Anehnya, Si Komikus itu Belum Terbekuk Juga


kartun biasaAneh dan betul-betul aneh. Polisi mampu membekuk pelaku bom Bali I dan II sekejap mata dan pemerintah RI digdaya mengeksekusi mati mereka sebentar saja ketika Amerika sedang memilih Presidennya, namun pembuat komik nabi Muhammad hingga kini belum jelas juga batang hidungnya? Ada apa?

Kepolisian menyatakan itu karena servernya konon berada di Amerika dan berpindah-pindah. Dan untuk ke sana butuh paspor. Betul-betul menggelikan, membuat geleng-geleng kepala dan, ah, pokoknya anehlah. Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, pun mengeluarkan komentar anehnya. “Saya belum lihat,” katanya.

Sementara itu, gejolak di Indonesia sudah tak bisa ditawar-tawar lagi. Ulama Jawa Barat sudah mengeluarkan ancaman akan menangkap dengan cara mereka sendiri. Organisasi Islam di Solo pun tak ketinggalan. Front Pembela Islam sudah mengancam akan sweeping warnet. Untuk hal ini, kata mereka, cuma ada satu kata: hukuman mati. Ini berlainan dengan versi polisi yang “hanya” akan mengenakan pidana 6 tahun penjara atau denda 1 miliar.

Ancaman polisi ini terlalu kecil mengingat dampak komik yang luar biasa itu. Bila versi polisi ini betul-betul dilakukan, maka siapapun akan gampang membuat komik-komik serupa di masa depan. Siapa yang akan takut dipidana 6 tahun kalau dia sudah berhasil menggoncang seluruh dunia ini? Soal dana? Jangankan miliaran, triliunan pun akan digelontorkan untuk menghujat habis Islam dan simbol-simbolnya.

Hukum Islam di negeri ini memang tak mendapat tempat. Sangat berbeda dengan negara lain. Imam Khomeini dari Iran langsung memberi hukuman mati kepada Salman Rushdie yang mengarang “Ayat-ayat Setan”. Miliaran orang di dunia geram ketika kartun nabi dipublikasikan oleh kartunis Denmark sebelumnya. Si kartunis pun akhirnya mati terbakar hidup-hidup di rumahnya.

Seakan-akan umat Islam di seluruh Indonesia ini tak ada harganya. Tak ada nilainya jumlah 80% itu di mata petinggi-petinggi negara ini. Dan di mata dunia, jelaslah sudah kalau Islam Indonesia ini tak ada apa-apanya.

Artinya apa? Tak ada identitas soal Islam di negeri ini. Arab Saudi baru tahu kalau Islam itu ada di Indonesia ketika dua ratusan ribu jamaah haji tiba di Riyadh. Iran mungkin baru tahu kalau di Indonesia itu ada Islam kalau orang Islam Indonesia sudah bisa bikin nuklir sendiri. Irak mungkin baru sadar kalau Islam di negeri ada kalau Presidennya nanti terselip namanya “Hussein”. Palestina tak pernah tahu Islam ada di sini, karena demonstrasi pro Palestina itu sudah tenggelam di Samudra Indonesia sebelum sampai ke Teluk Aden, Laut Merah, Teluk Oman dan Teluk Persia.

Tak ada artinya Indonesia yang punya Presiden orang Islam, Ketua MPR-nya orang Islam, Ketua DPR-nya orang Islam, Ketua MA dan MK-nya orang Islam, hingga Panglima TNI dan Kapolri-nya pun orang Islam, intelijennya pun banyak orang Islam, pakar telematika-nya pun konon beragama Islam.

Padahal, hampir semuanya bergelar “haji”. Padahal, hampir setiap kantor ada mesjidnya dan minimallah ada musholla. Padahal, Islam jauh-jauh lebih tua dari sebutan “Indonesia”, “Hindia Belanda” dan bahkan “Majapahit”. Padahal, konon di Indonesia ini pun bermunculan para “keturunan” nabi Muhammad yang konon pula bergelar “habib”. Padahal, konon, di Indonesia inilah jaringan pendidikan Islam terbesar di dunia, bermukim. Padahal, di tanah inilah, pesantren, islamic centre, perguruan tinggi Islam, dan seterusnya bersemai indah. Padahal, di tanah inilah, konon, Islam akan menjadi peradaban terbesar di dunia.

Inilah sebuah cerita ironi dan tragedi paling menyedihkan dalam sejarah Islam: sebuah negara di mana Islam adalah bayang-bayang. (*)

===

sumber foto: www.rockingraven.com

6 thoughts on “Anehnya, Si Komikus itu Belum Terbekuk Juga

  1. Memang harus dibuat aneh Wan..! Kalau tidak aneh, gak bakalan heboh. Kalau sudah heboh pada satu persoalan, maka persoalan lainnya pasti lupa.

    Sorry, ini hanya kritik. Ummat Islam di Indonesia itu, menyatu kalau hanya persoalan aqidah dan agamanya yang diusik. Kalau persoalan perut, kepentingan politik dan kesejahteraannya diusik, Ummat Islam di Indonesia itu, gak pernah “berisik”.

    Mungkin saja, yang mungusik Ummat Islam tersebut, ya mereka yang juga menyandang agama Islam, plus bergelar Haji. Kepentinganya? Ya, agar Ummat Islam lupa pada persoalan perut, kepentingan politik dan kesejahteraannya.

    Nah, haji-haji pengusik itu, tega berbuat seperti itu, karena memang sholatnya gak benar. Membedakan Ummat Islam dengan lainnya itu kan cuma sholat. Nah, “kalau sholat gak betul, sudah pasti kelakukan gak betul. Kalau kelakuan gak betul sudah pasti sholat gak betul”.

    Coba aja tanya mereka-mereka itu; “dimana qiblat mukmin itu?”. Pasti mereka jawab “Hasjidil Haram”, “Ka’bah”, “Barat” dan “Matahari Terbenam”. Padahal itu hanya syariatnya saja.

    Jawaban seperti inilah yang selalu menyebabkan sholatnya gak nyambung ke Allah SWT. Kalau sudah gak nyambung kepada Allah SWT, gimana mau mendapat petunjuk dan hidayah dari Allah SWT? Kalau sudah tidak mendapat petunjuk dan hidayah dari Allah SWT, sudah pasti sama sekali tidak memiliki “ketaqwaan”. Ya…ujung-ujungnya, tahu sendirilah.

    Wan, di Republik tercinta ini, banyak sekali orang yang bergelar Kyai Haji, Haji dan sebagainya.

    Tetapi, ketika tetangganya kelaparan, mereka cuma hanya menatap iba. Padahal, jika kita mengetahui tetangga kita kelaparan, kita wajib lho mengatasi rasa laparnya, bukan hanya menatap iba.

    Mereka, menunaikan ibadah haji maupun umroh bisa belasan kali(wajibnya cuma sekali). Tapi, berbagai buat fakir miskin cuma sekali dalam setahun. Itupun pakai sosialisasi di media massa segala.

    Soal kartun, memang merupakan sebuah hal yang wajar, jika Ummat Islam tersinggung. Namanya juga penghinaan sekaligus bertujuan sebagai pendangkalan aqidah Ummat Islam.

    Rasullah Muhammad SAW mengatakan; “Kaadal fakru ayyukuuna kufraan” (Sungguh kefakiran sangat dekat pada kekufuran).

    Makna terdalam kekafiran adalah pengingkaran keberadaan Allah SWT.

    Kemiskinan memiliki berbagai segi. Kemiskinan bisa juga berwujud dalam ketiadaan ilmu, yaitu kemiskinan akal. Kemiskinan harta adalah ketiadaan hak milik. Kemiskinan semangat adalah apatisme. Sedangkan kemiskinan moral adalah pengingkaran terhadap prinsip-prinsip etis dalam sikap dan perilaku.

    Segi-segi kemiskinan ini seperti lingkaran setan, dan kemunculan salah satunya akan memicu reaksi berantai bagi segi yang lainnya.

    Wah, di sini Abang mau bilang; “kartun, penghinaan maupun pendangkalan aqidah” terjadi karena “kemiskinan”. Selanjutnya, silahkanlah jabarkan sendiri. Capek kali pun Abang Wan, melihatnya.

    Kemiskinan memang menjadi persoalan utama, bang. Aku setuju. Di Sumut, secar statistik, ada 1,6 juta orang miskin yang didaftar pemerintah. Ada persoalan besar di sana. Syamsul Arifin mestinya jangan ketawa-ketawa aja ngeliat ini.

    Like

  2. Mengapa manusia yang tidak pernah mencintai kedamaian selalu saja membuat onar dengan menjelek-jelekan agama Islam, apakah mereka tidak takut kepada Sang Khalik, Yang Menciptakan Agama Islam ? Islam bukan agama yang senang berperang, tetapi janganlah memulai wacana untuk menabuh genderang perang! Manusia yang tidak membela agama-Nya, berarti dia bukan makhuk Tuhan yang seharusnya.

    Siapapun yang melakukan hal ini, mungkin saat ini masih terlepas dari hukum dunia, tapi dia tidak akan terlepas dari Hukum Allah !
    Sebagai Umat Islam yang sejati, berdo’alah terus, perkuatlah pertahanan dalam membentengi kaum-kaum fasiq dan dzalim yang berniat menghancurkan Islam, yakinlah bahwasanya ALLAH senantiasa menyertai langkah kita dalam kebenaran yang kita perjuangkan !

    Sangat tidak masuk diakal, bahwasanya yang menulis adalah sebagaimana nama suku yang dipaparkan, menurut pengamatan saya, kemungkinan besar si pembuat karikatur ingin menghancurkan suku batak sebagaimana yang ia paparkan “lapo tuak”.

    Yakinlah, bahwasanya Allah akan menunjukkan keadila-Nya dengan seadil-adilnya, Allah adalah Tuhan Yang Maha Adil !

    Bagi yang membuat, sebaiknya secepatnya menyadari apa yang diperbuat, bertaubatlah, karena kedamaian dan ketenangan adalah prioritas utama dalam menjalani hidup, untuk apa anda hidup tanpa ada ketenangan dan kedamaian ? Terbayangkah anda dalam kurungan dan denda yang harus anda bayar ?

    Terakhir, berani berbuat, beranilah bertanggung jawab ! ALLAHU AKBAR !! ALLAHU AKBAR !! ALLAHU AKBAR !!

    Like

  3. How if you standing on my shoes. cant you see there is nothing can do?
    (Soesilo Bambang Yudhoyono & Yusuf Kalla)

    u won’t allow me to standing on your shoes,,,,

    Like

  4. Sebenarnya orang Batak sendiri banyak yang tidak suka dengan kaum evangelis Batak yang acap kali mewujudkan niatnyay dengan modus operandi menghina agama orang lain. Seakan mereka bangga, padahal mayoritas org Batak malu melihat mereka

    Seorang teman Kari kristen mengatakan bahwa dia sangat malu dengan sikap evangelis Toba yang sangat radikal tidak saja menghina agama tapi suku yang lain. Coba lihat di om google, katanya, banyak sekali blog yang dikelola oleh ordo “pengacau” ini yang membahas teman sensitif seperti “Mandailing menyangkal kebatakannya karena emosi keagamaan”.

    Teman Karo tersebut ketakutan membaca artikel penuh kesesatan dan sak prasangka agama itu. Kata dia, terus kalau orang Karo menyangkal kebatakannya apakah itu karena keagamaan juga, kalau orang Dairi menyangkal kebatakannya kalau orang Nias menyangkal kebatakannya???? Ordo pengacau itu tampaknya pukul rata sehingga Batak yang Kristenpun ketar-ketir dibuatnya. Tampaknya itu dilakukan agar bisnis “dakwah” evangelisasi mereka laku keras, seperti lagu-lagu rohani, buku, seminar, simposium, durung-durung dll..

    Sepertinya judul di atas terinspirasi dari “judul” dan “fenomena” yang sering dipraktekkan “ordo” pengacau itu di beberapa tempat di dunia, sepert ini:

    “Libanon Menyangkal Kearabannya Akibat Emosi Keagamaan”

    Satu lagi

    “Filipina Menyangkal Kemelayuannya Akibat Emosi Keagamaan”

    Ada lagi..

    “Morisco menyangkal Kearabannya Akibat Emosi Keagamaan”

    Ada lagi..

    “Orang Toba Menyangkal Kemelayuannya (proto malay) Akibat Emosi Keagamaan”

    Masih ada lagi..

    “Paus Menyangkal Keesaan Tuhan dan memaksa ketuhanan seorang manusia yang jadi nabi karena Emosi keagamaan (pagan).”

    “Orang Toba (tp tidak semua) Menyangkal kemuliaan adat dan budayanya dan memaksa diri jadi bar bar pemakan babi dan dan biang karena emosi keagamaan”

    “Maori menyangkal hubungannya dengan Melayu karena emosi keagamaan”

    “Fiji menyangkal keindonesiaanya karena emosi keagamaan”

    “Madagaskar menyangkal kemelayuannya akibat emosi keagamaan”

    “Suriname menyangkal kejawannya akibat emosi keagamaan”

    Marilah jangan memakai dan meminjam alat kaum evangelis yang imperialistik itu dalam memecah belah sebuah seutuhan komunitas. Satu kaum bahkan keluarga sekalipun bisa beda pemahaman agama. Tidak ada gunanya menghujat dan menjadi penipu. Buang itu sifat Late dan 3L dalam beragama.

    Orang Belanda sudah pergi, jangan warisi kejahatannya.

    Orang Belanda belum juga pergi dan orang-orang Batak mewarisi kejahatannya dengan penuh gembira dan kebanggaan. Saya kira, orang Batak harus menyelidiki atau mungkin men-dekonstruksi akar permasalahannya, fenomena sejarah dan kontemporer. Dan mungkin bisa dimulai dari salah satu simbol orang Batak “Sisingamangaraja”. Saya berterimakasih atas informasi Anda soal “Ordo Pengacau” itu. Mudah-mudahan itu menjadi masukan para sosiolog antropolog dan cendekiawan agama (dan mungkin pula polisi bisa menggunakannya) untuk menyelidiki fakta-fakta tak terungkap soal “Batak” ini. Salam untuk Anda.🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s