Cerita Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (Kata Pengantar)


Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara disingkat orang menjadi UMSU. Saya masuk ke sana di zaman Orde Baru, tahun 1996. Jadi wajar saja kalau orang-orang yang ada di sana itu mayoritas adalah orangnya Orde Baru. Dulu, rektornya –konon- adalah demonstran tahun 1966. Namanya dr H Dalmy Iskandar. Khas demonstran, dia ini kalau ngomong dikenal keras. Layaknya penguasa di zaman Orde Baru, beliau ini pun lama juga menjabat sebagai rektor. Dia kemudian dijatuhkan oleh “kerabat”nya sendiri, Drs H Chairuman Pasaribu.

Jatuhnya Dalmy Iskandar, menurut analisis internal Muhammadiyah, adalah karena intrik yang terjadi di Muhammadiyah Sumut dan UMSU sendiri. Dalmy dinilai ingin berkuasa kembali setelah periode jabatannya yang kedua. Tapi itu tak disetujui. Gampang saja alasannya, UMSU waktu itu sudah sangat besar tidak lagi melarat. Jadi wajar saja kalau banyak orang yang mau menjadi orang nomor satu di sana. UMSU memang merupakan kekuatan tersendiri di tubuh Muhammadiyah Sumatera Utara, terutama karena universitas inilah sebagai penyandang dana terbesar dari kegiatan Muhammadiyah. Selain itu, banyak juga kader Muhammadiyah maupun –ini bukan istilah saya- “kader jadi-jadian” yang mencari makan di sana.

Dan Dalmy pun, sebagai orang yang paling tangguh untuk membesarkan UMSU secara fisik (ingat secara fisik), pun tak tinggal diam. Mahasiswa? Waktu itu mereka, konon, sedang garang-garangnya, tapi lucunya tak berdaya melawan sang rektor. Geli saya, ketika suatu saat, sang rektor turun dari kantornya dan menuju pendopo –tempat digelarnya aksi- dan langsung menuding kepada para demonstrasi.

“Kau! Kau! Sudah bayar uang kuliah belom?!” tudingnya. Yang kena tunjuk, yang beringas ketika orasi, langsung terdiam. “Belum, Pak,” katanya pula. Saya langsung tertawa dari kejauhan.

“Kalau belum bayar uang kuliah, jangan banyak cakap kalian di sini. Bubar!!!”

Aksi pun bubar.

Waktu terus berjalan, kasus demi kasus di UMSU terbuka lebar. Salah satu di antaranya adalah ujian dimajukan beberapa bulan karena itu uang kuliah harus dibayar lebih cepat. Mahasiswa sospol langsung meradang. “Ini sudah tak betul lagi. Bila ujian dipercepat maka dosen-dosen tidak akan mengajar lagi. Dan untuk itu semua, untuk ilmu yang tidak penuh diberikan kepada kita, kita diharuskan membayar. Ini keterlaluan!” kata seorang teman.

Akhirnya teman-teman di fakultas menyusun tuntutan. Salah seorang mahasiswa mengusulkan, satu tuntutannya adalah rektor mesti turun. “Ini semua ulah dia dan berpangkal dari dia. Dialah yang menjadi masalah,” tegasnya. Semua terdiam karena serangkaian aksi menurunkan rektor sudah terlanjur tidak jelas juntrungannya. Bahkan, disebutkan rektor sudah mengantungi beberapa nama aktivis yang akan di-DO. Diskusi kemudian berlanjut dengan menganalisa mengapa rektor sulit dijatuhkan.

Akhirnya semua menyadari, selama ini aksi mahasiswa terlalu lemah, baik substansi maupun aksi. Diskusi makin larut dan strategi pun dimatangkan. Kesimpulan pertama, sebagai mahasiswa Muhammadiyah maka politik di tingkat wilayah Muhammadiyah maupun ortom-ortomnya harus dimasukkan sebagai pertimbangan gerakan mahasiswa. Elemen non Muhammadiyah yang ada di kampus pun mesti mengerti soal kemuhammadiyahan. Kedua, rektor mesti turun. Ketiga, soal siapa menghubungi siapa, tidak ada yang boleh tahu selain orang-orang yang ada di kantor mahasiswa sospol itu. Soal dana? Tak ada satupun diskusi yang menyinggung soal itu.

Esoknya, gerombolan teman-teman mahasiswa mendatangi senat universitas. Mereka mulanya sinis, karena biasanya mahasiswa sospol tak ingin bergabung dengan mereka. Seorang teman langsung menyanggah. “Kami tahu gerakan kalian sangat lemah. Kami juga sangat paham kepentingan kalian apa. Dari dulu, kami sudah menawarkan, turunkan rektor, tapi kalian ‘kan tidak pernah mau. Karena kami tahu, rektor adalah sumber masalahnya. Sekarang kami tawarkan lagi. Kalian ikut atau tidak?” kata teman itu.

Dan betul, tawaran itu ditolak, namun pemikiran percepatan ujian hanya untuk mengkadal-kadali mahasiswa, akhirnya diterima mereka. Aksi berjalan keesokan harinya. Mulanya berjalan seperti aksi-aksi biasa, namun lepas tengah hari, mulai panas ketika salah seorang teman yang berorasi tiba-tiba berujar, “Masalah ini berpangkal dari rektor. Jadi jawabannya, rektor mesti turun. Pak Rektor yang ada di kantor, turun sekarang juga ke tengah-tengah mahasiswa ini. Jawab tuntutan kami!”

Mahasiswa tersentak, karena usulan itu ditolak di rapat sebelumnya. Tapi semua sudah terjadi, aksi makin marak, makin besar tapi sang rektor tak juga keluar dari sarangnya. Beberapa hari kemudian, mahasiswa mendapat kabar, Dalmy Iskandar “rela” tak mengajukan diri kembali sebagai rektor UMSU. Chairuman Pasaribu, pun masuk menjadi rektor UMSU yang baru.

Mahasiswa Sospol berdiskusi. Kesimpulannya tak terlalu sulit. Aksi mahasiswa yang kemarin menjadi bumper dan dijadikan fakta riil kalau sang rektor tak lagi mendapat dukungan. Soal proses politik di tingkah pengurus wilayah Muhammadiyah, internal UMSU hingga DPP Muhammadiyah, bukan urusan yang harus dibicarakan.

Kini, Dalmi Iskandar terbaring lemah di kediamannya. Dia terkena stroke. Ada yang bilang, Dalmy terkena dampak post power syndrom. Namun, demi rasa kemanusiaan, selayaknyalah Dalmy mendapat perhatian berlebih dari UMSU dan Muhammadiyah. Namun, perhatian itu agaknya tak didapatkan oleh Dalmy, melainkan sekedar untaian sejarah saja.

Perebutan Kekuasaan: Paman dan Ponakan
Sang Rektor baru merapatkan barisan. UMSU yang sebelumnya berbau “urang awak”, sontak berubah menjadi berbau “ikan asin dari Sibolga”. Dekan Fakultas Ekonomi dan Pembantu Rektor I dijabat rangkap oleh keponakannya, Bahdin Nur Tanjung. Fakultas-fakultas lain pun harus menurut kalau tidak mau digusur. Demikian juga jabatan-jabatan di biro rektorat seperti Kabiro Keuangan, Kabiro Umum dan seterusnya. Intinya, barisan ini mesti loyal kepada rektor baru. Sospol? Almarhum Drs Chairil Anwar dipertahankan dan Sospol diberi semacam “otonomi tersendiri”. Dugaannya, mulanya Chairil diplot menjadi PR I namun kemudian tak jadi karena Bahdin yang keponakannya pun meminta hal yang sama. Tapi itu dugaan.

Apa dikata, “kabinet” yang disusun Chairuman Pasaribu ternyata tak berhasil. Sang ponakan lebih lihai bermain politik. Komunitas Bahdin di KNPI dan Golkar ternyata mengajarkan banyak hal kepada sang ponakan bagaimana untuk merebut kekuasaan.

Benarlah, empat tahun kemudian, Chairuman yang berniat maju kembali tak mendapat dukungan dari kabinetnya sendiri. Senat memutuskan, Bahdin menjadi Rektor UMSU. Sang ponakan sukses melengserkan pamannya sendiri. Dia tersenyum. Rangkaian langkah politiknya semakin ringan ke depan. Dia tak perlu harus menjadi seorang doktor, seorang profesor, atau berpening ria dalam sebuah penelitian. Dia juga tak perlu khawatir kalau ijazah magister manajemennya digarukan orang keasliannya. Dia pun tak perlu harus menjadi khatib Jum’at setiap minggunya. Dia pun tak perlu susah-susah mengeluarkan ijtihad pemikiran baru soal Islam seperti yang diinginkan Muhammadiyah dan KH Ahmad Dahlan dari pendirian amal usaha lembaga pendidikan Muhammadiyah.

Tak seperti pamannya, rektor baru ini jauh lebih lihai berpolitik. Dia menyusun kabinetnya atas dasar “kaum muda”. Yang selama ini merasa tak akan pernah mendapat tempat di pemerintahan Dalmy dan Chairuman, tiba-tiba mendapat durian runtuh. Tersebutlah nama Drs Agussani sebagai PR III, Drs Armansyah sebagai PR I dan Sukrawardi K Lubis, sebagai PR II. Tak ketinggalan, Bahdin pun merekrut pengawal-pengawal pribadi. Mereka-mereka ini kemudian menyebarluaskan sebuah rezim pemerintahan baru UMSU, dalam foto-foto, kalender maupun membayar billboard iklan. Namun semuanya itu tak boleh lebih besar dari sang rektor sendiri, Bahdin Nur Tanjung.

Di tubuh Muhammadiyah Wilayah, sebagai pemilik formal dari UMSU, Bahdin menancapkan kuku-kukunya. Kata orang, dia telah memplot Dalail Ahmad sebagai Ketua PW Muhammadiyah dan kemudian meletakkan PR II bidang keuangannya sebagai Bendahara PWM. Warga Muhammadiyah pun gerah. Bagaimana mungkin PW Muhammadiyah akan objektif menilai keuangan UMSU, bila bendarahanya adalah orang paling dalam dari UMSU? Tak cuma bendahara, para pembantu-pembantunya pun dipasang sebagai pengurus wilayah.

Namun, Bahdin ini, konon, merasa “sempit” dengan kemeja Muhammadiyah. Dia maju sebagai Walikota Sibolga. Namun gagal. Beberapa saat kemudian, dia maju lagi sebagai calon Bupati Tapanuli Tengah. Lagi-lagi gagal. Tapi, tak ada kata menyerah dalam kamus politik. Bahdin maju lagi. Kini dia lebih “tahu diri”. Tak lagi maju sebagai orang nomor satu, Bahdin maju sebagai bakal calon Wakil Walikota Medan. Eh, tetap gagal juga.

Tapi dia tak patah arang. Dalam pilgubsu 2008, dia maju. Kembali “tahu diri”, dia pasang badan ke kubu Syamsul Arifin. Dia hendak menjadi bakal calon wakil Gubsu. Eh, Syamsul tak mau. Akhirnya, untuk keempat kalinya dalam sejarah hidupnya, Bahdin mesti mengubur hidup-hidup niatnya untuk menjadi penguasa. Tapi dasar politikus, ia terus bermain di arena penuh lumpur itu. Kini, ia menurunkan “level” niat politiknya. Agaknya, Bahdin tak lagi hendak menjadi komandan, cukuplah sebagai “anggota” saja. Bahdin kemudian tercatat sebagai salah seorang calon anggota DPD Sumut.

Banyak yang bilang, itu karena karir politiknya tak mendapat kemajuan berarti. “Bahdin sudah tamat,” demikian bisik-bisik di kalangan internal kampus UMSU. Bahdin memang sedang menjalani periode rektornya yang habis tahun 2012. Dalam politik, itu tak sebentar. Apalagi, jabatan-jabatan politik seperti menutup pintu kepadanya. Dia tak akan maju sebagai Ketua Partai Matahari Bangsa (PMB), karena dia merasa baju PMB terlalu kecil untuknya yang mantan pengurus Partai Golkar tingkat propinsi itu. Dia pun tak mungkin merapat ke Partai Amanat Nasional, karena beberapa kali ia membuat manuver politik yang membuatnya tak sepenuhnya diterima oleh PAN Sumut. Bahdin tak juga mungkin berbaju PPP dan PKS. Wakil-wakilnya di partai-partai itu, bukanlah orang yang penting-penting amat di tingkat partai. Hanura, Gerindra? Bukan tak mungkin ia menyeberang ke partai-partai ini. Toh dalam politik, loncat sana loncat sini itu biasa-biasa saja. Tapi kedua partai belakangan ini belum jelas lagi suaranya di Sumut. Alhasil, dia sangat-sangat berharap bisa terpilih sebagai salah seorang anggota DPD. Segala cara pun dimainkan. Toh politik tak melarang itu.

Namun, kampus UMSU diam-diam bergejolak. “Bila orang seperti Bahdin saja sedang gamang menentukan masa depannya, bagaimana nasib kita?” kata-kata orang di UMSU. Urusan karir pribadi memang bukan lagi urusan Bahdin. Tak mungkin lagi Bahdin menyusui semua orang-orang itu. Para hulubalang semakin bingung. Alhasil, semua punggawa pun sikut-sikutan, kasar maupun halus. Pertanyaan terbesarnya, “Siapa setelah Bahdin?”

Pertanyaan itu mengemuka di setiap sudut-sudut UMSU. “Bila UMSU dipimpin oleh orang negara hukum, apa mau orang dari kubu Sospol menerima?” kata kubu Sospol. Demikian juga daerah-daerah ekonomi, FKIP, teknik, pertanian, agama dan seterusnya. Kebingungan itu semakin merambat. Itu karena kabinet Bahdin tak punya figur yang dominan. Para pembantu rektor, dekan dan lain-lain itu, sama levelnya di mata Bahdin, sama level politiknya, sama level jaringannya. Agussani tak lebih jago dari Armansyah, sementara Sukhrawardi tak lebih baik dari Agussani. Armansyah, bagi kedua orang itu, tentulah levelnya tak lebih tinggi dari mereka. Satu dengan yang lain tak akan ada yang mau tunduk pada yang lain. Karena itu, berhamburanlah ke angkasa UMSU, kalau semua orang yang ada di UMSU, “pantas” jadi rektor.

Orang-orang di biro rektorat dan fakultas pun bakal berkelahi. “Kemana saya akan merapat?” mungkin begitulah di benak mereka. Karena semuanya merasa pantas, maka segala cara dimainkan agar si calon dari kubu yang satu punya kasus yang bisa menutup kemungkinan untuk menjadi calon rektor. Maka, tunggulah beberapa saat lagi, kasus-kasus UMSU yang masih tenggelam lagi di tanah-tanah UMSU, bakal menjadi pembicaraan publik, tak hanya di internal Muhammadiyah Sumut, tapi juga di pusat dan di dataran masyarakat.

Karena perpecahan itu begitu luasnya, Bahdin yang semula cuek soal itu, akhirnya berimbas juga. Dia yang mengandalkan UMSU dalam pencalonannya sebagai DPD ini, pun terancam. Bila pemilihnya saja berkelahi, suara mana yang akan bisa diraupnya? Kegagalan-kegagalan dalam pilkada-pilkada yang diikutinya pun membayang keras di benaknya. Ia akan dicap sebagai “orang yang gagal” seumur hidupnya, bila tidak jadi duduk di bangku DPD.

Setakat ini, itu dulu, lamunan saya soal kampus saya itu. Lain waktu akan saya sambung. Untunglah ijazah sarjana Sosial politik saya tak ditandatangani oleh seorang rektor yang dikenal masyarakat luas sebagai orang yang gagal berpolitik. (*)

19 thoughts on “Cerita Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (Kata Pengantar)

  1. Cerita menarik lae…..
    ditempat kampungku di Jember sana….intrik di UNMUH (gitu kami menyebutnya) juga pernah terjadi pada tahun 1988-1990an..itu kasus rame banget,….bayangkan orang Muhammadiyah yang selama ini mengklaim sebagai kaum yang intelek…berebut fulus dan jabatan secara telanjang di daerah mayoritas Nahdliyin …..ckk..ckkk…ckkk….itu kawan-kawan di IPM …abis dibulan-bulani ama kawan-kawan IPNU dkk..he..he..he…

    Sampai saat ini sepertinya intrik di UNMUH gak juga reda itu…masih jadi bahaya laten….padahal UNMUH ini maju luarbiasa di kota awak itu…sayang sekali…

    walau aku dari keluarga Nahdliyin…namun aku sangat bersimpati dengan cara berorganisasi kaum Muhammadiyah ini….dunia pendidikan dan kesehatan yang mereka kembangkan banyak menolong umat islam dan umat lain di daerahku itu …cara kerja yang profesional dan modern tentu sangat sayang kalok tercemar oleh percekcokan dan keributan dalam institusi hanya karena pengurus UNMUH maupun Pengurus Daerah Muhammadiyah .tak mampu lagi mengendalikan syahwat kekuasaan dan kebendaan ……

    by the way….
    semoga intrik dan kisruh di perguruan tinggi muslim di Indonesia ini cepat reda…..
    harusnya ingat apa wasiat Kyai Haji Achmad Dachlan ….
    “hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah..”..kurang lebih begitu kan….

    ato belajarlah pada militansi Pak Harfan dan Bu Muslimah dalam kisah nyata Laskar Pelangi di Belitong sana…..

    belum usai ribut-ribut sporadis di daerah….
    ada kemungkinan “cek cok” dan “saling klaim” akan melebar ke ranah politik antara sesama aktivis Pergerakan Muhammadiyah …ya itu tadi….antara PAN dan Partai Matahari Bangsa…..capek deh….

    Jalan pikiran induktif saya kira bisa menjelaskan berbahayanya kondisi Muhammadiyah saat ini, seperti juga yang sudah abang tuliskan di situ. Soal PAN dan PMB, nantilah kita bahas soal itu ya …🙂

    Like

  2. tulisan cerdas dari seseorang yg memang cerdas
    semoga saja tidak ada ‘man behind the gun’
    di dalam tulisan ini….hehehehe😀

    dicari! man behind the gun…😀

    Like

  3. Abang-abang semua diatas,
    @Ekoz_guevara
    PAN dan PMB emang kira-kira bedanya dimana?
    Boleh dijelaskan singkat saja? Makasih ya🙂
    Atau bang Nirwan mau tulis kolom khusus?

    Note: Tulisan2nya saya suka lho🙂

    ada rencana, tapi keknya bukan sekarang…🙂 komentarnya saya suka lho, hehehehe

    Like

  4. setahu saya Bung Bahdin Nur Tanjung itu
    cukup sukses sebagai politisi
    terbukti dari awalnya cuma aktivis & politisi muda,
    dia bisa menjabat Rektor UMSU dua periode
    soal kegagalannya dlm Pilkada
    mungkin itu cuma kesuksesan tertunda
    by the way, ijtihad politiknya maju sebagai calon anggota DPD
    memang bisa disebut sebagai langkah penuh resiko
    jika dia mengalami kegagalan,
    so pasti akan berdampak pada citra UMSU sebagai
    institusi pendidikan tinggi lumayan ngetop
    di Sumut serta posisinya sebagai figur yang
    dianggap sebagai representasi Muhammadiyah
    dalam memperebutkan kursi DPD,
    yang tak terlalu prestisius itu….hmmm😉

    hmmm … semuanya serba kemungkinan ya bang… heheehehe😛

    Like

  5. UMSU, kata seorang yang kutemui di UMSU sudah berubah menjadi ULAR MEMANGSA SESAMA ULAR. Sebagai wartawan saya tidak begitu saja menerimanya. Setelah mewawancarai banyak orang, termasuk Dien Syamsuddin sang Ketua Umum PP Muhammadiyah, saya menjadi tahu jelas apa yang berada di balik pelesetan UMSU menjadi ULAR MEMANGSA SESAMA ULAR itu.

    Prihatin memang, harus ada yang memikirkan sesuatu dengan cara terbalik. Harus ada yang berbuat sesuatu, dan itu pun harus dengan cara terbalik.

    ada ular naga, ular sendok, ular sawah, ular lidi, ular kobra, ular keket…lama-lama bisa jadi kebun binatang …😀

    Like

  6. Untuk pertanyaan berbunyi “PAN dan PMB emang kira-kira bedanya dimana?” di atas, jawaban singkat demikian:

    1. PAN didirikan oleh HM Amien Rais sebagai salah satu instirusi untuk reformasi. Amien Rais pamit (keluar) dari Muhammadiyah karena urusan partai yang semestinya memang diperkirakan bisa berdampak terhadap Muhammadiyah.

    2. PMB didirikan karena ingin mendapatkan perahu tumpangan untuk pemilu 2009. Dalang segalanya ialah Dien Syamsuddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah. Karena tidak memiliki konstituen yang jelas, DIen memanfaatkan Muhammadiyah, menggerakkan orang-orang Muhammadiyah kelas V (ada kelas-kelas dalam Muhammadiyah ditinjau dari keteguhan pendiriannya. Kelas V itu ya sekelas agen-agen dan tak punya motif lain kecuali cari kekayaan. Bisa menyaru sebagai Rektor seperti Bahdin Nur Tanjung).

    3. PAN dan PMB akan sama-sama ikut pemilu 2009. Yang satu pasti terkena parliementary Treshold, yang lain bakal langgeng.

    Like

  7. wah..wah mas nirwan. behind the gun nya saya dah tau la…..he he. tapi bagus la untuk umsu..muhammadiyah ku..peace

    ohya? masak? hehehehe … nebak aja kali …😛

    Like

  8. Tulisannya bagus, namun jika anda berada dalam posisi yang dikritik bagaimana ya? banyak kita berteriak bagus ketika mengkritik. tapi setelah dapat bingkisan kritik menjelma jadi pujian. begitulah kita, mungkin juga anda.

    saat ini kan anda sedang mengkritik saya ..😀

    Like

  9. tulisanx bagus bang….ank sospol ad bakat jd penulis jg…napa g msk ke fkip bhs.inggris bang…(hehe g nyambung ya…)

    sambung-sambungin ajalah hehehe … thanks ya😀

    Like

  10. Tulisan yang bagus! Aku rasa sudah selayaknya sejarah UMSU ini dikemas dalam sebuah buku untuk pegangan mahasiswa di kampus biru bang. Sayang kalau cuma cuap-cuap di Blog.
    Aku aja baru tahu sekarang, padahal dari semester awal di tahun 2000, aku yang sering tidur di rumah abang tak banyak tahu tentang UMSU. Rahasia! Kata batinku.
    Tapi mantap kalilah. Aku penasaran dengan sambungan tulisannya, mudah-mudahan ada informasi seputar UMSU terkini.
    Doain adik mu di perantauan bang. Salam sama kak ena dan dua keponakanku, jangan lupa sama ibu dan bapak di rumah.

    kita akan buat itu. salam juga sama keluarga.🙂

    Like

  11. Siiip… Ditunggu ni! Tapi jangan lupa masukin cerita tentang perjalanan teman2 seperjuangan dulu. Biar agak gempar UMSU nantinya. Ternyata alumni Fisip seperti abang masih peduli dan terus memantau gerak-gerik orang di UMSU maupun Muhammadiyah. Sukseslah bang! Kalo boleh, ntar aku kasih komen dikit di buku yang akan abang terbitkan itu (cem betul aja ya, hehehe..)

    nunggu pasti membosankan.😀

    Like

  12. bang…kemaren teman aku cerita tentang kampus tercinta kita itu.
    teman aku itu baru aja bergabung sebagai salah satu staf pengajar di FKIP untuk jurusan English pastinya. Dia bilang ke aku kalo bayaran dia sekali berdiri itu cuma 12ribu, sementara dia ngajar di ILP dapat bayaran 40rb.

    Dari awal dia udah tau mengenai hal ini, tp karena tdk ada yang mengajar di UMSU dan kian hari makin sedikit staf pengajarnya akhirnya dia menerima tawaran untuk mengajar di UMSU tercinta itu.

    Trus aku blng, “Bukannya uang kuliah setiap tahun naik?”
    Teman aku jawab : “Iya, tapi gaji besar hanya dinikmati oleh orang2 atas seperti Pak Rektor and Pak Dean.

    Acemana kira2 ini bang??

    Like

  13. di sini putus nya bang
    di pertegas bang
    hihihihhihiiii….

    Karena perpecahan itu begitu luasnya, Bahdin yang semula cuek soal itu, akhirnya berimbas juga. Dia yang mengandalkan UMSU dalam pencalonannya sebagai DPD ini, pun terancam. Bila pemilihnya saja berkelahi, suara mana yang akan bisa diraupnya? Kegagalan-kegagalan dalam pilkada-pilkada yang diikutinya pun membayang keras di benaknya. Ia akan dicap sebagai “orang yang gagal” seumur hidupnya, bila tidak jadi duduk di bangku DPD.

    Setakat ini, itu dulu, lamunan saya soal kampus saya itu. Lain waktu akan saya sambung. Untunglah ijazah sarjana Sosial politik saya tak ditandatangani oleh seorang rektor yang dikenal masyarakat luas sebagai orang yang gagal berpolitik.

    hhhahahahahaha
    mantab-mantab
    nirawan panjaitan masih dengan idiologi yang ku kenal dulu
    konsisten pada tujuan dan masih tetap fokus
    macam betol aja awk ya bang
    hahahhhaha

    Like

  14. hai hai ternyata si bung berkonspirasi dengan beliau hati2 bung terjebang di\ mulut ular
    hahahahah
    baya bung
    sangat berbahaya
    lebih baik mencari nafkah yang wajar-wajar saja lah krn itu lebih abdooolll

    Like

  15. @ effan: thanks bang ..😀
    @ tambarit: iya memang gitu, njomplang dan elit di UMSU yang menikmati. Untuk sekarang blum bisa diapa-apai, gaji staf pengajar memang masih kecil, gak cuma di FKIP aja.
    @ agung: mudah-mudahan kita tambah dewasa dan matang ya.🙂
    @ agung2: tak ada yang bahaya, hadapi sajalah.😀
    @ naga: ketamakan akan membakar diri sendiri.😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s