Haji Tak Beres, Depag Tak Beres


Ibu saya geram betul saya melihat iklan haji yang dilansir Depag baru-baru ini di televisi. Sejumlah jamaah haji tampak sibuk meyakinkan jamaah haji yang kritis dan bertanya, “Mengapa ongkos naik haji terlalu mahal?”

Jamaah haji itu mendapat jawaban, kalau haji adalah ibadah, sementara mahalnya ongkos naik haji karena tiket pesawat yang juga naik. Dengan demikian, jamaah haji diyakinkan kalau perjuangan ibadah itu memang mahal, perlu mental kuat dan seterusnya. Ketika berpropaganda, logat jamaah haji disesuaikan dengan logat bahasa yang dipakai di beberapa suku bangsa.

Saya tak bisa membayangkan kekesalan ibu saya yang harus memerat keringat, banting tulang seumur hidupnya untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah ongkos naik haji. Dan ketika iklan Depag itu menggampangkan nilai puluhan juta, maka pantaslah ia geram. Seolah-olah duit puluhan juta itu tak ada harganya sama sekali.

Ongkos Naik Haji (ONH) Indonesia tahun 2008 ini sebesar US$ 3.387 plus biaya operasional dalam negeri Rp 501.000. Rinciannya, US$ 1.859 untuk penerbangan (54%) dan living cost US$ 1.528 (44,4%) . Bila dikurskan dengan nilai rupiah saat ini rata-rata Rp 12.000, maka ONH atau BPIH mencapai Rp 40.644.000 + Rp 501.000 = Rp 41.145.000. Gila gak? Rp 41 Juta!


Rata-rata ONH naik Rp 4,7 Juta dibanding tahun lalu, karena tahun 2007 lalu, ONH berkisar Rp 35 Juta. Bila dibandingkan dengan ONH pada 2004 lalu saja yang Rp 25 juta, maka sudah ada kenaikan Rp 15 Juta.

Saya menghitung-hitung, dengan kuota haji Indonesia yang rata-rata 210.000 jamaah, maka Departemen Agama kebanjiran duit sekitar Rp 8,4 Triliun.

Majalah TEMPO di tahun 1999, sudah menurunkan soal kejanggalan-kejanggalan dalam penyelenggaraan haji Indonesia. Klik di sini untuk melihatnya (kalau belum dihapus oleh yang punya situs). Namun dari tahun ke tahun, keluhan yang diterima jamaah haji terus saja bertambah dan baru-baru ini, kisah jamaah yang terlantar adalah sembulan kecil saja dari berjuta masalah haji yang ada.

Departemen Agama dan pemerintah RI seharusnya melihat penyelenggaran haji tidak sekedar rutinitas tahunan yang membawa untung besar bagi pemerintah. Saat ini, jamaah haji seperti dikuras duitnya dan diperas keringatnya demi ibadahnya. Dan pemerintah, sambil tersenyum simpul, mengatakan, “Namanya juga ibadah ya mesti berkorban, dong”.

Nenek saya mesti berjualan kue puluhan tahun supaya bisa naik haji. Ibu saya, hingga sekarang belum terkumpul juga duitnya untuk naik haji. Ibu saya bekerja di Departemen Agama sebagai salah seorang guru madrasah. Saya yakin, dari puluhan juta orang Indonesia, banyak yang bernasib sama seperti nenek dan ibu saya: banting tulang, kerja keras, peras keringat dan hasilnya, belum tentu bisa naik haji.

Bila dikatakan Departemen Agama sebagai salah satu institusi pemerintah yang terkorup maka dugaan itu seharusnya sudah menyadarkan orang-orang yang berada di Depag. Mereka harus sadar, memakan uang orang yang sedang beribadah jauh lebih pedih siksaannya dari sekedar “korupsi biasa”. Dengan biaya setinggi langit, jamaah Indonesia mendapatkan pelayanan kelas ekonomi atau mungkin kelas pelayanan di bawahnya. Nenek saya bercerita, kalau ia tidak mampu untuk buang air di pemondokan Indonesia karena kotornya yang luar biasa. Untunglah ada kemurahan hati dari jamaah haji Malaysia sehingga ia bisa buang air di pemondokan mereka.

Depag jelas-jelas sudah kapitalistis! Menumpuk uang dari jamaah haji Indonesia tanpa membagi-bagikannya untuk kepentingan umat Islam. Depag dan Garuda jelas mendapatkan untung dari penyelenggaraan haji. Katakanlah Depag menerima penghasilan Rp 5 Triliun saja, maka bila untungnya 10% saja, maka Depag sudah mengantongi Rp 500 miliar. Rata-ratakanlah jumlah itu setiap tahunnya dan bandingkan apa yang sudah diberikan Depag terhadap perkembangan dan nasib umat Islam di negara ini.

Tenderkan saja pelaksanaan haji itu, jangan lagi dikelola oleh pemerintahan yang korup!

14 thoughts on “Haji Tak Beres, Depag Tak Beres

  1. ibarat nonton festival seharusnya jemaah kita tuh dah kelas VIP kenyataan dapet kelas ekonomi, memang perlu direformasi semua instansi di Indonesia…

    Jadi inget obrolan semalam ma tetangga…inti dari korupsi adalah BELI MOBIL

    Inti korupsi: BELI SAHAM BAKRIE

    Like

  2. Haji itu menjadi sesuatu yang lain “di tangan orang-orang lain”. Mestinya haji itu adalah peristiwa penting yang include memuat konsolidasi umat Islam internasional. Bolehlah disebut haji itu sebagai kongres umat Islam internasional.

    Di Indonesia, di dalam kepikunan dan kejumudan faham Islam, maka haji, as you see, tak lain dari urusan embarkasi dan debarkasi. Di sela-selanya terdapat ONH dengan segenap tipu daya dan komersialisasinya, rombongan supporter yang mbludak, ritual yang melenceng seperti azan saat akan pergi dari rumah menuju karantina, makan-makan sebelumnya, dan juga setelah pulang, air zam-zam, dan akhirnya bawa oleh-oleh meskipun semua oleh-oleh itu diimpor ke Timur Tengah (termasuk hasil industri dari Sukaramai, Medan).

    Itulah haji. Bagi pemerintah ya uang masuk.

    bagi pemerintah ya uang masuk.

    Like

  3. yeah.. kesasar kesini deh gw. puluhan taon dibahas kagak ngepek, tp kalo gak ikut ngomen rasanya terseret dosa jugak.

    ya.. begitulah yg kelas ekonomi (yg terpaksa berlamaan, ga cuman wajib semingguan), padahal nie ga perlu dibahas setiap umat tau so pasti income terbesar haji dr RI tapi pemondokannya paling jauh dibandingkan negara2 gurem (muslimnya) sekalipun. Tragisnya, dg sumbangan terbesar income terbesar gitu, mereka tiap tahun selalu bilang: alhamdulilah, lebih baek dr dulu2. Hah, lebih??😕 Ini soal income TERbesar pak, bukan “lebih” (besar) dr negara2 laen.
    Namun kok yg jamaah (standard) dapatkan malah yaoloh….. subhanalooooh……mereka ini khan sodara2 kite jugak bang!

    kl kesasarnya gara-gara mbah google, ya maklumin saja, saya udah kongkalikong sm mbah google…😛

    Like

  4. Hamzah Fanshuri seorang penyair sufi mengatakan : “Pergi ke Mekkah mencari Allah pulang ke rumah bertemu Dia”

    Kalau di rumah kita tidak pernah berjumpa dengan Allah maka berulang kali pergi ke Mekkah pun sudah pasti tidak akan jumpa dan akhirnya haji tidak lebih sekedar wisata spiritual saja…

    Diriwayatkan, seorang tukang sandal gagal berhaji karena kedatangan fakir miskin. Ia memberikan seluruh bekal hajinya dan berniat berhaji kembali setelah bekalnya terkumpul. Malaikat berkumpul …

    “Siapakah yang diterima hajinya tahun ini?”
    “Tak satupun. Tapi karena hajinya seorang tukang sandal, Allah menerima seluruh haji tahun ini.”

    Riyawat yang belum tentu benar, tapi memanglah kasih sayangnya lebih luas dari kemarahannya.

    Like

  5. di lingkungan saya…
    haji di anggap “pengatrol” status sosial….
    mereka2 yg sudah haji…di anggap orang kaya & wajib di hormati…
    bahkan…ada seorang germo yg tahun ini mau brgkat haji…….
    (subhannallah…….)

    Like

  6. Saatnya Menswastakan Pelayanan Haji. Negara tidak sepatutnya mengurusi haji yang nota bene mengintervensi urusan ibadah warganya. Apalagi birokrasi pemerintah masih bermental KKN. Maka intervensi itu tidak jauh dari nuansa KKN.

    Organisasi besar NU, Muhammadiyah, Persis, Al Wasliyah, NW harus menjadi stake holder dan pemegang saham pada perusahaan yang itunjuk sebagai pelaksana, depag sebagai regulator dan pemerintah bisa punya saham di situ. Bank-bank penyalur ONH juga bisa punya saham.

    Kalau sudah diprivatisasi, menajemen harus berpacu dengan profesionalisme agar image dan pelayanan perusahaan bisa terjaga. Kalau sekarang ini PNS yang ditunjuk sebagai pembimbing haji, masih bermental “real saudi” jadinya amburadul, apatah lagi rupiah jatuh… maka mendulang dollar dan real saat haji jadi incaran para penghisap darah jemaah haji

    Like

  7. @dita

    wah..kl di privatisasi….
    bukannya ntr malah malah makin mahal bu…??
    yg gue tahu…swasta malah lebih gede ngambil untungnya…. y nggak ??
    lbh baek…KPK saja…suruh selidiki DEPAG……! (biar di depak) hhehe..

    piss…………

    KPK seharusnya sejak awal sudah masuk ke Depag. Tender bisa jadi salah satu solusi dari mahalnya biaya haji ke depan. Mekanisme saat ini adalah “monopoli” pemerintah. Saya kira, masing-masing kita sudah tahu bagaimana konsekuensi negatif dari sistem monopoli ini.🙂

    Like

  8. haji….haji…?
    kapan gua naik haji..?

    gak komen ..ah..! bacanya aja dah bikin pusing tujuh keliling
    …wadaaooouh…!

    Like

  9. emmh…tender…???
    boleh jg tuch….
    yg jd pertanyaan…apa nggak naik lg biaya berangkat haji..??

    Tender berintikan sistem penawaran terendah. Sistem yang dipakai selama ini oleh Depag, tidak mengarah ke arah sana sehingga setiap umat Muslim hanya bisa “berharap dan berdoa” semoga biaya haji turun. Dengan sistem yang ada selama ini, hanya DPR yang bisa mengawasi. Tapi kalau dengan sistem tender, maka bila ada kesalahan dalam penawaran, masyarakat luas bisa mengajukan tuntutan, secara luas tidak hanya DPR yang bisa mengawasi, melainkan juga KPPU, KPK, BPK, lembaga-lembaga masyarakat dst … termasuk juga orang Islam yang naik haji bisa mempergunakan di antaranya UU Perlindungan Konsumen, UU Monopoli dst untuk menuntut hak-haknya. cemana…cocok awak rasa?😀

    Like

  10. SETUJU BANG…..!!
    tp sudah ada rencana ke situ…..??
    yg jelas DEPAG akan mati2an..menggagalkan rencana ini…..

    Sudah dimulai. Kita lihat nanti kelanjutan dari hak angket DPR soal haji itu.🙂

    Like

  11. ENAK AJA SAMPEAN NGOMONG.
    COBA PIKIR, GAMPANG APA? NGANGKUT, 210.000 ORANG, DARI KAMPUNG, KENEGERI ORANG, DALAM WAKTU 38 HARI PP, BISA KEMBALI, TIDAK SESAT, SELAMAT,
    BIAYA MAHALATRENA PESAWAT CARTERAN, KALO MAU REGULER, HARUS LAMA NUNGGU PESAWAT DI SAUDI, MAHAL JUGA BIAYANYA, SWASTA MANA YANG MAMPU LEBIH BAIK DARI DEPAG? NGURUS ONH PLUS 15.000. SUDAH BANYAK YANG SENGSARA.
    JANGAN ASAL NGOMONG, YANG SUDAH HAJI MARAH MARAH, TANDANTA TIDAK MABRUR. BANYAK NGOMONG, BELUM TENTU BUSA LEBIH BAIK. SAYA SUDAH LIHAT MAKKAH MAS.

    Ya udah, diganti aja orang Depag seluruhnya. itu kalau Depag mau bukti ya.😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s