Cemburu


Dua butir, ah tidak, mungkin lima belas butir peluru bersarang di dadanya.
“Itu bukan tembakan senapan mesin manual tapi otomatis!”
“Sudahlah!” hardikku, “Dia sudah syahid. Ia lebih dulu menemui rasulullah.”
“Apakah rasul menyambutnya di pintu langit, kawan?”
“Pasti! Pasti itu. Tapi kita harus hidup untuk menyampaikan berita gembira ini kepada Hasanah. Mari kuburkan dia. Biarkan darahnya mewangi di dalam liang. Suatu saat dia akan berterima kasih kepada kita karena menguburkan dia bersama bajunya yang penuh darah itu. Engkau tahu, mungkin dia akan berlagak seperti Clint Eastwood di hadapan kita nanti,” kataku bergumam, “Nanti kalau kita pun mati.”
“Hei, aku tak mau mati di tempat tidur. Enak saja dia! Kau berhutang padaku, kawan!” kata dia kepada mayat itu. Jarinya kemudian membelai janggutnya yang tumbuh tipis di dagunya.

Dua orang bertubuh tinggi itu kemudian meninggalkan si mayat. Berjingkat-jingkat mereka meninggalkan arena pertempuran.

* * *

Rumah itu tidak terlalu besar tapi tidak bisa dibilang ukuran rumah sangat sederhana. Rumah itu dihuni pasangan Husain dan Hasanah. Tidak ada foto keluarga di rumah itu. Husain, dulu pernah berkata kepada Hasanah, dia tak mau mengabadikan wajah manis istrinya itu dalam bingkai foto yang terbatas. “Wajahmu sudah terpatri di lubuk jiwaku. Aku tak perlu lagi foto untuk membayangkan keindahanmu, Hasanah.”
“Mengapa engkau sangat mencintaiku, Husain?”

Husain tak menjawab. Ia mengambil setangkai bunga mawar di pekarangan rumahnya, lalu ia tancapkan akarnya di sebuah pot kecil. Ia membelai bunga itu seperti belaian yang ia lakukan kepada kucingnya. “Tidakkah engkau cemburu, Hasanah?” Hasanah diam, bibirnya tersenyum puas. Ia mencium tangan suaminya.

Seorang pria tinggi berdiri di depan rumah itu. Ia tak berani mengetuk pintunya, tak juga mengucap salam. Ia menunggu.

Sebuah sepeda menghampiri halaman. Seorang wanita berjilbab turun dari sepeda itu dan menatap heran ke arah laki-laki yang berdiri di depan rumahnya. “Astaghfirullah!”

* * *

“Alhamdulillah, ya Ahmad. Dia sudah bersanding dengan bidadari. Kini aku betul-betul cemburu. Ah, Husain, suamiku…” lirih Hasanah menggeleng-geleng sambil tersenyum. Pipi Hasanah merona merah.

Ahmad keluar dari rumah itu. Tangannya mengepal. Ia sungguh cemburu kepada Husain, Hasanah, dan kepada seluruh syahid dan syahidah…

è-one
Januari 2006

2 thoughts on “Cemburu

  1. Andaikan Hasanah tahu, bahwa Husain lebih sepekan sebelumnya telah syahid, pasti pipinya merona karena marah. Sayangnya, Hasanah tidak pernah belajar ilmu forensik. Sabarlah engkau wahai hasanah

    Like

  2. Hasanah cemburu pada bidadari…..?
    tolong jelasin apakah bidadari itu ada…….?
    di Al Qur’an atau hadist……..?
    bukankah bidadari itu hanya aku …? (dirumahku) hihihi

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s