Pasha “Ungu” Cerai Pas Hamil, Legal?


Nggak ngerti saya hukum mana yang dipakai oleh Pengadilan Agama Jakarta yang menangani kasus cerai Pasha Ungu dan istrinya. Istrinya sedang hamil ‘kok perkaranya bisa ditangani. Saya bukan ahli hukum Islam, tapi seingat saya cerai di saat hamil hukumnya haram. Tunggulah setelah lahir si bayi. Dan karena alasan itu pula, seharusnya Pengadilan Agama sudah menolak menerima menangani kasus ini.

Katakanlah si Pasha dan istrinya tak mengerti hukum Islam, seperti saya ini, masalahnya, kok pengadilan agama menerima kasus itu. Nah, saya jadi penasaran, mazhab dan pemikiran siapa yang dipakai oleh hakim dan panitera Pengadilan Agama ini. Itu satu.

Yang kedua, kalau misalnya mereka punya dalil sendiri, saya jadi bertanya, apakah memang ada patokan hukum Islam yang dipakai standar oleh pengadilan-pengadilan agama di negeri ini. Indonesia lazim –sebagian- dikatakan bermazhab Syafii dengan berdasar Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Guru ngaji kecil saya dulu juga begitu, mazhab-nya Syafii. Dan satu pelajaran yang pernah saya ingat ya, cerai di saat hamil, itu haram.

Saya tanya ibu saya yang guru madrasah, eh, jawabannya juga sama. Saya tak sempat googling soal hukum cerai ini, ini bukan fokus saya. Saya minta bantuan teman-teman yang punya perspektif lain yang bisa memberitahu saya soal pendapat lain yang menghalalkan perceraian di masa hamil?

Soalnya, kalau tidak diketemukan, maka Pengadilan Agama Jakarta sana itu, sudah membuat ijtihad sendiri soal hukum-hukum Islam. Dan, laiknya sebuah pengadilan yang terikat dalam skup yurisprudensi, pengadilan agama yang lain juga bisa menjadikan kasus ini sebagai rujukan. Jadi, kasus cerai Pasha Ungu ini saya kira tak sederhana.

Tolong bantu ya😦

20 thoughts on “Pasha “Ungu” Cerai Pas Hamil, Legal?

  1. Hallo apa lagi nich bang Nirwan, bikin selingan wacana baru selagi konsen tulisan yang berwawasan di ganti pada infotaiment artis. he he he

    Memang saya juga nggak mengerti sekarang peradilan agama begitu mudah menerima perkara tidak serta memikirkan dampaknya !

    Tidak pernah dengar ada pengadilan agama yang menolak perkara

    Apa kurang pekerjaan ?

    wekekekkkkk …..😛 tapi, itu benarlah, ada keprihatinan di kasus itu. Semoga ahli hukum Islam kita melihat kasus itu dengan jeli.

    Like

  2. ROKOK HARAM GOLPUT JUGA HARAM… Mau tahu yg tak haram dan banyak yg melakukan baik sengaja atau tak sengaja serta Anak dan Istrik senang KORUPSI UANG RAKYAT

    Like

  3. Salam infotainment!

    Akankan terjadi kisruh di antara mereka, setajam Silet! Inikah akhir dari kisah itu! Hehehe…

    Aduh bahasaku mirip presenter :p

    Like

  4. loh?😕
    yg haram tuh (suami) menceraikan istri yg hamil, kalo (istri hamil) menceraikan suami sih aku gak tau bang. lagian khan scr legal talaknya jatuh tempo paska kelahiran. eh, geto gak seh?😕
    hihihi.. ko tiba2 aku jd sok teu hukum gini yah:mrgreen:

    Like

  5. Wan, sekedar membantu pusing kepalanya biar hilang, abang dapatkan sumber ini yang ditulis Oleh: Ummu Ishaq Al Atsariyah

    Ada tujuh dari hukum-hukum yang
    berkaitan dengan haid. Hukum yang selanjutnya, di sebutkan berikut ini :

    1: Cerai/Talak
    Diharamkan bagi seorang suami untuk menceraikan istrinya dalam keadaan haid,
    berdasarkan firman Allah Ta’ala :
    “Wahai Nabi, apabila kalian hendak menceraikan para istri maka ceraikanlah
    mereka pada saat mereka dapat (menghadapi) ‘iddah-nya… .” (At Thalaq : 1)
    Al Hafidh Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya membawakan ucapan Ali bin
    Abi Thalhah dari Ibnu Abbas tentang firman Allah Ta’ala : “Fathalliquuhunna li
    ‘iddatihinna”.

    “Ibnu Abbas menafsirkan : ((Tidak boleh seseorang menceraikan istrinya dalam
    keadaan haid dan tidak boleh pula ketika si istri dalam keadaan suci namun
    telah disetubuhi dalam masa suci tersebut. Akan tetapi bila ia tetap ingin
    menceraikan istrinya maka hendaklah ia membiarkannya (menahannya) sampai datang
    masa haid berikutnya lalu disusul masa suci, setelah itu ia bisa
    menceraikannya)).” (Tafsirul Qur’anil Adhim 4/485)

    Ibnu Katsir rahimahullah selanjutnya mengatakan : “Dari sini fuqaha (para ahli
    fikih) mengambil hukum-hukum talak. Mereka membagi talak itu kepada talak
    sunnah dan talak bid’ah. Talak sunnah adalah seseorang mentalak istrinya dalam
    keadaan suci dan belum disetubuhi (ketika suci tersebut) atau dalam keadaan
    istrinya telah dipastikan hamil. Sedangkan talak bid’ah adalah seseorang
    mentalak istrinya ketika sedang haid atau ketika suci namun telah disetubuhi,
    sehingga tidak diketahui apakah si istri hamil dengan sebab hubungan badan
    tersebut atau tidak hamil… .” (Tafsirul Qur’anil Adhim 4/485)

    Apabila si istri dicerai dalam hari haidnya maka ia tidak dapat segera
    menghitung masa ‘iddah-nya karena haid yang sedang ia alami tidak terhitung
    sebagai ‘iddah. Sebagaimana kita ketahui bahwa masa ‘iddah wanita yang dicerai
    suaminya adalah tiga quru’ (tiga kali haid atau tiga kali suci).

    Allah berfirman :

    “Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali
    quru’… .” (Al Baqarah : 228)

    Demikian pula apabila ia dicerai dalam keadaan suci setelah sebelumnya
    disetubuhi, maka ia juga tidak dapat menghitung ‘iddah-nya secara pasti karena
    belum diketahui apakah ia hamil dari hubungan itu hingga ia harus ber-‘iddah
    dengan kehamilannya ataukah ia tidak hamil hingga ia dapat ber-‘iddah dengan
    hitungan masa haidnya. Karena ada perbedaan antara ‘iddah-nya wanita yang hamil
    dengan wanita yang tidak hamil. ‘Iddah wanita yang hamil disebutkan dalam
    firman Allah Ta’ala :

    “Dan wanita-wanita yang hamil masa ‘iddah mereka adalah sampai mereka
    melahirkan kandungannya.” (Ath Thalaq : 4)

    Dengan demikian apabila tidak terdapat keyakinan kapan masa ‘iddah dapat
    dihitung maka diharamkan menjatuhkan talak kecuali setelah jelas perkaranya.

    Apabila seorang suami menceraikan istrinya yang sedang haid, maka si suami
    berdosa. Ia wajib bertaubat kepada Allah Ta’ala dan ia kembalikan si istri
    dalam perlindungannya (rujuk) untuk ia ceraikan dengan cerai yang syar’i sesuai
    dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Setelah ia rujuk, ia biarkan istrinya
    sampai bersih dari haid tersebut (suci), kemudian ia tahan lagi (jangan
    dijatuhkan talak) sampai datang haid berikutnya lalu suci. Setelah itu, ia bisa
    memilih antara menceraikan atau tidak. Namun bila ia ingin menceraikan, maka
    tidak boleh ia gauli istri tersebut dalam masa sucinya itu (yakni dicerai
    sebelum digauli). (Risalah fi Dima’ith Thabi’iyyah lin Nisa’. Asy Syaikh
    Muhammad Shalih Al ‘Utsaimin)

    Dalil dari penjelasan di atas disebutkan oleh Al Imam Al Bukhari dalam
    Shahih-nya dengan sanad yang beliau bawakan sampai kepada Ibnu Umar radhiallahu
    ‘anhuma bahwasannya ia menceraikan istrinya dalam keadaan haid. Maka Umar
    menanyakan hal tersebut kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Mendengar
    hal tersebut Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam marah, kemudian beliau bersabda
    :

    “Perintahkanlah ia (yakni Ibnu Umar) agar merujuk istrinya, kemudian ia tahan
    hingga istrinya suci dari haid. Kemudian (dia tahan hingga) istrinya haid lagi
    (datang haid berikutnya) lalu suci. Setelah itu jika ia mau, ia tahan istrinya
    (tidak diceraikan) dan jika ia mau, ia ceraikan sebelum digauli. Itulah ‘iddah
    yang diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla untuk menceraikan wanita (bila
    ingin dicerai, pent.).” (HR. Bukhari nomor 5251 dan Muslim nomor 1, 2 Kitab Ath
    Thalaq)

    Dalam riwayat Muslim disebutkan : “Perintahkanlah dia agar merujuk istrinya,
    kemudian hendaklah ia menceraikannya dalam keadaan suci atau (dipastikan)
    hamil.”

    Al Imam Ash Shan’ani menyebutkan keharaman talak dalam masa haid ini dalam
    kitabnya Subulus Salam (3/267), demikian juga Al Imam Asy Syaukani dalam Nailul
    Authar (6/260)

    Menurut Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, ada tiga keadaan yang dikecualikan dalam
    pengharaman talak ketika istri sedang haid (yakni dibolehkan mentalaknya
    walaupun dalam keadaan haid) :

    Pertama : Apabila talak dijatuhkan sebelum ia berduaan dengan si istri atau
    sebelum ia sempat bersetubuh dengan si istri setelah atau selama nikahnya.
    Dalam keadaan demikian tidak ada ‘iddah bagi si wanita dan tidak haram
    menceraikannya dalam masa haidnya.

    Kedua : Apabila haid terjadi di waktu istri sedang hamil dan telah lewat
    penjelasan hal ini.

    Ketiga : Apabila talak dijatuhkan dengan permintaan istri dengan cara ia
    menebus dirinya dengan mengembalikan sesuatu yang pernah diberikan suaminya
    atau diistilahkan dengan khulu’.

    Hal ini dipahami dari hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma. Disebutkan
    bahwasannya istrinya Tsabit bin Qais bin Syamas datang kepada Nabi Shallallahu
    ‘Alaihi Wa Sallam lalu ia berkata : “Wahai Rasulullah, tidaklah aku mencela
    Tsabit bin Qais dalam hal akhlak dan agamanya. Akan tetapi, aku tidak suka
    kufur dalam Islam.”[1]

    Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda kepada istrinya Tsabit :

    [ “Apakah engkau mau mengembalikan kebunnya kepadanya [yakni kepada Tsabit,
    pent]?” Wanita itu menjawab : “Ya.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam
    bersabda kepada Tsabit : “Terimalah kebun tersebut dan jatuhkan talak satu
    padanya.” (HR. Bukhari nomor 5273, 5374, 5275, 5276) ]

    Dalam hadits di atas Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak menanyakan kepada
    wanita tersebut apakah ia dalam keadaan haid atau tidak.

    Ibnu Qudamah dalam Al Mughni ketika memberikan alasan dibolehkannya khulu’
    (permintaan cerai dari wanita dengan mengembalikan mahar) pada masa haid,
    beliau menyatakan : “Larangan dijatuhkannya talak ketika haid karena
    bermudlarat bagi si wanita dengan panjangnya masa ‘iddah yang harus dia hadapi.
    Sedangkan khulu’ dibolehkan untuk menghilangkan kemudlaratan bagi si wanita
    berupa buruknya pergaulan dengan suami dan hidup bersama suami yang yang tidak
    ia suka. Yang demikian ini lebih besar kemudlaratannya daripada kemudlaratan
    panjangnya ‘iddah. Maka dibolehkan menolak kemudlaratan yang lebih besar dengan
    kemudlaratan yang lebih kecil. Karena itulah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam
    tidak menanyakan kepada istri yang mengajukan khulu’ tentang keadaannya (apakah
    ia haid atau suci, pent.).” (Al Mughni 7/247)

    2 : Masa ‘Iddah Dihitung Dengan Haid

    Sebagaimana yang telah disebutkan di atas bahwasannya ‘iddah wanita yang
    bercerai dengan suaminya dan keduanya sudah pernah berduaan atau berhubungan
    adalah tiga quru’, sedangkan wanita yang sedang hamil masa ‘iddah-nya sampai
    melahirkan, sama saja apakah saat melahirkan masih panjang atau pendek.

    Apabila si istri tidak mengalami haid karena usianya masih kecil misalnya atau
    si istri telah menopause maka masa ‘iddah-nya selama tiga bulan berdasarkan
    firman Allah :

    “Wanita-wanita yang sudah berhenti dari haid dari kalangan istri-istri kalian.
    Jika kalian ragu, maka ‘iddah mereka adalah tiga bulan, demikian pula
    wanita-wanita yang belum haid.” (Ath Thalaq : 4)

    Kata Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin : “Apakah wanita tersebut masih mengalami haid
    namun karena penyakit atau sedang menyusui hingga haidnya berhenti, maka
    ‘iddah-nya seperti wanita yang mengalami haid yang normal walaupun masanya
    panjang untuk datangnya haid itu hingga ia mulai ber-‘iddah dengannya. Apabila
    sebab terhentinya haid telah hilang, misalnya telah sembuh dari sakit namun
    haidnya belum juga datang maka ia ber-‘iddah selama satu tahun penuh sejak
    hilangnya sebab tersebut. Ini merupakan pendapat yang shahih yang sesuai dengan
    kaidah-kaidah syar’iyyah. ‘Iddah setahun tersebut dengan perincian sembilan
    bulan darinya dalam rangka berjaga-jaga dari kemungkinan hamil dan tiga bulan
    darinya untuk ‘iddah.” (Risalah fid Dima’)

    Adapun bila talak dijatuhkan setelah akad, sebelum berduaan dan bersetubuh maka
    tidak ada ‘iddah bagi wanita tersebut berdasarkan firman Allah :

    “Wahai orang-orang yang beriman apabila kalian menikahi wanita-wanita Mukminah,
    kemudian kalian ceraikan mereka sebelum kalian sentuh maka tidak ada kewajiban
    atas mereka ‘iddah bagi kalian yang kalian minta menyempurnakannya.” (Al Ahzab
    : 49)

    3 : Bolehnya Wanita Haid Berdzikir Kepada Allah Dan Membaca Al Qur’an

    Al Imam Bukhari dalam Shahih-nya (nomor 971) meriwayatkan dengan sanadnya
    sampai kepada Ummu ‘Athiyah radhiallahu ‘anha, ia berkata :

    “Kami dulunya diperintah untuk keluar (ke lapangan shalat Ied, pent.) pada Hari
    Raya sampai-sampai kami mengeluarkan gadis dari pingitannya dan wanita-wanita
    haid. Mereka ini berada di belakang orang-orang (yang shalat), mereka bertakbir
    dan berdo’a dengan takbir dan doanya orang-orang yang hadir. Mereka
    mengharapkan berkah hari tersebut dan kesuciannya.” (Diriwayatkan juga oleh
    Muslim nomor 10 : ‘Shalat Iedain’)

    ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata : “Aku datang ke Makkah dalam keadaan haid.
    Dan aku belum sempat Thawaf di Ka’bah dan Sa’i antara Shafa dan Marwah. Maka
    aku adukan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau
    bersabda :

    “Perbuatlah sebagaimana yang dilakukan seorang yang berhaji, hanya saja jangan
    engkau Thawaf di Ka’bah sampai engkau suci (dari haid).” (HR. Bukhari nomor
    1650 dan Muslim nomor 120/ Kitab Al Hajj)

    Dua hadits di atas memberi faedah bahwa wanita haid disyariatkan untuk
    berdzikir kepada Allah Ta’ala, dan Al Qur’an termasuk dzikir sebagaimana Allah
    berfirman :

    “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz Dzikir (Al Qur’an) dan Kami-lah yang
    akan menjaganya.” (Al Hijr : 9)

    Apabila seorang yang berhaji dibolehkan membaca Al Qur’an maka demikian pula
    bagi wanita haid, karena yang dikecualikan dalam larangan Nabi Shallallahu
    ‘Alaihi Wa Sallam kepada ‘Aisyah yang sedang haid hanyalah Thawaf.

    Permasalahan membaca Al Qur’an bagi wanita haid ini memang ada perselisihan di
    kalangan ulama. Ada yang membolehkan dan ada yang tidak membolehkan.

    Abu Hanifah berpendapat bolehnya wanita haid membaca Al Qur’an dan ini
    merupakan pendapat yang masyhur dalam madzhab Syafi’i dan Ahmad, dan pendapat
    ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah. Mereka mengatakan : “Asal dalam perkara
    ini adalah halal. Maka tidak boleh memindahkan kepada selainnya kecuali karena
    ada larangan yang shahih yang jelas.”

    Adapun jumhur Ahli Ilmu berpendapat tidak boleh bagi wanita haid untuk membaca
    Al Qur’an, akan tetapi boleh baginya untuk berdzikir kepada Allah. Mereka ini
    mengkiaskan (atau menyamakan) haid dengan junub, padahal sebenarnya tidak ada
    pula dalil yang melarang orang junub untuk membaca Al Qur’an.

    Yang kuat dalam hal ini adalah pendapat yang pertama, dan ini bisa dilihat
    dalam Majmu’ Fatawa 21/460 dan Syarhuz Zad 1/291. (Nukilan dari Syarh Umdatul
    Ahkam karya Abu Ubaidah Az Zaawii, murid senior Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al
    Wadhi’i)

    Asy Syaikh Mushthafa Al Adhawi dalam kitabnya Jami’ Ahkamin Nisa’ (1/183-187)
    membawakan bantahan bagi yang berpendapat tidak bolehnya wanita haid membaca Al
    Qur’an dan di akhir tulisannya beliau berkata : “Maka kesimpulan permasalahan
    ini adalah boleh bagi wanita haid untuk berdzikir kepada Allah dan membaca Al
    Qur’an karena tidak ada dalil yang shahih yang jelas dari Rasulullah
    Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang melarang dari hal tersebut bahkan telah
    datang dalil yang memberi faedah bolehnya (wanita haid) membaca Al Qur’an dan
    berdzikir sebagaimana telah lewat penyebutannya, Wallahu A’lam.”

    4 : Hukum Menyentuh Mushaf Bagi Wanita Haid

    Al Hafidh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (1/502) menyatakan bolehnya wanita haid
    membawa Al Qur’an dan ini sesuai dengan madzhab Abu Hanifah. Berbeda dengan
    pendapat jumhur yang melarang hal tersebut dan mereka menyatakan bahwa membawa
    Al Qur’an dalam keadaan haid mengurangi pengagungan terhadap Al Qur’an.

    Berkata Asy Syaikh Mushthafa Al Adawi : “Mayoritas Ahli Ilmu berpendapat wanita
    haid tidak boleh menyentuh mushaf Al Qur’an. Namun dalil-dalil yang mereka
    bawakan untuk menetapkan hal tersebut tidaklah sempurna untuk dijadikan sisi
    pendalilan. Dan yang kami pandang benar, Wallahu A’lam, bahwasannya boleh bagi
    wanita haid untuk menyentuh mushaf Al Qur’an. Berikut ini kami bawakan
    dalil-dalil yang digunakan oleh mereka yang melarang wanita haid menyentuh Al
    Qur’an. Kemudian kami ikutkan jawaban atas dalil-dalil tersebut (untuk
    menunjukkan bahwasanya wanita haid tidaklah terlarang untuk menyentuh mushaf,
    pent.) :

    1) Firman Allah Ta’ala :

    “Tidaklah menyentuhnya kecuali mereka yang disucikan.” (Al Waqi’ah : 79)

    2) Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :

    “Tidaklah menyentuh Al Qur’an itu kecuali orang yang suci.” (HR. Ath Thabrani.
    Lihat Shahihul Jami’ 7880. Al Misykat 465)

    Jawaban atas dalil di atas :

    Pertama : Mayoritas Ahli Tafsir berpendapat bahwa yang diinginkan dengan dlamir
    (kata ganti) dalam firman Allah Ta’ala : ((Laa Yamassuhu)) adalah ‘Kitab Yang
    Tersimpan Di Langit’. Sedangkan ((Al Muthahharun)) adalah ‘Para Malaikat’. Ini
    dipahami dari konteks beberapa ayat yang mulia :

    “Sesungguhnya dia adalah Qur’an (bacaan) yang mulia dalam kitab yang tersimpan,
    tidaklah menyentuhnya kecuali Al Muthahharun (mereka yang disucikan).” (Al
    Waqi’ah : 77-79)

    Dan yang menguatkan hal ini adalah firman Allah Ta’ala :

    “Dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di
    tangan para utusan yang mulia lagi berbakti (yakni para malaikat, pent.).”
    (Abasa : 13-16)

    Inilah pendapat mayoritas Ahli Tafsir tentang tafsir ayat ini.

    Pendapat Kedua : Tentang tafsir ayat ini bahwasannya yang dimaukan dengan Al
    Muthahharun adalah kaum Mukminin, berdalil dengan firman Allah :

    “Hanyalah orang-orang musyrik itu najis.” (At Taubah : 28)

    Dan dengan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :

    “Sesungguhnya orang Muslim itu tidak najis.” (HR. Bukhari nomor 283 dan Muslim
    nomor 116)

    Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melarang bepergian dengan membawa mushaf
    ke negeri musuh, karena khawatir jatuh ke tangan mereka. (HR. Muslim dari Ibnu
    Umar radhiallahu ‘anhuma)

    Pendapat Ketiga : Bahwasannya yang dimaukan dengan firman Allah (yang artinya)
    : “Tidaklah menyentuhnya kecuali mereka yang disucikan.” (Al Waqi’ah : 79)
    adalah tidak ada yang dapat merasakan kelezatannya dan tidak ada yang dapat
    mengambil manfaat dengannya kecuali orang-orang Mukmin.

    Namun adapula Ahli Tafsir (walaupun sedikit) yang berpendapat dengan pendapat
    keempat, bahwa : “Yang dimaksudkan dengan Al Muthahharun adalah mereka yang
    disucikan dari dosa-dosa dan kesalahan.

    Dan yang kelima : Al Muthahharun adalah mereka yang suci dari hadats besar dan
    kecil.

    Sisi keenam : Al Muthahharun adalah mereka yang suci dari hadats besar
    (janabah).

    Mereka yang membolehkan wanita haid menyentuh mushaf memilih sisi yang pertama,
    dengan begitu tidak ada dalil dalam ayat tersebut yang menunjukkan larangan
    bagi wanita haid untuk menyentuh Al Qur’an. Sedangkan mereka yang melarang
    wanita haid menyentuh Al Qur’an memilih sisi kelima dan keenam. Dan telah lewat
    penjelasan bahwa mayoritas ahli tafsir menafsirkan Al Muthahharun dengan
    malaikat.

    Dalil Kedua : Tidak aku dapatkan isnad yang shahih, tidak pula yang hasan,
    bahkan yang mendekati shahih atau hasan untuk hadits yang dijadikan dalil oleh
    mereka yang melarang wanita haid menyentuh Al Qur’an. Setiap sanad hadits ini
    yang aku dapatkan, semuanya tidak lepas dari pembicaraan. Lantas apakah hadits
    ini bisa terangkat kepada derajat shahih atau hasan dengan dikumpulkannya semua
    sanadnya atau tidak?

    Dalam masalah ini ada perbedaan pendapat, Asy Syaikh Albani rahimahullah
    menshahihkannya dalam Al Irwa’ (91/158). Bila hadits ini dianggap shahih
    sekalipun, maka pengertiannya sebagaimana pengertian ayat yang mulia di atas.
    (Jami’ Ahkamin Nisa’ 1/187-188)

    Asy Syaikh Al Albani rahimahullah sendiri ketika menjabarkan hadits di atas
    beliau menyatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘thahir’ adalah orang Mukmin baik
    dalam keadaan berhadats besar atau hadats kecil ataupun dalam keadaan haid.
    Wallahu A’lam.

    5 : Bolehkah Wanita Haid Masuk Ke Masjid?

    Dalam masalah ini ada perselisihan pendapat di kalangan Ahli Ilmu, ada yang
    membolehkan dan ada yang tidak membolehkan.

    Asy Syaikh Mushthafa Al Adawi membawakan dalil dari kedua belah pihak dan
    kemudian ia merajihkan/menguatkan pendapat yang membolehkan wanita haid masuk
    ke masjid. Berikut ini dalil-dalilnya :

    Dalil Yang Membolehkan :

    1) Al Bara’ah Al Ashliyyah, maknanya tidak ada larangan untuk masuk ke masjid.

    2) Bermukimnya wanita hitam yang biasa membersihkan masjid, di dalam masjid,
    pada masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Tidak ada keterangan bahwasannya
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memerintahkan dia untuk meninggalkan masjid
    ketika masa haidnya, dan haditsnya terdapat dalam Shahih Bukhari.

    3) Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha
    yang tertimpa haid sewaktu melaksanakan ibadah haji bersama beliau Shallallahu
    ‘Alaihi Wa Sallam :

    “Lakukanlah apa yang diperbuat oleh seorang yang berhaji kecuali jangan engkau
    Thawaf di Ka’bah.” (HR. Bukhari nomor 1650)

    Dalam hadits di atas Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak melarang ‘Aisyah
    untuk masuk ke masjid dan sebagaimana jamaah haji boleh masuk ke masjid maka
    demikian pula wanita haid (boleh masuk masjid).

    4) Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :

    “Sesungguhnya orang Muslim itu tidak najis.” (HR. Bukhari nomor 283 dan Muslim
    nomor 116 Kitab Al Haid)

    5) Atha bin Yasar berkata : “Aku melihat beberapa orang dari shahabat
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam duduk di masjid dalam keadaan mereka
    junub apabila mereka telah berwudlu seperti wudlu shalat.” (Dikeluarkan oleh
    Said bin Manshur dalam Sunan-nya dan isnadnya hasan)

    Maka sebagian ulama mengkiaskan junub dengan haid.

    Mereka yang membolehkan juga berdalil dengan keberadaan ahli shuffah yang
    bermalam di masjid. Di antara mereka tentunya ada yang mimpi basah dalam
    keadaan tidur. Demikian pula bermalamnya orang-orang yang i’tikaf di masjid,
    tidak menutup kemungkinan di antara mereka ada yang mimpi basah hingga terkena
    janabah dan di antara wanita yang i’tikaf ada yang haid.

    Dalil Yang Melarang :

    1) Firman Allah Ta’ala :

    “Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendekati shalat sedangkan
    kalian dalam keadaan mabuk hingga kalian mengetahui apa yang kalian ucapkan dan
    jangan pula orang yang junub kecuali sekedar lewat sampai kalian mandi.” (An
    Nisa’ : 43)

    Mereka mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kata ‘shalat’ dalam ayat di atas
    adalah tempat-tempat shalat, berdalil dengan firman Allah Ta’ala :

    “… niscaya akan runtuh tempat-tempat ibadah ruhban Nasrani, tempat ibadah
    orang umum dari Nasrani, shalawat, dan masjid-masjid.” (Al Hajj : 40)

    Mereka berkata : “((Akan runtuh shalawat)) maknanya ((akan runtuh tempat-tempat
    shalat)).”

    Di sini mereka mengkiaskan haid dengan junub. Namun kata Asy Syaikh Mushthafa :
    “Kami tidak sepakat dengan mereka karena orang yang junub dapat segera bersuci
    sehingga di dalam ayat ini ada anjuran untuk bersegera dalam bersuci, sedangkan
    wanita yang haid tidak dapat berbuat demikian.”

    2) Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kepada para wanita ketika beliau
    memerintahkan mereka untuk keluar ke tanah lapangan pada saat shalat Ied.
    Beliau menyatakan :

    “Hendaklah wanita-wanita haid menjauh dari mushalla.” (HR. Bukhari nomor 324)

    Jawaban atas dalil ini adalah bahwa yang dimaksud dengan ‘mushalla’ di sini
    adalah ‘shalat’ itu sendiri, yang demikian itu karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi
    Wa Sallam dan para shahabatnya shalat Ied di tanah lapang, bukan di masjid dan
    sungguh telah dijadikan bumi seluruhnya untuk ummat ini sebagai masjid (tempat
    shalat).

    3) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mendekatkan kepala beliau kepada
    ‘Aisyah yang berada di luar masjid ketika beliau sedang berada di dalam masjid,
    hingga ‘Aisyah dapat menyisir beliau dan ketika itu ‘Aisyah sedang haid.

    Jawaban atas dalil ini adalah tidak ada di dalamnya larangan secara jelas bagi
    wanita haid untuk masuk ke dalam masjid. Sementara di masjid itu sendiri banyak
    kaum pria dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tentu tidak suka mereka
    sampai melihat istri beliau.

    4) Perintah-perintah yang ada untuk membersihkan masjid dari kotoran-kotoran.

    Dalam hal ini juga tidak ada larangan yang tegas bagi wanita haid. Yang jelas
    selama wanita haid tersebut aman dari kemungkinan darahnya mengotori masjid,
    maka tidak apa-apa ia duduk di dalam masjid.

    5) Hadits yang lafadhnya :

    “Aku tidak menghalalkan masjid bagi orang junub dan tidak pula bagi wanita
    haid.” (HR. Abu Daud 1/232, Baihaqi 2/442. Didlaifkan dalam Al Irwa’ 1/124)

    Namun hadits ini dlaif (lemah) karena ada rawi bernama Jasrah bintu Dajaajah.

    “Sebagai akhir”, kata Asy Syaikh Mushthafa, “kami memandang tidak ada dalil
    yang shahih yang tegas melarang wanita haid masuk ke masjid, dan berdasarkan
    hal itu boleh bagi wanita haid masuk masjid atau berdiam di dalamnya.” (Jami’
    Ahkamin Nisa’ 1/191-195, dengan sedikit ringkasan)

    6 : Wajibnya Mandi Setelah Suci Dari Haid

    Apabila wanita bersih dari haidnya maka ia wajib mandi dengan membersihkan
    seluruh tubuhnya berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kepada
    Fathimah bintu Abi Hubaisy :

    “Tinggalkanlah shalat sekadar hari-hari yang engkau biasa haid padanya, dan
    (jika telah selesai haidmu) mandilah, dan shalatlah.” (HR. Bukhari nomor 325)

    Yang wajib ketika mandi ini adalah minimal meratakan air ke seluruh tubuh
    hingga pokok rambut. Dan yang utama melakukan mandi sebagaimana yang disebutkan
    dalam hasdits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ketika beliau ditanya oleh
    seorang wanita Anshar tentang tata cara mandi haid. Beliau Shallallahu ‘Alaihi
    Wa Sallam sebagaimana yang dikhabarkan oleh ‘Aisyah radhiallahu ‘anha bersabda :

    [ “Ambillah secarik kain yang diberi misik lalu bersucilah dengannya”. Wanita
    itu bertanya : “Bagaimana cara aku bersuci dengannya?” Nabi menjawab :
    “Bersucilah dengannya”. Wanita itu bertanya lagi : “Bagaimana caranya?” Nabi
    berkata : “Subhanallah, bersucilah”. ‘Aisyah berkata : Maka aku menarik wanita
    tersebut ke dekatku, lalu aku katakan kepadanya : “Ikutilah bekas darah dengan
    kain tersebut”. (HR. Bukhari nomor 314 dan Muslim nomor 60) ]

    Atau lebih lengkapnya disebutkan dalam riwayat Muslim (nomor 61), bahwasannya
    Asma bintu Syakl bertanya tentang tata cara mandi haid maka beliau Shallallahu
    ‘Alaihi Wa Sallam mengajarkan :

    [ “Salah seorang dari kalian mengambil air dan daun sidr (bidara), lalu ia
    bersuci dan membaguskan bersucinya. Kemudian ia tuangkan air ke kepalanya dan
    ia gosok dengan kuat hingga air tersebut sampai ke akar-akar rambutnya,
    kemudian ia tuangkan air ke atasnya, kemudian ia ambil secarik kain yang diberi
    misik (yakni sepotong kain yang diberi misik) lalu ia bersuci dengannya”. Maka
    bertanya Asma : “Bagaimana cara ia bersuci dengannya?” Nabi menjawab :
    “Subhanallah, engkau bersuci dengannya”. ‘Aisyah berkata kepada Asma dengan
    ucapan yang pelan yang hanya didengar oleh orang yang diajak bicara : “Engkau
    mengikuti bekas darah dengan kain tersebut”. (HR. Muslim nomor 61) ]

    Al Imam Nawawi rahimahullah ketika men-syarah hadits di atas menyatakan :
    “Telah berkata Al Qadli ‘Iyadl rahimahullahu ta’ala : ((Bersuci yang pertama
    (yang disebutkan dalam hadits ini) adalah bersuci dari najis-najis dan apa yang
    terkena najis berupa darah haid)). Demikian dikatakan Al Qadli. Namun yang
    lebih jelas, Wallahu A’lam, bahwasannya yang dimaksud dengan bersuci yang
    pertama adalah wudlu sebagaimana hal ini disebutkan dalam sifat/cara mandi
    (janabah) Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.” (Syarah Shahih Muslim 4/15)

    Hadits di atas juga menunjukkan sunnahnya mengikuti bekas darah dengan
    kain/kapas yang diberi misik, sementara perkara ini banyak dilalaikan oleh para
    wanita. Kata Al Imam Nawawi rahimahullah : “Ulama berselisih tentang hikmah
    menggunakan misik (ketika mandi haid). Pendapat yang shahih yang terpilih yang
    diucapkan oleh jumhur ashab kami (ulama dalam madzhab Syafi’i) dan selain
    mereka adalah maksud menggunakan misik itu untuk mengharumkan bekas tempat
    darah dan mencegah/menghilangkan bau yang tidak sedap.”

    Dan dipahami dari hadits riwayat Muslim di atas bahwa penggunaan kain yang
    diberi misik tersebut dilakukan setelah selesai mandi.

    Selanjutnya Al Imam Nawawi berkata : “Perkara ini disunnahkan bagi setiap
    wanita yang mandi dari haid atau nifas, sama saja apakah ia memiliki suami atau
    tidak. Ia gunakan kain bermisik tersebut setelah mandi. Apabila ia tidak
    mendapatkan misik maka boleh ia menggunakan wewangian apa saja yang ia
    dapatkan. Apabila ia juga tidak mendapatkan wewangian lain, maka disunnahkan
    baginya untuk menggunakan tanah atau yang semisalnya dari benda-benda yang
    dapat menghilangkan aroma tidak sedap. Demikian disebutkan oleh ashab kami.
    Apabila ia tidak mendapatkan apapun, maka air cukup baginya. Akan tetapi, jika
    ia meninggalkan pemakaian wewangian padahal memungkinkan bagi dirinya unutk
    memakainya maka hal itu dimakruhkan baginya. Namun bila tidak memungkinkan maka
    tidak ada kemakruhan bagi dirinya.” (Syarah Shahih Muslim 4/13-14)

    Pemakaian wewangian ketika mandi haid ini sangat ditekankan, sampai-sampai
    wanita yang sedang ber-ihdad[2]diberi rukhshah/keringanan untuk mengoleskan
    wewangian pada daerah sekitar farji/kemaluan setelah selesai mandi haid,
    sebagaimana hal ini disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari (nomor 313) dari
    Ummu ‘Athiyah radhiallahu ‘anha, ia berkata : “Kami dilarang untuk ber-ihdad
    atas mayat lebih dari tiga hari kecuali bila yang meninggal itu adalah suami
    maka ihdad-nya (istri) 4 bulan 10 hari. (Selama ber-ihdad) kami tidak boleh
    bercelak, tidak boleh memakai wewangian, tidak boleh memakai pakaian yang
    dicelup kecuali pakaian ‘ashb (dari kain Yaman, pent.). Dan kami diberi
    keringanan untuk menggunakan sepotong kain yang diberi wewangian ketika salah
    seorang dari kami mandi untuk bersuci dari haid. Dan kami juga dilarang untuk
    mengikuti jenasah.”

    Apakah wajib bagi wanita yang mandi haid untuk melepaskan ikatan rambutnya? Al
    Imam Muslim dalam Shahih-nya (nomor 58) meriwayatkan dengan sanadnya sampai
    kepada Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, bahwasannya ia bertanya kepada Nabi
    Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :

    [ “Aku adalah wanita yang sangat kuat ikatan rambutku, apakah aku harus
    melepaskannya untuk mandi janabah?” Dalam riwayat lain : “… dan mandi
    haid?”[3] Beliau menjawab : “Tidak, hanya saja cukup bagimu untuk menuangkan
    air di atas kepalamu tiga kali tuangan, kemudian engkau alirkan air ke tubuhmu,
    dengan begitu maka engkau suci.” (HR. Muslim nomor 58) ]

    Al Imam Ash Shan’ani (dalam Subulus Salam 1/142) dan Al Imam As Syaukani (dalam
    Nailul Authar 1/346) keduanya menyebutkan tidak wajibnya melepas ikatan rambut
    bagi wanita ketika mandi wajib.

    Kata Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah : “Tidak wajib melepas ikatan
    rambut kepala ketika mandi kecuali bila ikatannya sangat kuat sehingga tidak
    memungkinkan air mencapai pokok-pokok rambut, berdasarkan hadits Ummu Salamah
    yang diriwayatkan oleh Muslim (kemudian beliau menyebukan hadits yang tersebut
    di atas).” (Risalah fid Dima’)

    Asy Syaikh Abdul Aziz bin Bazz rahimahullah berkata : “Yang shahih, tidaklah
    wajib bagi wanita untuk melepas ikatan rambutnya ketika mandi haid berdalilkan
    keterangan yang datang dalam sebagian riwayat Ummu Salamah yang dikeluarkan
    oleh Al Imam Muslim… .”

    Jumhur ulama berpendapat apabila air mencapai seluruh kepala bagian luarnya
    maupun dalamnya tanpa harus melepas ikatan rambut maka tidak wajib melepasnya.

    Berkata Asy Syaikh Muhammad bin Ibrahim : “Yang kuat dalam dalil adalah tidak
    wajib melepas ikatan rambut ketika mandi haid sebagaimana tidak wajib
    melepasnya ketika mandi janabah… .” (Lihat Bulughul Maram min Adillatil Ahkam
    dengan catatan kaki yang dinukil dari pembahasan Asy Syaikh Albani dan Asy
    Syaikh Abdullah Alu Bassam serta sebagian ulama Salaf. Halaman 48-49)

    Asy Syaikh Mushthafa Al Adawi menyatakan : “Termasuk perkara yang disunnahkan
    saja untuk wanita melepas ikatan rambutnya ketika mandi haid, dan hal ini
    tidaklah wajib dan ini merupakan pendapat mayoritas ahli fikih. Al Imam Asy
    Syafi’i rahimahullah dalam Al Umm (1-227) mengatakan : ((Apabila seorang wanita
    memiliki rambut yang diikat maka tidak wajib baginya untuk melepas ikatan
    tersebut ketika mandi janabah. Dan mandinya dari haid sama dengan mandinya dari
    janabah, tidaklah berbeda)).” Kemudian Asy Syaikh Mushthafa menyimpulkan :
    “Hendaklah seorang wanita memastikan sampainya air ke pokok-pokok rambutnya
    tatkala ia mandi haid, sama saja apakah dia dapat memastikan dengan melepas
    ikatan rambut atau tanpa melepasnya. Apabila tidak dapat dipastikan sampainya
    air ke pokok rambut kecuali dengan melepas ikatannya maka hendaklah ia
    melepaskannya –tapi bukan karena melepas ikatan rambut itu hukumnya wajib–
    hanya saja hal itu dilakukan agar air sampai
    ke pokok-pokok rambut.” (Jami’ Ahkamin Nisa’ 1/122)

    Kesimpulan Tata Cara Mandi Haid

    1. Menyiapkan air dan daun sidr atau yang bisa menggantikannya seperti sabun
    dan lainnya.

    2. Berwudlu dengan baik.

    3. Menuangkan air ke kepala lalu digosok dengan sangat hingga air sampai ke
    adsar/pokok rambut (atau mengenai seluruh kulit kepala).

    4. Tidak wajib melepas ikatan rambut kecuali bila melepas ikatan tersebut akan
    membantu untuk sampainya air ke pokok rambut.

    5. Menuangkan air ke seluruh tubuh.

    6. Mengambil kain/kapas atau sejenisnya yang telah diberi misik atau wewangian
    lain (bila tidak mendapatkan misik), lalu mengoleskannya ke tempat-tempat yang
    tadinya dialiri darah haid. (Jami’ Ahkamin Nisa’ 1/123)

    Apabila wanita haid telah suci di tengah waktu shalat, wajib baginya untuk
    segera mandi agar ia dapat menunaikan shalat tersebut pada waktunya. Apabila ia
    sedang safar dan tidak ada air padanya atau ada air namun ia khawatir mudlarat
    (berbahaya) bila memakainya atau ia sakit yang akan berbahaya bila ia memakai
    air, maka cukup baginya bertayamum sebagai pengganti mandi hingga hilang
    darinya uzur. Maka setelah itu ia mandi.

    Sebagian wanita yang mendapatkan suci di tengah waktu shalat mengakhirkan
    mandinya sampai waktu shalat yang lain dan ia katakan tidak mungkin dapat
    menyempurnakan bersuci pada waktu tersebut. Ucapan seperti ini bukanlah alasan
    dan bukan pula uzur karena memungkinkan bagi dia untuk mandi sekedar terpenuhi
    yang wajib (dengan cukup mengenakan air pada seluruh tubuh) dan ia menunaikan
    shalat pada waktunya. (Risalah fid Dima’ith Thabi’iyyah lin Nisa’. Asy Syaikh
    Ibnu ‘Utsaimin)

    Masail Haid

    1) Apa yang harus diperbuat oleh seorang wanita bila ia melihat cairan berwarna
    kuning atau darah keluar dari farji-nya sebelum tiba masa haid?

    Asy Syaikh Abdullah bin Jibrin ketika ditanya tentang masalah ini, beliau
    menjawab : “Apabila seorang wanita mengenali kebiasaan hari haidnya dengan
    hitungan atau dengan warna darah atau dengan waktu, maka ia meninggalkan shalat
    di waktu kebiasaan tersebut. Setelah suci ia mandi dan shalat. Adapun darah
    yang keluar mendahului darah haid (sebelum datang waktu kebiasaan haid), maka
    teranggap darah fasid (rusak/penyakit) dan ia tidak boleh meninggalkan shalat
    dan puasa karena keluarnya darah fasid tersebut. Tetapi hendaklah ia mencuci
    darah tersebut setiap waktu dan berwudlu setiap mau shalat dan ia tetap shalat
    walaupun darah tersebut keluar terus menerus. Wanita yang mengalami seperti ini
    teranggap seperti keadaannya wanita yang istihadlah.”

    2) Apa yang harus diperbuat bila pakaian yang dikenakan terkena darah haid?

    Asma’ berkata : [ “Datang seorang wanita menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
    Wa Sallam seraya berkata : ‘Apa pendapatmu wahai Rasulullah apabila salah
    seorang dari kami pakaiannya terkena darah haidnya, apa yang harus dia
    perbuat?’ Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab :

    ‘Hendaklah ia mengerik darah pada pakaian tersebut, kemudian ia menggosoknya
    dengan air dan mencucinya. (Setelah itu) ia dapat shalat dengan menggunakan
    pakaian tersebut.” (HR. Bukhari nomor 227 dan Muslim nomor 110/Kitab Ath
    Thaharah) ]

    3) Wanita haid melihat dirinya telah suci sebelum fajar namun ia belum sempat
    mandi kecuali setelah terbit fajar, apakah ia boleh berpuasa pada hari itu?

    Al Hafidh Ibnu Hajar menukilkan tentang sisi perbedaan antara puasa dan shalat
    bagi wanita haid. Ia berkata : “Wanita haid seandainya ia suci sebelum fajar
    dan ia berniat puasa maka sah puasanya tersebut menurut pendapat jumhur. Puasa
    tersebut tidak tergantung pada mandi berbeda dengan shalat (harus mandi
    terlebih dahulu apabila seseorang ingin melaksanakan shalat).” (Jami’ Ahkamin
    Nisa’)

    4) Wanita haid mendengarkan ayat Sajadah, apakah ia boleh ikut sujud?

    Apabila wanita haid mendengar ayat Sajadah maka tidak diketahui adanya larangan
    baginya untuk sujud tilawah. Bahkan boleh baginya sujud tilawah, sebagaimana
    hal ini dikatakan oleh Az Zuhri dan Qatadah. Wudlu bukanlah syarat untuk sujud
    tilawah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah membaca surat An Najm maka
    beliau sujud dan ikut sujud bersama beliau kaum Muslimin yang hadir,
    orang-orang musyrikin, jin, dan manusia, sebagaimana hal ini disebutkan dalam
    riwayat Bukhari (nomor 4862) dari hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma. (Jami’
    Ahkamin Nisa’ 1/174)

    5) Apa hukum menggunakan obat untuk menghentikan haid?

    Ibnu Qudamah rahimahullah berkata dalam Al Mughni (1/221) : “Telah diriwayatkan
    dari Imam Ahmad rahimahullah bahwasannya beliau berkata : ((Tidak apa-apa
    seorang wanita meminum obat untuk menghentikan haidnya, apabila obat yang
    dipakai itu sudah dikenal)).”

    Namun semua ini berputar pada maslahat dan mudlarat, karena ada di antara obat
    penahan haid tersebut yang memberi mudlarat bagi pemakainya. Maka dalam hal ini
    hendaklah si wanita menyadari bahwa haid adalah ketetapan Allah bagi anak
    perempuan turunan Adam hingga ia ridla dengan apa yang menimpanya. (Dinukil
    dari fatwa Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah)

    6) Seorang wanita keluar darah dari farjinya melewati lama kebiasaan haidnya,
    lalu apa yang harus ia perbuat?

    Misalnya kebiasaan haid seorang wanita 6 hari, lalu suatu ketika bertambah
    menjadi 7, 8, atau 10 hari. Maka ia melihat sifat darah yang keluar setelah 6
    hari itu. Bila memang masih seperti darah haid maka ia meninggalkan shalat dan
    puasa. Karena memang tidak didapatkan batasan tertentu untuk hari-hari haid.
    Apabila darah yang keluar itu warnanya dan aroma/baunya bukan seperti darah
    haid, maka ia mandi dan shalat. Wallahu A’lam.

    Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah ketika ditanyakan kepada beliau tentang
    masalah ini beliau menjawab : “Apabila kebiasaan hari haid seorang wanita itu 6
    atau 7 hari kemudian suatu ketika lebih dari kebiasaannya menjadi 8, 9, 10,
    atau 11 hari (dan sifat darahnya seperti darah haid, pent.), maka wanita
    tersebut tetap tidak boleh shalat sampai ia suci. Yang demikian itu karena Nabi
    Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak menetapkan batasan tertentu dalam hari-hari
    haid. Dan Allah Ta’ala berfirman :

    “Mereka bertanya kepadamu tentang haid, katakanlah : ‘Haid itu adalah kotoran’
    ” (Al Baqarah : 222)

    Maka kapan saja darah itu keluar dari farji, wanita yang mengalaminya tetap
    dikatakan haid sampai ia suci dan mandi kemudian mengerjakan shalat. Apabila
    pada bulan berikutnya haidnya datang kurang dari perhitungan hari pada bulan
    sebelumnya maka ia mandi apabila telah suci. Yang penting kapan darah haid ada
    pada seorang wanita maka ia meninggalkan shalat, sama saja apakah lama hari
    haidnya itu sama dengan kebiasaannya yang dulu atau bertambah ataupun
    berkurang, dan apabila ia suci maka ia shalat. (Jami’ Ahkamun Nisa’ 1/212-213)

    7) Apabila seorang wanita suci beberapa saat setelah fajar di bulan Ramadhan,
    apakah ia harus menahan diri dari makan dan minum pada hari itu, apakah sah
    puasanya atau harus mengqadlanya?

    Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menjawab dalam kitabnya Sittuna Su’alan ‘an Ahkamil
    Haidl : “Apabila seorang wanita suci setelah terbit fajar maka dalam
    permasalahan menahan makan dan minum bagi si wanita, ulama terbagi dalam dua
    pendapat :

    Pertama : Wajib baginya untuk menahan dari makan dan minum pada sisa hari itu,
    akan tetapi ia tidak terhitung melakukan puasa hingga ia harus mengqadlanya di
    lain hari. Ini pendapat yang masyhur dari madzhab Imam Ahmad.

    Kedua : Tidak wajib baginya menahan makan dan minum pada sisa hari tersebut
    karena pada awal hari itu ia dalam keadaan haid hingga bila ia puasa maka
    puasanya tidak sah. Apabila puasanya tidak sah maka tidak ada faidahnya ia
    menahan dari makan dan minum. Hari tersebut bukanlah hari yang diharamkan
    baginya untuk makan dan minum karena ia diperintah untuk berbuka pada awal hari
    (disebabkan haidnya), bahkan haram baginya berpuasa pada awal hari tersebut.
    Puasa yang syar’i sebagaimana yang sama kita ketahui adalah menahan diri dari
    perkara-perkara yang membatalkan puasa dalam rangka beribadah kepada Allah
    ‘Azza wa Jalla dari mulai terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari.
    Pendapat yang kedua ini sebagaimana yang engkau lihat lebih kuat dari pendapat
    pertama.” (Sittuna Su’alan ‘an Ahkamil Haidl. Halaman 9-10)

    8) Apakah wanita haid harus mengganti pakaian yang dikenakannya setelah ia suci
    sementara ia tahu pakaian tersebut tidak terkena darah atau najis?

    Tidak wajib baginya mengganti pakaian tersebut karena haid tidaklah menajisi
    badan. Hanyalah darah haid itu menajisi sesuatu yang bersentuhan dengannya
    (mengenainya). Karena itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memerintahkan para
    wanita apabila pakaian mereka terkena darah haid untuk mencucinya dan setelah
    itu boleh dipakai shalat. (Sittuna Su’alan ‘an Ahkamil Haidl. Asy Syaikh Ibnu
    ‘Utsaimin. Halaman 21-22)

    9) Adakah kafarah bagi seseorang yang menggauli istrinya dalam keadaan haid?

    Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa
    Sallam tentang orang yang menggauli istrinya dalam keadaan haid. Beliau
    bersabda :

    “Hendaklah orang itu bersedekah dengan satu dinar atau setengah dinar.”
    (Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi, Abu Daud, Nasa’i, dan Ibnu Majah)

    Namun hadits ini diperselisihkan apakah hukumnya marfu’ (sampai kepada
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) atau mauquf (ucapan Ibnu Abbas saja,
    bukan ucapan Nabi).

    Al Imam Baihaqi rahimahullah telah menjelaskan hal ini dengan penjelasan yang
    mencukupi dalam kitabnya As Sunanul Kubra (1/314-319) dan beliau menyebutkan
    dengan sanad yang shahih sampai kepada Syu’bah bahwasannya Syu’bah rujuk dari
    pendapatnya semula akan marfu’-nya hadits ini. Pada akhirnya Syu’bah menyatakan
    hadits ini mauquf atas Ibnu Abbas (ucapan Ibnu Abbas).

    Masalah seseorang menggauli istrinya ketika haid maka ada dua keadaan :

    1. Karena yakin akan kehalalannya walaupun ia tahu dalil yang melarang. Orang
    seperti ini berarti telah menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah dan
    Rasul-Nya.

    2. Tahu keharamannya tapi tidak dapat menahan dirinya. Dan ini terbagi lagi
    dalam dua keadaan :

    a. Ia lupa atau tidak tahu, maka pelakunya tidaklah berdosa.

    b. Ia melakukan dengan dorongan dirinya sendiri maka jelas ia berbuat dosa
    besar.

    Untuk point yang kedua ini diperbincangkan apakah pelakunya harus membayar
    kafarah atau tidak. Dalam hal ini ada dua pendapat :

    1) Tidak ada kewajiban kafarah baginya tapi cukup minta ampun kepada Allah.
    Kata Al Imam Al Khathabi rahimahullah : “Berkata sebagian besar ulama : ((Tidak
    ada kafarah baginya dan ia minta ampun kepada Allah. Mereka menganggap hadits
    dalam permasalahan kafarah bagi yang menggauli istri yang sedang haid itu
    adalah mursal atau mauquf atas Ibnu Abbas dan tidak benar bila hadits tersebut
    dihukumi muttashil marfu’.” Demikian pula dinukilkan dari Ibnu Qudamah dalam Al
    Mughni dari mayoritas ulama bahwasannya tidak ada kafarah bagi pelakunya. Dan
    pendapat ini dipegangi dalam madzhab Syafi’i, Malik, Abu Hanifah dan pendapat
    Imam Ahmad dalam salah satu riwayat darinya. Dihikayatkan pendapat ini oleh Abu
    Sulaiman Al Khaththabi dari sebagian besar ulama. Ibnul Mundzir juga
    menghikayatkan dari Atha’, Ibnu Abi Malikah, Asy Sya’bi, An Nakha’i, Makhul, Az
    Zuhri, Ayyub As Sikhtiyani, Abu Zinad, Rabi’ah, Hammad bin Abi Sulaiman, Sufyan
    Ats Tsauri, dan Al
    Laits bin Sa’ad. (Jami’ Ahkamin Nisa’ 1/181-182)

    2) Dikenai kafarah. Namun diperselisihkan lagi dalam hal jumlah kafarah-nya :

    a) Sebanyak satu dinar atau setengah dinar, menurut pendapat Ibnu Abbas, Said
    bin Jubair, Al Hasan Al Bashri, Qatadah, Al Auza’i, Ishaq, Ahmad bin Hambal
    dalam satu riwayat dan Syafi’i dalam Al Qadim. (Syarh Umdatul Ahkam. Halaman
    76. Az Zaawii)

    b) Bila masih keluar darah maka kafarah-nya satu dinar, kalau sudah berhenti
    kafarah-nya setengah dinar. Ini pendapatnya satu kelompok dari ahli hadits.

    c) Kafarah-nya 1/10 dinar, menurut pendapatnya Al Auza’i. (Lihat Bidayatul
    Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid. Halaman 54. Oleh Abul Walid Ibnu Rusyd Al
    Qurthubi)

    d) Kafarah-nya membebaskan seorang budak, menurut pendapat Said bin Jubair.
    (Syarh Al Umdah. Halaman 77. Az Zaawii)

    e) Kafarah-nya sama dengan kafarah jima’ di siang hari Ramadlan, yaitu
    membebaskan budak atau puasa 2 bulan berturut-turut atau memberi makan 60 orang
    miskin. Ini merupakan pendapatnya Al Hasan Al Bashri. (Jami’ Ahkamin Nisa’
    1/182)

    Asy Syaikh Mushthafa Al Adawi berpendapat : “Yang benar adalah tidak ada
    kafarah bagi pelakunya, Wallahu A’lam” (karena hadits Ibnu Abbas mauquf).
    Kemudian beliau menukilkan ucapan Ibnu Hazm dalam Al Muhalla : “Masalah ((siapa
    yang menggauli istrinya ketika haid)), maka sungguh ia telah bermaksiat kepada
    Allah Ta’ala dan wajib baginya untuk bertaubat dan minta ampun kepada-Nya. Dan
    tidak ada kafarah baginya dalam hal ini.” (Jami’ Ahkamin Nisa’ 1/182)

    Wallahu A’lam Bishawwab.

    Daftar Pustaka

    1. Tafsirul Qur’anil Adhim. Al Hafidh Ibnu Katsir. Penerbit Darul Faiha dan
    Darus Salam.

    2. Risalah fid Dima’ith Thabi’iyyah lin Nisa’. Asy Syaikh Muhammad Shalih Al
    ‘Utsaimin.

    3. Subulus Salam. Al Imam Ash Shan’ani. Penerbit Maktabah Al Irsyad. Shan’a.

    4. Nailul Authar. Al Imam Asy Syaukani. Penerbit Maktabah Al Imam.

    5. Fathul Bari. Al Hafidh Ibnu Hajar Al Asqalani. Penerbit Darul Haramain.

    6. Al Mughni. Ibnu Qudamah Al Maqdisi. Penerbit Darul Fikr.

    7. Syarah Shahih Muslim. Al Imam An Nawawi. Maktabah Al Ma’arif.

    8. Bulughul Maram min Adillatil Ahkam. Al Hafidh Ibnu Hajar Al Asqalani.
    Maktabah Nazar Mushthafa Al Baz.

    9. Sittuna Su’alan ‘an Ahkamil Haidl. Asy Syaikh Shalih Al ‘Utsaimin. Penerbit
    Dar Ibnu Khuzaimah.

    10. As Sunanul Kubra. Al Imam Al Baihaqi. Penerbit Darul Fikr.

    11. Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid. Abul Walid Ibnu Rusyd Al
    Qurthubi. Penerbit Dar Ibnu Hazm.

    12. Jami’ Ahkamin Nisa’. Asy Syaikh Mushthafa Al Adawi.

    13. Syarh Umdatul Ahkam. Asy Syaikh Abu Ubaidah Az Zaawii.

    14. Shahih Bukhari. Al Imam Al Bukhari.

    15. Shahih Muslim. Al Imam Muslim.

    ——————————————————————————–

    [1] Al Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah : “(Maksud) ucapan istrinya Tsabit :
    ((Akan tetapi, aku tidak suka kufur dalam Islam)), yakni aku tidak suka apabila
    aku tetap hidup bersamanya, aku akan jatuh dalam perkara yang berkonsekuensi
    kekufuran.” Al Hafidh selanjutnya menukil ucapan Al Imam Ath Thibi tentang
    ucapan istrinya Tsabit : “Makna : ((Aku mengkhawatirkan diriku dalam Islam)),
    untuk terjatuh pada perkara yang menafikan/menyelisihi hukumnya seperti perkara
    nusyuz, benci terhadap suami dan selainnya, yang semuanya ini mungkin menimpa
    seorang wanita yang masih muda lagi cantik dan ia benci dengan suaminya bila
    bertentangan/tidak sama dengan dirinya. Di sini istrinya Tsabit memutlakkan
    perkara yang menafikan konsekuensi Islam dengan kekufuran.” (Fathul Bari 9/483)

    [2] Meninggalkan perhiasan dan wewangian karena meninggalnya suami atau
    kerabat. Lihat pembahasan hal ini dalam lembar Muslimah edisi sebelum ini.

    [3] Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah tentang sebagian riwayat Ummu Salamah :
    “Yang shahih dalam hadits Ummu Salamah adalah sebatas penyebutan mandi janabah
    tanpa menyertakan mandi haid… .” Asy Syaikh Albani rahimahullah : “Penyebutan
    haid dalam hadits ini adalah syadz (artinya ganjil. Hadits yang syadz termasuk
    hadits yang lemah, pent.) tidaklah tsabit. (Lihat Bulughul Maram min Adillatil
    Ahkam dengan catatan kaki yang dinukil dari pembahasan Asy Syaikh Albani dan
    Asy Syaikh Abdullah Alu Bassam serta sebagian ulama Salaf. Halaman 48-49.
    Maktabah Nazar Mushthafa Al Baz)

    tenkiu berat bang… betul-betul berat. ampon aku …🙂

    Like

  6. @ meneer londo (tuan belanda)klo Londoner (gak tau aku..hi..hi..hi)
    waduuuh ampoooun panjang baget perlu 2 hari bacanya He…he..he
    tapi bagus …bagus banget.
    Klo menurutku sih memang perceraian itu halal hukumnya , tapi perceraian kan dibenci ALLAh, bisa dibayangkan klo kita dibenci oleh yang punya BUMI dan alam semesta ini trus klo ALLAH betul-betul benci ..? kita mau kost dimana.? aduuuh pokoknya klo bisa kita-kita ini jangan cerai deh…! biar artis aja yang cerai…kawin…cerai…kawin…he he he

    Jalan pikiran saya gini Yem.. Ada yang ganjil di kasus cerai Pasha Ungu itu apalagi infotainment merupakan propagandis lifestyle yang luar biasa. Banyak umat muslim yang belum sampai ke sana tingkat pemahaman fiqhnya, termasuk saya. Kasus kawin cerai adalah salah satu inti masalah keluarga yang ditonton hampir setiap hari dalam hitungan beberapa jam oleh keluarga-keluarga (terutama Islam yang mayoritas) di Indonesia ini di tengah-tengah rumahnya, bahkan sering bersama anak-anaknya. Mudah2an para ustadz kita membahas soal hukum ini di tingkat pengajian ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak muda, dst. 🙂

    Like

  7. Sebetulnya sudah ada hukum yang sempurna, kita dah gak perlu lagi import dari belanda..atau negara lain..! Al Quran adalah sumber dari segala hukum yang ada… okey…?!

    Like

  8. setuju tulkiyem,semua hukum ada semua di al-quran,karena al-quran merupakan kitab suci sampai akhir zaman.Sangat disayangkan jika jaman sekarang masih ada yg bilang al-quran tidak bisa mengikuti perkembangan dunia. Awal kehancuran islam karena sebagian besar umatnya sudah meninggalkan apa yg diperintahkan allah yg tertulis di al-quran.Contoh yang sangat nyata…..SUKSES….bagi sebagian besar manusia yg ada dibumi,khususnya Indonesia mengidentifikasikan SUKSES dengan arti orang kaya,banyak harta.Tetapi mereka tidak pernah melihat PROSESNYA.Sedangkan dalam islam,proses adalah sesuatu hal yang sangat penting,karena dari proses tersebutlah kita bisa tahu apakah yg didapat dari orang tersebut halal atau haram. Makanya karena mindset sudah tercuci dengan rapih oleh kaum Yahudi dan kafir,proses tidak dilihat lagi sebagai hal yg sangat penting,tetapi hal yg sangat penting dilihat adalah HASIL.Sedangkan dalam Islam(maaf kalau saya salah) HASIL merupakan hak preogratif ALLAH SWT,mengapa saya bilang HASIL merupakan hak preogratif ALLAH SWT?dalam islam kita diwajibkan BERUSAHA DAN BERDOA,tidak pernah ada kita diwajibkan untuk HASIL. Karena hasil baru akan kita dapatkan jika mendapat IZIN DARI ALLAH SWT. Bagaimana kita bisa mendapatkan IZIN ALLAH?dengan BERUSAHA DAN BERDOA (berusaha dalam konteks sesuai dengan yg diperintahkan ALLAH). Itulah hebatnya YAHUDI dan KAFIR,mereka tidak butuh kita pindah agama,tapi yg mereka butuhkan pola fikir kaum muslim harus jauh dari akidah islam. Jika pola fikir sudah berubah,otomatis tindakannya-pun jauh dari akidah islam.Makanya sekarang timbullah aliran sekuler dan liberal.Bagaimana mereka berlindung?dengan mengatasnamakan “Kebebasan dalam memeluk agama”.

    Like

  9. Jadi, keputusannya, kita harus mengadakan kajian yang lebih dalam tentang agama kita. jangan infotainment yang jadi rujukan. bisa ga luruh agama kita

    Like

  10. @ Ajaran
    kalo yang dimaksud halalnya cerai ..? waduuuh ampun bang ..! entar situ kawin..cerai..terus bang, enak situ doooong..?

    Like

  11. Kalo aku lebih setuju ma artikel di atas tu………….. dah jelas kok. yang gak boleh tu talak / cerai saat haid, bukan saat hamil. kapan-kapan kalo mo buat posting baca-baca kitab dulu, biar gak asal-asalan hasilnya, soale di baca orang banyak. kalo sampai salah sesat jadinya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s