuk ke pekarangan kita tanpa izin dan berucap salam. Kita akan menumpahkan darah kalau setelah itu dia pun berani menyatakan tanah kita adalah tanah dia. Gara-gara tanah, manusia menjadi terbelah, menjadi “aku”, “engkau”, “dia”, “mereka”, “kami” dan “kita”.

Gara-gara tanah, kita menganggap apa yang ada di luarnya juga “tanah”. Kita mulai merasa kalau kelompok, organisasi, partai, malah alam semesta dan makhluk lain adalah tanah kita juga. Maka manusia kemudian mengkavling-kavling tanah-tanah bentuk baru itu sesuai pagar-pagar yang dimilikinya. Kita merasa partai kita paling benar, organisasi kita paling betul dan kelompok kitalah yang akan masuk surga. Kekuasaan telah masuk ke tubuh manusia dengan sesadar-sadarnya dan menikmatinya.

Ingatlah, sejarah perkelahian di atas dunia ini, muncul dari inginnya manusia berkuasa. Habil harus mati karena Qabil merasa dialah yang paling berhak mengawini Iqlima. Kekuasaan adalah sebuah perasaan bahwa dialah yang paling berhak memiliki. Dialah yang paling berhak mengatur.

Sesungguhnya jodoh kekuasaan adalah kenikmatan. Kalau tak nikmat, maka kekuasaan tidak akan pernah ada, sama seperti tidak akan ada suami kalau tidak ada istri. Qabil merasa nikmat berpasangan dengan Iqlima daripada dengan Labuda yang buruk. Labuda tak bisa menumbuhkan syahwat seperti yang bisa dilakukan Iqlima. Maka, kekuasaan pun menjadi sebuah ruang yang dipenuhi gejolak syahwat. Labuda juga terlalu buruk untuk dipamerkan, padahal kekuasaan harus punya wajah untuk dipamer-pamerkan.

Kekuasaan manusia tumbuh, besar dan kemudian melahirkan anak-anaknya, dengan syahwat sebagai instrumen paling utamanya. Seorang suami yang menggauli istrinya, haruslah punya syahwat, supaya dia bisa melepaskan spermanya. Kini, manusia memanglah mengenal sistem bayi tabung ataupun kloning. Tapi kita bisa menjamin, manusia akan lebih senang memproduksi manusia dengan hubungan intim, suatu hubungan di mana syahwat menjadi selimutnya.

Manusia pada mulanya mungkin mengatasnamakan cinta pada hubungannya. Seorang suami cinta kepada istrinya. Namun ketika mereka bersetubuh, maka cinta harus tersingkir, komitmen pernikahan bisa jadi terlupakan, karena syahwat sudah mulai meraba-raba. Maka, berdeguplah jantungnya, memerah mukanya dan semakin cepat hembusan nafasnya.

Kita kerap lupa, antara syahwat dan gairah punya perbedaan. Syahwat membuat cinta terbuang, tapi gairah justru butuh cinta agar eksis. Kita ingin bersedekah, itu tandanya cinta dan gairah. Tapi kalau ketika bersedekah ternyata kita ingin menunjukkan tampang dan wajah kita, agar kelihatanlah komitmen kita, kelihatanlah wajah, baju dan mungkin bendera-bendera kita, di situlah syahwat menampakkan rupanya. Kita tak lagi menyembunyikan tangan kita, tapi justru mempertontonkan sedekah-sedekah kita itu. Ah, kekuasaan adalah sebuah misteri yang menggelitik. “Kau dengan mudah membunuh para Yahudi itu, tapi ketika kau ingin membunuhnya, kau melepaskannya sambil tersenyum. That’s power,” ucap Oskar Shclinder, anggota Partai Nazi Jerman kepada tentara Jerman yang senang membunuh para Yahudi dalam film Schlinder List. Sayang, ucapannya ini tak terdengar oleh orang Yahudi yang diselamatkannya itu.

* * *
Palestina adalah sebuah ruang sejarah yang penuh asap, dan Israel adalah ruang lain yang muncul dari api, sebuah simbol syahwat. Kekuasaan Yahudi sudah dipertontonkan sebagai seburuk-buruk contoh dari syahwat manusia yang mematikan rasa cinta dan kasih sayang terhadap makhluk manusia. Yahudi diselamatkan Musa dari Fir’aun dan kemudian justru tak mengakui Musa dan Taurat-nya. Diberikan Tuhan keistimewaan dan perlindungan, namun kemudian meletakkan Tuhan di seberang tembok ratapan. Israel adalah contoh paling shahih dari Qabil, sementara Palestina adalah Iqlima yang molek dan bangsa Palestina adalah Habil yang harus mati. “Sangat disayangkan, keturunan manusia ditakdirkan harus lahir dari Qabil,” kata Ali Shari’ati.

Kita, berpotensi menjadi Yahudi…(*)

9 thoughts on “Palestina, Jauh di Mata Dekat di Hati

  1. setuju bung nirwan, bahwa kita sgt berpotensi tuk jd yahudi. ya berpotensi,bgaimana tidak,sy akan memberikan alasan pd beberapa faktor : 1.kita masih dan mungkin tiap hari memakai atau membeli produk as dan yahudi. 2. ketidak pedulian kita thdp saudara kita sendiri. 3. dan yg terakhir adlah kita msh memilih dan mempercayakan pemimpin atau partai yg disenangi dan didukung yahudi, sampai2 tokoh sekelas amin rais pun yg notaben nya kapabilitas nya diatas calon yg sdh ada tdk dipilih oleh sbgian msy indonesia. ukurannya adlah pemakai produk as dan yahudi ga jauh beda dgn jumlah pemilih sby dan mega..

    Like

  2. Habil yang harus mati, haruskah matimu sia2 dinegaramu sendiri bukankah semalam 10rb pasukan israel sudah bergerak. kenapa tidak bergerak saja seperti israel masuk keperkotaannya dengan jalannya sendiri jika bertahan akan lumpuh karena ini adalah perang.

    Wahai pasukan habil sebagian bertahan bergerilyalah seperti vietnam dan sebagian lagi manuver maju menyerang masuk keperkotaannya serta sebagian lagi mundur ambil strategi/tindakan setelah pasukan israel masuk.

    hehehehe sok tau nich……….

    Like

  3. kenapa palestina jadi korban pembantaian yaa?? kasian gw… rasanya pengen lempar sepatu ke tipi kalo liat berita bom di Palestina dari Israel..

    eh, jangan ding… ntar rusak tipinya…😀

    salam kenal (lagi?)… main balik lagi yaa..

    Like

  4. Jauh dimata dekat dihati = “Jauh di palestina dekat di indonesia”, gambaran kecil kelompok muslim (hamas dan fatah) di suatu negara yang dapat dengan mudah digarap rezim zionis diupayakan agar bentrok dulu setelah kekuatannya habis baru masuklah israel sang biadab tersebut.

    Ada kekhawatiran dimungkinkan berikutnya sasarannya pada NKRI yang mayoritas muslim dan banyak kelompok2 yang besar, akan lebih mudah lagi untuk diadu domba.

    Sebagai umat islam bersatulah …..sekali lagi bersatulah …..

    Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar.

    Like

  5. kalau melihat apa yang terjadi terhadap Palestina sekarang ini. saya merindukan lahirnya Hitler baru. Namun jika saya dihadapkan pada dua pilihan yaitu hidup mulia atau mati syahid. saya pasti akan memilih hidup mulia!!!!!!!!!! http://kinggalie.wordpress.com/

    pilihlah mati syahid. Ingat, Islam yakin akan hari akhir, ada hidup setelah mati.

    Like

  6. Dari jam ke jam mengikuti berita, situasinya bukan membaik bahkan sebaliknya.

    Hanya bisa bisa terdiam, tak ada solusi untuk berbuat dan menahan air mata……..

    Keangkuhannya menepuk dada mempertunjukkan pada dunia, kalau israel lah yang tertangguh di belahan dunia ini.

    Zionis laknat, diatas langit ada langit. (waktu yang akan membuktikan)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s