Tuhan yang Tercecer


Apa yang dapat aku lakukan, wahai ummat Muslim?
Aku tidak mengetahui diriku sendiri.
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi,
bukan Majusi, bukan Islam.
Bukan dari Timur, maupun Barat.
Bukan dari darat, maupun laut.
Bukan dari Sumber Alam,
bukan dari surga yang berputar,
Bukan dari bumi, air, udara, maupun api;
Bukan dari singgasana, penjara, eksistensi, maupun makhluk;
Bukan dari India, Cina, Bulgaria, Saqseen;
Bukan dari kerajaan Iraq, maupun Khurasan;
Bukan dari dunia kini atau akan datang:
surga atau neraka;
Bukan dari Adam, Hawa,
taman Surgawi atau Firdaus;
Tempatku tidak bertempat,
jejakku tidak berjejak.
Baik raga maupun jiwaku: semuanya
adalah kehidupan Kekasihku …

(Aku Adalah Kehidupan Kekasihku karya Jalaluddin Rumi
copy dari artikel buku “Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma’rifat” oleh Idries Shah)

* * *

Irama padang pasir yang keluar dari alat musik modern apik terdengar dari grup musik Dewa pimpinan Ahmad Dhani. Lagunya berjudul “Laskar Cinta”. Syairnya sangat kuat walau bukan hal yang baru karena banyak diambil dari al-quranul karim. Misalnya pada bait “Wahai jiwa-jiwa yang tenang, jangan sekali-kali kamu, mencoba jadi tuhan dengan mengadili dan menghakimi, bahwasanya kamu memang tak punya daya dan upaya, serta kekuatan untuk menentukan kebenaran yang sejati. Bukankah kita memang tercipta laki-laki dan wanita, dan menjadi suku-suku dan bangsa-bangsa yang pasti berbeda, bukankah kita memang harus saling mengenal dan menghormati, bukan untuk saling bercerai-berai dan berperang angkat senjata”.

TING Ahmad Dhani, sebagai pentolan Dewa memang sangat mengagumi Jalaluddin Rumi, seniman sufi ternama dari Timur Tengah. Bahkan, nama itu dijadikan sebagai salah satu nama bagi anak laki-lakinya.

Rumi memang dikenal sebagai salah satu nama besar seniman besar Islam yang sufi. Walau sebenarnya agak terbalik, karena Rumi sendiri memandang, pencapaiannya dalam seni hanyalah sebagian kecil dari dunia sufi.

Di Indonesia, Ahmad Dhani bukan satu-satunya pengidola dan terinspirasi Rumi. Emha Ainun Nadjib sudah lama menerapkan tarian sufi dalam pergelaran Kyai Kanjeng dan terutama dalam karya-karya puisi dan esai-esainya. Ribuan, mungkin jutaan, orang Indonesia pun sudah mengenal nama Rumi ini. Apalagi mereka yang berada di mainstream institusi pendidikan Islam. Demikian juga dengan kalangan non muslim.

Namun, cukuplah sampai di sini percakapan soal Rumi, karena bukan Rumi yang sedang kita perbincangkan. Saya ingin mengajak Anda sedikit menerawang khazanah seni sufistik. Terutama memang, ketika banyak golongan muda yang penuh gelisah mencari Tuhan. Yang perlu Anda garis bawahi terlebih dahulu, saya bukanlah sufi.

Suatu hari, saya berkumpul dengan segolongan anak muda dengan atribut punkers di sekujur tubuh mereka. Tindik di telinga, hidung, lidah dan bibir, begitu bebas menghiasi wajah mereka. Celana mereka sungguh ketat, mulai dari atas paha hingga pergelangan kaki. Dengan rantai yang tergantung di saku belakang celana mereka, mereka kelihatan sungguh percaya diri, walau Anda pun harus maklum kalau wewangian seperti parfum dianggap mereka sebagai salah satu simbol kapitalisme.

Namun kemudian saya terkejut ketika seorang perempuan punkers, bertanya lugas kepada saya, “Siapakah Tuhan?” Kepada mereka, saya memang harus minta maaf dulu dalam tulisan ini. Sebelumnya saya sudah termakan opini publik yang menyatakan golongan anak-anak punk merupakan kumpulan orang bodoh, kumal, tak punya masa depan dan seterusnya. Keterkejutan saya tadi, ya gara-gara itu.

Saya bilang, “Aku bukan ustadz. Tapi aku Islam dan Tuhanku Allah.”

Bukannya berhenti, dia langsung menambah pertanyaannya. “Sebenarnya, di mana Dia berada? Dia terbuat dari apa? Mengapa tidak kelihatan? Dan mengapa membiarkan kesengsaraan ada pada manusia? Bukankah dengan kekuasaannya yang luas itu Dia bisa saja membuat dunia ini seperti surga atau malah surga sekalian?”

Kami berdiskusi. Dan anak itu antusias betul mendengarkan dan memberikan apresiasinya. Tapi hasil diskusi itu bukan wilayah tulisan ini, melainkan soal Tuhan tadi.

Soal ini sudah lama tidak muncul dalam karya-karya seni kita selama ini, terutama di Medan. Ketertinggalan tema ini membuat seakan-akan persoalan ini sudah dikhatamkan sehingga tak menarik lagi untuk diperbincangkan kembali. Saya harus mengernyitkan kening untuk “kebasian” tema ini. Sutardzi Calzhoum Bahari, ketika diwawancara majalah TEMPO ketika ulang tahunnya yang ke-66 dulu, pernah mengatakan dengan gamblang kalau ia sedang berusaha mendekatkan diri dengan Tuhan. “Kami tadi baru berbincang-bincang soal Tuhan dengan teman-teman. Tapi tak usahlah dimasukkan,” bisiknya kepada reporter majalah tersebut.

Bisik-bisik soal Tuhan memang sungguh menggelikan sekaligus menyiratkan seniman besar pun terkadang tak ingin “pengetahuannya” soal Tuhan menjadi milik awam. Itu Sutardzi. Danarto yang dikatakan sebagai seniman yang karya-karyanya menyentuh tema-tema sufistik pun sudah lama tak mengeluarkan lagi karya-karya sufistiknya. Mungkin saja ia sedang berbisik-bisik dengan Tuhan dan tak ingin masyarakat mendengarkan hasil bisikan itu, saat ini.

Beberapa waktu lalu, Sajak Buat Saddam Hussein 2 yang dikumandangkan sastrawan Medan, A Rahim Qahhar, memang sempat mengeluarkan rintihan, tepatnya pengaduan kepada Tuhan. Ia bukan hanya berbincang tapi berteriak soal kondisi umat Islam dan Islam saat ini yang begitu mudah “diobok-obok” para serigala. Ke depannya, seniman Medan belum (juga) menunjukkan jejaknya di tema-tema ini.

Tentu saja ada banyak alasan untuk tak mengungkap soal bisik-bisik soal Tuhan ini kepada khalayak umum. Misalnya saja Al-Hallaj –yang sempat ditampilkan Barani Nasution– harus menghadapi tiang gantungan karena mewacanakan rahasia-rahasia Ketuhanan kepada masyarakat luas. Walau harus diingat, di satu sisi yang lain, Sultan juga beranggapan bila Al-Hallaj sangat bepotensi untuk merongrong kekuasaan yang ada.

Saya bukan ingin mengatakan bahwa syair-syair sufistik identik dengan soal-soal Ketuhanan. Tapi bila dalam soal-soal sufi “dunia” Ketuhanan dan “cinta” mendominasi maka jawabannya, ya. Di sisi lain, walau terkesan agak paradoks, fitrah suci manusia justru adalah semangat untuk mencari kebenaran sejati, pengungkapan rahasia-rahasia dan yang tersembunyi. Semakin misterius suatu objek, adrenalin manusia semakin bergejolak untuk mengungkapkannya.

Dengan demikian, maka perbincangan soal Tuhan bukanlah satu paket dengan kemunculan agama. Artinya, agama justru menegaskan soal Ketuhanan dan bukannya membuat pencarian soal Tuhan menjadi berhenti. “Ke mana pun engkau menghadapkan wajahmu, maka engkau akan temukan wajah Tuhanmu,” demikian bunyi salah satu ayat Al-quran.

Ketika Tuhan tak lagi diperbincangkan, maka tentu saja permasalahan besar sedang menanti kita, yaitu eksistensi Tuhan itu sendiri. Tentu, memang bukan pada tempatnya bila diadakan rapat besar rakyat Indonesia dengan agenda mencari Tuhan. Justru, cara-cara konyol seperti yang selama ini dipraktekkan para politisi dengan mengkooptasi ritual-ritual agama demi kepentingan politik, bukan yang kita maui bersama. Tentu juga, bukanlah pada porsinya bila orang-orang yang tak mengerti ketinggian bahasa dan makna, diberi corong mikropon untuk menyingkap pintu-pintu ketuhanan, seperti yang selama ini dipraktekkan oleh orang-orang akademisi yang berusaha merumuskan dan mendefinisikan soal Tuhan.

Selayaknya memang, para seniman berbicara di sini. Bukankah gurun modernisasi ini sudah begitu tandus dan kering kerontang? Toh, Tuhan sudah memancing dialog tentang dirinya lewat ketinggian bahasa Alquran. (*)

16 thoughts on “Tuhan yang Tercecer

  1. sholat udah getol,puasa nggak pernah absen,terkenal sbg dermawan,+ haji udah sering kali…….

    tinggal ngaku saja..: “SAYA ADALAH MANUSIA PALING BERIMAN”

    Like

  2. Tujuh dosa sosial…
    politik tanpa prisip,kekayaan tanpa kerja keras,perniagaan tanpa moralitas,kesenangan tanpa nurani,pendidikan tanpa karakter,sains tanpa humanitas,dan peribadatan tanpa pengorbanan.
    ketujuh dosa ini telah menjadi warna dasar kehidupan kita.kehidupan kota (polis) yg mestinya menjadi basis keperadaban (madani) terjerumus ke dalam apa yg di sebut machiavelli sebagai kota korup (citta corrottisima),atau apa yg di sebut Al Farabi sebagai “kota jahiliyah” (almudun al jahiliyyah).
    di republik yg korup & jahil, persahabatan madani sejati hancur. Tiap warga berlomba mengkhianati negerinya atau temannya.
    kepercayaan mutual lenyap krn sumpah & keimanan di salah gunakan. kejahatan (manipulasi) di agung2kan.
    kehidupan republik kita merefleksikan nilai2 moralitas kita,begitupun sebaliknya.
    Sebegitu jauh kehidupan politik selama ini lebih merefleksikan nilai2 buruk,dan kurang merefleksikan nilai2 luhur masyarakat.
    praktek politik di negeri ini telah di reduksi sekedar menjadi perjuangan kuasa (demi kuasa).ketimbang,sebagai proses pencapaian kebajikan bersama.
    Politik dan etika terpisah seperti air dan minyak.
    Akibatnya kebajikan dasar kehidupan bangsa seperti sipilitas,responsbilitas,keadilan dan intregritas runtuh.
    Akutnya krisis yg kita hadapi mengisyaratkan bahwa untuk memulihkannya kita memerlukan lebih dr sekedar politic as usual.
    kita memerlukan “visi politik baru”.peribahasa mengatakan “where there no vision, the people perish”.
    Visi ini harus mempertimbangkan kenyataan bahwa krisis nasional ini berakar jauh pada penyakit spirit dan moralitas yg melanda jiwa bangsa.
    Suatu usaha “national healing” perlu di lakukan dgn membawa nilai2 spiritual dan etis ke dalam wacana publik.
    Dgn kata lain….
    kita memerlukan penguatan etika politik dan pertanggung jawaban moral dlm kehidupan berbangsa dan bernegara.
    Fundalisme literal dan fundalisme liberal harus di hindari karena keduanya membuat spiritualitas dan politik terus menerus saling mengucilkan dan saling mengalahkan.
    Kehidupan politik tanpa kesalehan sosial dan membuat politik tanpa jiwa.
    Seperti kata Jim Wallis :
    “neither religious nor secular fundamentalism can save us,but new spiritual revival that ignities deep social conscience could transform our society “.

    Like

  3. Dalam dunia politik,ayat2 suci di gunakan untuk menggelembungkan pundi pundi suara.
    Bahkan saat ini ada tren untuk menjadikan agama sebagai kendaraan politik semata.
    (atau di kenal dengan kaum “ISLAM POLITIK”)
    Islam politik adalah ajektif bagi kelompok2 yg pada hakikatnya sedang melalukan kegiatan politik,tp memanfaatkan agama sebagai tameng dan syariat sebagai topeng.
    Mereka menyuarakan bahwa berislam itu harus kaffah (menyeluruh), Bukan menyeluruh dlm hal membumikan prinsip2 universal islam,tp menyeluruh dlm hal mengurusi tetek bengek birokrasi negara.
    Mereka tanpa konsep yg cerdas hanya bermodalkan slogan2 manis berkoar perihal negara islam atau paling tidak syariat islam yg di formalkan dlm bentuk2 perda,UU,atau hukum positif.
    Mereka terutama membaurkan terma2 agama dgn politik.
    Mereka jg tdk mengerti sejarah kelam jika agama di gunakan sebagai Pembenaran bagi kekuasaa politik maka yg terjadi adalah praktek Politik yg menghalalkan segala cara (ala machivelli) yg Menghasilkan “THE BIG CHAOS” .
    Di tangan kaum islam politik… dakwah di “belokkan” menjadi segala jenis usaha di parpol tertentu.
    SIAPAKA MEREKA ??
    Lihat saja gerak geriknya untuk parpol yg sering mengatasnamakan dakwah .
    padahal,menurut buya syafi`i maarif…dakwah itu mencari kawan sedangkan politik mencari musuh.
    Jd…antara dakwah dan politik adalah dua entitas yg berbeda.
    lantas..knp di campur adukkan ..??
    Inilah kesalahan nalar “kaum islam politik” yg seringkali meneriakkan jargon…islam adalah agama (din) sekaligus negara (dawlah).
    Agama memang bisa di salah gunakan untuk kepentingan apa saja. Bahkan untuk kepentingan yg melanggar kemanusiaan sekalipun.
    Bagi,bush..serangan ke irak dan afghanistan adalah titah suci yg di ilhami dr bibel.
    Bagi,amrozy Cs…membunuh banyak nyawa di bali adalah perintah tuhan dlm al Qur`an.
    Maka saya jd teringat sepenggal syair dewa “atas nama cinta saja, jgn bawa nama tuhan”.
    Dan…Tuhan Maha Suci untuk di selewengkan demi kepentingan sempit duniawi.

    Like

  4. gak salah tuh kalau setiap tindakan politik mengacu kepada aturan agama yg diyakini oleh masing2 politikus.Mengapa saya bilang tidak salah?Dalam agama,mengambil hak orang lain sangat dilarang,judi dilarang,apalagi kalau sampai tidur dengan wanita yg bukan mukhrimnnya (bisa bahaya tuh kalau tidak diatur dalam agama,lama2 manusia bisa lebih buas dari binatang heheheheh)…..Menurut saya, kebobrokan para pemimpin yg dipunya oleh indonesia,karena akhlak dan mental mereka jauh dari ajaran agama.Banyak contoh yg bisa kita lihat tindakan para pemimpin kita yg akhlak dan mentalnya jauh dari agama.Kalau saya sebutkan bisa2 blog bang nirwan jadi “HENG” hehehehhee…..Contoh agama bisa dijadikan acuan dalam berpolitik,kalau kita baca sejarah Nabi Besar Mauhammad SAW,setiap tindak tanduk beliau selalu mengacu kepada aturan agama islam (karena beliau meyakini dan nabi agama islam ehhehehee),pada saat itu kaum minoritas tidak merasa dizholimi dengan kepemimpinan Nabi Muhammad SAW.Untuk masalah dakwah,pertanyaan saya apakah dakwah hanya untuk dilakukan di mesjid2?menurut analisa saya (maaf kalau salah) dakwah bisa dilakukan dalam hal apapun selama dakwah tersebut untuk kebaikan,dalam dunia politik dakwah bisa dijalankan,salah satunya memberikan contoh dalam hal penolakan KORUPSI,sampai detik ini saya belum melihat dan membaca kader partai dakwah tersebut TERBUKTI terlibat KORUPSI.Alangkah indahnya kalau semua kader partai yg ada di Indonesia tidak terbukti terlibat KORUPSI.Indonesia akan makmur dan sejahtera.Untuk masalah Perda yang “katanya” bernuansa syariat islam,apakah perda masalah maksiat merupakan syariat islam yg diformalkan?saya pikir aturan tersebut merupakan aturan yg umum. Apakah ada disuatu tempat maksiat dilegalkan?Bagi saya,apapun bentuk perda tersebut selama membawa kebaikan tidak ada masalah,perda tersebut hanya bermasalah bagi orang yang suka dengan maksiat atau seseorang/sekelompok yg coba membangun opini bahwa agama tidak bisa dicampur dengan kehidupan dunia, atau istilah kerennya golongan sekuler hehehehehe…..(masalah agama dan dunia sudah pernah saya tulis di topik yg berbeda).Jika mba hilda mengatakan bahwa “Islam politik adalah ajektif bagi kelompok2 yg pada hakikatnya sedang melalukan kegiatan politik,tp memanfaatkan agama sebagai tameng dan syariat sebagai topeng” saya setuju dengan pendapat tersebut,makanya pilihlah partai yg benar2 telah memberikan bukti bukan hanya sekedar janji2 belaka(terserah mba hilda mau pilih partai mana hehehehe),kalau menurut mba hilda belum ada satupun partai yg telah memberikan bukti,hal tersebut tidak bisa disalahkan,masing2 pihak punya analisa dan keyakinan sendiri2 hehehehhe…..Jika menurut mba hilda semua partai yg ada sekarang semuanya bobrok, saya sering mendengar (maaf kalau salah)”Pilihlah yg terbaik dari yg terburuk”,maksud dari perkataan tersebut semua ada tahapannya,tidak bisa langsung ideal. Kalau kita analogikan dengan manusia, pada saat lahir apakah manusia langsung bisa berjalan dan berlari?semua ada tahapannya.Begitu juga dengan partai politik indonesia,yg dibutuhkan sekarang adalah kecerdasan dari rakyat indonesia yg sudah punya hak pilih untuk memilih partai yg capable untuk membawa kemakmuran dan kejayaan negara indonesia. apakah rayat indonesia sudah cerdas?let see what happen in 2009.

    Like

  5. sepakat bila nilai2 islam dipakai rujukan dlm menentukan keber-politik-an kita. tp perlu dicermati faktanya partai dakwah pun masih sedikit khilaf dan terbawa arus syahwat kekuasaan. bagaimana tidak! klo dlm tulisan artikel bang nirwan yg berjudul kisah cinta megawati dan sby itu benar dan menurut intuisi sy ada kecendrungan benar,maka pantaskan partai dakwah yg mengaku sdh bersih scra tdk langsung mendukung kebijakan pemerintah saat ini yg salah satu kebijakannya adlh menjual aset negara?

    Like

  6. politik islam di bangun menjulang di atas moralitas dan kemanusiaan.
    sehingga dgn politiknya akan selalu berhadapan dgn kebiadaban dan ketidakadilan.
    politik islam selalu memerangi penipuan,pengkhianatan dan segala bentuk sifat2 buruk setani.
    Islam dgn politiknya tdk mengejar kekuasaan.krn kekuasaan hanya milik allah swt semata….
    “sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yg mulia”

    Islam mencintai perdamaian,yaitu perdamaian yg berasaskan keadilan dan kemanusiaan.
    Islam tidak hanya menghendaki manusia hidup sejahtera dan damai dr sisi materi saja,sebab ini adalah politik satwa yg hanya mementingkan seputar lambung dan nafsu.

    Like

  7. “tp perlu dicermati faktanya partai dakwah pun masih sedikit khilaf dan terbawa arus syahwat kekuasaan”, alhamdulillah masih sedikit khilaf hehehhehe……daripada kita bandingkan dengan partai yg banyak khilaf :))) seperti yg saya tulis semuanya butuh proses untuk mendapatkan sesuatu yg ideal.Apalah artinya kekuatan 45 orang jika dibandingkan dengan ratusan orang?suka atau tidak suka,sampai detik ini 45 orang tersebut BELUM TERBUKTI terlibat KORUPSI.Bisa dibayangkan jika posisi tersebut dibalik,ratusan yg BELUM TERBUKTI terlibat korupsi dan 45 orang yg banyak khilafnya hehehe (lebih baik lagi jika semua tidak terbukti terlibat korupsi),posisi tersebut yg sedang diusahakan,mengapa saya bilang sedang diusahakan,jika terjadi voting (dengan keadaan sekarang) apalah artinya 45 suara dibandingkan dengan ratusan suara?Makanya seperti yg saya bilang,yg dibutuhkan sekarang adalah kecerdasan dari rakyat indonesia untuk memilih. Karena apapun bentuk dari negara indonesia,yg menentukan adalah rakyat indonesia.Jika pilihan rakyat semakin cerdas,insya allah negara akan berubah kearah yg lebih baik,jika kecerdasan rakyat indonesia tidak berubah,jangan salahkan pemimpin donk,salahkanlah rakyat indonesia (sebagian besar) yg memilih partai atau pemimpin yg tidak berkualitas.

    “klo dlm tulisan artikel bang nirwan yg berjudul kisah cinta megawati dan sby itu benar dan menurut intuisi sy ada kecendrungan benar”. Baru menurut intuisi saudara jamal loh hehehehe….

    Like

  8. Mas eka,klo mo lebih objektif dlm melihat partai dakwah.coba deh berkunjung ke pkswatch.blogspot.com, pasti anda akan sedikit terbuka mind anda. dan anda akan mengetahui kecenderungan kebenaran atas artikel tsb

    Like

  9. saya sudah pernah berkunjung ke blog tersebut,tapi saya lebih senang di blog-nya bang nirwan hehehehe…..pada dasarnya semua partai semaksimal mungkin saya ikuti perkembangannya,baik dari media elektronik dan cetak bahkan internet.Saya hanya mencoba seobyektif mungkin untuk menentukan pilihan saya pada saat 2009 nanti dengan mengedepankan husnudzon daripada suudzon.Makanya saya baru akan menuangkan pemikiran dangkal yg saya punya jika saya sudah melihat dan membaca serta terbukti (istilah kerennya by data hehheehe),bukan asumsi atau rasa suka dan tidak suka terhadap satu partai.Mengapa saya bilang lebih senang di blog bang nirwan,karena saya ingin belajar dan “mencuri” ilmu bang nirwan yg saya anggap cukup fantastis.Bang nirwan,jangan tuntut saya ya,karena saya ingin mencuri pemikiran2 yg fantastis dari bang nirwan hehehehhe

    hahahaha… saya sudah tulis di Si Nirwan “Tak bisa diharap…”😛 (akhirnya tergelak juga saya dibikin si Eka ini…)

    Like

  10. Ketika Tuhan sudah tak lagi diperbincangkan, ketika Tuhan sudah tak lagi dikenal, maka tugas kita untuk mengenalkannya. Well, hidup ini ibarat dua mata pisau yang tajam, bisa positif kadang bisa juga negatif. Mungkin kenyataan di luar sana memang banyak manusia yang belum mengenal Tuhannya, bisa jadi faktor lingkungan. Hal ini sebenarnya tidak berkaitan dengan politik, sebab mengenalkan Tuhan adalah kewajiban masing-masing dari kita.
    Artikelnya lumayan, thanks ya. Btw, salam kenal, Evy dari Medan. Boleh tukeran link ga yah? Temannya pipe yah🙂

    Like

  11. Ketika Tuhan sudah tak lagi diperbincangkan, ketika Tuhan sudah tak lagi dikenal, maka tugas kita untuk mengenalkannya. Well, hidup ini ibarat dua mata pisau yang tajam, bisa positif kadang bisa juga negatif. Mungkin kenyataan di luar sana memang banyak manusia yang belum mengenal Tuhannya, bisa jadi faktor lingkungan. Hal ini sebenarnya tidak berkaitan dengan politik, sebab mengenalkan Tuhan adalah kewajiban masing-masing dari kita.
    Artikelnya lumayan, thanks ya. Btw, salam kenal, Evy dari Medan. Orang Medan juga yah? Btw, boleh tukeran link ga yah? Temannya pipe yah🙂

    salam kenal juga… sip sip, udah dilink kok.. iya temen pipe di dunia maya … hihihihihi😀

    Like

  12. krisis multidimensi saat ini memang sangat memprihatinkan,dan jika di runut dari belakang,maka bermuara dari pola pembangunan SDM saat ini yg terlalu mengedepankan IQ (kecerdasan intelektual) dan matrealisme,tetapi mengabaikan EQ (kecerdasan emosi) terlebih lagi SQ (kecerdasan spritual).keadaan negara sangat menetukan kondisi ini.kebijakan pemimpin sangat menentukan prilaku2 warganya.
    kl seandainya pemimpin peduli dgn hal seperti ini,kemudian dia melakukan kebijakan yg lebih berdasar nilai2 spiritual agama,insyaallah…..tdk akan terjadi kemerosotan moralitas yg sekarang sudah mulai akut di negeri ini.

    Like

  13. Anonymous, saya memang masih bodoh,makanya saya masih mau belajar di blog bang nirwan, tapi saya tidak pakai lagu loh :))))))).Membuat bang nirwan tergelak atau orang lain tertawa adalah pahala (insya allah hehhehehe)

    Like

  14. kalau lihat tulisan diatas AKU ADALAH KEHIDUPAN KEKASIHKU karya Jalalludin Rumi.
    Aku jadi ingat sebuah pertanyaan SIAPAKAH AKU ?
    seseorang beranggapan bahwa aku adalah aku sambil mengarahkan telunjuknya kearah dadanya, dia tidak sadar bahwa yang ditunjuk itu adalah dada yang dimiliki oleh AKU ? Lalu siapakah AKU ..? apakah aku ini adalah dada, atau aku ini adalah kepala..?atau aku ini adalah seluruh tubuhku..? kalau aku bilang bahwa aku adalah seluruh tubuhku..? INI TUBUHKU artinya masih ada yang memiliki tubuh (ku=memiliki) lalu siapakah aku..?
    tulkiyem jadi bingung kok…! kalau iku bingung gak usah ditanggapi anggap aja ini omong kosong dr orang sebodoh aku hi..hi hi

    Ya, Rumi memang bikin bingung. Dia terlalu jauh.🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s