Ahmad dan Muhammad


Nama nabiku tak panjang: Muhammad. Nama kecilnya Ahmad, yang bermakna orang yang terpuji. Dia manusia biasa namun perilaku dan sejarahnya tak biasa. Dia tak pernah melihat wajah ayahnya, Abdullah, dan hanya empat tahun bisa melihat ibunya, Aminah. Kakeknya, Abdul Muthallib, yang menyematkannya nama itu, hanya bisa dilihatnya sampai umur 8 tahun. Ia adalah orang yang sendiri di dunia ini.

Hiduplah ia bersama pamannya, Abi Thalib, yang sepeninggalnya kelak, mendapat fitnah sebagai “orang tak mukmin”. Abi Thalib tak kaya walau berasal dari golongan terhormat, Bani Hasyim. Namun Abi Thalib punya anak, Ali, yang kemudian menjadi pembenarnya kedua setelah istrinya, Khadijah. Ia dikaruniai putri, Fatimah, dan kemudian dinikahkannya dengan Ali. Ia mendapat dua orang cucu, Hasan dan Husein. Muhammad jadi tak sendiri.

Namun, masa tak sendirinya tak lama. Abi Thalib meninggal dan istri tercintanya pun menyusul. Duka cita menyelimutinya dan ia sendiri lagi. Tinggallah seorang Ali, anaknya Fatimah dan cucu-cucunya.

Dia adalah adalah orang berselimut. Ia adalah orang yang ketakutan ketika disambangi oleh malaikat Jibril di Gua Hira. Dia bukanlah manusia yang bersemedi menanti-nanti wangsit dan kemudian berbangga mentahbiskan dirinya sebagai “penguasa” dan “pilihan Tuhan” ketika menerima wangsit. Ia menyembunyikannya, ketakutan, keringat memenuhi keningnya dan ia minta diselimuti.


Dalam hal intelektual dan perjalanan spiritual, ia adalah tawadhu’ (kerendahhatian) itu sendiri. Lima belas tahun ia merenung dan belajar di Gua Hira dan tidak ada satupun yang tahu cara dan metode apakah yang dilakukannya, termasuklah Abu Baqar dan Khadijah. Hingga sampailah umurnya 40 tahun, Ar-Rahman memberi salam kepadanya. Dan, Al-Haq justru menyuruhnya “membaca”, bukannya langsung memberi hak untuk “memberi perintah”.

Dia bermetamorfosa. Seperti Alquran yang diamanahkan kepadanya, perubahan Ahmad menjadi Muhammad dilakukan secara berangsur-angsur. Selimutnya adalah kepompongnya. Setelah itu Ar-Rahim membuka selimutnya dan menyuruhnya “Bangunlah dan berikan Peringatan! “

Aku tak bisa membayangkan, seperti apa pengetahuan yang dimiliki oleh imamku ini. Seperti apakah isi ubun-ubunnya, kelembutan dan kebesaran hatinya, dan apakah yang ada di matanya ketika dia melihat segenap makhluk dan alam semesta ini. Aku tak bisa memahaminya. Dia hanya tersenyum lembut. Dia mengusap kepala anak yatim dan mendatangi fakir miskin. “Santunilah anak yatim dan fakir miskin, maka hatimu akan menjadi lembut,” kata dia.

Dia melihat alam semesta dan merancang sesuatu. Dia bukan Tuhan karena itu “Kun Fayakun” bukanlah haknya. Seperti dirinya dan Al-quran, alam semesta juga adalah suatu hal yang berangsur-angsur. Maka, merancang “li al-maqorimal al-akhlaq” (merubah akhlak) adalah rentetan perjuangan, suatu kata kerja, sebuah konsep yang terus-menerus, berangsur-angsur. Tak ada titik di sana.

Sampailah dia pada titik hukum makhluk hidup: kematian. Di kamarnya yang tak besar, di rumahnya yang sederhana, di tengah-tengah keluarganya, dia hendak berangkat menuju fase berikutnya.

Muhammad berkeringat kembali, seperti dulu kala ia menerima Al-Mudatstsir. Aku tak tahu apa yang dilihatnya, aku tak tahu apa yang dipikirkannya dan aku tak mampu memprediksikannya. Sejarah menuliskannya dalam beribu tafsir, beribu asumsi, beribu kesimpulan dan bermiliar perbedaan.

Fatimah memangkunya. Ali di sampingnya. Ibnu Abbas di tengah rumahnya. Izrail menunggu di atap rumahnya. Jibril menunggu di depan pintu kamarnya. Langit membukakan pintunya. Alam semesta berbaris untuk menerimanya. Namun Tuhan belum memutuskan waktunya.

Salam untukmu, ya, Ahmad. Salam untukmu, ya, Muhammad. Salam untukmu, ya, Musthafa.

5 thoughts on “Ahmad dan Muhammad

  1. Ya Allah…
    Selamat sejahterakanlah Junjungan kami Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya dan para pengikutnya….
    Jadikanlah hamba sebagai orang yang selalu bisa mencintai kekasih-Mu Muhammad…
    Karena sesungguhnya mencintai yang ENGKAU cintai niscaya ENGKAU akan mencintainya.
    dan
    Menyatakan perang/permusuhan kepada kekasih-Mu maka ENGKAU pun akan menyatakan perang kepadanya.

    Ya Allah….
    Jangan penuhi hati kami dengan dendam dan kebencian, namun limpahkanlah hati kami dengan cinta-Mu

    Like

  2. Maha besar engkau ya Allah telas mengirim sosok manusia seperti dia, dialah yang terbaik yang tidak pernah mengharap balas jasa dari orang dan slalu merendah dimanapun berada. Muhammad seharusnya menjadi panutan untuk smua pemimpin kita supaya tidak terjadi lagi kekacauan2.

    Like

  3. Seberapapun penghinaan terhadap Engkau Ya Muhammad SAW, tak akan mengurangi cintaku padaMu. Kaum Kafir Qurais pernah melempar kotoran unta padaMu tetapi Engkau tetap tersenyum seraya berdo’a semoga yang melemparkan kotoran onta diberikan hidayah dari Alloh SWT. Ijinkan aku berdo’a ya Muhammad SAW, agar orang-orang yang menghinakan Engkau diberikan hidayah dari Alloh sehingga terbuka mata hatinya dan menemukan jalan yang lurus yakni “Islam”

    Like

  4. kalo emank menurut dia kayak gtu ya gk apa la…
    dia kan punya mulut y wajar….

    km pon klo mau gtu ya buat la….
    wkwkwkwk

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s