Lirikan Mega Goda Prabowo


mega-prabowo-upload

Golkar dan PDIP memang luar biasa. Menaikkan takaran syarat calon Presiden hingga 30%, kompromi yang terjadi justru yang sebenarnya mereka sudah prediksikan: 20%. Dengan ini, mereka cukup pede untuk melenggang kangkung di Pemilihan Presiden 2009 karena merasa suara mereka bakal lebih dari 20%.

Pertarungan Presiden memang makin mengerucut. Secara matematis, memang 5 pasang bakal calon Presiden-Wapres, dimungkinkan. Namun realitasnya, dapat empat pasang saja sudah cukup lumayan. Pertimbangannya, partai politik yang suaranya tak sampai 20% akan lebih banyak dari yang bisa mencapainya.

Tak heran, kalau rata-rata target partai politik kelas menengah adalah 20% agar mereka bisa mencalonkan Presiden. PAN, PKB, PBB, PPP, PKS, Demokrat, sudah bertekad untuk itu. Setiap partai ini pun sudah mengelus-elus kandidat internal untuk dinaikkan menjadi capres. Bahkan Gerindra dan Hanura pun berani pasang 20%. Sementara yang berani pasang target 30% cuma Golkar dan PDIP. Yang agak adem ayem soal capres memang PPP. Ini memang aneh karena mereka sendiri cukup pede ketika paripurna kemarin mengusulkan syarat capres itu 25%. Ini menarik untuk menjadi pembahasan tersendiri.

Siapa paling berpeluang? Hasil konkret memang menunggu hasil Pemilu legislatif 2009 keluar. Namun, dari dinamika politik yang ada, saya ingin menelaah dulu prinsip yang saya rasa akan muncul dari Megawati: Asal Bukan SBY.

Megawati sudah terlanjur sakit hati dikhianati oleh SBY dalam Pilpres 2004 lalu. Karena itu, dinamika politik PDIP dalam pilpres, saya kira akan diletakkan dalam kerangka itu. Memang terkesan emosional, padahal tidak.

Megawati dan PDIP, secara rasional memang merasa, SBY adalah lawan tempur yang paling kuat saat ini. Tentu, indikatornya bukan polling lembaga survey yang banyak dipesan itu. Megawati pernah berada di pemerintahan dan untuk itu dia pasti tahu bagaimana infrastruktur politik SBY di seluruh pemerintahan di Indonesia, mulai dari pusat, propinsi, kab/kota, hingga kepling. Di daerah saya, Sumut, gambar SBY sudah terpampang jelas dengan background gambar Gubsu Syamsul Arifin. Keduanya tersenyum di foto itu. Tak cuma itu, sewaktu pilkada Deliserdang, gambar SBY juga berdampingan dengan Bupati Deliserdang, Amri Tambunan. Sama seperti foto Syamsul, keduanya pun tersenyum di foto itu.

PDIP tak akan menyewa lembaga survey hanya untuk meneliti itu. Infrastruktur pemerintahan memang elemen mendasar yang harus dikuasai kalau ingin menjadi penguasa. Itulah etalase politik Indonesia saat ini.

Siapa yang paling geregetan dengan SBY? Wah, bukan Golkar. Itu karena Jusuf Kalla memang tak pernah ingin bertarung di kursi kepresidenan. Karena itu, marilah ciptakan lawan SBY sebanyak mungkin di pesta kandidat calon Presiden. Di Golkar memang sudah muncul, seperti Sultan dan Yuddy. Yang disebut di awal lebih kuat dari yang disebut belakangan. Namun, dibandingkan Jusuf Kalla, dua-duanya belum ada apa-apa. Tapi itu saat ini. Kalau Akbar Tanjung sudah turun tangan langsung dan terbuka, lain ceritanya.

Siapa lagi? Tentulah Wiranto dan Prabowo. Tapi, Wiranto pernah jadi kandidat capres, jadi tak mungkin turun pangkat jadi Wapres. Umurnya sudah tinggi. Jadi, saat ini (mungkin) adalah Pilpres terakhir untuk dia.

Hidayat Nur Wahid? PKS percaya diri akan mendapat 20%, jadi kemungkinan besar mereka akan mencari koalisi di luar PDIP. Tak bisa dengan Golkar, karena kalau itu benar adanya, habislah mereka dihantam isu “Soehartois”. Wahid pun sebenarnya rela-rela saja menjadi calon Wapres, asal capresnya cocok harga dengan PKS. Nah, ada kemungkinan bisa bersaing dengan Megawati kalau SBY dan Wahid dipasangkan. SBY mungkin membutuhkan PKS karena kelihatan dari pidatonya di HUT Partai Demokrat kemarin, ia tak cukup pede Demokrat akan meraih 20%. Sayangnya, PKS tak merilis nama SBY sewaktu pengumuman kandidat capres baru-baru ini. Memang belum resmi dan bisa berubah, namun paling tidak, kalaupun SBY melamar ke PKS, “harganya” sudah tak murah lagi. Tapi, untuk SBY, harga semahal apapun sanggup dibayarnya.

Karena itu, Mega berusaha untuk mencari pesaing SBY. Dan tak lagi dari NU, walau Muhaiman Iskandar sudah pasang badan berniat maju ke Pilpres 2009. Namun, Mega punya kenangan buruk berpasangan dengan NU, ketika dia bersama Hasyim Muzadi ternyata harus kalah dari SBY-JK tahun 2004 lalu. Apalagi, kelas Muhaimin, belumlah seperti Gus Dur dan Hasyim Muzadi. Lima tahun lagi mungkin Muhaimin akan matang, itu kalau dia tidak kena pembalasan dendam sama Yenny Wahid.

Prabowo adalah yang paling realistis. Lirikan genit Mega adalah dalam kriteria “menganggu” Prabowo yang berniat Presiden. Ia pun menawarkan paket wakil presiden. Satu keuntungan lagi. Mega-Prabowo jelas akan merisaukan SBY. Mega belum pernah disandingkan dengan militer. Selama ini, Mega hanya pernah berhadapan dengan militer. Eep Syaefullah Fatah, langsung komentar, “Itu paket yang merugikan.”

Dan Prabowo? Mendapat lirikan genit dari Mega, Prabowo pun cuma mesem. “Saya merasa tersanjung atas tawarannya …,” katanya seperti dilansir di media massa. Duh …

12 thoughts on “Lirikan Mega Goda Prabowo

  1. Mega-Prabowo? Menarik juga. Masalahnya, apakah mungkin dua figur yang berbeda faham mampu bersatu. Megawati-PDIP-jelas berpolitik aliran nasionalis.

    Prabowo? Saya menilai, nuansa sosialis (sosialis seperti yang dimaksudkan dalam ajaran Islam) terkesan lebih kental melekat pada dirinya. Coba lihat ayahandanya, Begawan Ekonomi, Pak Sumitro.

    Megawati dan PDIP nya merupakan (katanya) partai wong cilik. Prabowo yang nuansa sosialis seperti yang saya maksud, juga memiliki massa wong cilik, petani, buruh dan nelayan.

    Sesungguhnya, kedua figur ini berbeda pandangan terhadap politik, meskipun sama-sama mengandalkan wong cilik.

    Rasanya, tidak mungkin keduanya bergandengan. Bisa jadi, sejarah perjalanan bangsa Indonesia, di warnai dengan “petaka” dan “petaka”.

    Kemudian, saya kira, Megawati hanya mencari popularitas belaka untuk mendongkrak ‘ratingnya’. Apa benar, ‘kesumat’ Megawati terhadap Pak Harto sudah pupus?

    kukira mungkin saja bang… justru malah bertambah kuat kalau memang benarlah mereka berdua berbasis wong cilik. Tapi, kita lihatlah nanti bang…saat ini, cuma prediksi yang bisa ditumbuhkan🙂

    Like

  2. Mantap juga kalau itu terjadi. SBY punya lawan yang sekelas

    politik memang asyik diperbincangkan di warung kopi…artikel ini jelas masih levelnya warung kopi…hahahaha

    Like

  3. Aku suka tulisan yang ini, tidak memihak, objektif dan enak dibaca🙂

    Bravo buat si Abang! Pilihaku tetep SBY aja, yang lain minggir! Hidayat? Entar aja lah 2014! Hahaha…

    Like

  4. Setelah kasus terbukanya kedok PKS ..yamg ternyata disusupi oleh antek-antek Soeharto……
    makin gamang saya menatap PEMILU 2009 ….

    sebenarnya kalok dilihat kemampuan menjaga situasi ekonomi Indonesia dalam pusaran badai krisis keuangan ..SBY-JK beserta tim ekonominya…Boediono-Sri Mulyani-Marie Pangestu cukup menjanjikan dengan pengalaman dan reaksi yang cepat dantepat….sehingga sangat layak untuk tetap menjadi salah satu calon yang layak dipilih…namun ada banyak PR juga yang bikin gak sreg…terutama kemampuan dalam mempercepat terciptanya kesejahteraan rakyat…dan…sepak terjang inner circle SBY-JK yang kadang bikin blunder….kayak kasus Supertoy dan Blue Energi ..atau…tindakan Sofyan Jalil untuk menahan perdagangan saham BUMI yang memicu aksi ancaman mundur Sri Mulyani beserta jajaran Depkeu…

    Prabowo ?…ah….kasus penculikan aktivis adalah hadangan terbesar
    Megawati?…gak sabar liat si mpok “berdebat” dgn SBY ….

    kalo bagi saya….
    masih banyak waktu menentukan pilihan…..
    karena banyak manuver plitik yang terjadi sampai coblosan nanti…artinya potensi “ill feel ” kepada Parpol atau calon Presiden dan Cawapress juga ada ..he..he..he….

    jadi sabar-sabarlah lae..he..he..he…

    abang gak usah sabar kali nunggu megawati berdebat dengan SBY… hahahaha

    Like

  5. Pada komentar pertama si “Rakyat Bicara” menulis begini :

    Mega-Prabowo? Menarik juga. Masalahnya, apakah mungkin dua figur yang berbeda faham mampu bersatu. Megawati-PDIP-jelas berpolitik aliran nasionalis.

    Prabowo? Saya menilai, nuansa sosialis (sosialis seperti yang dimaksudkan dalam ajaran Islam) terkesan lebih kental melekat pada dirinya. Coba lihat ayahandanya, Begawan Ekonomi, Pak Sumitro.

    Megawati dan PDIP nya merupakan (katanya) partai wong cilik. Prabowo yang nuansa sosialis seperti yang saya maksud, juga memiliki massa wong cilik, petani, buruh dan nelayan.

    Sesungguhnya, kedua figur ini berbeda pandangan terhadap politik, meskipun sama-sama mengandalkan wong cilik.

    Rasanya, tidak mungkin keduanya bergandengan. Bisa jadi, sejarah perjalanan bangsa Indonesia, di warnai dengan “petaka” dan “petaka”.

    Tidak ada bukti empiris bahwa Megawaty dan PDIP-nya beraliran nasionalis atau pro wong cilik. Amat salah menyebut Prabowo sosialis, ia cuma anak biologis Sumitro Djojohadikusumo yang besan Soeharto karena perkawinan Prabowo.

    Di antara sesama “rent seeker” tidak ada halangan untuk bahu membahu. Tahu apa Mega dengan Republik ini? Peduli apa Prabowo dengan negeri ini? Kepentingan bersama cuma bagaimana bisa berkuasa. Titik.

    Like

  6. klo lihat dari segi pendidikan SBY dan Megawati………aduuuuuuuuh jauh banget men..? sementara SBY yang DOKTOR megawati gak tamat kuliah apoooon.., mending aku milih MEGAKARTI dari Republik mimpi…! he..he..he atau AR yang cerdas itu..berpendidikan..tapi klo terpaksa pilih bapak gw aja hi hi hi

    Like

  7. Prediksi-predikisian🙂

    Putaran I:
    1. SBY-JK (35%)
    2. Mega-Prabwo (25%)
    3. HNW-Soetiyoso (15%)
    4. Wiranto-Yusril (20%)
    5. Amien-Dien (5%)
    6. HBX-Rizal Ramli (10%)

    Putaran II
    SBY-JK (52%)
    Mega-Prabowo (48%)

    2009: SBY-JK menang (lagi)

    hehehehe🙂 boleh juga prediksinya. Prediksi ini bisa jadi benar, syaratnya, pasangannya benar-benar begini. hihihihi…

    Like

  8. Mr Prediksi bin survei. Ini pekerjaan yang berusaha melegitimasi keadaan, tak ada niatan merubah.
    Aku mau tampilkan disiti Rizal Ramli.

    untung-untung gak ikut sama si rizal malarangeng ya bang ….😀

    Like

  9. tulisannya bgs bang.
    siapapun presidennya terserah aj, asal jangan Megawati.
    beliau antek2 Amerika, tidak seperti ayahnya.

    klo disuruh milih, tetap SBY-JK, dan semoga Sri Sultan dan Prabowo tetap sehat untuk memimpin pada 2014-2019..

    wah thanks atas komennya … tapi jangan lupa, Amerika kayaknya memang lebih sreg sama Megawati dan SBY-JK loh … hehehehe😛

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s