Partai Seks Indonesia


Di Australia, partai seks baru berdiri. Rencananya tanggal 20 Nopember mendatang. Kalau di Indonesia sudah berdiri, mungkin juga banyak pendirinya. Sex Party… hmmm…

Kalau mau dibahas, bisa panjang. Toh, seks punya aroma tinggi, multitafsir. Kalau di Indonesia, mungkin hipotesisnya, hal itu bisa terjadi karena kejenuhan soal partai-partai yang ada sekarang ini dan maniaknya  bangsa ini kepada seks tak juga berubah sejak UU Pornografi diundangkan.

Hipotesis kedua, masyarakat memang tambah bodoh, karena informasi yang beredar soal partai terus cenderung membodoh-bodohi masyarakat saja. Mengaku reformis namun menganggap Soeharto sebagai pahlawannya. Terus, partai yang tak ada kerjanya, dibilang tingkat ekspektasinya tinggi. Bahkan, LSI (Lembaga Survey Indonesia) yang mengklaim independen itu, baru saja bilang, Partai Demokrat ekspektasinya saat ini sedang tinggi. Logika mana yang dipakai LSI kalau Partai yang mendukung kenaikan harga BBM dan memuja habis SBY yang menaikkan BBM itu dirindukan oleh masyarakat?

LSI bilang, ini pengaruh swing voter yang cukup tinggi bakal terjadi di Demokrat. Massa mengambang diperkirakan bakal memilih partai bikinan SBY ini. Bahkan gilanya, LSI berani memprediksi, kalau suara Demokrat bakal lebih tinggi daripada Golkar dan PDIP!

Tapi begini saja. Dalam kacamata politik, LSI sah-sah saja menjadi salah satu pion berpolitik SBY (atau pun partai dan kandidat lainnya) .

Agaknya, LSI belakangan ini sudah kehilangan pamor pasca ketidakarutannya dalam Pilkada Jawa Timur baru-baru ini. Walau, soal margin error seperti yang dibilang LSI itu bisa dimengerti di ranah intelektual, tetap saja masyarakat tak mau tahu. Kalau sudah berani memprediksi dan mengaku bakal terjadi, ya harus terjadi. Di situ, kredibilitas keilmuwan LSI langsung anjlok.

Nah soal Demokrat ini, dugaan sementara, ya, soal pesanan itu. SBY sendiri, dalam HUT Demokrat kemarin secara tersirat sudah mengatakan kalau partai ini tak bakal naik suaranya dan mengkritik partainya yang belum apa-apa sudah bicara kandidat Presiden. “Jangan bicara soal presiden dulu, kalau kita belum tahu hasil di pemilu legislatifnya bagaimana,” katanya waktu itu.

Persoalannya Demokrat mau menjual apa? Kalau di 2004, jelas SBY jadi dagangan utama. Kini, di tengah buruknya dan anjloknya citra pemerintahan di tangan SBY, soal kenaikan harga BBM yang terutama dan soal penanganan krisis ekonomi yang amburadul belakangan ini, barang dagangan Demokrat nihil sama sekali. Agaknya, Demokrat (dan LSI) sudah terlalu gelisah dengan Gerindra dan Hanura, dua partai yang sama-sama dibikin tentara pensiunan yang memiliki rivalitas sendiri dalam sejarah.

Kecuali, Demokrat menjual soal seks seperti partai di Australia itu, saya kira ada benarnya juga kalau Demokrat bisa menyalip Golkar dan PDIP…

14 thoughts on “Partai Seks Indonesia

  1. Kalo saya melihatnya kenaikan pamor demokrat, karena iklan yang dipasang begitu menyentuh dengan masyarakat, terutama iklan saat demokrat yg berultah itu, seperti memperlihatkan keberhasilan SBY dalam memimpin bangsa ini. dan tokoh yang disajikan adalah tokoh partai yang sering disaksikan masyarakat😀

    Like

  2. Setuju bang…..
    sampai saat ini gak banyak kader “Cerdas” di Demokrat…..

    paling-paling Andi Mallarangeng yang cukup gape berselancar kata-kata dalam setiap diskursus politik masa kini….

    tapi SBY cukup punya modal Bang….
    jadi kali ini saya agak kurang sependapat dengan pernyataan sampeyan soal
    ” soal penanganan krisis ekonomi yang amburadul belakangan ini..”
    Menurutku …bahkan saat melakukan antisipasi krisis ekonomilah ..tampak betapa solidnya team ekonomi SBY..Boediono-Sri Mulyani-Marie Pangestu…reaksi cepat mereka mengagetkan kami yang bekerja di institusi financial..he..he..he…tumben nih pemerintah reaksinya cepat dan tepat…..
    kesolidan team ekonominya bisa jadi jualan menarik tuh….

    kalok soal kenaikan BBM sih..lambat laun dah banyak yang lupa tuh…ketutup…isu yang lain…maklum bangsa kita kan punya ingatan pendek…mudah lupa…termasuk saya ..he..he..he…

    Bagi mahasiswa, Andi Mallarangeng jelas tak bisa dijual… soal antisipasi krisis ekonomi, itu bukan langkah cepat tapi buru-buru dan formulasinya pun tak jelas, kelihatan ketika si Sri Mulyani membuat bingung pemodal dengan ketidaktegasan sistem buka tutup bursa efek (pintu masuk krisis global) dan tentu saja pengaruh buruk dari rivalitas Bakrie dan Mulyani di kabinet begitu nyata. Kinerja makin buruk ketika perbankan mulai mengkhawatirkan (walau terus ditutup-tutupi), harga dolar terus impoten.

    Soal kenaikan BBM, pada kenyataannya SBY tak pernah menurunkan BBM. Dengan harga yang diturunkan Rp 500 (itu pun per desember), lain dengan Pertamax yang secara langsung (ini membuktikan kalau SBY sangat memihak orang kaya), SBY masih menaikkan BBM bersubsidi sebesar Rp 1.000 rupiah dari harga semula Rp 4.500. Turunnya harga BBM adalah pembohongan publik yang luar biasa!

    Like

  3. Hmmm…
    Bang, kalau LSI melaporkan Amien Rais paling populer nomor satu mengalahkan kandidat lainnya pasti Anda tersenyum saja🙂

    Bila itu dilakukannya, itu membuat kredibilitas LSI sudah tak ada lagi di mata saya … bagaimana?😀

    Like

  4. For Danang…
    Anda jangan skeptis begitu sama Bang Nirwan ini…..
    betul dia adalah fans Amien Rais..tapi dia tak membabi buta mendukung
    beliau…cukup fair kok saya baca komentarnya…

    dan satu lagi…..Danang..harus banyak membaca ya……
    karena sampai saat ini Pak Amien Rais belum sekalipun bilang mau jadi CAPRES itu sebabnya gak pernah diitung ama LSI sebagai calon yang layak ditanyakan kepada responden apakah mau dipilih gak…

    saya hanya berdoa….
    Pak Amien Rais tetep istiqomah untuk tidak mencalonkan diri lagi sebagai presiden..saya gak rela…dosen saya ini nanti dihujat-hujat lagi…karena dibilang MUNAFIK…setelah bilang bahwa kaderisasi pemimpin adalah keniscayaan ..pada gilirannya malah mencalonkan diri mencadi CAPRESS….

    ayo bikin gerakan NGEMAN AMIEN RAIS aja bang Nirwan….
    biarkan beliau menjadi pengamat dan oposan kritis bagi siapapaun Presiden yang tidak Pro rakyat….jangan lagi jadi Capres

    😛 Bang. Untuk soal yang terakhir ini, aku memang beda pendapat. Pilihan saya kepada dia bukanlah dalam kerangka sebuah Presiden dalam bingkai kekuasaan semata, bukan seorang Presiden yang memandang sebuah kursi itu adalah jabatan politik tertinggi di negeri ini. Presiden adalah posisi yang tidak bisa dimain-mainkan, diberikan kepada orang yang tidak tepat hanya karena kondisinya adalah dia yang meraih suara terbanyak, populer, terkaya dan seterusnya. Saya tak memiliki figur untuk jabatan itu, kecuali Amien Rais. Presiden adalah “imam” dan merupakan salah satu “tugas cendekiawan muslim”. Pemimpin dan Imam adalah hal yang berbeda. Saat ini, saya tak menemukan orang Indonesia yang seperti ini “Intelektual-Cendekiawan-Ideolog-Ulama”. Dia memberikan saya keempat hal itu… Bila hanya sebagai pengamat dan oposan kritis, maka posisi Amien Rais akan kembali sekedar “intelektual” belaka…itu pengkerdilan bagi dia.

    Like

  5. LSI ini LSInya saiful mujani kan? bukan LSI (lingkaran survey indonesia)nya Denny JA? well sama saja, dari dulu sih saya ga begitu suka sama institusi beginian…. karena mengaku independen, tapi agenda mereka sebenarnya membentuk opini publik akan calon yang menjadi klien mereka….

    yup…LSI-nya Saiful Mujani

    Like

  6. dah..gak pake’ LSI-LSI an baut apa klo gak cocok… betul sampean PANGERAN Siahaan, mereka hanya membentuk opini mungkin juga dikendalikan oleh kekuasaan, klo empat hal dikemukakan bang nirwan ini betul banget ..! Amin rais memiliki 4 hal tsb.Namun sayang sekali lagi terisksn P. Amin yang kenceng itu gak ada yang mau dengar kenapa??? beliau ini yang diteriakan memang benar…tapi sayang kebenaran itu dianggap oleh mereka adalah suatu yang akan menghancurkan kekuasaan mereka .., aku mau usul gimana klo kita buat partai PBN (Partai Bloknya Nirwan) he heh he

    That’s the problem, kebenaran itu dianggap sebagai suatu yang menghancurkan kekuasaan. Amien Rais itu tak punya “tentara” dan mesti ada perubahan radikal di sana. Partai Bloknya Nirwan…hahaha… ampon ampon ….😛

    Like

  7. “Bermain di atas Perut”

    Pekerjaan Politikus di Republik tercinta ini, memang seperti itu. Mumpung masih ada 100 juta lagi penduduk Indonesia yang lapar, maka para politikus bermain di range “kelaparan”.

    Coba deh buka, lembar demi lembar platform masing-masing partai politik, yang ada di republik ini. Seluruh partai pasti memiliki keinginan yang sama; “mensejahterakan dan memakmurkan rakyat”.

    Aku fakir, bagus juga sih kalau platform partai-partai itu beriringan dengan keinginan, kerja dan karya para pengurusnya (politikus).

    Namun apa yang terjadi, ketika “koor keroncongan” mulai membahana, ketika para pemilik perut lapar, mulai berpaling, para politikus melakukan berbagai upaya agar citra, wibawa dan hantu blau sebagainya, kembali terangkat. Ada yang mendekat, ada yang merapat, ada yang prihatin, ada yang berteriak, ada yang bernyanyi, ada yang hanya berbisik dan ada juga yang sekedar prihatin dan sebagainya dan sebagainya.

    Nah, ketika hati para pemilik ‘perut keroncongan’ tidak lagi bergejolak, politikus yang menyatakat platform partainya paling bagus itu, kembali berpaling.

    Tidak habis fikir, apa sesungguhnya kerja mereka yang di atas itu. Negeri agraris yang hampir seratus persen penduduknya ini, masih makan beras (nasi), malah sawit, karet, kakao, kopi dan cengkeh yang diperluas lahannya.

    Apa sesungguhnya kerja mereka yang di atas itu. Minyak mentah masih bersarang di bumi pertiwi, rakyat yang membutuhkan BBM untuk keperluan, malah harus menunggu pasokan dari luar.

    Apa sesungguhnya kerja mereka yang di atas itu. Gunung di Papua yang mengandung emas, justru masyarakatnya hanya mendapatkan lempung. Ketika perut di bumi Sidoarja menyimpan gas, justru rakyatnya mendapatkan Lumpur.

    Kondisi ini, justru aku berfikir buruk, bahwa yang di atas itu, kerjanya cuma melihat ke bawah Mereka cuma hanya “bemain di atas perut rakyat”.

    Wan, bermain di atas perut itu, aromanya juga tinggi kan?, hik hik hik

    serius aku membacanya ini bang… tapi gara-gara di atas perut itu…hilang konsentrasiku ….wekekekekekekekekkek😛

    Like

  8. Bicara politik kerapkali seru, panas, tinggi, bahkan kalo gak bisa kendalikan emosi, bisa otot yang menegang dan adu jotos, tetapi kalo berbicara politik di satu sisi dan bicara syahwat/sex di sisi yang lain kadang dua hal yang bertolak belakang tapi kadang dua hal yang berjalan seiring. Itulah sebabnya politik perlu kita bingkai dengan iman, etika, adat istiadat, tatakrama, dan kultur atau bidaya yang sehat terkendali sehingga aura politik tetap berwibawa. Rasanya kalo politik sudah terkotori oleh hal-hal yang berbau syahwat sex, ya mohon maaf, aura politiknya menjadi “tertutup”. Wajar jika di negara Super Power saja di Amerika Serikat yang terkenal liberal, mereka tampaknya punya “pakem” atau aturan tersendiri yang amat ketat untuk menyeleksi calon pejabat publik atau seorang pejabat publik yang lagi manggung dikekuasaan agar tidak terkenal aura sex. Mereka akan sangat ketat bahkan akan diseret ke pengadilan manakala pejabat negara terbukti melakukan perselingkuhan sex. Jadi bicara partai sex Indonesia, yaaa ndaklah …… atau mungkin akan berdiri partai tersebut dari komunitas orang-orang yang senang mempublikasikan aura yang sifatnya sangat pribadi tersebut baik dari kalangan politisi atau selebriti?

    hehehehe…setuju sayah bang …🙂

    Like

  9. kmarin sy lihat acara barometer sctv tentang uu untuk lembaga survey
    terenyuh dan sedikit mengerutkan dahi melihat saeful mujani bersikukuh agar kpu untuk tidak membuat peraturan ttg lembaga survey
    saiful mujani berucap bahwa lembaga surveinya kredibilitasnya tidak usah dipertanyakan lagi dan hasil surveinya tidak pernah jauh berbeda dari hasil yg sebenarnya…. waduh tambah terenyuh lah sy atas komentarnya itu……
    memang sih sy tidak terlalu mengerti dgn survei dsb… tp begini2 jg pernah berkecimpung dilembaga riset selama 6 bulan, realitas dilapngan periset jg tidk sepenuhnya jujur, alhasil hasil risetnya jg patut dipertanyakan…
    sy melihat saiful mujani secara tidak langsung menuhankan metode survei yg ia jalani…. wah bahaya itu…..
    sy menduga bahwa lembaga riset kebanyakan pada saat ini mengarah pada pembentukan opini publik.. yg notabenenya pada pesanan dari pihak tertentu…

    realitas sekarang ini sy melihat opini publik lg diarahkan kepada sosok sby untuk di pilih lagi menjadi presiden….

    ada yg bilang masy sekarang sudah tidak bodoh lg… yg bilang begitu berharap masy indonesia tetap dalam kebodohan….
    klo berkurang kebodohan ya mungkin tapi tidak signifikan…

    betulkan…

    buktinya sby, megawati, srisultan dsb masih jd pilihan bagi rakyat indonesia…

    ada pepatah baru mengatakan klo kambing pasti milih pemimpinnya ya kambing, ga mungkin singa atau gajah…

    hati2 salah milih lg …….

    kan dah tahu klo salah milih ky tahun 2004,bgaimana akibatnya…

    Allah maha tahu….

    bencana dan sebagainya adalah jawaban

    dalam sebuah acara televisi, bos LSI-nya Denni JA, pernah mengakui kalau pada pemilu 2004, ia bekerja untuk SBY …🙂

    Like

  10. MENGGUGAT PUTUSAN SESAT HAKIM BEJAT

    Putusan PN. Jkt. Pst No.Put.G/2000/PN.Jkt.Pst membatalkan Klausula Baku yang digunakan Pelaku Usaha. Putusan ini telah dijadikan yurisprudensi.
    Sebaliknya, putusan PN Surakarta No.13/Pdt.G/2006/PN.Ska justru menggunakan Klausula Baku untuk menolak gugatan. Padahal di samping tidak memiliki Seritifikat Jaminan Fidusia, Pelaku Usaha/Tergugat (PT. Tunas Financindo Sarana) terindikasi melakukan suap di Polda Jateng.
    Ajaib. Di zaman terbuka ini masih ada saja hakim yang berlagak ‘bodoh’, lalu seenaknya membodohi
    dan menyesatkan masyarakat, sambil berlindung di bawah ‘dokumen dan rahasia negara’.
    Statemen “Hukum negara Indonesia berdiri diatas pondasi suap” (KAI) dan “Ratusan rekening liar terbanyak dimiliki oknum-oknum MA” (KPK); adalah bukti nyata moral sebagian hakim negara ini sudah terlampau sesat dan bejat. Dan nekatnya hakim bejat ini menyesatkan masyarakat konsumen Indonesia ini tentu berdasarkan asumsi bahwa masyarakat akan “trimo” terhadap putusan tersebut.
    Keadaan ini tentu tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Masyarakat konsumen yang sangat dirugikan
    mestinya berhak mengajukan “Perlawanan Pihak Ketiga” dan menelanjangi kebusukan peradilan ini.
    Siapa yang akan mulai??

    David
    HP. (0274)9345675

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s