Memanah Rembulan


old manLaiknya seorang pujangga, suatu hari si Udin hendak merayu perempuannya, si Butet. Mereka ini dah lama menikah, sekitar dua puluh lima tahun dan setiap hari ubi kayu menjadi menu utama. Si Udin menekukkan lututnya dan tangan kanannya menggapai-gapai hingga hampir kenalah dagu si Butet.

“Bang, apa yang kau lakukan ini?”
“Butet… aku cinta padamu..”
“Taunya aku itu, Bang. Tapi ngapain kali musti begini ..”
“Biar kayak di sinetron-sinetron itu. Kayaknya romantis. Tak senang kau rupanya?”
“Halah, Bang… Bang… Tak perlu aku kayak-kayak gitu. Kau ajak aja aku nonton film Kingkong, dah senang kali aku…”
“Kau ini pun! Selera pun macam preman ajah… nonton Titanic la kan mantap. Sekali-sekali kau tingkatkan dulu mutu hidup kau itu, biar kayak orang Eropa kita… Kalau ada pergelaran musik klasik di kota kita ini, pasti kau kuajak. Kubelikan kau gaun malam … “
“Heh…jangan, Bang. Tak mau aku malu kau buat. Kakiku ini masih belum hilang lagi bekas kudisnya…”
“Ckckckck…. Kurik kau ini pun buat masalah ajah… Cemana lagi mau tinggi martabat kita kalau ada kurik di kaki …?”

“Bang, tingginya martabat bukan tergantung banyaknya kurik di kaki atau ketiak yang basah, tapi tergantung hati, Bang…”
“Halahhh, berteori pula kau. Mana ada cantik dari dalam, atau apa kata orang tu, inner beauty? Macam botul aja…”
“Bang, Bang… dibilangin yang baik, kau membantah. Belagak kayak orang Eropa, tapi otak masih Afrika…”
“Eh, jangan salah kau. Banyak orang Afrika yang pande-pande ya…”

Setelah itu keduanya terdiam. Si Udin yang mulai percakapan lagi.
“Tet…”
“Apa? Cium? Bekurik tapi syor juganya kau …”
“Kau ini piktooooorrr aja… tapi kok bisa kau tebak?”

Kakek dan nenek yang belum renta itu pun berciuman. Mereka hanya berdua saat itu. Anak-anaknya sedang beraktivitas di luar rumah. Si Dame sedang menarik becak, si Otong sedang mengasong, si Edah di rumah majikannya, si Lela –yang paling kecil– sejak tadi siang dibawa Kartup, abang si Udin, entah kemana (“Halah, paling dibawa si Kartup mengemis di kota,” kata si Butet pada si Udin tadi pagi).

Indah betul hidup mereka.

* * *

PS 1: mo’on dibaca dengan dialek medan, kl gak bisa, ya, bisa-bisain aja😛
PS 2: i luv u.
PS 3: belum sanggup beli, 3 juta lagi mesti dikumpulin…wekekekekekk😛

10 thoughts on “Memanah Rembulan

  1. Dikampungku, kurik itu lambang keasrian habitat. Seorang wanita berkurik dianggap sangat alami,belum tersentuh modernisme kosmetik.

    Bahkan dikalangan tertentu, wanita berkurik dimitoskan sebagai wanita paling lugu.Dia belum tersentuh kaporit air PDAM, masih mandi di sungai atau sumur korekan leluhur. Maka bagi kalangan tertentu, wanita berkurik ini layak dilirik.

    Tapi itulah kurik, disatu sisi dapat jadi sumber malapetaka. Data di Pengadilan Agama Medan tahun 1985, salah satu penyebab perceraian dini adalah karena istri ternyata berkurik. Saat pacaran, kurik tak nampak. Kasihan kurik.

    wakakakakakkkkk … ampon katuo, ampon … hahahaha😛

    Like

  2. yg jelas kurik ciptaan tuhan…….hhehhehe……

    ah…ntar karena males mandi n sering main di selokan … hahahaha😛

    Like

  3. Wan, memanah itu identik dengan satu sasaran dan harus tepat di tengah-tengah. Nah, kalau memanah rembulan sekarang ini pasti sulit anak panah tepat di tengah, karena rembulan tidak lagi berada di tengah. Malah rembulannya ada dua, satu menghadap ke barat satu lagi menghadap ke timur. Sedangkan yang di tengah-tengah bukan rembulan, mungkin kurik, ha ha ha…

    wekekekekekekk …. jadi teringat masa yang dulu di Ekspress bang …😛

    Like

  4. Auwoookkkk….! Kalau di Ekspress, abang teringat dengan seorang anak muda berambut ikal tapi gondrong. Sering pake t-shirt warna hitam kumal, trus pake jeans yang koyak di dengkul.

    Trus, anak muda tadi maen sama sohibnya yang bernama Andi (juga) dan Irma Yuni, ke Tuntungan.

    Itu belum unik. Mau tau yang uniknya, anak muda tadi mandi sungai Tuntungan pake jas hujan, ha ha ha….

    Kurasa ganteng kali anak muda itu ya bang ,,, wakakakakakakkkkk …skak mat … tobat-tobat…ampon ketuo ampon …ampon ….😛

    Like

  5. asli kali ah.. macam cerita dul kenyut & tulkiyem kudengar, di radio citrabuana pas jaman2 smp dulu. kwkwkw..
    Salam kenal bang nirwan.

    makjang…radio citrabuana ah… hahahahaha ..salam kenal juga ya🙂

    Like

  6. Wan… Apa sih kurik itu..? aku gak tau maksudnya
    klo dikampoangku kurik itu ya.. kurik..kurik..kurik..(manggil ayam)

    kurik itu bekas kudis, kurap dll yang masih membekas di kulit.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s