“The United States of America”


“We are not black american, we are not white american, we are not african-american, we are not hispanic-american, we are not asian-american….but we are the united states of america…”

* * *

Jean-Jacques Rousseau (1712- 1778) salah seorang penetas Revolusi Perancis, di antaranya membahas “nasionalisme” dalam teori kontrak sosial-nya. Manusia dikelilingi dalam suatu bahasan bangsa (dan suku bangsa) yang dikelilingi oleh sebuah pagar dan kemudian mereka-mereka ini bersepakat untuk saling mengatur dirinya dalam sebuah ikatan. Kemudian, terciptalah sebuah identitas yang membedakan antara manusia dalam satu pagar tertentu dengan manusia yang berada di pagar yang lain. Nasionalisme adalah sebuah identitas.

Dia seperti sebuah lukisan indah dalam bingkai yang lebih indah dari lukisannya. Lukisan itu berwarna-warni, ada yang merah, hijau, kuning, abu-abu sampai putih. Indonesia mengartikannya dalam Bhinneka Tunggal Ika –berbeda-beda tapi satu juga. Hal ini menjadikan nasionalisme dianggap sebagai suatu ideologi yang bahkan melampaui definsi ideologi itu sendiri. Di dalamnya, orang bisa berkata apa saja, berbuat apa saja, atau malah diam saja. Di dalamnya, orang bisa berkelahi, berdebat, saling tonjok, dan sisi lain, orang tak dilarang untuk bersilaturahim, bersahabat dan boleh pula mengucilkan dirinya. Syaratnya hanya satu: jangan pernah ke luar dari pagar.

Dengan begini, nasionalisme mencoba sebuah pandangan dunia. Dunia adalah sebuah rumah yang mempunyai kamar-kamar dan ruang-ruang tertentu dengan masing-masing fungsi. Amerika Serikat adalah salah satu kamar itu dan Indonesia berada di kamar yang lainnya. Namun, laiknya sebuah rumah, ada yang disebut kamar depan, beranda (teras), kamar mandi, ruang dapur, kamar belakang, sampai kamar pembantu. Sejarah nasionalisme mula-mula memainkan fungsinya sebagai tuan rumah yang mengatur dan menempatkan siapa di tempat yang mana.

* * *

Sejarah kemudian memfasilitasi suatu instrumen untuk itu: demokrasi. Demokrasi mulanya hanya sebuah instrumen saja, yang hanya dipakai ketika diperlukan. Kalau hendak memutuskan sesuatu, maka instrumennya –misalnya- pemungutan suara (electoral). Karena itu, setelah proses electoral selesai, demokrasi disimpan di perpustakaan negara. Namun, demokrasi ternyata sangat liar. Ia tumbuh subur di seluruh negara dan dianggap sebagai model terbaik untuk penyelenggaraan negara hingga kini. Dengan demokrasi, Anda bisa berbicara soal keadilan, hak-hak asasi manusia, perlindungan kaum wanita, anak-anak dan orang tua, dan seterusnya, dan seterusnya. Dia kemudian bukan hanya instrumen di tingkat kenegaraan. Dia bermetamorfosa sebagai suatu set mind manusia. Dia sangat supel, fleksibel dan cair.

Dia menjadi panutan para eksistensialis, karena itu di dalam demokrasi, setiap orang berhak menentukan hidupnya sendiri dan negara wajib menjamin pemenuhan hak-haknya itu. Demokrasi juga berkawan dengan sosialis, karena itu setiap negara punya tugas untuk melindungi para proletarian dari ganasnya borjuasi. Dia berpeluk erat dengan kapitalis karena adalah hak setiap orang untuk menumpuk duit yang diusahakannya. Atheis juga tak ketinggalan, memeluk erat-erat demokrasi karena demokrasi adalah juru selamatnya. Karena itulah, karena itulah, demokrasi punya prinsip sama seperti nasionalisme yaitu agama dan keyakinan adalah urusan privat dan bukan publik. Karena itulah, agama pun diakomodir oleh demokrasi dalam sebuah kerangka “sekulerisme”.

Agama sebagai sebuah konsep holistik adalah barang haram yang tak boleh tumbuh dalam rumah besar bernama nasionalisme oleh si tuan rumah: demokrasi. Agama hanya punya urusan kultural dan moralitas, dan tak punya kemampuan untuk berbicara soal struktural dan infrastruktur politik. Toh nanti pun, di dalam rumah besar nasionalisme itu dan dipelototi erat-erat oleh demokrasi, moralitas yang diajarkan oleh agama, mesti bertarung pula dengan moralitas yang juga disembulkan oleh aliran-aliran lain. Siapa bilang eksistensialisme tak bicara soal moral? Siapa bilang pula atheisme tak punya kandungan kultural?

Demokrasi menjadi liar. Dan dia merasa rumah “nasionalisme” menjadi semakin sempit. Dia tak mau dipagari, dia mau tak dibatasi, karena dia berprinsip demokrasi adalah sebuah ajaran tentang kemanusiaan, yang tak bisa dikotak-kotakkan oleh hanya sebuah negara, sebuah wilayah, sebuah KTP ataupun ikatan kelahiran bangsa dan suku bangsa. Demokrasi tak merasa sebuah “nation” adalah rumah yang luas untuknya. Demokrasi ingin lebih dan demokrasi seharusnya lebih.

Maka, sebuah kamar yang ditempati oleh Amerika (dan kamar lain yang ditiduri Eropa), tak merasa nasionalisme adalah ideologi yang bisa membendung syahwat kemanusiaan mereka. Bingkai nasionalisme itu tak indah lagi. Eropa memulainya terlebih dahulu dengan menempati sebuah benua baru yang dijuluki dengan lidah celat Amerigo Vespucci; Amerika. Jadilah Amerika sebagai negara-negara koloni yang terbagi-bagi: ada dari Inggris, Belanda, Italia dan seterusnya.

Tapi sama seperti yang terjadi dengan nasionalisme itu sendiri, Amerika pun resah dengan “nation-nation” yang hinggap di kamarnya. Mereka lantas berkumpul dan berikrar: The United States of Amerika. Ya, Amerika adalah sebuah negara tempat berkumpulnya negara-negara (dan bangsa) di dunia ini.

* * *

Karena itu, di moncong senjata “the united states of America” itu, benua Asia, Afrika, Australia dan Eropa adalah juga “the united states of America”. Amerika dengan demokrasinya menginvasi Irak, Afghanistan, Somalia, Vietnam dan seterusnya, dan seterusnya. Amerika dengan duitnya menginvasi Indonesia, Kuwait, Arab Saudi, Singapura, Pakistan dan seterusnya-seterusnya. Amerika pun terus mencoba mencari cara menginvasi Iran, Korea Utara, Venezuela, Cuba dan Cina.

Presiden terbaru Amerika, Barrack Obama membungkus semua itu dengan retorika fasih nan membius:
“We are not black american, we are not white american, we are not african-american, we are not hispanic-american, we are not an asian-american….but we are the united states of american…”

Maka bulu roma seluruh bangsa Amerika dan penjuru dunia yang mendengarnya pun merinding. Rakyat Amerika terbius, menangis dan kata-kata “american dream, change we can”…dan seterusnya… mengalir di air mata mereka. “negara dan bangsa” sudah mati.

Dan Indonesia pun berzikir, memuja-muji Obama dan Amerika dari sebuah kamar di pojok belakang rumah “nasionalisme” sambil berdoa: “We are not Indonesian-American, but we are the united states of America … ”

10 thoughts on ““The United States of America”

  1. Amerika mau mencontoh Islam. Khan Islam mengajarkan Rahmatan Lil Alamin. Jadi Umat Islam harus bangkit hilangkan kotak-kotak dan firqah-firqah. Hilangkan istilah – istilah Islam jawa,Islam batak,Islam NU,Islam Muhammadiyah Islam Salafy,Islam Tabligh,Islam Indonesia,Islam Cina,Islam dll. Ya jadilah Islam Rahmatan Lil Alamin. Islam adalah saudara.Allah berfirman “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (QS: Al Hujurat : 10)”

    silaturahim= mahal + susah + …. + syaratnya bejibun …

    Like

  2. harusnya kita yang dicontoh amriki bukan sebaliknya….
    *heran, bangga banget yaks amak obama*

    amerika adalah bangsa yang suka belajar. Di antaranya, yang mereka pelajari dari Indonesia, bagaimana seharusnya memperlakukan orang kaya tapi bodohnya luar biasa. Kedua, bagaimana agar orang-orang miskin ini tetap merasa sebagai “orang kaya”. Obama adalah salah seorang yang pernah belajar di Indonesia.

    Like

  3. Ini menarik, nah mas Nirwan apakah Pluralisme itu juga baik diterapkan di Indonesia kita?

    Saya pribadi lebih nyaman dengan istilah Pluralitas bukan Pluralisme (apalagi dalam hal agama). Maaf jika ada yang memandang pendapat ini taklid, tertutup, atau “merasa benar sendiri”, maaf🙂

    Saya setuju istilah “berbaur tetapi tidak melebur”. Perbedaan itu adalah anugerah, untuk urusan dunia, saya pikir Pluralitas adalah suatu yang fitrah adanya dan harus saling bekerjasama.

    Namun saya masih bingung juga, apakah Pluralisme dan Pluralitas memang benar-benar berbeda. Mohon pencerahan🙂

    Syukron

    Situs JIL memuat kalimat menarik “Tuhan semua agama”. Yah, saya kira mesti hati-hati menganalisisnya. Tapi saya lebih percaya dengan kalimat ini: “Tuhan semua manusia (dan makhluk)”. Manusia makhluk sosiologis, sekaligus punya niatan untuk “menjadi Tuhan”. Saya kira itu bisa sedikit menjelaskan kalau manusia pun mampu untuk menyematkan sesuatu menjadi Tuhan. Anda bisa, mereka bisa, saya pun bisa. Masalahnya mau atau tidak, boleh atau tidak. Nah, dalam versi Islam, Tuhan sendiri yang mendeklarasikan namanya… kalau Anda Islam, syahadatkan sajalah itu. Kristen juga begitu, Hindu juga begitu…Masalahnya… orang Kristen kan sampai kapanpun tak akan mengakui Allah Ar Rahman sebagai tuhannya, agama lain juga begitu. Jadi, kalau Anda yang Islam terus memakai instrumen “pluralisme” untuk menyatukan semua pemeluk agama ini dalam sebuah kesatuan sehingga tak ada konflik dan seterusnya, yang Anda buat itu tak ada yang baru. Toh, kepling pun sudah melakukan itu, tak perlu Anda bersusah-susah mempelajari paham “pluralisme” … hehehehe… itu dulu ya mas pandu…

    Like

  4. masalahnya bukan bangga atau benci, kita jangan selalu menjadi orang yang apriori terhadap amerika ini seolah – olah amerika ini adalah satu bangsa yang sama sekali tidak boleh diconntoh karena bangsa tersebut isinya setan semua. saya fikir tidak begitu. Bangsa amerika adalah manusia yang penuh dengan kekurangan, akan tetapi di balik kekurangan – kekurangan yang ada kita musti jujur untuk mengaakui bahwa banyak hal – hal baik yang bisa kita contoh dari mereka, tentunya juga banyak hal – hal buruk yang jangan kita tiru.
    Yang bisa kita tiru dari bangsa amerika adalah semangat untuk melakukan yang terbaik, semangat untuk menerima kekalahan secara fair sebagaimana yang dicontohkan dengan sangat elegan oleh jhon mcain di dalam pidato kekalahannya ( tradisi menyampaikan pidato ini harus di tiru didalam pilkada maupun pilpress ), para politisi indonesia bisa mencontoh obama yang bisa menggalang dana sedemikian besar dari jutaan orang dikarenakan track recordnya selama ini yang bukan karbitan dan masih banyak lagi hal – hal baik yang bisa di tiru. Kita sebagai bangsa belum pernah menjadi belum pernah punya pengalaman menjadi bangsa sukses secara ekonomi dan kehidupan, jadi rajin rajinlah melihat ke sekitar kita, karena kita tidak punya hak sejarah untuk merasa diri paling benar…..

    garis besarnya saya setuju dengan Anda… tapi memang, sejarah selalu dituliskan oleh mereka yang merasa paling benar dan menjadi pemenang… Amerika dan Eropa adalah superman-nya di bidang itu.🙂

    Like

  5. “We are not Indonesian-American,but Indonesia-barkley University”, ha ha ha…

    bukan aku yg bilang ya… bang.. hahaha😛

    Like

  6. paling tidak ada harapan baru kpd obama.
    di banding bush…..???

    “Hope” yang dimaksudkan oleh Obama itu ditujukan untuk WNA: Warga Negara Amerika … bukan untuk WNI: Warga Negara Inlander😀 . Faktanya, beda Bush dan Obama toh hanya warna kulitnya saja.😀

    Like

  7. Ya, saya setuju. Tidak semua “Made in USA” itu buruk.

    Amerika Serikat sebagai sebuah pemerintahan (era Bush) saya mengecamnya.

    Namun kalau Amerika sebagai sebuah bangsa, rasanya benar ada poin positif yang bisa diambil, dan ada poin negatif yang tidak perlu kita tiru.

    Nah, yang jadi masalah pada bangsa Indonesia kita adalah senang meniru yang buruk2 atau mudharatnya daripada manfaatnya.

    Misalkan kita sangat bangga dengan gaya hidup Sekuler mereka tetapi kita tidak mau meniru sika disiplin dan sportivitas mereka. Wallahu alam…

    Like

  8. jelas bang nirwan…
    secara obama presiden amerika..so pst jd harapan penduduk amerika.
    kl WNI …ya berharap saja sama SBY….???

    Like

  9. Pluralisme agama saya tidak setuju
    Pluralitas agama saya setuju karena memang fitrahnya ada beda

    Pluralisme NO! Pluralitas YES!

    Like

  10. tobadreams.wordpress.com

    W A S P A D A !!!
    Naiknya permukaan air Danau Toba yang hingga menimbulkan banjir di pemukiman warga sekitar merupakan fenomena alam yang baru karena selama ini Danau Toba tidak pernah meluap apalagi sampai menimbulkan banjir.

    (Liputan 6 Malam SCTV, 02/12/2008 22:56)

    (sorry lae nirwan,walau tak pas topiknya terpaksa awak bikin komentar ini disini “United States of America”, habis awak udah cari2 judul tulisan tapi tak ada yang pas dengan komentar ini, ya udah awak pilih masukkan di United States of America biar pesannya mendunia he3x dan mudah-mudahan nanti lae nirwan menulis juga di blog ini tentang keserakahan para penguasa “memakan” habis hutan sekitar Danau Toba – danau kebanggaan orang batak yang bisa jadi tinggal kenangan bagi anak cucu kita kelak)

    WWW,
    HORAS Lae Nirwan !

    makasih bang infonya …😀 Dah lama gak ke sana memang … cuman sampe siantar ajah …

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s