Jumud di Muhammadiyah (Sumut)


Tulisan ini saya kira berkategori “seharusnya”. Saya sendiri berusaha menghindarinya, namun tak bisa-bisa. Mungkin saya harus bersemedi dulu di salah satu gua yang ada di Sumut, supaya bisa membuang kata “seharusnya” itu derasnya Sungai Asahan. Di sisi lain, ini tulisan induktif. Jadi soal generalisasi, bisalah saya tahan-tahan dulu.

Risau saya melihat Muhammadiyah Sumatera Utara ini. Risaunya soal pemikiran dan gerakan yang semakin lama semakin membatu alias jumud. Padahal, dalam Muhammadiyah, jumud ini barang haram, sesuatu yang sejak dicetuskan oleh KH Ahmad Dahlan sudah diletakkan di laci sejarah: hanya boleh dipajang dan dilihat-lihat sebagai bahan pembelajaran.

Tak ada pemikiran bernas soal Sumatera Utara ini yang lahir dari rahimnya Muhammadiyah. Dengan kondisi carut-marut di Sumatera Utara, seharusnya (nah, kan!), Muhammadiyah sepatutnya sudah memprediksikannya sejak awal dan kemudian mencegahnya. Satu contoh kecil saja, kemiskinan sudah begitu tingginya (data BPS menyebut lebih dari 1,6 juta jiwa per Maret 2008. Di bidang politik, hampir 40% pemilih sudah menjadi Golput. Itu kasus terakhir sewaktu Pilgubsu 2008. Dan seterusnya, dan seterusnya. Karena kondisinya sudah lacur, apa boleh buat, asumsinya adalah Muhammadiyah Sumut sedang jumud.

Saya mengira, letak permasalahannya adalah dinamika pemikiran yang seharusnya ada di perguruan tinggi Muhammadiyah sudah berada di tingkat nadir. Padahal, pendirian amal usaha di bidang pendidikan, inti tujuannya sebenarnya tak banyak-banyak amat. Pertama, melahirkan pemikiran-pemikiran baru dan kedua, melindungi kaum musthada’afin (dari seluruh golongan dan agama) untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Dua persoalan ini menjadi masalah yang sangat nyata terjadi di tubuh Muhammadiyah. Apalagi, kepengurusan di tubuh Muhammadiyah pun sangat minim yang benar-benar concern di bidang pemikiran dan perlindungan kaum mustadha’afin. Ada dua kasus yang dialami para profesor, doktor dan master yang ada di Muhammadiyah. Pertama, habibat dan budaya untuk menelurkan pemikiran belum ada. Yang kedua, tersingkir dari proses politik yang terjadi di tubuh Muhammadiyah maupun amal usaha pendidikan. Tersingkir ini pun sebenarnya karena kasus yang pertama, tidak ada budaya intelektual itu. Dan seterusnya bermetamorfosa menjadi saling terkait dan lingkaran setan.

Indikatornya kasat mata. Dari segi kuantitas -mari hitung yang gampang-gampang dan bisa dicerna kebanyakan orang- berapa banyak tulisan dari kader Muhammadiyah yang hadir ke tengah-tengah masyarakat? Berapa banyak buku-buku, karya-karya ilmiah yang dihasilkan? Berapa banyak pertemuan-pertemuan ilmiah dilakukan? Jangan pula ditanya berapa banyak penelitian yang sudah dilakukan. Dan seterusnya-seterusnya. Kalau indikator itu tak terjawab, maka indikator kedua, yaitu soal kualitas dari pemikiran itu, sudah pasti tak layak dipertanyakan lagi.

Soal perlindugan musthada’afin itu jauh lebih parah. Lihatlah Universitas Muhammadiyah Sumut (UMSU) yang uang kuliahnya gila-gilaan. Belum lagi paket kutipan kepada mahasiswa. Tak heranlah bila pembangunan gedung-gedung di UMSU terus berlanjut. Sakingkan megahnya, kaum dhuafa yang ingin kuliah pun langsung keder, ketakutan. Dan ketakutan itu ada benarnya. Tak cuma perguruan tinggi, di tingkat sekolah menengah hingga taman kanak-kanak, pendidikan di Muhammadiyah mulai dirasakan sudah tak terjangkau lagi. Namun, kalau bicara soal pemikiran, ‘kan letaknya memang di perguruan tinggi, walau habitat untuk itu memang wajib disemai di level sebelumnya.

Jadi, secara sederhana, untuk waktu yang sederhana ini, saya menawarkan dua indikator ini untuk melihat Muhammadiyah Sumatera Utara: pemikiran dan perlindungan mustadha’fin.

4 thoughts on “Jumud di Muhammadiyah (Sumut)

  1. heran saya jadi lebih lebih…..
    kenapa PD Muhammadiyah SUMUT tak merekrut dikau lae…
    pemikiran dan keresahanmu selama ini melihat carut marut gerakan Muhammadiyah di SUMUT itu…sepantasnya sangat berharga disharing di tataran PP Muhammadiyah….untuk mendorong kegairahan melayani umat di sana….
    (tapi kayaknya gak mungkin ya..he..he..he..abis ketua umumnya Dien Syamsuddin ..he.he..he..yang Orang Golkar (baca ORBA) banget..so malaslah diskusi ama dia kan..he..he..he…dasar anti ORBA)

    tapi begini lae….
    apa gak ada alumni UMSU yang seide dengan dikau ..mempunyai sarana untuk mengkritisi kondisi penuh kejumudan itu….pertimbangkanlah bergabung sama mereka lah lae…melakukan perubahan dari dalam….
    (tapi biasanya orang-orang tua di persyarikatan itu agak alergi kalok ketemu orang lurus-lurus dan kritis macam dikau….hua..ha..ha..ha…bisa merusak Comfort Zone yang sudah mereka nikmati turun menurun kan?…)

    terus mesti dari mana mengurainya lae?…
    tetep berjuang….Hasta La victoria Siempre !!!!!!

    Bang ekoz yang baik, jumudisasi Muhammadiyah memang berlaku sejak era Dien Syamsudin. Di Sumut, apalagi. Imbasnya, kritisasi internal Muhammadiyah memang harus dimarginalisasi, termasuklah banyak kader tulen Muhammadiyah yang sangat saya hormati kredibilitasnya. Pengurus di segala tingkatan, mulai dari PP, PW, PD…memang mesti direformir, dibai’at ulang, digetok kepalanya, ditampar pipinya, abis itu disuruh mandi. Di tingkat ranting, kemuhammadiyahan itu masih bersifat tradisional dan konvensional, jadi tergantung bagaimana hasil reformasi di tingkat daerah ke atas. Mereka-mereka di tingkat ranting ini dalam doanya terus-menerus menyambilkan KH Ahmad Dahlan. Ahmad Dahlan masih hidup dan berdegup. Sedih saya melihat pengurus, kader, simpatisan dan keluarga-keluarga besar Muhammadiyah di tingkat ranting ini, yang masih harus menunjukkan kartu tanda anggota Muhammadiyahnya ketika hendak mengkuliahkan atau menyekolahkan anaknya di sekolah dan perguruan tinggi muhammadiyah, ataupun ketika berobat ke PKU Muhammadiyah. Luar biasa betul pengrusakan Muhammadiyah ini. Kita lihatlah bagaimana jadinya nanti.

    Like

  2. Seorang perantau yang lama di Amerika pada akhir tahun 2000 pulang ke Indonesia. Kampungnya di Sumpur Kudus, Sumatera Barat. Setiap pagi, sore dan malam, saat ia nimbrung pada kumpulan orang-orang di warung, dibalai desa, di surau dan dimana-mana, orang selalu menyebut-nyebut Orde Baru dengan nada kutukan keras. Dia tanyalah Orde Baru itu barang apa. Tak ada yang memberi penjelasan yang membuat dia faham dan puas.

    Untuk kesekian kalinya dengan kegagalan, seorang mahasiswa UMSU memberinya sesuatu jawaban yang menurut ya pas untuk telaahan lanjut. Kata mahasiswa itu ” Iyo bana angku hendak tahu apo itu Orde Baru nan kami (mahasiswa) kutuk juo? Angku, lanjut mahasiswa itu, kiniko ambo ndak ado waktu. Tapi kok iyo bana ingin tahu apo itu Orde Baru, pailah ka Muhammadiyah. Angku ka manemukan salengkap-lengkapnya Orde Baru di sinan. Wassalam, angku, kata mahasiswa itu sambil berlalu.

    selengkap-lengkapnya … seterang-terangnya … berlomba-lomba menuju orde baru …

    Like

  3. Tahun lalu saya berjumpa dengan seorang kader Muhammadiyah. Tiba-tiba dia betanya, “Mana yang paling banyak NU atau Muhammadiyah di Sumut?”. Pertengkaranpun terjadi karena menurutnya yang paling banyak itu adalah Muhammadiyah.

    Teman yang lain menimpali bahwa NU lah paling banyak. Alasannya adalah karena yang selain Muhammadiyah sudah pasti NU.

    Saya pernah berpikir apakah seseram itu SUMUT, di mana NU dan Muhammadiyah tidak punya data statistik mengenai simpatisannya??? Apakah mereka elit ormas sudah sangat sibuk sehingga tidak ada lagi yang peduli dengan pelayanan ummat, mengurus mereka yang termarginal???

    Tapi walau begitu, mengingatkan mereka selalu, adalah jalan keluar, tanpa pelu caci maki..(heheheh). Bagus nih artikel, semoga bisa mengingatkan elit muhammadiyah..

    Like

  4. Umat Islam harus bersatu, idealnya seperti itu. Adapun perbedaan yang ada adalah fitrah adanya, selama tidak menyimpang dari keTauhidan kepada Allah, saya pikir perbedaan itu justru jadi sinergi untuk kemajuan dan kemaslahatn umat sehingga menampilkan wajah Islam yang rahmatan lil alamain.

    Umat Islam bersatulah. Wallahu alam.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s