Imam Samudra-Amrozi-Ali Ghufron: Al-Qoriah dan Tauhid Sosial


Saya berkeyakinan, setiap orang akan menemui tuhannya sesuai dengan keyakinannya masing-masing ketika dia berada di dunia. Itulah makanya, ketika Al-Qoriah nanti, yang ada bukan hanya kehancuran alam semesta namun yang lebih penting adalah sidang pertanggungjawaban setiap individu kepada Tuhannya. Para malaikat dijamin tak membuat kesalahan sedikitpun karena hari itu adalah harinya Tuhan secara langsung mengadili setiap manusia.

Demikian juga dengan ketiga orang yang akan dihukum mati oleh pemerintah Indonesia: Imam Samudra, Amrozi dan Ali Ghufron. Tidak ada yang tahu seperti apa nantinya sidang pengadilan akhirat itu nanti. Kita pun tak akan mempedulikannya, karena kita lebih sibuk mengurusi nasib kita sendiri. Karena itu, luangkanlah waktu untuk mereka-reka apakah yang akan terjadi nantinya, ketika kita masih berada di dunia.

Di dunia ini, ketiga orang tersebut tak mengakui hukum positif Indonesia. Dengan demikian, secara eksplisit pula, kondisi itu membuat ketiga orang itu tak mengakui akan “negara Indonesia’. Mereka hidup di sebuah dunia, yang mereka rasa adalah kepunyaan Allah semata dan hanya berhak dijalani dengan hukum yang telah digariskan oleh Allah. Sebuah negara dan bangsa tak berhak mengambil-alih hukum Tuhan tersebut kecuali negara itu berlandas dan berazaskan Islam.

Di sisi itu, maka ruang perdebatan terbuka lebar, namun tidak bagi mereka ini. Bagi mereka, negara Islam adalah sebuah keharusan. Batas-batas negara adalah langit dan bumi dan bukannya sebuah sungai, gunung, daratan, lintang geografis, sebuah pagar pembatas, atau malah sebuah kesepakatan internasional. Tidak ada kata “internasional” bagi mereka karena Islam sebagai “rahmatan lil alamin” ditafsirkan secara radix saja, yaitu alam semesta. Negara Islam adalah alam semesta itu sendiri, bangsa Islam adalah manusia, kebudayaan dan peradaban itu sendiri.

Bila dipadukan atau diperbandingkan dengan konsep lain, maka dengan demikian, seluruh kosmos berlebur dalam diri setiap manusia. Bahkan, mungkin sajalah dalam konsep itu, tidak adalah bentuk “negara” melainkan “Islam” itu sendiri. Dan bila ditarik lagi lebih ke dalam, maka Islam itu pun tak ada lagi, melainkan yang ada hanyalah “Allah” semata. Allah yang Esa, yang satu, dan tak mempunyai bilangan pembagi, pengurang, penambah atau apapun itu. Satu yang ada adalah satu yang absolut, mutlak.

Dengan konsep ini pula, maka kehidupan manusia menjadi lebih bebas, karena manusia tidak lagi tersekat-sekat dalam relung-relung kenegaraan dan kebangsaan yang sempit dan mengkotak-kotakkan setiap manusia. Dalam bingkai itu pula, maka bila seorang manusia melihat seorang, maka ia seperti melihat dirinya sendiri. Dalam kerangka itu pulalah, ketika ada seorang anak yatim menangis, ia melihat bahwa yang sedang menangis itu adalah dia sendiri.

Maka kemudian, berlakulah secara wajar, hukum yang digariskan oleh Rasulullah Muhammad, “Tidak dikatakan beriman seseorang manusia bila ia tidak mencintai seorang manusia lain seperti ia mencintai dirinya sendiri.”

Maka, hidup di dunia adalah dalam sebuah frame tauhid. Di sinilah kemudian letak konsep “tauhid sosial” yang pernah dikumandangkan Amien Rais dulu, mendapatkan titik temunya. Bahwa, tauhid adalah nilai-nilai ketuhanan yang diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa tauhid bukanlah ucapan kosong yang diucapkan berulang kali dari bibir dan lidah setiap manusia. Bahwa tauhid mengalir di alam semesta, seperti air yang mengalir di sebuah sungai dan setiap manusia mengambil keuntungan dan kepentingan dari air tersebut. Mengambilnya untuk minum, mencuci, memasak, mandi dan seterusnya.

Apakah hubungannya dengan Imam Samudra, Amrozi dan Ali Ghufron? Bagi saya, mereka seperti orang berjuang dengan keyakinannya sendiri. Mereka punya tafsir sendiri terhadap apa yang diyakininya terhadap Islam. Mereka mengambil air di sungai itu karena mereka punya konsepsi sendiri tentang air itu.

Amerika Serikat dengan lugas mengatakan bahwa Fidel Castro dan Che Guevara adalah musuh mereka dan pelanggar demokrasi dan penyebar teror yang bisa mengancam dunia. Di sisi lain, bagi rakyat Kuba dan pendukung Castro dan Guevara, keduanya adalah pahlawan yang terhormat yang berjuang demi ideologinya. Bagi Amerika (dan Eropa) juga, Imam Khomeini pada 1979 dan sekarang Ali Khamenei dan Ahmadinejad digolongkan dalam satu kerangkeng yang sama dengan Korea Utara sebagai “poros setan”. Sementara di Iran dan Korea Utara, mereka diikuti dengan sepenuh hati dan keikhlasan.

Bagi golongan Islam Liberal, apa yang dilakukan oleh Imam Samudra cs adalah sebuah fanatisme fundamentalis Islam yang memalukan sejarah Islam dan asa Islam ke depan. Sementara bagi fundamentalis, mereka mengaku hanya mengikuti dasar-dasar keislaman yang telah diturunkan seribuan tahun lampau tanpa niat sedikitpun untuk mengotori Islam.

Bagi Indonesia, apa yang dilakukan Imam Samudra cs bertentangan dengan hukum positif negara ini. Mereka adalah pelaku “terorisme” dan karena itu harus dihukum mati. Jelaslah, bila ketiga orang ini kemudian hanya akan tertawa ketika pengadilan Indonesia menyidangkan mereka dengan perspektif dan landasan hukum yang sangat berbeda. Dengan demikian, adalah mustahil, argumentasi ketiga orang ini diterima oleh hakim dan masyarakat Indonesia. Walaupun mungkin, hakim, jaksa dan pemerintah Indonesia diduduki oleh orang Islam, namun kerangka itu sudahlah sangat-sangat berbeda.

Islam adalah agama perdamaian. Islam tak pernah sekalipun mengajarkan kekerasan. Islam mengajarkan tawadhu (kerendahhatian), penyantunan terhadap anak yatim dan fakir miskin, mendorong pendidikan bagi seluruh kalangan tak peduli kaya, miskin, pria dan wanita, hormat terhadap orang tua dan menghargai yang lebih muda, membagi-bagi harta penghasilan kepada mereka yang membutuhkan dan seterusnya.

Namun, citra Islam saat ini adalah citra Islam yang diidentikkan dengan “terorisme”. Ini tak berbeda jauh ketika dulu Islam dicitrakan sebagai agama yang disebarluaskan melalui peperangan dan invasi. Saya tak setuju dengan pemboman yang dilakukan oleh ketiga orang itu, namun saya mengkhawatirkan, hukuman mati terhadap Imam Samudra, Amrozi dan Ali Ghufron adalah dalam kerangka pencitraan islam teroris itu.

Entah siapa nanti yang tertawa ketika hari Al-Qariah kelak. Tentulah bagi mereka yang percaya pada Al-Qariah… (*)

8 thoughts on “Imam Samudra-Amrozi-Ali Ghufron: Al-Qoriah dan Tauhid Sosial

  1. Amrozi cs adalah korban bom taktik politik pencitraan Islam shg menimbulkan byk korban bom-bom yang lain. Hukum memang harus ditegakkan, akan tetapi setelah Amrozi cs dihukum, pencitraan yang bagaimana lagi yang akan dimunculkan? Amat disayangkan jika aktor atau guru para teroris belum tertangkap.

    Like

  2. Saya menangis tersedu membaca penuturan media tentang anak Amrozi yang beranjak remaja di sisi pekuburan saat-saat terakhir. Saya menangis tersedu. Anak itu tak berdosa (mungkin juga Amrozi). Beri ia jaminan masa depan jika memang di balik semua ini ada maksud besar memberi masa depan dengan membunuh ketiga orang itu. Berilah. Beri.

    Like

  3. Fiuh… penjabaran yang panjang dan melelahkan. Skenarionya terbaca, hanya saja kita terlalu bodoh dan naif.😳

    selelah kondisi umat Islam itu sendiri …

    Like

  4. War on Terrorism policy telah membuah Amerika punya ticket melakukan apa saja semau mereka.

    Pemerintehan Indonesia memberi nyawa Amrozi cs, sebelum itu memberi harta Idonesia melalui sejumlah proyek pertambangan dan enegri. Mereka memberi uang kampanye kepada SBY.

    SBY hanya memerlukan kekuasaan.

    Like

  5. orang-orang yang nyata baik tidak memerlukan pencitraan yang baik, tidak demikian sebaliknya, orang-orang yang tidak baik memerlukan pencitraan yang baik. namun, semua itu hanya waktu yang bisa menjawab.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s