Cerita Kaum Mustadha’afin di Muhammadiyah (Sumut)


Saudara, salah satu ijtihad paling awal yang dilakukan KH Ahmad Dahlan adalah perlindungan terhadap kaum mustadha’afin. Dan Ahmad Dahlan, mendirikan Muhammadiyah sebagai organisasi yang melindungi kaum ini. Ini adalah cerita soal Muhammadiyah Sumut yang boleh Anda setujui dan boleh juga Anda ratapi.

Teman-teman …
Para pemuja-muja kapitalis, tuan-tuan tanah yang berselimut feodalisme, serta susupan kaum fasis yang berbaju Orde Baru (dalam sosok-sosok wajah berlukis premanisme), telah datang dalam berbagai bentuk ke dalam Muhammadiyah, seperti laiknya Kota Barus di Tapanuli Tengah, didatangi berbondong-bondong oleh pengelana, pelaut dan pedagang dari Timur Tengah. Para imigran gelap inilah yang justru telah menjadikan posisi Muhammadiyah sebagai organisasi yang patut dilindungi saat ini. Muhammadiyah adalah kaum dhuafa itu sendiri. Muhammadiyah adalah “korban”.

Untuk melihat Muhammadiyah Sumut, maka lihatlah terlebih dahulu apa yang sedang terjadi dalam Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). UMSU merupakan amal usaha terbesar sekaligus menjadi donatur terbesar yang menyumbang segala kegiatan Muhammadiyah wilayah. Karena itu, UMSU adalah cerminan dari perilaku pengurus PW Muhammadiyah Sumut. Apalagi, sebagian pengurus PW Muhammadiyah Sumut juga adalah penguasa teras UMSU. Dan ketika Anda melihat itu, maka akan tampaklah bagaimana wajah Muhammadiyah Sumut.

Namun, besarnya dana yang dikelola UMSU justru berbanding terbalik dengan kesejahteraan yang dipunyai Muhammadiyah, para kadernya, para dosen-dosennya, para karyawannya. Sekedar perbandingan saja, di tahun 2005, UMSU mempunyai 11.745 mahasiswa dan bila Anda mengambil rata-rata dari uang kuliah yang dikutip sebesar Rp 2.000.000 saja (tahun 2008/2009, rata-rata uang kuliah mahasiswa UMSU ada Rp 2,7 Juta –tertinggi Fakultas Ekonomi Rp 3.250.000 dan terendah Fakultas Agama Rp 1.650.000), maka dana yang dikelola UMSU setiap tahunnya minimal Rp 23,5 Miliar. Perhitungan itu adalah asumsi rata-rata sehingga hasilnya pun dalam kategori “minimal”.

Pendapatan UMSU yang dipungut dari mahasiswa masih ada lagi. Uang SKS mencapai Rp 25.000 per SKS. Jadi bila satu semester (6 bulan) si mahasiswa mengambil 24 SKS, dia harus menyetor Rp 600.000. Jadi selama setahun, dia harus keluar duit Rp 1.200.000. Habis? Belum. Masih ada lagi instrumen penggali duit mahasiswa bernama “Infak Wajib Mahasiswa (IWM)”. Nilai tertinggi sebanyak Rp 2.750.000 (Fakultas Ekonomi) dan nilai terendah Rp 900.000 (Fakultas Agama).

Cukup? Belum. Masih ada lagi seperti duit seminar/sidang, skripsi, dana perpustakaan dan seterusnya. Namun, dari tiga instrumen itu saja (SPP, SKS, IWM), maka total jenderal, seorang mahasiswa –misalnya dari Fakultas Ekonomi jurusan manajemen/akuntansi- di tahun 2008/2009 ini, sudah harus mengeluarkan Rp 3.050.000 (SPP) + Rp 1.200.000 (SKS) + Rp 2.750.000 (IWM) = Rp 7.000.000 … !

“Bisnis” UMSU juga tak cuma itu, karena perguruan tinggi ini mempunyai harta bergerak maupun tidak bergerak, misalnya kebun kelapa sawit hingga aset gedung. Tentulah aset-aset ini sangat berharga dan bank manapun pasti mau mengucurkan duit kreditnya kepada amal usaha ini. Jangan lupakan pula, bantuan pemerintah dan bantuan asing yang juga diperoleh institusi pendidikan ini.

Namun, kondisi yang ada di UMSU berbanding terbalik dengan kesejahteraan para staf pengajarnya, para karyawannya mulai dari satpam hingga tukang sapu, dan ini akan merembet pada kualitas pendidikan yang seharusnya diperoleh para mahasiswanya. Saya mendapat cerita, staf pengajar tetap di UMSU hanya bergaji Rp 600.000-Rp 800.000 per bulan. “Pendapatan lain ya tergantung jumlah SKS kita mengajar,” aku seorang pengajar kepada saya. Jadi, rumus untuk mengais pendapatan di UMSU adalah Anda harus melobi sebanyak-banyak para penguasa di dekanat dan rektorat agar mendapatkan jumlah SKS sebanyak-banyaknya. Dan semakin sedihlah Anda kalau melihat status staf pengajar tak tetap di universitas ini.

Ayahanda, ibunda, kakanda, adinda ……
Dengan asumsi ini, maka benarlah bila kemudian UMSU itu dipenuhi oleh kaum mustadha’afin, kaum fakir miskin dan orang-orang tertindas. Mereka yang tak tahu harus mengadu kemana, mereka yang terkena diskriminasi, mereka yang penuh ketakutan manut pada atasannya, mereka yang diam saja melihat proyek-proyek yang hanya dinikmati oleh segelintir orang penguasa-penguasa UMSU dan ironisnya, “Banyak bukan kader Muhammadiyah,” seperti pengungkapan seorang kader Muhammadiyah, seorang berstatus staf pengajar, yang kini memilih diam sembari terus lamat-lamat berdoa adanya perubahan di UMSU.

UMSU kini dipenuhi oleh para pembisik: mereka yang tak berani berbicara lantang -karena hanya berbisik-bisik saja- mengenai ijtihad, pembaruan, reformasi atau apapun itu namanya. UMSU dijejali kaum-kaum yang mulutnya dijahit rapi (sambil tersenyum pula) sehingga menutup parahnya kondisi yang terjadi di kampus itu. UMSU dipenuhi kaum tertindas, yang terdiam ketika ancaman “Masih mau terus mengajar atau tidak? Atau mau di-DO?” berseliweran masuk ke kuping mereka.

Saya belum lagi bercerita soal bejibunnya borjuis koruptor yang ada di UMSU. Saya belum bercerita lagi bagaimana para kader Muhammadiyah dan anak-anaknya harus menangis untuk mengkuliahkan anaknya di sana, bagaimana mereka harus terlebih dahulu menunjukkan Kartu Anggota Muhammadiyah kepada para satpam hanya supaya bisa diterima. Namun sampai di sini, bantahlah asumsi saya ini bila tidak benarlah UMSU dan Muhammadiyah Sumut itu adalah lokalisasi kaum mustadha’afin, kaum yang tertindas, kaum yang harus dilindungi dari penguasa di Muhammadiyah itu sendiri.

Salam untukmu ya Muhammad,
salam untukmu ya Ahmad Dahlan ……
Salam untukmu ya guru-guruku …dosen-dosenku …Fastabiqul khairat …

9 thoughts on “Cerita Kaum Mustadha’afin di Muhammadiyah (Sumut)

  1. Dulu saya sangat mengagumi UMSU, mudah-mudahan sekarang juga begitu.

    Penyakit yang dimiliki UMSU, kalau benar demikian, kayaknya sama dengan penyakit yang dimiliki banyak universitas di Indonesia. Pada saat berdiri, jiwa pergerakan yang bekerja. Pada saat mulai bangkit, pengembangan kampus gencar-gencir. Pada saat mapan saling menikmati, pada saat mulai turun… mulai saling lihat kanan kiri. Pada saat turunnya semakin cepat… mulai menaikkan uang kuliah.. karena penghasilan dr spp tok… bila satu sudah menyeleweng dan tidak ditindak… yang lain jadi ikut-ikutan dan jadi budaya kerja… itu hukum organisasi

    Di barat mungkin hal ini bisa ditanggulangi dengan adanya dewan donatur. Tapi di Indonesia jarang yang bisa begitu. Apatah lagi Muhammadiyah bukan pemegang ekonomi Indonesia dan pribumi hanya memiliki sekitar 10 persen secara kasar yang dibagi-bagi oleh 200 juta penduduk.

    Jadi univ di Indonesia harus pandai-pandai mengelola dananya, kalau tidak gulung tikar. Lebih tragis lagi….

    Sangat senang mendengar UMSU punya unit-unit usaha. Tapi mungkin harus diteliti lebih mendalam mengapa unit itu tidak bermanfaat langsung dengan kesejahteraan dosen, staf dan turunnya SPP.

    Mekanisme pengawasan itulah yang mesti dievaluasi. Kalau koruptor itu ada saja di mana-mana. Jadi buatlah sistem yang mempersempit ruang gerak untuk manipulasi.

    Fenomena yang umum di Indonesia sampai sekarang adalah, memang pendididikan belum bisa diandalkan sebagai tempat cari makan. Banyak orang yang senang mengajar hanya digaji 150 ribu perbulan, dengan catatan dia punya usaha yang lain. Tapi ini bukan alasan untuk mmebuat SPP jd mahal dan menggaji karyawan dengan gaji rendah. Harus ada kemauan politik pengelola untuk transparan dalam pengelolaan keuangan, di lain pihak, jiwa berkorban dan mengabdi para aktivis untuk pelayanan ummat harus tetap dilestarikan.

    Like

  2. Harus ada keberanian tuk berubah…..
    minimal dari pucuk pimpinan Muhammadiyah…..
    tapi sayangnya …tak banyak lagi ….kader Muhammadiyah yang muncul di pentas kegiatan Nasional yang sekaliber Buya syafii maarif apalagi sekelas Amien Rais yang bukan Kancil Pilek itu….

    Ayo Kader Muhammadiyah bergeraklah…..
    Semoga Allah meridhloi usaha panjenengan semua…

    amin …

    Like

  3. makanya saya coba untuk masuk ke umsu biar bisa merubah, tapi semua di tolak oleh penguasa umsu

    maju terus, pantang mundur… !🙂

    Like

  4. wahh emang betul jadi dosen di umsu tidak mumpuni??? kalau seperti itu perlu ada upaya agar umsu harus direformasi baik dari level pimpinan maupun bawahan.. paling tidak reformasi mental yg kurang baik.. karena dia tidak jujur dan tidak brjuang utk muhammadiyah ini..

    ya emang betul begitu.🙂

    Like

  5. Aku sering ketawak ngakak kalau baca tulisan si Tukang Ngarang ini…Hahahahaahaha… Betul-betul jago ngarang memang. Kalaupun kadang isinya sebagian perlu diklarifikasi ulang, meskipun memang banyak benarnya tapi sulit membuktikan, persis kek angin terasa tapi tak bisa ditangkap. Sebagai seorang Tukang Ngarang saya enjoy2 aja baca tulisanmu apa saja topik yang dikarang,walau kadang saya tak kasih comment apapun. Yang pasti saya suka gayamu mengarang yang suka nakal, nyentil sana nyentil sini. Hahaha..dasar Tukang Ngarang…….Kali ini saya juga tak akan kasih comment apapun dengan tulisan Cerita Kaum…..

    Like

  6. hhaahahahah
    mari kita berbisnis universitas bang
    karena lebih menjanjikan masa depan ceriah untuk anak dan binik ke 3 hahahha
    aq mau buka universitas para pendusta agama dan penjahat kecil dan menengah bang
    mau jadi mentor nya gak bang?
    hahahhaha
    ato cari kan lah siapa yang bisa lebih kejam dari pembunuh….
    serius bang….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s