Sultan Presiden? Weleh…weleh…


Sri Sultan Hamengkubuwono X mendeklarasikan dirinya sebagai salah satu bakal calon Presiden 2009 mendatang. Rakyat Yogyakarta pun berkumpul (atau dikumpulkan, toh tak ada bedanya) di depan Kesultanan demi melihat sultan mereka. Mungkin begini kata mereka, “Sultan kita mau jadi Presiden.”

Dalam politik, matematika memang mesti kuat. Hitung-menghitung kekuatan adalah prasyarat sebelum mengambil keputusan. Dan Sultan, pastilah sudah melakukan itu. Cobalah kita raba-raba si Sultan ini.

Sultan HB X secara historis memiliki darah biru alias raja. Dalam berkampanye nanti, kelak dia tak akan membutuhkan dan membuktikan kalau darahnya memiliki “ras raja”, seperti yang sering dilakukan oleh calon Presiden, Gubernur, Bupati, Walikota dan seterusnya. Secara budaya, siapapun orangnya, mau orang Jawa, Batak, Melayu, Minang dan lain-lain lagi, tak satupun yang tak akan bangga kalau dia adalah punya garis keturunan raja. Bahkan, kalaupun misalnya dia keturunan paria ataupun budak sejak dulunya, ketika dia mau maju dalam politik menjadi penguasa, maka kalau bisa jejak paria itu dihilangkan dan kemudian dirubah menjadi berbau darah biru. Tak usahlah untuk menjadi penguasa, orang biasa pun orang sering membanggakan kalau dia adalah keturunan raja, orang suci, ulama besar, orang kaya, dst, dst …

Jadi, si Sultan ini sudah menang di dataran itu: ranah keturunan.

Nah, keuntungan punya sisi buruknya. Dia ini Raja Yogyakarta -ingat bukan raja jawa- dan bukan raja Batak, raja Melayu, Minang, Madura, Dayak, Bugis, ataupun lainnya. Di Jawa sendiri, status “raja” si Sultan ini hanyalah berlaku di Yogyakarta dan (mungkin) di Jawa Tengah. Jawa Timur? Di sana yang dianggap sebagai raja adalah keturunan “majapahit”. Itu zaman dulu. Kini, raja di sana adalah para kyai. Jadi, si Sultan ini kemungkinan besar tak laku “kerajaannya” di Jawa Timur.

Di Jawa Barat juga begitu. Karakteristik Jawa Barat bukanlah Yogyakarta. Orang Sunda hingga sekarang tak ingin disebut “orang Jawa”. Itu seperti di Sumut ini: Orang Nias dan Mandailing sampai kapanpun tak mau dibilang “orang batak”.

Tapi jangan pesimis dulu. Misalnya di daerah Sumatera ada perkumpulan “putra jawa kelahiran Sumatera” alias pujakesuma. Beberapa waktu lalu saya mendengar, Pujakesuma tampaknya senang ketika mereka mendapatkan perhatian dari Sultan HB X soal eksistensi dan pergerakan mereka. “Rasa senang” ini adalah modal sultan, dalam arti, mungkin saja anggota Pujakesuma menganggap Sultan tetaplah raja mereka. Anggotanya secara kultural banyak, namun dalam setiap pilkada lalu, klaim banyaknya anggota ternyata berbanding terbalik dengan dukungan di TPS-TPS.

Jadi saya pikir majunya Sultan ini lebih banyak faktor kulturalnya. Logika sederhanya, orang Jawa pastilah memilih orang Jawa apalagi berstatus “raja jawa” pula. Bila orang suku Jawa saja minimal 30% dari seluruh penduduk Indonesia, maka kemungkinan menang akan sangat-sangat besar.

Tapi kesampingkanlah soal primordialisme itu dalam jagad politik Indonesia. Orang Jawa belumlah tentu memilih Sultan. Gampang saja logikanya. Susilo Bambang Yudhoyono, Wiranto, Prabowo, Sutiyoso, Megawati Soekarnoputri dan Amien Rais, toh orang Jawa juga. Sangat gampang dikatakan kalau instrumen “kejawaan” juga akan dipakai oleh orang-orang ini. Lagipula, setiap orang ini pastilah akan menolak kalau mereka selama ini dianggap sebagai “rakyatnya Sultan”. Paling tidak imej begini akan dipakai: “Emangnya sekarang zaman kerajaan?!”

Sultan, oleh karena itu, butuh kendaraan lain. Namanya partai politik. Selama ini Sultan sudah dikenal sebagai orangnya Golongan Karya (Golkar). Jadi, Sultan akan mencoba menjadi calon presiden dari partai Golkar. Selesai? Belum. Golkar sekarang dikuasai oleh dua kubu besar: Yusuf Kalla dan Akbar Tanjung. Yusuf Kalla punya barisan kuat, sementara Akbar Tanjung, menurut saya, punya barisan yang lebih kuat lagi: Barisan Sakit Hati. Di barisan inilah berkumpul misalnya golongan bernama Yuddy, Fadel Muhammad, dan seterusnya. Sultan saya kira berada di barisan ini. Jadi hubungannya saling memanfaatkan saja. Surya Paloh itu bukan politikus, dia pengusaha politik. Aburizal Bakrie sama saja. Jadi, Surya Paloh dan Aburizal Bakrie tidak akan kesulitan untuk bergabung dengan kelompok Kalla. Kekuataannya akan sangat besar, karena kelompok ini sekarang punya kekuataan ekonomi yang tak terukur.

Nah, kelompok Akbar Tanjung bermain di sentimen “politisi”. Bahwa, dalam politik, kekalahan tetaplah kekalahan dan kemenangan adalah kekuasaan. Karena itu, kemenangan dalam politik diukur pada tinggi rendahnya mereka menguasai kekuasaan. Jelas, Presiden menjadi target paling tinggi untuk Golkar. Tak ada dalam logika politisi, kemenangan partai politik adalah sama dengan posisi wakil presiden. Kemenangam politik adalah Presiden. Presiden adalah penguasa dan partai politik digunakan sebagai jalan untuk mencapai kekuasaan.

Pengusaha (yang ber-) politik lebih pragmatis sikapnya. Tak apa-apa tak jadi Presiden, tapi kendali mesti di tangan mereka. Tentu saja untuk hal-hal ekonomis. Namun, untuk menjamin hal itu, tangan mereka mestilah kuat di kekuasaan: Wakil Presiden dan Kabinet. Opsinya adalah bagaimana agar jaminan pragmatisme itu tergaransi kuat. Mungkin kata mereka begini, “Tak apa-apa dia yang duduk, yang penting sama kita duitnya saja.”

Jadi, orang-orang seperti Aburizal Bakrie, Surya Palloh dan Yusuf Kalla logikanya seperti itu dan hasilnya bisa dilihat kasat mata. Contoh kecil saja, Aburizal Bakrie mendapatkan proyek infrastruktur Indonesia seperti yang tercantum dalam APBN (dan APBD), dan Surya Palloh, hmmm… lihat saja ketika perusahaan medianya, Media Indonesia, memenangkan tender kontrak iklan tender proyek-proyek pemerintah.

Di posisi yang dikotomis demikian –itu posisi besar saja dan kondisi-kondisi lain di partai Golkar kita anggap saja terseret arus besar itu- Sultan tentulah tak berada di posisi pragmatisme politik ekonomi.

Dia itu figur yang disorongkan oleh politisi Golkar untuk berhadap-hadapan dengan Yusuf Kalla. Sultan itu “penguasa kecil” yang selama ini sudah dibonsai rapi oleh rezim Soeharto. Harganya mahal (namanya juga istimewa) tapi tak akan pernah besar seperti pohon beringin. Dia seperti anak kecil yang diberi fasilitas permainan kelas wahid tapi tak diperkenankan keluar “kandang”. Digadang-gadang sebagai “raja jawa” padahal kekuasaannya tak pernah “riil”. Ditimang-timang sebagai pihak yang selalu mendapatkan “wangsit” dari langit untuk “menjaga keutuhan pulau Jawa”.

Anak kecil sekalipun pasti akan tertawa melihat bagaimana posisi si Sultan ini dibuat oleh Soeharto dan pemerintahan setelahnya. Dan suatu saat, si Sultan ini kemudian tersadar, “Mengapa aku sampai mau diposisikan demikian. Bukankah potensiku sangat tinggi. Mengapa aku mau dikebiri?”

Lantas, ia pun memberontak terhadap sistem yang ada. Orang yang disebut-sebut “raja Jawa” ini ingin betul-betul menjadi “raja sejati”. Raja sejati itu di mana-mana selalu punya kekuasaan, bala tentara yang kuat dan tingkat ekonomi yang tinggi. Ia bisa memerintah siapa saja, apakah dia berasal dari sukunya sendiri ataupun suku yang lain. Dia bisa meminta apa pun dari rakyatnya yang miskin, kaya, berpendidikan, di seluruh daerah kekuasaannya. Jadi, inti seorang raja adalah “perluasaan daerah kekuasaan”. Raja Mongol tak akan diakui sebagai raja kalau hanya disembah oleh orang-orang Mongol saja, Raja Yunani tak mau hanya disembah orang Yunani, Raja Romawi tak ingin hanya dipatuhi orang Roma, Raja Inggris, Raja Portugis, Kaisar Perancis dan sampai pada tahap sekarang, “Amerika yang tak hanya ingin hanya besar di Amerika saja.”

Jadi, marilah kita sambut si Sultan ini sebagai calon Presiden RI 2009… (*)

-0-

sumber foto: http://www.kompas.com/data/photo/2008/04/05/124326p.jpg

9 thoughts on “Sultan Presiden? Weleh…weleh…

  1. Sultan maju karena didorong2 Fadel Muhammad
    tapi itu sah dan wajar2 saja
    lalu, kenderaan politiknya apa ?
    itu yg menarik ditnggu.
    Kl Golkar meraih suara di atas 20 persen
    pd Pemilu 2009, sdh pasti JK yg bakal maju
    so, bisa jadi Sultan pd akhirnya
    hanya dipinang sebagai cawapres oleh
    Mega atau yang lain……..?

    kukira, golkar bakal dapat lebih dari 20% dan bila itu terjadi, golkar belum tentu mencalonkan JK.🙂

    Like

  2. marilah kita lihat bang. dengan adanya sosok sultan, dinamisme di Golkar akan makin nyata.

    analisa yg renyah bang🙂

    golkar ini luar biasa, untuk 20 tahun ke depan (satu generasi lagi) akan tetap menguasai indonesia. ah..pengantin baru awak ya…😛

    Like

  3. OOT
    Orang Mandailing mana yang tidak menyebut dirinya Batak??
    survey dong, bung….jangan kawan karibmu azza yang kau tanya.

    Saya tak akan mengkoreksi hal itu. Saya mendapatkan hal itu di tengah-tengah masyarakat. Mungkin saja, kalau mau, Anda bisa menemukannya di literatur sosiologis historis untuk menjelaskan hal tersebut. Saat ini, hal itu bukan konsentrasi saya😛

    Like

  4. Pemerhati menulis:
    “OOT
    Orang Mandailing mana yang tidak menyebut dirinya Batak??
    survey dong, bung….jangan kawan karibmu azza yang kau tanya”.

    Si Batak ya si Batak. Si Mandailing ya si Mandailing. Ada (kebanyakan) orang Toba yang obsesional mendapatkan pengakuan dari orang Mandailing sebagai Batak, dan ada (kebanyakan) orang Mandailing yang tak mau disebut Batak. Ini bukan survei di lingkungan sekitar rumahku, bukan pula keinginanku. Ha ha ha. Kog gitu ya.

    Like

  5. 9 tahun saya jadi wartawan indonesia tengah & timur saya melihat kebanyakan orang asli(bukan keturunan jawa) di wilayah indonesia timur dan indonesia tengah sangat meninggikan Sultan ,bahkan mereka lebih menghormati sultan daripada presiden , walaupun mereka tau sultan bukan raja mereka.

    saya jadi wartawan sudah 9,5 tahun.😛 untung blm bosen

    Like

  6. Sultan HB X pasti tau dan menyadari sepenuhnya bahwa untuk menjadi Presiden RI dari gol.manpun bisa, ga perlu “Darah Biru”. Tetapi untuk menjadi Sultan, TIDAK demikian. Jelas kedudukan Sultan jauuh lebih “mulia” dari seorang Presiden dan itu Pakem. Pakem itu akan berubah apabila Sultan HB X mem-Pakemkan value of a {vice} president more valuable kalo ia jd Presiden ato Wapres. Kalo tidak dipakemkan itu, ga bakalan Sultan HB X mau jadi Capres atau Cawapres. Wacana2 yang ada, ga lain akal2an org2 {…} untuk menahan laju JK Groups! Sekalian, kale aja SHB X jadi.

    Ingat juga, Sultan HB IX toh sudah jadi wapres. namun saya kira pencalonan sultan tak sekedar politik kekuasaan semata, tapi ada pengaruh-pengaruh kultural primordial. Ini wilayah sensitif dan tim sultan memainkannya cukup lumayan. permainan Sultan kali ini bukan taraf biasa-biasa saja.🙂

    Like

  7. Wolak-waliking jaman, sing ngelmune mung sak dumuk lan cubluk, gawene umuk bebener keminter, lan seneng miala, aniaya lan ngluputake liyan.
    ————————
    Zaman serba terbalik, orang yang ilmunya hanya sebatas kulit dan sangat bodoh, (cirinya) gemar pamer kebenaran dan merasa paling pandai, suka menyakiti, menganiaya, dan menyalahkan orang lain.

    hajar terus…hihihihihi😀

    Like

  8. “Orang Nias dan Mandailing sampai kapanpun tak mau dibilang “orang batak”.”

    Ah masa sih mas??? aku lahir di tanah Mandailing, besar disana sekarang kerja di rantau.. sampai kapan pun aku bilang kalau AKU ORANG BATAK.. begitu juga hampir semua orang Mandailing itu.. kalaupun ada beberapa yang gak mau di kategorikan orang Batak, pasti karena suatu alasan tertentu saja..

    Batak itu suku mas, sedangkan nama Mandailing, Angkola, Toba, dll.. itu adalah sebutan wilayah.. misal orang Jawa Timur dengan Jawa Tengah.. sama2 kan suku Jawa?! walaupun mereka punya masing2 ciri khas pada budayanya, dll.. tetap aja mereka bilang “saya orang Jawa”.. lain memang dengan Nias, mereka memang bukan suku Batak tetapi suku Nias…

    sekali lagi saya bilang “Saya orang Mandailing dan saya orang Batak!”

    banyak2 membaca untuk memperluas dan membuka wawasan.

    baca aja lagi.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s